
Semenjak kejadian itu sikap Carissa berubah. Biasanya dia bersikap hangat pada siapapun kini menjadi dingin dan lebih banyak diam. Carissa masih ingat betul akan perbuatan Barra saat merenggut mahkotanya. Rasa sakit fisik yang ditinggalkan hanya beberapa hari saja sudah hilang. Namun sakit hatinya masih membekas sampai sekarang.
Carissa sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarga Barra. Dia selalu menghindar jika Jenny maupun Kay sengaja datang ke butiknya walau dengan alasan pekerjaan. Kedua orang tuanya pun sampai saat ini tidak tahu kenapa Carissa tiba-tiba berubah seperti sekarang. Carissa juga sangat tertutup dan tidak mau menceritakan masalahnya kepada siapapun.
“Ma, Rissa berangkat ke butik dulu.” Pamit Carissa pada mamanya yang masih sibuk di dapur.
“Lho kok pagi sekali? Nggak sarapan dulu?” Tanya Silvia.
“Rissa sibuk sekali Ma hari ini. ya sudah Rissa berangkat dulu. Taksinya juga sudah menunggu.” Ucap Carissa dan segera keluar rumah setelah mencium tangan mamanya dengan takzim.
Carissa sudah masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di depan rumah sejak beberapa menit yang lalu. Setelah itu taksinya berjalan sesuai tujuan Carissa.
Taksi itu berhenti di tepian danau pinggir kota yang tempatnya tidak begitu ramai. Nyatanya tujuan Carissa bukan ke butik melainkan ke danau. Setelah Carissa membayar ongkos taksinya, dia keluar dan menuju kursi yang tersedia di pinggir danau.
Suasana danau pagi ini cukup sepi. Selain hari ini hari kerja dan tidak ada pengunjung kesini, danau itu juga memang jauh dari keramaian kota. Maka dari itu Carissa memilih tempat ini untuk menenangkan dirinya.
Carissa duduk terdiam sambil melihat air danau yang masih tenang. Udara sekitar pun sangat sejuk menelusup relung hati terdalam Carissa. Meskipun akhir-akhir ini pikirannya berkecamuk, setidaknya dengan menghirup udara segar di tepian danau ini membuatnya sedikit rileks.
Terdiam cukup lama membuat Carissa lama-lama menitikan air matanya. bayang-bayang kejadian itu masih menari-nari dalam otaknya. Dia merasa sebagai wanita yang hina karena tidak dapat mempertahankan kesuciannya. Meskipun Barra saat itu mengatakan alasannya melakukan itu, tapi tetap saja Carissa tidak terima.
“Kalau mau nangis jangan ditahan. Keluarkan saja biar hati kamu tenang.” Ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di belakang Carissa.
Memang kursi itu ada dua dengan posisi saling memunggungi. Jadi bisa melihat ke arah danau dan melihat taman. Dan tanpa sadar Carissa pun mengikuti perintah seseorang yang itu. Carissa menangis dengan mengeluarkan suarannya meskipun tidak keras. Setelah itu Carissa merasa sedikit lega karena memang selama ini dia menyimpan masalahnya sendiri.
“Kamu siapa?” Tanya Carissa setelah tersadar ada seseorang duduk di belakangnya.
Namun laki-laki itu masih dengan posisi yang sama. Tidak menoleh ke Carissa. Carissa pun heran dengannya. Dia kira tempat ini sepi, tapi malah ada orang lain yang juga mendatangi tempat ini.
“Sudah menagisnya?” bukannya menjawab, laki-laki itu malah bertanya.
Saat Carissa hanya diam, akhirnya laki-laki dengan setelan kemeja rapi itu menoleh ke arah Carissa.
“Kamu?”
Ucapnya bersamaan. Ternyata laki-laki itu adalah Xavier. Memang keduanya belum saling mengenal. Tapi mereka sering bertemu.
__ADS_1
“Sepertinya kita sering bertemu namun belum berkenalan. Kenalkan namaku Xavier.” Ucap Xavier sambil mengulurkan tangannya.
“Carissa.” Jawab Carissa sambil membalas uluran tangan Xavier.
Kemudian Xavier berdiri dan berpindah posisi duduk di sebelah Carissa yang menghadap danau. Carissa pun tampak biasa saja saat melihat Xavier berpindah tempat. Entah kenapa Carissa juga merasa nyaman dengan kehadiran Xavier.
“Apa kamu sering kesini kalau sedang ada masalah?” Tanya Xavier.
“Nggak. Cuma 2 kali saja aku kesini.” Jawab Carissa.
Akhirnya mereka berdua berbincang-bincang cukup lama dan entah kenapa mereka cepat sekali akrab. Xavier pun tidak berniat untuk mencari tahu tentang masalah yang tengah dihadapi Carissa, dia masih bisa menjaga privasi seseorang apalagi mereka baru saja kenal.
“lalu kenapa kamu pagi-pagi juga ada di disini?” Tanya Carissa.
“Aku hanya penat saja dengan urusan kantor. jadi aku tadi berniat berangkat pagi, dan tanpa sengaja menemukan tempat yang sangat seju dan sepi. Akhirnya aku kesini.” Jawab Xavier.
Tanpa sadar ternyata mereka berdua berbincang-bincang cukup lama. Dan keduanya memutuskan untuk kembali memulai aktivitasnya masing-masing. Xavier menawari Carissa untuk diantar sekalian ke butikinya, namun Carissa menolak dan memilih naik taksi.
“Sampai jumpa lagi Carissa. Senang berkenalan denganmu.” Ucap Xavier sebelum meninggalkan Carissa.
Dalam perjalanan ke kantor, Xavier merasa ada yang aneh saat bertemu dengan Carissa tadi. beberapa hari ini memang Xavier merasa penat sekali. Dan setelah bertemu Carissa tadi dia merasa lega dan bebannya sedikit berkurang. Xavier masih mengingat-ingat tentang Carissa yang menurutnya sangat tidak asing dan seperti sudah lama kenal. Namun Xavier tidak ingat sama sekali.
Sementara Carissa baru saja tiba di butiknya, langsung masuk ke dalam. Carissa sangat terkejut saat disana ada Barra yang sedang duduk di sofa dekat dengan meja kasir.
“Carissa!” panggil Barra.
Carissa hanya diam saja dan segera masuk ke ruangannya. Karena tidak ingin diketahui oleh karyawannya. Barra pun mengikuti langkah kaki Carissa yang menuju ruangannya.
“Carissa, kenapa kamu selalu menghindariku?” Tanya Barra menghampiri Carissa yang sedang berdiri menghadap jendela.
“Memang kenapa? Kita kan tidak ada hubungan apa-apa.” Jawab Carissa dingin.
“Apa kamu masih belum bisa memaafkan kejadian saat itu? Aku benar-benar minta maaf. Aku akan bertanggung jawab.” Ucap Barra.
“Aku sudah melupakan semuanya. Jadi lebih baik kamu nggak usah muncul lagi di hadapanku.” Jawab Carissa.
__ADS_1
Hati Barra terasa sesak dengan perkataan Carissa. Apakah Carissa membencinya dan tidak bisa memaafkannya. Padahal dirinya sudah berniat untuk mempertanggung jawabkan semuanya.
“Carissa. Aku mencintaimu. Aku akan bertanggung jawab.” Ucap Barra lagi.
“Ck, gampang sekali kamu bilang cinta hanya demi bisa mempertanggung jawabkan kejadian itu.” Ucap Carissa sinis.
“Tapi aku benar-benar mencintaimu Carissa. Sebelum kejadian itu-“
“Cukup!! Keluar sekarang juga.” ucap Carissa dengan tajam.
Barra pun akhirnya keluar dari ruangan Carissa dengan perasaan kecewa. Dia bingung harus dengan cara apa lagi agar Carissa mau menerimanya.
Saat Barra keluar dari butik Carissa, dia berpapasan dengan Dhefin yang sepertinya akan menemui Carissa. Dhefin mengepalkan kuat tangannya saat melihat mantan sahabatnya baru saja menemui kekasihnya. Dhefin menarik kerah kemaja Barra.
“Ngapain kamu kesini?” Tanya Dhefin tajam.
“Bukan urusan kamu!” ucap Barra.
“Jangan sekali-kali kamu mendekati kekasihku atau kamu akan tau akibatnya.” Ancam Dhefin.
“Ck, lalu apa bedanya dengan kamu yang merebut kekasih sahabat sendiri?” Tanya Barra sinis.
“Karena itu pantas buat kamu. Aku peringatkan kamu sekali lagi, jangan dekati Carissa apalagi menyentuhnya.” Ancam Dhefin.
“Nyatanya aku sudah menyentuhnya. Aku yang sudah menikmatinya, jadi Carissa sudah menjadi milikku seutuhnya. Tubuhnya dan hatinya hanya milikku” Jawab Barra dengan nada pelan namun tajam.
“Brengsek!!”
Bugh
.
.
.
__ADS_1
*TBC