
Sementara itu seorang gadis sedang duduk sendiri di sebuah café sambil menyesap es lemon tea yang telah menjadi minuman favoritnya. Gadis itu tampak termenung setelah temannya pergi meninggalkannya karena ingin berkencan dengan sang kekasih.
Jenny menatap semua pengunjung café yang rata-rata sedang duduk dengan pasangannya. Memang café itu adalah tempat biasa nongkrong untuk kaula muda.
Jenny memang bertemu dengan salah temannya karena ingin memesan baju pengantin dari butiknya. Dan temannya itu tidak mempunyai waktu untuk datang ke butik terlebih saat jam kerja. Jadilah mala mini dia baru bisa bertemu dengan Jenny.
Dalam hati Jenny sempat iri dengan teman-temannya yang kebanyakan sudah menikah. Atau sudah memiliki kekasih. Berbeda dengan dirinya yang sejak dulu sampai sekarang statusnya tidak pernah berubah alias jomlo abadi.
Bosan dengan kesendiriannya, apalagi melihat keuwuan para pasangan yang ada di café itu, membuat Jenny memutuskan untuk pulang saja. Seperti biasanya, Jenny selalu naik taksi jika pergi kemana pun karena dirinya memang tidak diperbolehkan Papanya untuk menyetir mobil sendiri.
Jenny keluar dari Café dan berniat mecari taksi dengan menyebrangi jalan dimana ada halte disana. Namun tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar tanda sebentar lagi hujan akan turun. Dan benar saja, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Jenny segera berlari agar cepat sampai halte dan bisa berteduh. Sebagian bajunya sudah basah.
Sesampainya di halte, Jenny melihat segerombolan laki-laki yang sepertinya sedang berteduh. Para laki-laki itu menatap Jenny tanpa berkedip. Karena baju Jenny yang berbahan tipis terkena air hujan hingga tercetak jelas bentuk tubuhnya.
Jenny segera mengambil ponselnya berniat menghubungi sopir agar menjemputnya. Namun salah satu dari gerombolan laki-laki itu perlahan maju mendekati Jenny. Jenny sangat gugup dan takut. Dan tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya lalu segera membawanya masuk ke dalam mobil.
“Ngapain Nona malam-malam di halte sendirian? Hujan lagi.” Tanya seseorang yang kini sudah berada disamping Jenny.
Tubuh Jenny menggigil kedinginan dan masih diserang rasa takut akibat tatapan nakal dari segerombol laki-laki yang ada di halte tadi.
Laki-laki itu pun mematikan AC mobilnya dan segera mengantar adik bosnya pulang.
***
Sesuai dengan perkataan Barra kemarin. Hari ini Barra akan mengajak istrinya pulang ke rumah orang tuanya. Barra tidak perlu pulang menjemput istrinya terlebih dulu karena siang tadi Carissa datang ke kantornya membawakan bekal makan siang sekalian perempuan itu tidak kembali pulang.
Barra sebenarnya tidak enak pada sang istri karena telah menunggunya. Bahkan setelah makan siang, dirinya ada meeting dengan salah satu kliennya. Barra sudah meminta Carissa untuk pulang saja namun istrinya menolak. Dan dengan berat hati akhirnya Barra menyuruh istrinya untuk istirahat di dalam ruangannya. Disana juga ada sebuah kamar tidurnya.
“Maaf, hari ini aku sangat sibuk sekali hingga mengabaikanmu.” Ucap Barra saat sudah dalam perjalanan pulang.
“Nggak apa-apa Mas.” Jawab Carissa.
__ADS_1
Sebelum sampai rumah, mobil Barra berbelok sebentar ke sebuah toko buah. Mereka akan membawa buah tangan untuk diberikan pada mamanya. Carissa turun dari mobil dan segera menuju toko tersebut.
“Tunggu!” ucap Barra saat Carissa membuka pintu mobil.
“Pakai ini saja. Dan kamu bawa saja. Maaf aku baru memberinya sekarang.” ucap Barra sambil menyerahkan sebuah kartu ATM pada istrinya. Carissa pun tidak menolak.
Dia menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
Selesai membeli buah, barra kembali melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Sebelumnya Barra tidak memberitahu dulu kalau akan pulang mengajak istrinya. Jadi saat kay dan Vito sedang bersantai di ruang tengah tampak terkejut saat mendengar sapaan dari anak laki-lakinya.
“Barra, Carissa! Kalian pulang kok nggak bilang Mama?” ucap Kay dan segera memeluk anak dan menantunya secara bergantian.
“Memang sengaja Ma. Biar surprise.” Jawab Barra.
Kemudian Carissa dan Barra bergantian mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim. Vito pun juga tak senangnya saat kedatangan anak dan menantunya.
“Ya sudah kalian naik dulu bersih-bersih. Setelah ini kita makan malam bersama.” Ucap kay.
“Kamu mandi dulu ya. Aku masih gerah. Mau cari angin sebentar.” Ucap Barra dan diangguki oleh Carissa.
Sambil menunggu istrinya mandi, Barra membuka jendela kamarnya dan berdiri di balkon kamarnya untuk mencari angin. Barra menatap langit senja yang mulai menyusutkan sinar matahari itu. Pandangan matanya menerawang jauh. Barra dulu sempat memikirkan akan mengalami hal seperti ini. sepulang kerja, ada istrinya yang menyamput dan melayaninya. Saat itu bayangan Barra yang menjadi istrinya adalah Astrid. Karena memang hubungannya sudah lama. Namun ternyata rencana Tuhan berbeda. Dengan hadirnya Carissa yang hanya sekejap dan mampu memporak-porandakan isi hatinya, akhirnya kini dia berhasil meminang perempuan itu.
“Mas, aku sudah selesai. Aku sudah siapkan air hangatnya.” Ucap Carissa tiba-tiba membuyarkan lamunan Barra.
“Ah iya. Aku mandi dulu.” Jawab Barra dan segeraa masuk ke dalam kamar mandi.
Sambil menunggu suaminya mandi. Carissa mempersiapkan baju Barra. Kemudian dia duduk di sebuah kursi rias dimana disana ada beberapa parfum dan juga krim rambut suaminya. Pandangan Carissa tidak sengaja tertuju pada cermin bagian atas. Disana ada sebuah foto kecil yang melekat di cermin.
Foto itu adalah foto suaminya bersama mantan kekasih yaitu Astrid. Entah kenapa tiba-tiba Carissa merasakan sesak saat melihat foto itu. Walau sebenarnya dia tahu kalau suaminya sudah tidak ada perasaan lagi pada Astrid. Namun kenapa foto itu masih ada.
Cklek
__ADS_1
Barra keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrope. Carissa segera beranjak dan memberikan baju suaminya. Dia berusaha tenang meski hatinya sedang tak karuan.
“Terima kasih.” Ucap Barra. Namun sekilas Barra melihat wajah istrinya yang berbeda dan matanya sedikit berkaca-kaca.
“Ada apa?” Tanya Barra penasaran.
“Nggak ada apa-apa ko’ Mas. Ya sudah aku turun dulu ya mau bantu Mama siapin makan malamnya.” Ucap Carissa tanpa melihat wajah suaminya dan segera keluar dari kamar.
Kini mereka berempat sudah ada di ruang makan. Lagi-lagi
Barra melihat raut wajah berbeda dari istrinya meski perempuan itu masih melayaninya. Barra bingung, keslahan apa yang dia perbuat tadi.
“Jenny mana Ma?” Tanya Carissa.
“Dia di kamarnya sedang tidak enak badan.” Jawab Kay.
“Tumben banget tuh anak sakit.” Ucap Barra sambil mengunyah makanannya.
“Iya. Kemarin habis kehujanan. Untung saja ada Iqbal yang mengantarnya pulang.” Jawab Vito.
Barra terdiam memikirkan ucapan Papanya. Bagaimana bisa Iqbal mengantar adiknya pulang dalam keadaan kehujanan. Lagipula di kantor tadi Iqbal juga tidak mengatakan apa-apa.
.
.
.
*TBC
Jangan lupa dong mampir ke karya othor yg baru ini. ramein juga dengan tekan like, komen, dan votenya😘😘🤗🤗
__ADS_1