
Drt drt
Tiba-tiba ponsel Rey bergetar ada notifikasi pesan dari seseorang.
“Pulanglah!”
Pesan singkat, padat, dan jelas yang tak lain dari Stefi istrinya. Entahlah Rey harus mengakui Stefi istrinya atau bukan. Bahkan sampai saat ini pun dia belum bisa move on dari Kay. Tapi bagaimana bisa pria itu menanamkan benihnya dalam rahim Stefi kalau dia tidak mencintainya.
Rey yakin pesan itu Stefi kirim lantaran kemauan Papinya. Karena tidak mungkin Stefi mempunyai niatan untuk menghubungi dirinya
Ya, hubungan pernikahan Rey dan Stefi karena perjodohan dari kedua orang tua mereka nyatanya sampai sekarang sama sekali tidak menumbuhkan rasa cinta diantaranya. Bahkan Stefi sangat membenci sosok Rey.
Kehamilan Stefi pun dimulai dari hubungan badan yang tak sengaja mereka lakukan sesaat setelah menghadiri pesta pernikahan Kay dan Vito dulu. Awalnya Stefi sudah perlahan membuka hatinya untuk Rey karena pria itu mau menjamah tubuhnya. Namun di akhir percintaan mereka, tersemat nama Kay yang keluar dari mulut Rey. Bagaimana perasaan wanita itu? Yang pasti sangat hancur.
Dan mulai saat itu Stefi bersikap dingin dan tak mau peduli dengan Rey. Namun hal yang disangka, ternyata hasil dari hubungan malam itu tumbuh janin di dalam rahim Stefi. Kebetulan Yudhi mengetahui itu dan sangat senang mendengarnya.
Stefi tidak mau membuat Papinya kecewa. Dia tetap merawat anak dalam kandungannya itu dan akan meminta cerai setelah bayi itu lahir. Dan Rey pun menyetujuinya.
Dan malam ini Stefi menghubungi Rey untuk pulang ke kota B karena tidak mau Papinya curiga dengan hubungannya. Jadi mau tak mau Stefi mengirim pesan pada Rey dengan kata yang sangat singkat, padat, dan jelas.
Rey menghembuskan nafasnya kasar. Mau tidak mau dia harus pulang ke kota B. padahal dia sangat betah tinggal di kota kelahirannya sendiri. Apalagi ada seseorang yang sangat dicintainya juga tinggal di kota yang sama yaitu Kay.
Selama tinggal di kota J, Rey memutuskan untuk tinggal di apartemen pribadinya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya mengetahui kehidupan rumah tangganya yang sebenarnya.
Meskipun Papa Rey tahu kalau anaknya berada di kota J, Rey mempunyai banyak alasan yang dapat membuat sang Papa tidak menaruh curiga sama sekali.
***
Selama beberapa hari Kay dirawat di rumah sakit, Vito selalu siaga menjaga istrinya. Vito takut terjadi sesuatu dengan istrinya jika dia tinggal pergi. Jadi Vito menyerahkan urusan kantor pada Arsa sang asissten pribadi. Sedangkan kedua orang tua Kay memutuskan untuk pulang ke kota B setelah dapat memastikan keadaan sang anak perempuannya baik-baik saja. Daddy Radit juga sibuk dengan pekerjaannya jadi tidak bisa berlama-lama berada di kota J. Radit dan Delia sudah sangat percaya dengan Vito, jadi mereka tidak perlu khawatir lagi.
“Mas!” panggil Kay pada suaminya yang tampak sibuk dengan macbooknya.
“Mas!” panggil Kay lagi dengan nada tinggi setengah oktaf.
“Iya Sayang? Maaf aku nggak dengar.” Ucap Radit yang kini sudah berjalan mendekati brankar istrinya.
“Aku mau pulang. Aku bosan disini.” Ucap Kay cemberut.
__ADS_1
Sudah empat hari ini Kay dirawat di rumah sakit. Padahal kemarin menurut pemeriksaan dokter, keadaannya sudah membaik. Tapi suaminya tetap meminta untuk dirawat sampai benar-benar sembuh serratus persen. Vito sangat khawatir dengan keadaan Kay. Apalagi semua itu terjadi karena kesalahannya.
“Sayang, bersabarlah. Tadi suster memeriksa tekanan darah kamu masih belum stabil.” Ucap Vito lembut.
“Itu karena aku sudah nggak betah disini Mas. Kalau Mas nggak mau mengusahakan aku pulang hari ini. biar aku saja yang bilang sendiri pada dokter.” Ucap Kay sedikit mengancam sambil menggerakkan tubuhnya seolah mau berdiri.
“Tunggu!! Iya-iya, aku akan bilang ke dokter nanti.” Bujuk Vito.
“Aku maunya sekarang!” ucap Kay.
Vito akhirnya mengalah. Dia pergi meninggalkan ruang rawat istrinya dan mendatangi ruang jaga perawat untuk memintakan ijin pulang istrinya. Dan karena memang sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang keadaan Kay.
Dokter memperbolehkan Kay pulang sore harinya setelah mendapatkan pemeriksaan lagi. Dokter juga tetap menyarankan pada Kay agar selalu menjaga kesehatannya dan tidak boleh stress.
Kini Kay dan Vito sudah berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang ke rumah. Wajah Kay tampak berbinar. Dia merasa lega akhirnya bisa keluar daru rumah sakit setelah beberapa hari hanya berbaring di ranjang pesakitan itu.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah sampai di rumah. Karena tidak ingin membuat istrinya kelelahan, Vito menggendong istrinya saat Kay baru saja akan menginjakkan kakinya keluar dari mobil.
“Mas!! Aku bisa jalan sendiri.” Teriak Kay terkejut.
“Sudahlah Sayang kamu nurut saja apa susahnya sih!” gerutu Vito sambil menggendong istrinya masuk ke dalam rumah.
Beruntunglah keadaan rumah sedang sepi. Jadi Kay tidak begitu malu karena tidak mendapati keberadaan Papanya disana. Mungkin Papanya sedang berada di dalam kamar.
Vito menurunkan Kay di atas tempat tidur dengan hati-hati.
“Akhirnya bisa tidur disini lagi.” Ucap Kay sambil memeluk gulingnya.
Vito menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri yang seperti anak kecil. Kemudian dia memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Kay masih menikmati ranjang empuk yang telah lama ia tinggalkan.
Keadaan Kay sudah benar-benar membaik. Kandungannya pun tidak ada masalah. Demikian dengan Vito. morning sicknessnya sudah sembuh dan sudah tidak lagi ngidam makanan yang aneh-aneh.
“Kalian jaga baik-baik calon cucu Papa. Jangan sampai ada kejadian seperti kemarin” ucap Gi di tengah-tengah kegiatan makan malam mereka.
“Iya Pa.” jawab Kay dan Vito bersama.
Gio sangat bersyukur tidak terjadi hal buruk pada menantu dan calon cucunya. Jadi dia hanya bisa memberikan nasihat pada Vito dan Kay agar selalu menjaga calon cucunya dengan baik.
__ADS_1
“Ya sudah Papa mau ke kamar dulu. Kalian juga istirahatlah.” Pamit Gio setelah menyelesaikan makan malamnya.
Setelah itu Kay dan Vito memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Mereka juga ingin istirahat. Terutama Vito yang selama empat hari kurang istirahat karena harus menjaga Kay di rumah sakit.
Drt drt
Tiba-tiba ponsel Kay bergetar ada pesan masuk. Kay heran, siapa yang malam-malam begini mengirimkan pesan padanya.
“Kay, apa kabarmu? Aku dengar kamu sedang dirawat di rumah sakit. ~Rey~”
Mata Kay membola saat ada nomor baru mengirim pesan dan orang itu adalah Rey. Sungguh cari mati saja pria itu. Malam begini berkirim berkirim pesan dengan istri orang.
“Siapa Sayang?” Tanya Vito sambil menautkan alisnya karena melihat reaksi berbeda istrinya saat membuka ponselnya.
“oh itu Mas, anu bukan siap-“
Vito dengan cepat mengambil ponsel Kay dan langsung membaca pesan itu. Seketika darah Vito mendidih saat mengetahui siapa pengirim pesan itu. Vito membanting ponsel Kay ke lantai dengan keras sampai ponsel itu hancur tak berbentuk.
“Mas, aku nggak tahu dari mana dia dapat nomorku” ucap Kay menjelaskan pada Vito.
“Tapi kenapa kamu tidak jujur saat aku bertanya tadi? apa kamu sengaj-mmmppphhhhh”
Perkataan Vito terhenti saat tiba-tiba Kay menyambar bibir suaminya. Mata Vito membelalak tak terpaya akan tindakan agresif istrinya saat ini. Kay masih terus memagut bibir suaminya dengan rakus. Mungkin itu adalah symbol bahwa dirinya sangat mencintai suaminya dan tidak ada lagi pria di hatinya kecuali suaminya.
Setelah dapat meredakan keterkejutannya, Vito mulai membalas pagutan istrinya. Dan kini mereka berdua tampak asyik bertukar saliva untuk sama-sama membuktikan betapa besar rasa cinta mereka berdua.
“Mas, percaya sama aku kan?” Tanya Kay sambil terengah-engah setelah melepaskan ciumannya.
“Tidak, masih kurang!” ucap Vito sambil tersenyum smirk.
Sedetik kemudian dia menggendong istrinya ke atas ranjang untuk melanjutkan kegiatan panas mereka.
.
.
.
__ADS_1
*TBC