Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 182


__ADS_3

Kay dan Vito kini sudah turun ke bawah untuk segera makan malam bersama Papanya. Dari jauh Vito melihat kebersamaan Papanya dengan Barra. Sudut mata Vito berair melihat Papanya yang begitu menyayangi cucunya.


Baru kali ini Vito melihat kebahagiaan tercetak jelas di wajah Papanya. Orang tua tunggal yang selama ini menyayanginya dengan setulus hati. Mungkin balas budi Vito terhadap Papanya selama ini tidak seberapa, jika dibandingkan dengan pengorbanan Papanya yang merawatnya dari kecil. Tapi dengan melihat wajah sumringah sang Papa saat bersama cucunya, Vito yakin inilah kebahagiaan Papanya yang sesungguhnya. Bukankah sering kita dengar ungkapan bahwa orang tua akan lebih menyayangi cucunya dibandingkan dengan anaknya. seorang kakek atau nenek pasti akan membela cucunya dan pastinya akan menuruti semua keinginan cucunya. Vito tidak masalah jika ungkapan itu benar terjadi pada Papanya.


“Mas, kenapa?” Tanya Kay yang tiba-tiba melihat suaminya diam dan memperhatikan Papanya.


“Aku melihat Papa begitu bahagia bersama Barra.” Jawab Vito.


“Ya begitulah. Seorang kakek, kasih sayangnya pasti lebih besar daripada ke anaknya sendiri.” Ucap Kay.


“Aku ingin melihat Papa terus bahagia seperti itu dan tidak hanya dengan Barra saja.” Ucap Vito.


“Maksud Mas apa?” Tanya Kay bingung.


“Ya selain dengan Barra, pastinya dengan adik Barra yang sebentar lagi hadir.” Jawab Vito cengengesan.


“Mesum!!!”


Awwww


Kay mencubit perut suaminya setelah itu meninggalkan Vito yang masih meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Kay benar-benar nggak habis pikir dengan pikiran mesum suaminya. Setelah kecelakaan dan mendapat luka parah pada bagian otaknya hingga menyebabkan koma ternyata tidak membuat otak mesumnya hilang. Yang ada justru bertambah parah.


“Pa, maaf meninggalkan Papa dan Barra lama.” Ucap Kay merasa tidak enak dengan Gio.


“Nggak apa-apa. Lagian Barra nggak rewel. Apa suami kamu tadi yang rewel?” Tanya Gio sambil melirik Vito yang kini sudah berada di belakang Kay.


“Percuma rewel Pa, nyatanya belum boleh minum su- awwwww!!!” ucapan Vito terpotong ketika Kay tiba-tiba menginjak kakinya.


“Sayang kamu sekarang jahat banget sih sama suami sendiri.” Ucap Vito meringis. Bekas cubitan pada perutnya masih terasa kini mendapat kekerasan lagi di kakinya.


“Ayo Pa kita makan malam dulu.” Ucap Kay dan kemudian mendorong stoller Barra.


“Ish, aku laporin kamu ya karena telah melakukan KDRT pada suami sendiri.” Gerutu Vito sambil berjalan di belakang istrinya.

__ADS_1



Laporin saja. Aku nggak takut. Apa Mas siap nggak dapat jatah lagi.” Ancam Kay.


“Ehh, nggak Sayang. Aku tadi hanya bercanda.” Ucap Vito cemas.


Kay sudah tidak lagi mempedulikan suaminya yang masih terus menggerutu sepanjang jalan menuju meja makan. Kay meletakkan stoller Barra tepat disamping tempat duduknya. Setelah itu dia mengambilkan makanan untuk suaminya. Sedangkan Gio mengambil sendiri.


Mereka bertiga makan sambil diselingi obrolan ringan. Karena hanya saat di meja makanlah Vito mempunyai waktu untuk berbincang-bincang dengan Papanya.


“Bagaimana hari pertama kamu kembali ke kantor tadi?” Tanya Gio.


“Lancar, Pa. Vito nggak nyangkan kehadiran Vito mendapat sambutan meriah dari semua karyawan.” Jawab Vito.


“Kamu patut memberikan apresiasi pada mereka.” Saran Gio.


“Iya Pa. bulan ini Vito menaikkan gaji mereka. Tapi bukan hanya karena antusiasme mereka menyambut Vito kembali ke kantor. melainkan memang perusahaan berkembang begitu pesat semenjak Vito dirawat di rumah sakit.” Ucap Vito.


Gio mengangguk dan tersenyum mendengar anaknya yang selalu mengutamakan kesejahteraan para karyawannya. Kay yang hanya diam mendengarkan pembicaraan suami dan Papanya juga ikut merasa bahagia. Terlebih mendengar perkembangan perusahaan sang suami yang begitu pesat. Kay tidak munafik yang tidak menginginkan sebuah kekayaan. Dia hanya meminta dicukupkan rezekinya dalam rumah tangganya dan selalu dilimpahi kebahagiaan.


“Sudah dong Mas, kasihan Barra nanti bangun.” Ucap Kay.


“Sayang aku kangen banget sama Barra. Seharian penuh aku nggak gendong dia loh.” Ucap Vito.


Akhirnya Kay membiarkan suaminya menciumi anaknya. memang benar seharian ini dan baru hari ini suaminya meninggalkan Barra. Karena suaminya sudah mulai aktif ke kantor. dan untuk hari-hari berikutnya akan sama seperti ini. untung saja Barra tidak menangis karena tidurnya terusik. Dia sedikit menggerak-gerakkan badannya saja.


“Mas, persediaan diapers Barra menipis. Besok aku harus belanja ke supermarket.” Ucap Kay.


“Ya sudah besok biar aku diantar sopir Papa saja, dan Bram akan mengantar kamu belanja.” Ucap Vito.


“Apa Mas nggak apa-apa diantar sopir Papa?” Tanya Kay.


“Nggak apa-apa Sayang. Besok aku hubungi Bram agar tidak berangkat terlalu pagi. Aku akan bilang padanya untuk mengantar kamu ke supermarket.” Jawab Vito.

__ADS_1


“Ya sudah, terserah Mas saja kalau begitu. Kebetulan besok baby sitter Barra sudah datang. Jadi aku bisa ninggalin Barra bersama baby sitter.” ucap Kay kemudian


Semenjak Kay melahirkan, Bram sudah tidak lagi tinggal di rumahnya. Bram memutuskan untuk tinggal di apartemen saja. Karena dia tidak ingin mengganggu privasi majikannya. Lagipula Bram juga membutuhkan privasi. Saat itu dia meminta ijin langsung pada Kay di saat Kay baru saja pulang dari rumah sakit. Kay sebenarnya tidak memperbolehkan tapi setelah mendapat pengertian dari Daddynya bahwa Bram juga butuh privasi, jadi Kay mengijinkan Bram untuk tinggal di apartemen.


Terlihat Barra mulai terganggu dengan ulah Papanya. Kay mengambil alih Barra dari gendongan suaminya kemudian menyusuinya. Vito melihat anaknya yang begitu rakus saat menyusu seperti benar-benar kehausan.


“Hei Sayang pelan-pelan dong minumnya. Jangan dihabiskan loh, kamu nggak kasihan apa sama Papa yang juga kehausan.” Goda Vito.


“Mas!! Sama anak sendiri kayak gitu.” Ucap kay sambil melotot.


Seketika Vito berdiri dan bergegas masuk ke dalam kamar sebelum mendapat serangan lagi dari istrinya.


Setelah Barra puas minum dan kembali tidur, Kay membawanya masuk ke dalam kamar. kay sangat terkejut dengan tatanan kamarnya yang berubah. Selama ini Barra memang tidur bersama kedua orang tuanya dengan posisi berada di tengah. Dan Kay bingung saat melihat posisi ranjangnya yang kini sudah bergeser merapat ke dinding. Dan bantal Barra sudah ditata oleh Vito persis disamping dekat dengan dinding.


“Mas?” Tanya Kay bingung dengan posisi tempat tidurnya.


“Ayo sayang tidur, sudah malam. Barra letakkan disini, dan kamu yang di tengah.” Ucap Vito.


Kay memutar bola matanya malas melihat akal licik sang suami. Dasar modus. Sama anak sendiri saja cemburu. Dan Kay sudah tidak punya pilihan lagi selain menurut.


Kay menidurkan Barra di tempat yang sudah ditatakan oleh suaminya. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Barra.


Tiba-tiba saja ada lengan kekar yang memeluknya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan suami mesumnya yang licik.


“Mas!” protes Kay saat tangan Vito tidak bisa diam.


“Kamu tidur saja Sayang. Aku hanya ingin bermain-main dengan wadah minumnya Barra.” Jawab Vito sambil terus menikmati mainannya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2