
Ini adalah hari kedua Barra dan Xavier berada di Paris. Dan dua hari ini, terhitung sejak sore kemarin setelah kedatangannya sampai sore ini, kedua insan itu masih berada di dalam kamar hotel. Keduanya lebih memilih menghabiskan waktunya dengan kegiatan panas-panasan sebelum besok dan hari selanjutnya mereka gunakan untuk jalan-jalan.
“Sayang, sudah sore nih. Apa kamu masih ingin tidur?” tanya Barra pada Carissa yang saat ini masih membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
“Aku malas sekali Mas. Badanku rasanya remuk semua.” Jawab Carissa sambil memejamkan matanya.
Barra yang baru saja selesai mandi namun hanya memakai boxer saja, dia segera naik ke ranjang lagi menciumi kepala Carissa. Karena hanya kepala Carissa saja yang saat ini tampak. Selebihnya, seluruh tubuhnya terbungkus oleh selimut.
Barra semakin gemas dengan sikap manja istrinya yang malas-malasan seperti ini. dia juga masih mencium aroma dari sisa percintaannya dengan sang istri.
Sedangkan Carissa yang mencium aroma segar dan harum yang menguar dari tubuh suaminya, seketika gairahnya kembali tersulut. Namun apa daya fisiknya begitu rapuh dan tidak mampu untuk menyalurkan hasratnya. Carissa malu sendiri jika teringat dengan percintaannya semalam bahkan sampai pagi tadi. dia merasa sangat agresif. Berbeda dari biasanya sebelum honeymoon.
“Hei, kenapa wajah kamu merona padahal mata kamu terpejam?” tanya Barra yang sejak tadi mengamati wajah cantik Carissa.
“Apa sih Mas. Ya sudah aku mandi saja kalau gitu.” Ucap Carissa dan segera melepas balutan selimut tebalnya hingga menampakkan tubuh polosnya yang seksi.
Carissa tidak peduli lagi jika kini dirinya telanjang bulat dan berjalan menuju kamar mandi. entahlah, sepertinya wanita yang berstatus sebagai istri Barra itu kini sudah tidak lagi punya rasa malu jika bertelanjang di depan sang suami.
“Hei kamu sudah membangunkan sesuatu Sayang!” teriak Barra saat melihat istrinya sudah masuk ke kamar mandi.
Barra hanya bisa menghela nafasnya kasar. Ingin sekali rasanya menyerang tubuh seksi sang istri. Namun akal sehatnya masih bisa bekerja. Mengingat istrinya begitu kelelahan akibat proses pencetakan anak selama dua hari.
Carissa sepertinya akan lama berada di dalam kamar mandi. mungkin dia berendam untuk beberapa menit guna menghilangkan rasa lelah pada tubuhnya. Jadi kesempatan itu Barra gunakan untuk memesan makanan dari pihak hotel, sekaligus memintanya untuk menata di meja makan dan diletakkan di balkon kamarnya. Barra akan memberikan surprise pada istrinya dengan makan malam romantic di balkon kamar sambil menikmati udara malam kota Paris.
Selama kurang lebih Carissa berada di dalam kamar mandi akhirnya dia keluar juga. dan bersamaan itu pelayan hotel juga baru saja menyelesaikan menata makanan untuk dinner mereka.
Carissa sangat terkejut dengan gaun indah bermerk terkenal sudah ada di atas ranjang. Gaun itu memang sengaja Barra siapkan dan juga dibeli di Paris. Kemudian Carissa mengambilnya dan langsung memakainya.
__ADS_1
“Mas, terima kasih. Gaunnya bagus sekali.” Ucap Carissa saat melihat Barra baru saja masuk ke kamar.
“Sayang, kamu cantik sekali!” puji Barra.
Setelah Carissa siap dengan gaun itu, begitu juga dengan Barra yang sudah memakai kemeja dibalut dengan sweater berwarna coklat terang yang senada dengan gaun Carissa. Barra menggandeng tangan Carissa berjalan menuju balkon kamarnya. Setelah Barra membuka pintu itu, Carissa dibuat terkejut lagi dengan tatanan makan malam romantis yang ada di hadapannya.
“Mas. Kamu yang siapkan ini semua?” tanya Carissa terharu lantas memeluk suaminya.
Barra hanya mengangguk samar dan menyambut pelukan hangat sang istri. Setelah itu dia mengajak Carissa duduk dan memulai makan malam romantis itu.
Setelah dua hari waktu mereka dihabiskan di kamar hotel, mulai besok dan seterusnya Barra akan mengajak istrinya untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata yang paling romantis di Paris. Mulai dari icon kota Paris sendiri yaitu Menara Eiffel, kemudian menyusuri Sungai Seine, setelah itu ke Gembok Cinta dan Dinding Cinta. Terakhir sebelum pulang, Barra akan mengajak istrinya berbelanja ke Faubourg Saint-Honore yang merupakan salah satu pusat mode di Paris.
***
Sementara itu hubungan Jenny dan Xavier semakin dekat sejak Xavier menyatakan meminta kesempatan untuk dekat dengan Jenny. Mereka berdua juga sering menghabiskan waktu bersama seperti makan siang berdua, ataupun makan malam.
Beberapa hari yang lalu salah satu karyawan Carissa menghubungi Jenny kalau ada pelanggan baru yang rekomendasikan untuk pesan baju pengantin di butik meliknya karena Carissa sedang berbulan madu. Jenny pun sangat senang mendengarnya. Namun saat bertemu langsung dengan kliennya, Jenny ingin sekali mundur.
Klien barunya yang memesan baju pengantin itu seusia dengan dirinya. Namun sangat banyak sekali maunya. Dan merasa tidak cocok dengan beberapa contoh gaun yang ditunjukkan oleh Jenny. Tapi akhirnya kliennya itu pasrah dengan pilihan contoh yang terakhir Jenny tunjukkan. Itu pun karena bujukan calon suaminya.
Tidak sampai pada klien perempuannya saja yang membuat Jenny tampak kesal. Namun calon suami dari perempuan itu juga lebih menyebalkan. Pria dewasa yang usianya sekitar 40 tahuan itu sering sekali memperhatikan Jenny jika sedang bertemu. Bahkan tatapan matanya membuat Jenny merasa tidak nyaman.
Dia teringat saat pertemuannya kemarin. Jenny sudah tiba di restaurant terlebih dulu. Namun yang datang bukannya si calon pengantin perempuan melainkan calon pengantin prianya. Dan hal itu semakin membuat Jenny cemas.
Tatapan laki-laki itu seperti ingin menelanjangi Jenny. Untung saja dirinya berada di tempat yang ramai. Jadi sedikit merasa aman jika terjadi hal buruk. Dan tiba-tiba saja tanpa Jenny duga, pria itu menggunakan kakinya untuk menyentuh kaki jenjangnya. Jenny tersentak. Dan saat akan melayangkan umpatannya, tiba-tiba calon pengantin wanitanya datang. Jenny bisa bernafas lega.
Drt drt drt
__ADS_1
Ponsel Jenny bergetar ada panggilan masuk.
“Iya halo Kak?” tanyanya.
“Makan siang yuk! Aku jemput ya?” ajak Xavier.
“Baiklah, aku tunggu.” Jawab Jenny.
Setelah itu Jenny menghentikan aktivitasnya sementara karena dia akan pergi makan siang bersama Xavier.
Jenny dan Xavier baru saja tiba di sebuah restaurant yang tidak jauh dari butiknya. Mereka berdua keluar dari mobil dan segera masuk. Namun saat akan masuk, bersamaan itu Iqbal juga menuju restaurant tersebut.
“Kak Iqbal!” sapa Jenny sopan.
“Tuan Iqbal? Anda makan siang disini juga?” tanya Xavier.
“Bukankah kita akan makan siang bersama dan juga meeting di restaurant ini Tuan Xavier?” tanya Iqbal.
“Astaga!! Saya baru ingat. Ya sudah sekalian saja kita makan siang bertiga. Mari!” ucap Xavier.
Iqbal hanya mengangguk samar. Setelah itu mengikuti langkah kaki dua orang yang di hadapannya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC