Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
Eps 76 Titik Terang


__ADS_3

Sudah sejak tiga hari yang lalu Angga berada di Singapore karena ada urusan pekerjaan. Selama itu pula dia selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan Viviane pada saat pekerjaannya sudah selesai.


Semenjak pertemuannya pada pernikahan Delia dan Radit, hubungan Viviane dan Angga semakin dekat. Entah dekat sebagai teman baik atau lebih. Hanya mereka berdua yang tahu.


Saat ini mereka sedang berada di sebuah café. Setelah Viviane mengajak Angga ke Merlion Park dengan tujuan untuk membuang kenangannya bersama Radit yaitu cincin pertunangan, kini Viviane dan Angga sudah berada di sebuah café. Viviane masih terdiam setelah Angga memeluknya tadi.


“diminum dulu Vi” Angga menyodorkan minuman yang telah dipesan beberapa saat lalu. Viviane hanya mengambil dan meminumnya tanpa menjawab, hingga membuat Angga merasa bersalah.


“Vi, apa kamu masih memikirkan Radit?” Tanya Angga dengan hati-hati


“nggak ko’ ngga” jawab Viviane sambil mengaduk-aduk menumannya menggunakan sedotan.


“Vi, maafkan aku sebelumnya karena aku sudah menceritakan tentang Radit dan Angel, dan mungkin itu membuatmu terluka. Namun tujuanku adalah aku nggak mau kamu terus-terusan mengharapkan Radit yang sudah tidak mencintaimu lagi. Aku ingin kamu bahagia Vi”


“Sampai kapanpun mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan lagi Ngga”


“kamu jangan bicara seperti itu Vi, aku akan berusaha membuatmu bahagia”


“apa maksud kamu?”


“ijinkan aku menggantikan kesedihan kamu menjadi kebahagiaan Vi, ijinkan aku untuk singgah di hatimu” ucap Angga sambil memegang lembut kedua tangan Viviane.


Viviane tersentak kaget dan pelan-pelan dia melepaskan tangan Angga dari tangannya.


“maaf Ngga, rasanya aku tidak pantas mendapat kebahagiaan. Aku wanita rusak yang sudah tidak pantas mendapatkan kebahagiaan lagi” ucap Viviane sendu, dia menyesali perbuatannya selama ini.


“aku pun juga begitu Vi. Aku bukan lelaki yang sempurna. Apa salahnya kita mencoba terlebih dahulu. Kita akan belajar bersama-sama untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah kita perbuat”


Mata Viviane sudah berkaca-kaca mendengarkan penuturan Angga. Ternyata di dunia ini masih ada orang yang mau menerima kekurangannya. Meskipun orang itu juga sama-sama jauh dari kata sempurna. Angga memegang lagi kedua tangan Viviane.


“maukah kamu mencoba menjalani hubungan yang lebih serius denganku? Kita jalani saja seperti air yang mengalir” Viviane tidak mampu lagi menjawab pertanyaan Angga. Dia menganggukkan kepalanya sambil terus menangis karena bahagia. Angga pun juga sangat bahagia karena Viviane mau menerima dirinya apa adanya.


Setelah dari café, kini Angga mengantar Viviane untuk pulang ke apartemennya. Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi Angga dan Viviane.


“Vi, bisakah kamu mengajukan mutasi ke Indonesia?” Tanya Angga tiba-tiba.


“kenapa memangnya?”


“aku disini tidak tinggal tetap Vi, mungkin 3 hari lagi urusan pekerjaanku sudah selesai. Lantas siapa yang akan menjaga kamu kalau kita berjauhan?”


Hati Vviane seketika berbunga-bunga mendengar pernyataan Angga yang menurutnya itu adalah sebuah bentuk perhatian padanya. Setelah sekian lama akhirnya Viviane bisa merasakan lagi rasanya diperhatikan oleh seseorang.


“ehm.. iya aku usahakan” jawab Viviane tersenyum, dan itu membuat Angga merasa sangat lega.


Akhirnya mereka berdua sudah sampai di apartemen Viviane. Angga hanya mengantarkan sampai depan pintu unit apartemen Viviane kemudian segera pulang.

__ADS_1


“makasih ya Ngga”


“hmm…” Angga mengangguk dan mengecup kening Viviane, kemudian pergi.


***


Setelah pulang dari honeymoon, kedua insan yang selalu terlihat mesra itu kini masih perang dingin. Delia hanya bicara seperlunya saja dengan sang suami. Itupun kalau Radit menanyakan sesuatu, baru Delia akan menjawabnya.


Malam hari setelah kepulangan mereka dari honeymoon, mereka berdua tidur dengan saling memunggungi. Jadi tidak ada lagi malam panas bagi keduanya. Yang ada justru malam dingin. Delia pun masih sangat kesal dengan sikap suaminya yang cemburunya di atas normal.


Dia sengaja mendiamkan sang suami sebagai pelajaran agar suatu saat tidak akan terulang lagi kejadian seperti ini lagi. Sedangkan Radit pusing. Harus menahan gejolak di balik celananya karena belum mendapatkan maaf dari sang istri.


Keesokan harinya seperti biasa Radit mengantar Delia pergi ke kantor. di dalam mobil hening tidak ada sama sekali pembicaraan. Setelah sampai depan kantor, Delia mencium tangan suaminya dan langsung keluar dari mobil. Radit mendengus karena hendak mencium kening istrinya tapi Delia sudah buru-buru keluar. Radit segera melajukan mobilnya.


Namun bukan ke kantor, melainkan ke kantor polisi.


Dua hari yang lalu saat sedang berbulan madu, Radit mendapat telepon dari pihak kepolisian. Radit mendapat kabar bahwa pelaku penculikan istrinya beberapa saat yang lau sudah menemui sedikit titik terang. Maka dari itu Radit segera memutuskan untuk segera pulang. Karena dia sudah tidak sabar untuk mengetahui siapa pelaku penculikan serta penganiayaan istrinya.


Kini Radit sudah berada di kantor polisi. Radit sedang menemui salah satu anggota kepolisian yang bertugas mengusut kasus penculikan istrinya.


Pihak kepolisian masih belum bisa menangkap pelaku. Hanya saja pelaku sudah masuk DPO (Daftar Pencarian Orang). Radit mengernyit bingung saat melihat hasil resume dari pelaku.


“apakah nak Radit mengenali salah satu dari mereka?” Tanya Johan, anggota satuan reserse dari kepolisian yang bertugas menangani kasus itu dan merupakan teman baik papa Radit.


“saya nggak kenal sama sekali om” Radit bingung karena tidak mengenali kedua pelaku tersebut.


“nak Radit percayakan semua pada saya, nanti akan diperdalami lagi kasusnya”


Radit mengangguk, setelah itu dia berpamitan untuk pergi. Dalam perjalanan Radit masih berpikir siapa sebenarnya orang yang telah menculik istrinya. Lantas apa motifnya.


Kemudian Radit menghubungi rekan kerjanya sekaligus teman baiknya untuk meminta bantuan mengusut kasus yang telah dia alami. Karena temannya itu mempunyai relasi dengan orang-orang yang sangat berbakat dalam mencari dan mengusut tindak criminal dengan cepat.


Tuuuuuutttt…


“halo Zakki? Apa kamu sibuk hari ini?”


“…..”


“ada sedikit masalah. Aku minta baantuan kamu”


“…..”


“iya nanti sepulang kantor, kita bertemu di café XXX”


“…..”

__ADS_1


“thanks ya Zak”


Setelah mengakhiri panggilannya, Radit segera pergi ke kantornya. Hari ini jadwalnya tidak terlalu padat, memgingat bahwa sebenarnya hari ini adalah hari terakhir dirinya berbulan madu. Namun karena sesuatu hal, dia harus mempercepat kepulangannya.


Sesampainya di kantor Radit segera menandatangani sekaligus memeriksa beberapa dokumen. Namun dia teringat dengan janjinya pada Zakki sepulang kerja. Radit mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada istrinya bahwa dirinya tidak bisa menjemputnya. Radit mengatakan bahwa ada meeting di kantor. dia meminta maaf pada Delia, dan memintanya pulang naik taksi saja.


Delia yang menerima pesan dari suaminya hanya membacanya saja tidak berniat untuk membalas. Kemudian dia melanjutkan lagi pekerjaannya.


Sedangkan radit yang melihat istrinya hanya membaca pesan yang dikirim tanpa berniat untuk membalas hanya bisa menghela nafas panjang. Dia harus bisa bersabar untuk menghadapi istrinya yang sedang marah.


Malam harinya, sekitar pukul 10 malam Radit baru saja menginjakkan kakinya di apartemen. Dia membuka pintu kamarnya dan melihat sang istri sudah tidur dengan posisi membelakanginya. Radit tidak berani membangunkan Delia. Dia segera melepas pakaian kerjanya dan menyiapakan air sendiri untuk mandi.


Sebenarnya Delia belum tidur. Sejak tadi dia sangat mengkhawatirkan suaminya karena belum juga pulang. Dan saat mendengar pintu dibuka, Delia segera pura-pura tidur. Dia merasa lega akhirnya suaminya pulang.


Selesai mandi Radit segera keluar dari kamarnya dan masuk ke ruang kerjanya. Dia belum bisa tidur dan memilih menyibukkan diri, daripada menemani istrinya tidur namun dalam keadaan marah. Yang ada semakin membuat Radit tersiksa.


Pukul 12 malam Radit keluar dari ruang kerjanya dan masuk ke kamarnya karena dia merasa sudah sangat lelah dan ngantuk. Radit segera tidur memeluk istrinya. Tidak peduli jika besok saat bangun istrinya akan marah lagi.


Dan keesokan harinya, Delia mengerjapkan matanya saat bangun tidur. Dia merasakan hembusan nafas hangat yang tidak jauh dari tubuhnya. Delia membuka matanya, ternyata Radit tidur sambil memeluknya.


Sebenarnya delia masih kesal dengan suaminya, dan dia hendak menyingkirkan lengan kekar suaminya itu agar tidak memeluknya lagi. Namun Delia sangat terkejut saat memegang tangan suaminya, dia merasakan panas pada kulit lengan suaminya. Kemudian Delia memegang kening suaminya dan hasilnya sama panas juga. Delia sangat panik melihat kondisi suaminya yang sedang tidak baik.


“mas… bangun!” namun mata Radit masih terpejam


“mas ayo bangun” Bukan bangun, justru Radit semakin memeluk tubuh istrinya dengan erat.


“sayang, maafkan aku” radit bergumam lirih dengan hembusan nafas hangat yang menyentuh kulit Delia. setelah itu tidak ada lagi kata yang diucapkan Radit.


“mas bangun mas…” Delia sudah menangis terisak


.


.


.


.


*TBC


Selamat hari senin. jgn lupa Votenya ya. like, komen, gift, & rate bintang 5. 😘😘


follow ig ku ya @dee_k9191


.

__ADS_1


.


*_author newbie_💕💕


__ADS_2