Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 171


__ADS_3

“Darah!!” pekik Desi sambil membekap mulutnya terkejut.


Seketika pengunjung café langsung berkerumun. Sedangkan seorang pria yang sepertinya sengaja menusukkan pisau ke perut Kay tapi malah mengenai Bram sudah melarikan diri begitu saja tanpa sepengetahuan orang-orang.


“Cepat bawa Nyonya Kay ke rumah sakit!” titah Bram pada Desi yang masih terlihat shock.


Ssshhhh….


Kay meringis memegangi perutnya yang sepertinya tadi sempat membentur kaki meja. Sedangkan Bram, posisinya sedang memeluk Kay tapi kemeja yang ia gunakan sudah berlumur darah segar.


“Ta…ta…tapi kamu juga harus dibawa ke rumah sakit.” Ucap Desi dengan suara bergetar.


Desi bingung bercampur panik karena melihat wajah Bram yang semakin memucat. Untung saja salah satu pengunjung café ada yang menghubungi pihak rumah sakit. Dan dengan sigap Kay dan Bram dibawa menggunakan mobil ambulans. Sedangkan Desi segera menyusul ke rumah sakit dengan membawa mobil Kay.


Sesampainya di rumah sakit, keadaan Bram sudah tidak sadarkan diri karena terlalu banyak darah yang dikeluarkan. Sementara Kay sudah pingsan sejak masih di café tadi. mungkin dia shock dengan apa yang baru saja menimpanya.


Desi segera menghubungi Delia untuk memberitahukan bahwa saat ini Kay sedang dilarikan ke rumah sakit. Dan Delia benar-benar terkejut mendengar kabar itu. Dia segera pergi


ke rumah sakit tentunya dengan sang suami.


“Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi Des?” Tanya Delia dengan cemas saat sudah tiba di rumah sakit.


Desi masih merasa takut. Dengan suara bergetar dia menceritakan semuanya. Desi mengatakan kalau dia tidak tahu pasti bagaimana kronologinya. Yang dia tahu hanya saat Kay baru kembali dari toilet di sebuah café, tiba-tiba saja Bram dengan cepat berlari sambil berteriak. Sedetik kemudian Kay sudah berada di bawah lindungan Bram. Namun naas bagi Bram yang terkena tusukan sebilah pisau tepat pada perutnya. Untuk Kay setahu Desi tadi memegangi perutnya yang seperti membentur kaki meja.


Radit dan Delia mendengarkan cerita Desi dengan seksama. Setelah itu mereka menunggu dokter yang memeriksa Kay dan Bram keluar dari ruangannya. Sedangkan Radit segera menghubungi menantunya dan mengabarkan tentang kecelakaan yang sedang menimpa istrinya.


Cklek


Dokter yang memeriksa Kay sudah keluar dari ruangannya. Sontak membuat Delia segera berdiri untuk menanyakan


keadaan anaknya.


“Bagaimana keadaan anak saya Dok?” Tanya Delia cemas.

__ADS_1


“Nyonya Kayola baik-baik saja. Hanya shock. Dan kandungannya juga tidak ada masalah. Anda boleh menjenguknya setelah dipindah ke ruang inap.” Ucap Dokter.


“Lalu bagaimana keadaan Bram, Dok?” Tanya Radit.


“Untuk Tuan Bram masih belum sadarkan diri. Karena tadi sempat kehilangan banyak darah, dan sudah mendapatkan donor darah. Lukanya juga tidak terlalu serius. Setelah ini akan dipindahkan ke ruang rawat inap.” Jawab dokter.


Delia dan Radit mengikuti perawat yang mendorong brankar Kay yang sedang dipindah menuju ruang rawat inap. Sedangkan Desi mengikuti Bram yang masih belum membuka matanya dan dipindahkan juga ke ruang rawat inap.


Malam harinya Vito sudah sampai di kota B. setelah mendapat telepon dari Daddynya, Vito sangat terkejut dan segera memesan tiket pesawat untuk segera menemui istrinya.


“Sayang, bagaimana keadaan kamu dan anak kita?” Tanya Vito yang terlihat sangat khawatir.


“Aku baik-baik saja Mas. Anak kita juga baik. Tapi Bram yang terluka parah Mas.” Jawab Kay dengan nada sendu.


Sebenarnya sejak tadi Kay ingin melihat keadaan Bram. Namun dokter masih melarangnya untuk bangun. Kay sangat tahu saat kejadian tadi. dia melihat sendiri Bram yang berusaha melindunginya. Kay juga melihat Bram sempat meringis menahan sakit saat sebilah pisau menancap tepat di perut sebelah kiri.


“Tenang Sayang. Aku yakin Bram pasti baik-baik saja. Sekarang yang terpenting kamu dan anak kita selamat” ucap Vito.


Sementara itu Desi kini berada di dalam ruang rawat Bram. Pria kaku irit bicara namun tampan itu baru saja sadar dari pingsannya. Bertepatan dengan Desi yang tadi baru saja masuk ruangannya. Entah kenapa Desi merasa iba dan berasalah pada pria dingin itu. Pasalnya Desi tadi sudah sempat berpikiran buruk pada Bram yang memperhatikan atasannya dengan tatapan berbeda. Tak tahunya kalau saat itu Bram tengah mengawasi majikannya yang sedang dalam bahaya.


Desi bingung harus berbuat apa dan berbicara apa pada Bram yang saat ini sedang berdiam diri dengan selang infus tertancap pada pergelangan tangannya.


“Apa kamu membutuhkan sesuatu?” Tanya Desi basa-basi.


Bukannya menjawab. Bram justru menutup matanya seolah malas sekali melihat ada seseorang berada dalam satu ruangan dengannya. Terlebih seorang wanita.


Desi menghembuskan nafasnya kasar melihat reaksi Bram yang masih saja kaku walaupun dalam keadaan sakit seperti ini.


“Terima kasih sudah melindungi Non Kay tadi. maaf jika keberadaanku disini mengganggu istirahat kamu. Semoga lekas pulih.” Ucap Desi dan berniat meninggalkan Bram dan membiarkan pria itu beristirahat.


“Sudah menjadi kewajibanku melindungi majikanku. Tidak perlu berterima kasih.” Jawab Bram datar saat Desi akanmeraih kenop pintu.


Desi tertegun dengan pria kaku itu. Iya memang sudah menjadi tugasnya melindungi Kay dari bahaya. Tapi setidaknya hargailah dirinya yang sejak tadi menunggu dengan perasaan khawatir. Tanpa menjawab akhirnya Desi memutuskan untuk keluar saja dari ruang rawat Bram.

__ADS_1


“Terima kasih!” ucap Bram lagi saat Desi sudah berhasil membuka pintu.


“Buat apa?” Tanya Desi.


“Mendoakan kesembuhanku.” Jawab Bram singkat sambil memalingkan wajahnya.


Desi menarik sudut bibirnya tersenyum. Dia hanya mengangguk samar. Entah Bram melihatnya atau tidak. Kemudian segera keluar untuk melihat keadaan Kay.


Selepas kepergian Desi, kini bergantian Vito yang masuk ruangan Bram. Vito ingin memastikan keadaan Bram apakah baik-baik saja atau membutuhkan perawatan khusus.


“Bram, bagaimana keadaan kamu?” Tanya Vito.


“Tuan. Saya baik-baik saja. Luka di perut saya juga tidak begitu serius.” Jawab Bram.


Vito merasa lega karena Bram baik-baik saja. Kemudian Vito menanyakan kronologi kejadian yang sebenarnya. Bram menceritakan semuanya. Dan Vito tadi juga sempat mendapatkan kabar dari Daddynya kalau sudah dibantu dengan melaporkan pada pihak kepolisian agar segera mengusut kasus percobaan pembunuhan yang ditujukan pada Kay.


Vito geram sekali dengan orang yang berniat jahat pada istrinya terlebih berniat membunuhnya. Saat ini pikiran Vito hanya tertuju pada satu orang yang patut ia curigai.


“Aku nggak akan mengampuni kamu kalau sampai kamu berani menyentuh istriku.” Gumam Vito penuh amarah.


“Tuan jangan khawatir. Setelah saya sembuh, saya akan berusaha membantu untuk menemukan orang yang dengan sengaja berniat melukai Nyonya Kay.” Ucap Bram.


“Terima kasih Bram.” Jawab Vito.


.


.


.


*TBC


Hayo siapa ya kira²?🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2