
Memang ya seorang nenek atau kakek pasti akan sangat sayang pada cucunya daripada sama anaknya. bahkan yang diingat pun adalah cucunya, bukan anaknya. tapi kalau ada kesalahan pada cucunya yang disalahkan adalah anaknya.
Terlihat dari Delia yang saat baru pertama kali membuka pintu rumah. Padahal yang berdiri depan pintu adalah Kay dan bersiap memeluk Mommynya. Tapi sayang sekali ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Pandangan Delia justru pada makhluk kecil yang sedang berceloteh riang dalam gendongan sang Papa.
“Barra! Cucu oma!!” teriak Delia dan berjalan menuju cucunya sedang berada dalam gendongan Vito.
Kay memasang wajah cemberut karena sudah tidak mendapatkan perhatian lagi dari Mommynya. Tapi Kay tetap bahagia karena begitu banyak yang menyayangi Barra.
Setelah Barra sudah berpindah dalam gendongan Delia, Vito menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke rumah sambil mendorong koper yang berisi pakaian mereka. Radit yang sedang bersantai di ruang keluarga bersama Nathan tampak terkejut setelah sayup-sayup mendengar celotehan seorang bayi.
“Barra!” ucap Radit saat tahu kalau memang benar cucunya datang.
Radit menghampiri Barra yang ada dalam gendongan istrinya. Pria paruh baya itu juga sama kangennya dengan cucunya. Radit menciumi Barra sambil mencubit gemas pipi gembulnya. Reaksi Barra sungguh sangat menghebohkan. Bayi itu justru semakin berceloteh sambil menggerak-gerakkan kakinya.
“Wahh cucu Opa sudah pintar ya. Seperti siapa?” goda Radit.
“Seperti Mama dan Papanya dong Dad!” ucap Kay dan Vito bersamaan.
Radit menoleh pada anak perempuannya kemudian memeluk bergantian dengan Vito. Berbeda dengan Delia yang sedang sibuk dengan cucunya, bahkan wanita itu sejak tadi belum menyapa anak dan menantunya karena ssaking rindunya dengan Barra. Namun Radit begitu perhatian dengan anak sulungnya dan juga menantunya.
Sedangkan Nathan juga ikut bersama Mommynya yang sedang mengajak Barra bermain. Nathan juga sangat senang kedatangan keluarga kakaknya.
Radit begitu bahagia melihat keluarganya begitu lengkap dan bahagia. Terlebih setelah hadirnya cucu laki-laki dari anak pertamanya. Radit berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir dan akan terus mengiringi perjalanan hidup anak cucunya kelak.
Setelah berkumpul di ruang keluarga, Vito mengajak istrinya untuk masuk ke kamar karena capek. Sementara Barra yang sejak tadi sudah tidur, dia membiarkannya tidur bersama Mommynya karena Delia sendiri yang memintanya.
__ADS_1
Kay mengambil baju ganti untuk dirinya dan suaminya. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Karena waktu masih belum terlalu sore, Kay memutuskan untuk istirahat sebentar setelah membersihkan tubuhnya.
Vito melihat istrinya sudah berbaring di atas ranjang. Dia juga segera menyusul istrinya.
“sayang, aku pengen!” bisik Vito pelan.
“Aku masih capek Mas. Nanti malam saja ya.” Tolak Kay.
“Dosa lho sayang menolak suami itu. Kan mumpung Barra sedang tidur sama Mommy, kamu diam saja biar aku yang bekerja.” Bujuk Vito.
Kay pun tidak kuasa menolak suaminya karena memang berdosa jika menolak berhubungan dengan suami. Akhirnya dia hanya pasrah menerima permainan suaminya. Seperti biasa, Vito memulainya dari bibir Kay. Vito sungguh sudah tidak tahan untuk melu mat bibir Kay. Awal ciuman hangat itu lama-lama menjadi semakin panas dan menuntut. Vito sudah tidak sabar ingin melesatkan senjata ampuhnya. Namun dia juga masih ingin bermain-main dengan wadah minum Barra yang begitu menggoda. Dan saat Vito sudah melepas celana piyama yang dipakai tiba-tiba saja,
Tok tok tok
“Kay! Barra bangun!” panggil Delia di balik pintu kamar.
Sementara Vito kini wajahnya sudah merah padam menahan gejolak amarah dan juga hasratnya yang semakin surut. Entahlah dia mau marah sama siapa. Disaat si rudal sudah siap meluncur, kini terpaksa harus dilemahkan dulu karena gangguan cuaca🤣🤣🤣
***
Kini semua orang sudah berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. Barra juga ikut berada disana dengan diletakkan dalam stoller. Semua tampak ceria menikmati kebersamaan makan malam. Tapi tidak dengan Vito. semenjak gagalnya rudal meluncur, wajahnya cenderung ditekuk.
Dalam makan malam itu Kay mengatakan kalau Bram besok juga akan datang kesini. Kay mengatakan pada kedua orang tuanya kalau Bram akan melamar Desi dan meminta suaminya untuk menjadi walinya.
Delia dan Radit sangat senang mendengarnya. Mereka berdua sudah menganggap Bram sebagai anaknya sendiri. Terlebih Bram akan melamar Desi. Delia juga sudah kenal lama dengan Desi maupun orang tuanya. Kemudian Delia dan Radit juga memutuskan untuk ikut dalam acara lamaran Bram besok.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, jam 7 pagi Bram dan Desi sudah sampai di bandara kota B. mereka berdua mengambil jadwal penerbangan pagi. karena Bram juga mengerti Desi pasti perlu persiapan untuk acara lamarannya nanti malam. Meskipun Bram menginginkan lamaran yang sederhana.
Keduanya berpisah saat di bandara. Bram menaiki taksi menuju rumah orang tua majikannya, sedangkan Desi naik taksi menuju rumahnya.
Sesampainya taksi yang ditumpangi Bram, pria itu segera masuk ke dalam rumah. Kedatangannya sudah disambut hangat oleh si tuan rumah. Bram merasa bahagia seperti memiliki keluarga baru. Bahkan saat sudah masuk, dia melihat istri tuannya sedang sibuk bersama mommynya mempersiapkan acara lamarannya nanti malam.
“Maaf Nyonya. Sebenarnya anda tidak perlu seperti ini. ini terlalu mewah. Saya yang menginginkan acara lamaran ini sederhana.” Tolak Bram merasa tidak enak.
“Nak Bram tenang saja, kami semua ikhlas melakukannya. Nak Bram sudah kami anggap seperti anak sendiri, jadi nggak perlu sungkan.” Ucap Delia.
Bram hanya bisa pasrah. Dia bahkan bisa saja mengadakan acara lamaran mewah secara gaji yang diberikan oleh Vito sangatlah fantastis jumlahnya. Namun sifat Bram yang tidak ingin terlalu menghambur-hamburkan uang, jadi dia memilih melakukan acara lamarannya secara sederhana saja, karena masih banyak hal yang lebih penting setelah nanti sudah menikah. Tapi kalau semua ini memang niat dari atasannya, Bram juga tidak mampu menolaknya.
Malam pun tiba. Kini Bram beserta keluarga besar Kay sudah berada di kediaman orang tua Desi. Kedatangan mereka disambut hangat oleh keluarga Desi.
Saat semua sudah berkumpul di ruang keluarga, Vito yang sudah diminta Bram sebagai walinya lantas megatakan maksud kedatangannya yang tak lain adalah melamar Desi untuk Bram. Vito berani menjamin kalau Bram adalah lak-laki yang sangat penyayang dan bertanggung jawab.
Kedua orang tua Desi juga ikut senang dan menerima lamaran dari Bram. Semua orang yang hadir dalam acara tersebut akhirnya mengucap syukur. Kemudian Bram dan Desi saling bertukar cincin. Kedua pasangan itu sangat gugup saat saling menautkan cincin di jari manis masing-masing dengan disaksikan semua keluarga.
Desi dan Bram merasa lega karena perjalanan cintanya menuju halal tinggal selangkah lagi. Dan untuk acara pernikahan mereka telah disepakati akan digelar 2 bulan lagi.
.
.
__ADS_1
.
*TBC