
“Mas kenapa? Apa sedang ada masalah?” Tanya Carissa pada Barra.
Setelah melihat Jenny dan Xavier keluar tadi, tidak lama kemudian Barra dan juga Carissa keluar untuk jalan-jalan. Namun sejak tadi Barra hanya diam saja. Dia masih tidak menyangka kalau Jenny sangat dekat dengan Xavier. Entah kenapa Barra kurang begitu suka dengan kedekatan mereka.
“Yang benar saja, aku menikah dengan Carissa, kemudian Jenny dengan Xavier” Batin Barra.
Selain itu Barra juga sudah hilang kepercayaan pada Xavier gara-gara kejadian naas yang menimpa istrinya tempo hari.
“Mas!” Panggil Carissa lagi dan menyadarkan Barra.
“Eh, iya Sayang. Maaf. Apa kamu tahu kalau Xavier tadi jalan dengan Jenny?” Tanya Barra kemudian.
“Oh ya kapan Mas? Aku nggak tahu.” Jawab Carissa terkejut.
“Tadi sebelum kita berangkat, Xavier datang ke rumah menjemput Jenny. Bagaimana menurut kamu dengan hubungan mereka berdua?” Tanya Barra.
“Bagiamana? Maksud Mas? Aku beneran tidak mengerti dan tidak tahu kalau Kak Xavier dekat dengan Jenny. Tapi Mas jangan berburuk sangka dulu, mungkin aja mereka berdua berteman baik.” Jawab Carissa.
“Tapi aku tidak setuju jika mereka berdua terlalu dekat.” Jawab Barra.
“Biarkanlah Mas. Mereka juga sudah sama-sama dewasa.” Ucap Carissa.
“Tapi tetap saja-“
“Apa weekend kita ini hanya membahas kedekatan Jenny dan Kak Xavier Mas?” potong Carissa cepat.
Barra terkejut dengan sikap protes istrinya. Akhirnya dia meminta maaf dan berhenti membahas tentang Jenny dan Xavier. Setelah itu mereka kembali melanjutkan makan malamnya di sebuah restaurant sambil menikmati alunan music klasik yang disuguhkan untuk menghibur pengunjung.
Barra menggenggam tangan istrinya dengan lembut sambil menukmati alunan music itu. Barra merasa hidupnya kini sangat sempurna dengan hadirnya bidadari seperti Carissa. Begitu juga dengan Carissa, dia juga merasa hidupnya begitu lengkap semenjak Barra hadir. Meskipun awalnya laki-laki yang telah menjadi suaminya itu telah menorehkan luka di hatinya, namun laki-laki itu pula yang mengobati luka itu.
Sementara itu, di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Tampak Jenny dan Xavier sedang asyik nonton film action di gedung bioskap yang ada di salah satu mall di kota J. mereka berdua begitu menikmati film yang mereka tonton saat ini. ternyata genre film kesukaan mereka sama yaitu film action. Xavier tidak menyangka jika sosok gadis feminim seperti Jenny ternyata penggemar film action.
__ADS_1
“Kita makan dulu yuk Jen!” ajak Xavier setelah keluar dari bioskop.
“Boleh. Yuk Kak aku juga lapar.” Jawab Jenny.
Kemudian Xavier dan Jenny berjalan ke salah satu foodcourt yang ada di mall tersebut. Mereka berdua kemudian memesan makanan dan menunggunya sambil ngobrol santai. Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang melihat kedekatan mereka berdua. Laki-laki itu hanya diam saja sambil menyesap minuman yang dia pesan beberapa menit yang lalu.
Setelah makan, Xavier mengantar Jenny pulang ke rumah karena sudah malam. Dalam perjalanan, mereka berdua juga masih asyik dengan obrolannya. Namun tangan Xavier yang sebelah kiri tiba-tiba saja memegang tangan Jenny dengan lembut.
“Ehm, Jen apa kamu sudah memiliki kekasih?” Tanya Xavier.
Jenny yang mendapat perlakuan seperti itu terlebih ini pertama kali baginya, membuat gadis itu sangat gugup dan gemetar. Dekat dengan Xavier hari ini cukup menyenangkan tapi ditambah dengan pertanyaan Xavier seperti itu membuat Jenny semakin ingin terbang melayang. Apakah laki-laki yang sedang memegang tanggan itu sedang menembaknya.
“Belum Kak.” Jawab Jenny sambil menggelengkan kepalanya.
“Jadi, aku punya banyak kesempatan dong untuk dekat dengan kamu?” Tanya Xavier.
Meski Jenny tahu kalau Xavier tidak menembaknya, tapi tetap saja dia sangat senang saat mendengar Xavier meminta kesempatan agar lebih dekat. Jenny tidak menjawab. Senyuman dan anggukan kepalanya cukup mewakili jawaban atas pertanyaan Xavier.
“Terima kasih.” Jawab Xavier kemudian.
“Kakak baru pulang?” sapa Carissa.
“Iya. Ya sudah aku langsung pulang saja.” Pamit Xavier sambil melirik Barra sekilas.
Setelah itu Barra dan Carissa masuk ke dalam rumah. Barra meminta istrinya agar masuk terlebih dulu ke kamar. kemudian Barra masuk ke dalam kamar adiknya.
“Ih Kakak ngagetin aja. Masuk kamar nggak ketuk pintu dulu.” Gerutu Jenny.
“Kamu dari mana saja sama Xavier?” Tanya Barra.
“Cuma nonton saja. Memangnya kenapa Kak?” Tanya Jenny.
__ADS_1
“Lebih baik jangan terlalu dekat dengan dia. Masih banyak laki-laki baik selain Xavier.” Ucap Barra dan segera keluar dari kamar Jenny tanpa mendengarkan jawaban sang adik.
Cklek
Barra masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sudah berganti pakaian dengan baju tidur berbahan tipis. Seketika membuat jakun Barra naik turun. Barra segera masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Dan keluar kamar mandi hanya memakai bathrope setelah itu langsung menerjang sang istri yang sedang rebahan di atas ranjang.
“Sayang, kamu sengaja memancingku hemm?” Tanya Barra dengan suara seraknya.
Carissa sangat terkejut saat melihat suaminya sudah melepaskan tali bathropenya hingga nampaklah rudal itu sudah berdiri tegak. Dan tak lama kemudian, malam panas itu terjadi lagi untuk kesekian kalinya.
***
Barra dan Carissa masih tinggal di rumah Kay. Setiap pergi ke butik Barra juga selalu mengantar istrinya. Alana hari ini juga datang ke butik putrinya. Karena selama beberapa hari ditinggal, membuat Alana merindukan Carissa.
Ibu dan anak itu tampak asyik berbincang-bincang melepas rindu. Alana sangat bahagia melihat hubungan anak dan menantunya sudah berjalan normal seperti pasangan pada umumnya. Carissa juga menceritakan pada Mamanya kalau dia akan berangkat berbulan madu ke Paris minggu depan. Alana yang mendengarnya juga sangat bahagia. Dia akan selalu mendoakan kebahagiaan untuk anak dan menantunya.
Sementara itu Barra saat ini sedang meeting dengan salah satu kliennya yang dulu pernah bertemu sebelumnya. Namun kali ini bukan dengan Mr. Richard lagi. Karena Mr. Richard sudah kembali ke London setelah menandatangani kerjasamanya dengan perusahaan milik Barra. Dan saat ini Barra sedang meeting dengan menantu Mr. Richard yang tak lain adalah orang yang memimpin perusahaannya. Kenzo.
“Selamat bekerja sama Tuan Kenzo. mulai sekarang kita akan sering bertemu untuk membahas masalah perusahaan.” Ucap Barra sambil menjabat tangan pria itu.
“Iya terima kasih Tuan Barra.” Jawab pria itu datar.
“Dan, ya maaf kemungkinan untuk seminggu ke depan saya akan mewakilkan asisten saya jika ada meeting dengan anda.” Ucap Barra dan membuat pria itu mengerutkan keningnya.
“Maksud anda? Bukankah anda baru saja bilang kalau setelah ini kita akan sering meeting membahas kerjasama. Terus kenapa anda mewakilkan pada asisten anda?” Tanya Kenzo.
“Karena minggu depan saya akan berbulan madu ke Paris.” Jawab Barra sambil tersenyum. Namun reaksi pria itu masih tetap datar saja hingga membuat Barra mearasa aneh.
.
.
__ADS_1
.
*TBC