
#Delia POV
Hari ini hari yang bahagia bagiku. Karena kepulangan bang Ade yang menjadi kejutan bagiku. Selama beberapa hari ke depan aku memiliki bodyguard yang siap antar jemput aku baik ke kampus, belanja baju-baju daganganku ataupun hanya sekedar ngemall. Karena biasanya, di saat kekasih dari sahabatku Viviane pulang, waktu sehari-hari aku jalani sendiri tanpa Viviane. Karena kekasihnya itu sangat posesif jadi Viviane tidak bisa didekati oleh siapapun bahkan aku sendiri sahabatnya. Kecuali memang ada urusan yang urgent.
Aku memaklumi akan hal itu, dan sudah terbiasa seperti itu. Tetapi untuk kali ini, aku sangat bahagia karena kedatangan kekasih Viviane bertepatan dengan kedatangan Bang Ade. Jadi aku tidak kesepian.
Pagi ini aku ada jadwal kuliah jam 10. Dan Bang Ade yang mengantar aku ke kampus dengan mengendarai motor gedhenya. Sampai di depan kampus seperti biasa aku cipika-cipiki dengan abangku. Bodoh amat yang lihat aku mengira pamer kemesraan di depan umum. Toh itu abangku sendiri. Sudah jadi konsumsi warga kampus yang mengenalku kalua bang Ade itu ada cowokku. Tapi biarin ajalah aku nggak terlalu mikirin. Malah aku senang nggak ada cowok yang deketin aku.
Masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum jam kuliah dimulai, karena tadi aq berangkatnya agak awal. Jadi waktu itu aku gunain untuk mengecek tugas-tugasku dan materi buat presentasi. Aku langsung cari tempat duduk dimana biasanya para mahasiswa menghabiskan waktu santai mereka selain di kantin. Aku melihat ada tempat duduk kosong, tetapi di depannya ada seorang cowok yang sedang duduk juga kelihatannya lagi sibuk. Aku nggak peduli siapa itu, karena memang itu tempat umum. Aku nyalain laptop untuk mengecek materi yang akan aku buat presentasi setelah ini. Si tengah-tengah kesibukanku tiba-tiba terdengar suara hpku sedang bordering tanda ada yang menelpon. Kulihat id pemanggilnya yaitu Bang Ade.
“ya halo?”
“(…..)
“ya ga papa ntr aku langsung ke mall aja, jadi jemputnya di mall kaya’ bias-“
__ADS_1
Aku sungguh terkejut dengan keberadaan makhluk cakep dengan tatapan tajam di depanku. Sampai aku tidak bisa melanjutkan perkataanku di seberang telepon pada dengan Bang Ade. Ya, dia adalah Radit kekasih Viviane.
“eh.. Ra..Radit. lagi antar Viviane ya?” tanyaku canggung dan agak salah tingkah karena Radit menatapku tajam.
“hmmm” jawabnya singkat tetapi masih terus menatapku. Aku semakin gugup dan salah tingkah. Karena dia diam saja, aku juga bingung harus ngapain lagi. Aku juga jadi blank padahal tadi mau ngecek materi buat presentasi.
Akhirnya aku memutuskan untuk segera cabut dari tempat berbahaya itu.
“ehm… aku duluan ya Dit. Salam ke Viviane” pamitku pada Radit dan dia hanya mengangguk tanpa membalas ucapanku.
Aku membasuh muka dan melihat wajahku di cermin. Berulang kali aku membasuhnya tetapi masih belum bisa menormalkan degupan jantungku ini.
“ada apa sih dengan jantungku ini? Sudah dua kali ini aku bertemu Radit, dan jantungku juga berdetaknya kaya’ orang lari marathon. Ada apa ini? Apakah aku sedang jatuh cinta?” aku buru-buru menghilangkan pikiran sesatku itu dengan menepuk-nepuk kedua pipiku. “tidak-tidak ini tidak boleh terjadi. Perasaan ini salah. Aku nggak boleh menyukai kekasih sahabatku sendiri. Aku harus buang jauh-jauh pikiran ini.” Gumamku.
Bukan asal-asalan aku mempunyai pikiran seperti ini. Karena dari informasi yang aku tau, jika tiba-tiba jantung kita berdegup kencang atau tak beraturan ketika bertemu lawan jenis itu tandanya kita sedang jatuh cinta. Tetapi lain halnya kalau kita bertemu lawan jenis dan jantung kita berdegup kencang dan yang dihadapi adalah tukang kredit. Degupan jantung itu bukan pertanda jatuh cinta melainkan jatuh tertimpa tangga karena tagihan sudah jatuh tempo😂😂. (ehh… apa sih ko” samapai tukang kredit segala)
__ADS_1
#Delia POV end
Akhirnya jam mata kuliah Delia pun dimulai. Hari ini dia mengikuti perkuliahan dengan pikiran yang berkecamuk. tidak fokus. Dia masih teringat pertemuannya dengan Radit beberapa waktu yang lalu. Entahlah tatapan Radit yang mematikan seolah meruntuhkan benteng pertahanan dalam diri Delia. Bagaimanapun juga itu tidak bisa dibiarkan terus menerus. Perasaan Delia memang salah. Tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Jam perkuliahannya pun akhirnya selesai. Dan selama perkuliahannya kali ini dia menyadari tidak dapat menangkap apapun yang sudah dijelaskan oleh dosennya. Bahkan buku yang dia pegang pun kosong, tidak ada satupun catatannya. Yang ada malah dia menggambar anime cowok yang diberi nama Radit. Delia menepuk-nepuk pipinya agar sadar dari halusinasinya itu. Dan segera merobek buku yang tadinya ada gambar anime Radit. Bisa-bisanya dia seperti itu. Setelah merobeknya, dia segera meremas kertas itu untuk segera dibuang di tempat sampah. Jangan sampai ada yang tau. Apalagi si pemilik jiwa dan raga Radit alias Viviane. Nanti bisa jadi kesalah pahaman yang fatal. "huhhhft.... " Delia menghela nafasnya. Bisa-bisanya dia memikirkan kekasih orang. sampai-sampai tidak fokus mengikuti perkuliahan.
Kini Delia menuju kantin. Seperti biasa, memesan makanan favoritnya yaitu bakso dan es vanila yang tidak pernah ketinggalan. Karena sepasang makanan itu sudah paten bagi Delia yang dicap atau stempel dengan tulisan "Mood Booster".
Delia memandang baksonya dengan kuah yang masih panas, serta bau dari perpaduan sambal, saos, dan kecapnya sudah sangat menggugah selera. Bikin air liur menetes saja. Tidak berpikir lama, dia segera menyantap baksonya. Satu suapan, " auhhhhhh..... ko' panas banget sih" lirihnya. Rasanya lidahnya mati rasa seketika. Tiba-tiba saja teringat akan kejadian beberapa waktu lalu. Di tempat yang sama dan dalam kondisi yang sama pula. "panassss..." dia masih merintih karena lidahnya yang masih panas. "sialll" umpatnya seketika ingat. "pertama ketemu apes kena siram kuah bakso, ini nggak ketemu tapi cuma mikirin sama kena sial juga. dan dengan bakso juga. masa' aku harus mengubah stempel bakso dari " mood booster" jadi makanan "pembawa sial" sih" batin Delia sambil meminum es vanilanya akhirnya dia tidak jadi memakan baksonya. karena moodnya sudah hancur gara-gara Radit. Radit lagi Radit lagi... Itu lah yang ada di benak Delia. Entah setelah ini akan ketiban sial apa lagi jika mengingat nama Radit kembali.
Setelah itu Delia memutuskan untuk pulang. Mungkin di rumah ada makanan yang jadi mood boosternya selain dengan bakso pastinya.
*TBC
*kasih jempolnya dong buat karya perdana dari _author newbie_💕💕
__ADS_1