
“ting…tong…” Radit menekan bel apartemen Delia. Setelah mengusir Surya tadi, Radit segera masuk ke dalam dan membawakan makanan untuk Delia. Radit yakin pasti Delia belum sarapan.
“cklek” pintu terbuka
“pagi Del!” sapa Radit dengan tersenyum.
“pagi juga, silakan masuk” ucap Delia sambil membalas senyum Radit. meskipun Delia masih terlihat sedih namun sebisa mungkin dia berusaha untuk tersenyum.
“Yuk kita sarapan bareng Del. Pasti kamu belum sarapan kan?”
“hmm… harusnya kamu nggak perlu repot-repot kaya’ gini dit”
“nggak apa-apa, aku nggak merasa direpotin ko’. Yuk makan, aku udah lapar banget nih” ajak Radit kemudian. Karena melihat Delia yang masih bersedih dan tidak bersemangat membuat Radit tidak tega.
Setelah selesai sarapan, Delia membereskan sisa-sisa makanannya. Kemudian kembali lagi ke ruang tamu dimana Radit menunggunya.
“buruan gih kamu ganti baju Del!”
“emang mau kemana?”
“sudahlah nanti kamu tahu sendiri”
“nggak ah dit. Aku nggak mau kemana-mana”
“kalau nggak mau ayo aku gantiin baju kamu” ancam Radit sambil menarik tangan Delia.
Akhirnya mau tidak mau Delia menuruti kemauan Radit untuk ganti baju. Tidak butuh waktu lama Delia sudah selesai mengganti bajunya dan segera keluar kamar.
Radit terpukau melihat Delia mengenakan rok jeans warna navy dengan atasan kaos warna putih bermotif bunga. Dan rambutnya diikat ekor kuda dengan tersisa beberapa helai di bagian depan samping kanan dan kiri. Ditambah make up tipis. Radit sungguh mengagumi kecantikan Delia yang sangat natural.
“cantik!” gumam Radit sambil tersenyum melihat kea rah Delia
__ADS_1
“apa??” Delia tidak mendengar jelas apa yang baru saja Radit ucapkan
“oh tidak.. yuk kita berangkat sekarang!” ajaknya kemudian
Kini Radit dan Delia sudah berada di dalam mobil.
Mereka tidak banyak bicara. Delia melamun, membuang pandangannya keluar. Radit pun fokus dengan kemudinya. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 45 menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Delia mengernyit bingung kenapa Radit membawanya ke tempat yang sepi seperti ini. Karena pikiran Delia yang terlalu paranoid, dia ketakutan sekali. Takut Radit akan berbuat macam-macam padanya.
“Dit apa maksud kamu bawa aku kesini?” Tanya Delia ketakutan.
Radit yang melihat Delia seperti itu hanya tersenyum tipis. Justru semakin membuat Delia ketakutan. Karena suasana di sekitar mereka berhenti sangat sepi, jika Radit berbuat kejahatan padanya, dia mau minta tolong siapa.
“Dit jangan macam-macam kamu. Aku akan teriak kalau kamu berani nyentuh aku?” ancam Delia sambil berusaha membuka pintu mobil
“teriak aja sepuas kamu tapi jangan di dalam mobilku. Yuk kita teriak sama-sama”
“please Dit, aku mohon jangan lakukan itu padaku. Aku nggak bisa. Aku hanya mau melakukan itu sama suamiku nanti” Delia terus memohon sambil menangis. Radit yang mendengar apa yang diucapkan Delia seketika tertawa terbahak-bahak.
“takk” Radit menyentil kening Delia. Bisa-bisanya Delia berpikir jauh seperti itu. Dan Radit segera membuka pintu dan menggandeng tangan Delia. Delia berjalan sambil memegang keningnya yang sedikit sakit akibat ulah Radit. dia mengikuti saja kemana Radit menuntunnya meskipun masih ketakutan.
Dan sampailah mereka. Radit melepas gandengan tangan Delia. Delia melihat apa yang ada di hadapannya kini dengan mata berbinar. Sebuah pemandangan pantai yang sangat indah, bersih, dan sepertinya jarang terjamah karena tidak banyak orang yang dia jumpai disana. Mungkin hanya 5 atau 6 orang yang sedang berjalan di pesisir pantai. Pantai itu juga jauh dari pemukiman penduduk. Maka dari itu selama perjalanan tadi dia merasa melewati jalanan yang sangat sepi.
Delia berjalan mendahului Radit. dia sangat terpesona dengan keindahan panati itu. Delia melepas flat shoesnya dan berlari keci. Dia sudah tidak sabar untuk menginjakkan kakinya di pasir pantai. Radit mengikuti langkah kaki Delia sambil membawa kantong plastik berisi soft drink yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
Kini mereka berdua sudah berada di pesisir pantai. Delia sangat senang sekali. Radit yang melihat itu juga merasakan hal yang sama. Dia berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan membiarkan Delia bersedih lagi. Dan tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi.
“mau teriak sama-sama?” goda Radit. dan seketika membuat Delia sangat malu.
“kamu aja deh Del yang teriak. Aku nggak ikut”
__ADS_1
“lho kenapa?”
“nanti burung-burung pada berjatuhan lagi kalau dengar teriakan suaraku” ucap Radit dan membuat Delia seketika tertawa lepas.
Akhirnya mereka melanjutkan jalan-jalannya di pesisir pantai. Sesekali Delia bermain pasir. Delia sangat bahagia sekali hari ini. Dia juga salut dengan usaha Radit yang berusaha untuk membuatnya tidak bersedih lagi. Sungguh sangat sederhana cara Radit dengan mengajaknya pergi ke pantai, namun kebahagiaan yang dia dapat melebihi segalanya.
Lama berjalan-jalan, kini mereka berdua berteduh di bawah pohon nyiur sambil minum soft drink yang tadi dibawa Radit.
“capek?” Tanya Radit dan hanya dijawab Delia dengan gelengan kepala.
“makasih banyak ya Dit. Dan aku minta maaf” ucap Delia lirih di akhir kalimat.
“maaf aku sempat membenci kamu, aku nggak percaya kamu, justru aku percaya sama kaka Ang-“
“stop! Udah jangan bahas itu lagi. Aku nggak maslah soal itu. Yang penting sekarang kamu sudah nggak sedih lagi”
“iya maksih”
“aku nggak mau melihat kamu bersedih lagi Del. Jadi tolong berjanjilah padaku untuk tidak lagi mengeluarkan air mata kesedihan kamu lagi” mohon Radit
“iya aku janji” Delia mengangguk tersenyum.
Tak terasa waktu sudah sore. Mereka memutuskan untuk pulang. Karena Radit tidak mau kalau pulangnya kemalaman. Takut Delia capek. Karena besok sudah melakukan aktivitas lagi.
Akhirnya Radit tiba di apartemen Delia pukul 6. Radit hanya mengantar Delia sampai depan pintu apartemen saja. Tidak ikut masuk karena dia juga merasa sedikit capek. Setelah itu dia pulang. Saat Radit sudah keluar dari kawasan apartemen, ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya di dalam mobil. Orang itu mencengkeram kuat setir mobilnya seakan meluapkan amarahnya. Dia tidak terima dengan apa yang dilakukan Radit.
“aku nggak akan biarin kamu merebut Angelku meskipun kamu sahabatku sendiri” gumamnya
Ya, Angga sejak tadi menunggu Delia di seberang jalan, karena dia tadi sudah mendatangi kamar apartemen Angel. Menekan bel berkali-kali namun tidak terbuka juga pintunya. Sepertinya Angel sedang keluar, jadi dia memutuskan untuk menunggunya diluar di dalam mobil. Dan ketika mengetahui bahwa Angel pergi bersama Radit, Angga membatalkan niatnya untuk menemui Angel hari ini. Mungkin besok saja.
*TBC
__ADS_1
*Salam sayang _author newbie_😘💕