Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 145


__ADS_3

“Eh, Mas ayo kita makan dulu. Aku tadi masaknya ditemani Papa.” Ajak Kay saat melihat suaminya berada di ruang makan.


Kemudian Vito segera bergabung dengan Papa dan istrinya di meja makan. Kay mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Vito yang melihatnya sangat senang karena memiliki istri yang sangat perhatian. Setelah itu Kay juga mengambil piring Gio untuk diambilkan nasi dan lauk juga.


“Nggak usah Kay! Biar Papa yang ambil sendiri.” Tolak Gio dengan haalus.


Akhirnya Kay mengambil pringnya sendiri dan mengambil nasi beserta lauknya. Gio sangat bahagia melihat Kay yang begitu perhatian dengan suaminya. Gio merasa sangat beruntung memiliki menantu seperti Kay. Sesaat Gio mengingat mendiang istrinya yang hampir mirip seperti Kay, yaitu perhatian terhadap keluarganya. Namun sayang, kebersamaan Gio dan istrinya tidak bisa berlangsung lama.


“Papa nggak suka dengan masakan Kay?” Tanya Kay karena melihat Gio hanya mengaduk-aduk nasinya.


“Nggak ko’ Kay. Papa suka dengan masakan kamu.” Jawab Gio kemudian melanjutkan makannya.


Vito melihat Papanya sekilas seperti sedang memikirkan sesuatu. Entah itu apa yang pasti Vito tidak berani menanyakannya lansung pada Papanya. Mungkin nanti Papanya akan cerita sendiri tentang apa yang sedang dipikirkannya.


“Kalian nanti jadi bulan madu kemana?” Tanya Gio di sela-sela kegiatan makannya.


“Ehm, Vito berencana akan mengajak Kay bulan madu ke Maldives Pa.” jawab Vito.


“Berapa hari?” Tanya Gio lagi.


“Kemungkinan 4-5 hari saja Pa. memangnya ada apa Pa?”


“Nggak ada apa-apa. Nanti kalau kalian berangkat ke Maldives, Papa juga akan berangkat ke Thailand.” Jawab Gio.


“Loh katanya Papa sudah memutuskan untuk menetap tinggal disini?” Tanya Vito.


“Iya. Mungkin untuk terakhir kalinya Papa akan tinggal di negara mendiang Mama kamu selama kalian bulan madu. Dan nanti setelah kalian pulang dari Maldives, pulanglah ke Thailand. Karena Papa akan mengajak kalian untuk pergi ke makam Mama.” Ucap Gio. Vito dan Kay mengangguk patuh.


Malam harinya setelah makan malam dan bersantai di ruang keluarga bersama Papanya, Vito mengajak Kay masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Gio juga sudah masuk terlebih dulu ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Kay sudah mengganti bajunya dengan baju tidur. Begitu juga dengan Vito. Kini mereka berdua sudah berada di atas tempat tidur. Seperti biasa Vito merentangkan salah satu taangannya agar digunakan Kay sebagai bantal. Malam ini adalah malam pertama Vito tidur di kamar masa kecilnya bersama dengan orang tercinta yang juga berasal dari masa kecilnya. Vito sangat senang sekali. Dia memeluk erat tubuh Kay sambil menciumi seluruh wajah Kay.


“Mas udah dong! Kay mau tidur nih.” Ucap Kay.


“ya sudah tidur saja Sayang.” Jawab Vito dengan masih menciumi wajah istrinya.


“Bagiamana Kay bisa tidur kalau Mas Vito terus menciumi wajah Kay terus?” protes Kay.


Akhirnya Vito berhenti menciumi wajah istrinya. Tapi tiba-tiba muncul ide nakal dalam benaknya.


“Ya sudah kalau gitu, boleh ya sambil mainan ini?” ucap Vito dengan taanggannya kini sudah bertengger tepat di atas dua gundukan besar milik Kay.


Sentuhan tangan Vito membuat Kay sedikit terkejut dan suara desahannya hampir saja keluar dari mulutnya kalau tidak segera dia menutup mulut dengan tangannya.


“Nggak apa-apa Sayang keluarkan saja suara indah kamu. Aku sangaat menyukainya.” Ucap Vito yang kini sudah melakukan pijatan dan remasan pada dua bukit milik Kay.


“Mas, jangan begini. Kay masih datang bulan. Kasihan Mas nanti.” Cegah Kay agar Vito tidak melanjutkan perbuatan asusilanya. Wkwkwk😂😂


Kay menghela nafasnya. Dia juga tidak tega melihat suaminya kecewa. Akhirnya Kay pasrah dan membiarkan suaminya bermain-main dengan kedua bukitnya.


Sebenarnya Kay melarang suaminya melakukan itu bukan hanya kasihan melihat wajah kecewa Vito. Tapi jujur saja, jika Vito sudah bermain-main di area itu, Kay juga menginginkan permainan yang lebih dari itu. Tapi dia malu untuk mengakui pada Vito. Jadi Kay pun juga berusaha kuat menahan hasratnya.


Setelah mendapat ijin dari Kay, Vito tampak berbinar. Dia segera melancarkan aksinya dengan membuka beberapa kancing piyama Kay. Tangannya sudah menelusup ke dalam salah satu penyangga bukit itu. Vito meremasnya pelan sambil memainkan ujung bukit yang berukuran kecil berwarna pink itu. Vito melakukannya dengan (ckckck😂😂) sambil ******* lembut bibir Kay.


Kay yang tadi awalnya merasa gelisah dengan sentuhan yang diberikan Vito. Akhirnya dia sudah terbiasa. Bahkan Kay juga menikmati permainan itu dengan mengeluarkan suara-suara merdunya. Hingga mereka berdua kelelahan dan akhirnya tertidur.


***


Selama beberapa hari tinggal di rumah Vito. Kay sudah terbiasa menjalani hari-harinya sebagai seorang istri yang berbakti pada suaminya. Mulai dari menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi, menyiapkan pakaian kerja, memasak, dan melayani Vito di meja makan. Semua itu sudah mulai dibiasakan oleh Kay. Dan untuk butik Kay yang ada di kota B. sementara ini dia mempercayakan urusan butik pada asistennya yaitu Desi.

__ADS_1


Pagi ini Kay mengantar di depan pintu rumah karena akan pergi ke kantor. Kay membawakan tas kerja Vito kemudian mencium tangan Vito dengan takzim. Setelah itu Vito mencium kening istrinya dan segera berangkat ke kantor.


Sementara itu Gio juga sudah pergi ke restonya. Karena sudah lama Gio tidak berkunjung ke restonya yang telah ia percayakan pada adik iparnya yaitu istri Fandi.


Selepas kepergian suaminya ke kantor, Kay segera masuk ke kamarnya. Dia ingin mandi karena tadi hanya mencuci muka dan menggosok giginya saja. Kini Kay sudah berada di dalam kamar mandi. Kay membuang pembalut yang ia kenakan, dan dia melihat sudah tidak ada noda darah disna. Itu artinya siklus menstruasinya sudah selesai. Perkiraannya sepuluh hari baru bersih, kini masih delapan hari tapi sudah bersih. Kay menyunggingkan senyumannya. Pasti suaminya akan senang dengan kejutan ini.


Sore harinya Vito sudah pulang dari kantor sudah disambut dengan senyuman dari wajah sang istri. Rasa lelah setelah bergulat dengan urusan kantor kini lenyap sudah setelah melihat wajah cantik sang istri. Namun dalam benak Vito sedikit kecewa karena masih harus menyandang status perjaka setelah delapan hari menikah.


“Mas, Kay sudah siapkan air hangat.” Ucap Kay.


Vito mengangguk dan tersenyum tipis. Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi. stelah beberapa saat, Vito sudah menyelesaikan mandinya dan badannya kini tampak segar dan harum.


“Mas, kapan kita berangkat bulan madunya?” Tanya Kay.


“Sesuai dengan rencana kita Sayang, dua hari lagi.” Jawab Vito.


“Oh gitu. Memang nggak bisa ya kalau dipercepat besok?” Tanya Kay.


“Kan rencana kita memang dua hari laagi Sayang. Kalau dipercepat nanti-“ ucapan Vito terpotong.


“Ya sudah kalau nggak bisa dipercepat besok.” Ucap Kay dengan nada cemberut dibuat-buat dan segera keluar dari kamar.


Vito menaikkan alisnya heran dengan tingkah istrinya. Namun otaak cerdasnya dengan cepat menangkap maksud perkataan Kay. Dengan cepat Vito mengejar istrinya yang hendak membuka pintu. Vito menarik tubuh Kay segera menggendong Kay. Sedetik kemudian Vito sudah merebahkan tubuh Kay di atas tempat tidur.


“Sayang apa itu berarti kamu sudah selesai?” Tanya Vito penasaran. Dan Kay akhirnya mengangguk pelan dan tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2