
Kay berjalan keluar dari mall dengan diikuti oleh Bram. Kay tidak menyangka akan bertemu dengan Rey tadi. dan beruntungnya tadi ada Bram yang dengan cepat mencekal tangan Rey saat pria itu berusaha menyentuhnya. Sementara itu Bram memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah itu berjalan cepat mendahului Kay untuk membukakan pintu mobil.
Kini Kay dan Bram sudah berada di dalam mobil. Kay masih tampak berpikir tentang pertemuannya dengan Rey tadi. apakah karena alasan inilah hingga suaminya rela menyewa seorang bodyguard agar Rey tidak bisa mengganggunya lagi.
Kay sedikit mengernyitkan kening saat jalan yang dilalui tidak sesuai dengan arah jalan pulang ke rumah. Kemana Bram akan membawanya. Kay memberanikan diri untuk membuka mulut dan bertanya pada Bram.
“Bram, apa kamu lupa jalan pulang ke rumah?” Tanya Kay.
“Tidak Nyonya.” Jawab Bram datar.
“Lantas kemana kamu akan membawaku?” Tanya Kay lagi dengan sedikit cemas.
“Kita akan ke kantor Tuan Vito. karena jalanan sedang macet jadi saya lewat jalan pintas.” Jawab Bram.
“Kenapa kamu membawa aku ke kantor Mas Vito? aku mau pulang saja.” Ucap Kay.
Bram hanya diam saja. Menurut Bram Nyonyanya ini terlalu banyak bicara. Jika sudah dijawab pasti akan bertanya lagi. Lagian dia hanya menuruti semua omongan tuannya yang meminta membawa istrinya ke kantor. apalagi setelah dirinya tadi mengirim foto seorang pria yang sedang mendekati Kay.
Mobil yang dikendarai Bram kini sudah sampai di basement perusahaan Vito. dengan cepat Bram membukakan pintu mobil untuk Kay dan segera mengikuti Kay masuk ke dalam.
Ceklek
Bram membuka pintu ruang kerja Vito setelah sebelumnya dia sudah mengetuk pintu itu. Kay segera masuk. Disana dia melihat suaminya sedang sibuk di depan layar laptopnya. Kay segera duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Sementara Bram berdiri disamping sofa yang berseberangan dengan tempat duduk Kay.
Pandangan Vito tertuju pada Bram yang sedang berdiri. Dia menatap tajam pria itu. Berani sekali dia mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai seperti itu. Apa dia sengaja ingin tebar pesona dengan istrinya.
“Apa-apaan kamu Bram dengan mengganti pakaian kamu seperti ini? apa maksud kamu?” Tanya Vito yang kini sudah berdiri di depan Bram.
“Maaf Tuan, tapi-“
“Aku yang memintanya Mas.” Ucap Kay cepat.
__ADS_1
Vito segera menoleh ke arah istrinya dengan tatapan tajam. Belum ada sehari Bram bekerja dengannya dan tadi dirinya sudah memperingatkan istrinya agar tidak berpaling darinya. Tapi apa-apaan ini. malah merubah penampilan bodyguard itu, hingga terlihat semakin cool.
“Maksud kamu apa Sayang?” Tanya Vito dengan suara tegasnya.
“Aku nggak suka lihat dia memakai pakaian serba hitam Mas. Kalau kamu melarang, ya sudah lebih baik kamu pecat saja Bram. Tidak usah pakai bodyguard lagi. Daripada melihat orang berpakaian serba hitam yang membuatku tiba-tiba mual.” Ucap Kay panjang lebar.
Vito mencerna setiap perkataan istrinya. Apa itu kemauan sang anak yang tidak suka melihat orang berpakaian serba hitam. Ah kenapa menyebalkan sekali sih. Kalau dia memecat Bram sama saja membiarkan istrinya dalam bahaya. Akhirnya Vito memilih untuk mengalah.
“Ya sudah terserah kamu saja.” Ucap Vito lesu.
“Sayang, apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu atau kejadian di mall tadi?” lanjut Vito.
Kay tampak bingung dengan pertanyaan suaminya. Bagaimana suaminya bisa tahu kalau tadi di mall dirinya sempat bertemu dengan Rey. Pandangan Kay kini beralih pada seseorang yang sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya.
“Dasar tukang ngadu!” gerutu Kay yang masih bisa didengar oleh suaminya.
“Siapa yang tukang ngadu Sayang?” Tanya Vito.
“Benar begitu Bram?” Tanya Vito.
“Benar Tuan.” Jawab Bram yang sudah mengangkat sedikit kepalanya.
Vito merasa lega karena Rey tidak sempat berbicara banyak dengan istrinya. Dia sangat beruntung dan sangat bangga dengan kinerja Bram yang benar-benar bisa diandalkan.
Entah kenapa dia selalu saja cemburu saat melihat atau mendengar ada pria yang mendekati istrinya. Tapi cemburu itu kan tanda sayang. Vito melihat wajah istrinya yang sedikit cemberut menjadi sangat gemas. Apalagi bibirnya yang mengerucut seperti itu. Ingin sekali dia melahapnya.
“Bram balik badan cepat!” interupsi Vito.
Dengan cepat Vito menyambar bibir istrinya dengan sangat rakus. Kay belum siappun sangat terkejut dengan aksi gila suaminya ini. Kay berusaha melepas tautan bibirnya dengan sang suami karena sangat malu dengan keberadaan Bram dalam ruangan itu. Tapi sayang sekali, bukannya lepas justru menimbulkansuara decepan yang sangat nyaring mengisi keheningan ruangan itu.
Bagi Bram mungkin tidak masalah dengan apa yang ingin dilakukan oleh pasangan suami istri itu saat dirinya sudah berbalik badan. Tapi saat terdengar suara decapan itu seketika membuat telinganya memanas. Dia merasa seperti terjebak dalam sesuatu yang sangat merugikan dirinya. Jiwa jomblonya semakin meronta-ronta.
__ADS_1
Selesai melakukan kegiatan mesumnya, Vito mengusap bibir istrinya yang sedikit belepotan akibat ulahnya. Sementara wajah Kay sangat memerah malu. Bagaimana nanti dia bersikap saat berada dalam satu mobil dengan Bram.
“Bram, pulanglah terlebih dulu. Aku akan pulang dengan istriku.” Ucap Vito kemudian.
“Loh, Mas kan masih kerja?” Tanya Kay heran.
“Aku ingin melanjutkannya.” Bisik Vito tepat di telinga istrinya.
***
Sementara itu di waktu yang sama, Evan sedang meluapkan amarahnya di ruang kerjanya. Setelah mendapat laporan dari sang asisten pribadinya bahwa banyak investor yang menarik sahamnya hingga menyebabkan perusahaannya hampir gulung tikar.
Evan tahu kalau ini semua karena pemutusan hubungan kerja samanya dengan perusahaan Vito yang dilakukan oleh Vito secara sepihak. Meskipun Vito sudah berani membayar pinalti yang sangat besar, tapi itu tetap tidak merubah keadaan perusahaannya yang sebentar lagi gulung tikar.
Awalnya Evan meminta kerjasama dengan perusahaan Vito karena perusahaan Vito termasuk dalam kategori perusahaan yang berkembang sangat pesat beberapa waktu ini. jadi jika bisa bekerja sama dengan perusahaan Vito, otomatis akan membuka peluang mendapatkan keuntungan sangat banyak dengan pamor yang dimiliki oleh perusahaan Vito dan banyak menarik investor untuk menanamkan sahamnya pada perusahaannya. Tapi saat Evan melihat kecantikan istri Vito, dia sedikit goyah dan lebih mementingkan kepentingannya sendiri untuk mendekati istri Vito.
“Kamu akan mendapatkan balasannya. Semua ini kamu yang menyebabkan. Dan ini memang salah kamu.” Gumam Evan sambil mengetatkan rahangnya.
Kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang kerjanya yang sudah berantakan akibat ulahnya sendiri.
Sementara Sandy, asisten pribadinya hanya bisa menghela nafasnya panjang, dan segera menghubungi office boy untuk membereskan kekacauan dalam ruang kerja atasannya.
.
.
.
*TBC
Happy reading. jangan lupa utk tebar vote, gift, like, dan komennya👌😍😍😘😘
__ADS_1