
Barra mengumpat kesal pada Iqbal yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Dan parahnya lagi, laki-laki itu keluar begitu saja setelah memergoki perbuatannya dengan Carissa. Sementara Carissa juga segera pamit pulang karena dia juga sangat malu.
Setelah kedatangan istrinya dengan membawakan bekal makan siang tadi, Barra kembali melanjutkan pekerjaannya. Rasanya Barra ingin pulang lebih awal dan bisa melihat wajah sang istri yang sudah menampakkan perhatiannya. Namun sayang, pekerjaannya masih banyak dan harus segera diselesaikan.
Tepat pukul 5 sore, Barra baru saja keluar dari kantornya. Dia segera pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri. Barra mampir sebentar ke toko bunga. Barra membeli sebuket bunga mawar putih segar yang akan diberikan untuk Carissa nanti. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, rumah dalam keadaan sepi. Mungkin penghuninya sedang sibuk di kamar masing-masing. Barra segera melangkahkan kakinya menuju kamar.
Cklek
Barra membuka pintu kamarnya perlahan. Dia melihat istrinya sedang berdiri di balkon kamar sambil melihat langit senja yang akan menenggelamkan sang surya. Barra menghampiri sang istri sambil membawa bunga yang telah dibelinya tadi.
“Ehm, serius banget. Lihatin apa sih?” Tanya Barra membuyarkan lamunan Carissa.
Carissa terkejut dan segera menoleh ke sumber suara. Dia melihat suaminya tersenyum simpul sambil memberikan Bunga mawar putih itu.
“Untuk istriku yang sangat aku cintai.” Ucap Barra.
“Terima kasih Mas.” Jawab Carissa terharu.
“Maaf, aku belum bisa jadi istri yang sempurna.” Tambahnya lagi dan tertunduk sedih.
“Sudah, jangan sedih! Aku nggak pernah nuntut dan memaksa. Aku akan sabar menantinya. Ehm, aku mau mandi dulu. Sudah gerah nih.” Ucap Barra dan mengalihkan pembicaraannya.
Carissa meletakkan bunga itu dan segera masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat yang akan digunakan Barra mandi. sementara itu Barra melepas sepatu dan jasnya sambil menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.
Selesai mandi, keduanya segera turun untuk makan malam bersama. Di ruang makan sudah ada 4 orang yang sedang menunggunya. Tampak Gio bahagia melihat cucunya sudah hidup bahagia dengan istrinya.
“Opa pulang kapan? Barra kangen sama Opa.” Ucap Barra sambil mencium tangan Opanya dengan takzim.
“Tadi siang. Gimana kabar kamu pengantin baru?” Tanya Gio tersenyum tipis.
__ADS_1
“Baik Opa.” Jawab Barra singkat.
Kemudian mereka berenam segera menikmati makan malamnya. Gio yang melihat anak cucunya berkumpul bersama seperti ini sangat bahagia. Entah kenapa hatinya merasa lega terlebih sudah menyaksikan cucu pertamanya menikah dan hidup bahagia.
“Kalau kalian sudah bahagia seperti ini, Opa bisa merasa lega saat meninggalkan kalian nanti.” Ucap Gio dalam hati.
Setelah makan malam itu, keluarga Barra seperti biasa akan melanjutkan obrolannya di ruang tengah. Sementara sang Opa memilih untuk masuk ke kamar terlebih dulu karena badannya sedang kurang sehat. Dan kini tinggallah lima orang yang sedang duduk santai disana.
“Kapan kalian berencana akan bulan madu?” Tanya Kay mengawali pembicaraan santai itu.
“Belum tahu Ma. Kita memang sengaja untuk menundanya terlebih dulu. Pekerjaan Barra juga belum bisa ditinggalkan. Carissa juga sebentar lagi sibuk dengan pembukaan butik barunya.” Jawab Barra.
“Ya sudahlah. Kalau gitu terserah kalian saja.” Ucap Vito menimpali.
“Yahhh… kenapa ditunda sih Kak. Terus kapan dong Jenny dapat keponakannya.” Celetuk Jenny.
Dasar gadis itu kalau bicara nggak pakai filter. Carissa yang yang menjadi sasaran pembicaraan itu pun hanya tersenyum kaku tidak bisa menjawabnnya. Padahal tadi dia sudah meminta maaf pada Barra yang belum bisa memberikan haknya. Dan kini ditambah dengan gurauan Jenny yang seperti sebuah sindiran baginya membuat Carissa semakin bersalah pada Barra.
“Kamu tenang saja. Nanti kalau butik baru kakak sudah dibuka, pasti akan berangkat bulan madu kok.” Jawab Carissa dan membuat Barra melongo tak percaya.
Kay dan Vito hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat anak perempuannya begitu antusias menginginkan keponakan dari kakaknya.
***
Waktupun berlalu. Kini semua orang sedang berkumpul sebuah restaurant ternama yang ada di kota J. ya hari ini Charles mengadakan acara tasyakuran atas kembalinya sang istri yang telah lama pergi. Rasa syukur terus tercurahkan dari hati seorang ayah yang memiliki anak kembar itu. Charles merasa hidupnya kini kembali berwarna setelah sekian lama ditinggal oleh orang yang dia cintai.
Acara itu dihadiri oleh keluarga besar Charles, kedua orang tua Barra, Jenny, dan juga Radit dan Delia. tak lupa juga Charles turut mengundang Silvia dan Adnan. Orang yang telah merawat Carissa sejak kecil dan menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
Semua tamu undangan ikut terharu saat mendengarkan cerita kembalinya Alana ke pelukan sang suami. Mereka akhirnya juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Charles sekarang.
Obrolan mereka terhenti sejenak saat pelayan restaurant datang dan membawakan berbagai menu makanan. Mereka segera makan setelah pelayan selesai menata dan meyiapkan semua makanan.
__ADS_1
Carissa juga terlihat telaten melayani suaminya. Kini dia sudah tidak secanggung dulu. Karena Carissa sudah terbiasa melakukan itu untuk Barra. Barra pun sangat bahagia dengan perhatian sang istri.
Semua mata tak luput memandang pasangan pengantin baru itu. Mereka juga bahagia menyaksikan kebahagiaan Barra dan Carissa. Mengingat peristiwa yang pernah terjadi diantara keduanya.
Dua pasang suami istri yang sudah tua renta itu pun menyunggingkan senyumnya saat melihat anak cucunya berkumpul seperti ini dalam keadaan sehat dan bahagia.
Selesai acara makan malam, mereka kembali melanjutkan obrolan santainya. Jenny yang merasa tidak nyambung dengan pembicaraan para orang tua itu, akhirnya dia memilih untuk pergi ke tempat lain. Sedangkan Barra dan Carissa pun tak tahu kemana perginya setelah menyelesaikan makan malamnya tadi.
Jenny memilih duduk di sebuah taman yang masih di area restaurant itu. Tempatnya terbuka, jadi Jenny bisa menghirup udara malam yang baginya sejuk seperti pagi hari. Dan saat Jenny sedang asyik memainkan gadgetnya, ada seseorang yang tiba-tiba datang dan memakaikan sweaternya ke tubuh Jenny. Gadis itu sangat terkejut.
“Eh Kak Xavier!” ucap Jenny.
“Kenapa sendirian disini? Apa nggak dingin?” Tanya Xavier.
“Ah, nggak ko’ Kak. Cari hawa segar aja. Daripada di dalam aku juga nggak nyambung dengan pembicaraan para orang tua.” Jawab Jenny sambil terkekeh.
“Jangan dilepas!” cegah Xavier cepat saat melihat Jenny yang sepertinya akan melepas sweater itu.
“Lain kali kalau pakai baju yang tertutup. Apalagi kamu sedang berada di luar seperti ini. apa kamu nggak risih dengan tatapan para lelaki yang sejak tadi melihat punggungmu yang terbuka?” ucap Xavier sedikit kesal.
Sejak di dalam tadi tatapan mata Xavier tidak lepas dari Jenny. Terlebih dengan gaun yang dikenakan baginya sangat terbuka. Dan saat melihat Jenny ada di taman restaurant, Xavier segera melepas swater yang dipakai untuk menutup bagian punggung Jenny.
“I..iya Kak.” Jawab Jenny canggung.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Jenny Xavier atau Jenny Iqbal nih?? oh atau Othor Xavier?🤣🤣🤣🤣
jangan lupa jejaknya ya🤗🤗😘😘😘