Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 265


__ADS_3

Carissa terperanjat saat mendengar suara baritone suaminya yang sudah berdiri di depan pintu. Apa yang ditakutkan Carissa benar-benar kejadian. Dia takut bagaimana cara menghadapi suaminya.


“Mas, aku bisa jelas-“


“Keluar sekarang juga!!” ucap Barra memomotong perkataan istrinya.


“Sorry Bar. Aku datang kesini hanya untuk minta maaf pada Rissa saja.” Ucap Dhefin.


“Aku nggak butuh alasan kamu. Dan ingat! Jangan sekali-kali kamu mengharapkan istriku menjadi milik kamu lagi.” Ucap Barra tegas.


Dhefin terdiam dengan peringatan Barra. Itu berarti Barra mendengar semuanya. Namun tidak bisa dipungkiri kalau dirinya memang masih mencintai Carissa.


“Cepat keluar dari sini! dan jangan pernah lagi menampakkan wajah kamu lagi di hadapanku ataupun istriku.” Tambah Barra.


“Sorry Bar. Aku minta maaf atas semuanya. Semoga kalian berdua selalu bahagia.” Ucap Dhefin dan segera melangkah keluar dari ruangan Carissa.


Setelah kepergian Dhefin, Barra masih bergeming. Dia tidak ingin mengatakan apapun pada istrinya. Barra mendengar sendiri kalau mantan sahabatnya itu masih menyimpan perasaan cintanya pada sang istri. Dan hatinya sangat nyeri. Takut jika suatu saat nanti Dhefin berhasil merebut kembali hati istrinya.


“Mas! Aku nggak tahu kalau tadi Mas Dhef-“


Barra seketika meninggalkan ruangan istrinya saat mendengar istrinya masih memanggil Dhefin dengan sebutan mesra seperti saat masih dekat dulu. Sedangkan Carissa dengan cepat mengikuti langkah kaki suaminya.


Carissa segera membuka pintu mobil suaminya sebelum Barra menyalakan mesin. Barra masih tidak ingin bicara dengan istrinya, pikirannya berkecamuk. Pria mana yang nggak sakit hati atau cemburu jika melihat mantan kekasih istrinya datang menemui istrinya. Dan cemburu. Wajarkah dia cemburu saat mendengar istrinya masih memanggil mantan kekasihnya dengan panggilan mesra itu.


Carissa masih diam dan mencengkeram kuat seatbeltnya karena Barra mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia masih belum menyadari kalau istrinya ada di sebelahnya. Saat ini tujuan Barra yaitu pulang. Moodnya sudah berantakan yang tadinya akan mengajak makan siang diluar.


Beberapa saat kemudian Barra sudah menghentikan mobilnya di halaman rumahnya. Kemudian dia segera masuk ke kamar. seperti kebiasaannya, Barra memilih tidur jika sedang mengalami masalah. Sedangkan Carissa yang sejak tadi mengikuti langkah kaki suaminya hingga masuk kamar, dia dibuat terkejut saat melihat suaminya menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang. Carissa memang belum tahu kebiasaan suaminya itu. Dia pikir suaminya sedang merajuk seperti anak kecil yang merengek tidak dibelikan permen oleh ibunya.


“Mas! Maafkan aku. aku sudah tidak mencintai Mas Dhefin lagi. Hanya kamu dan sampai kapan pun hanya kamu yang ada di hatiku.” Ucap Carissa yang kini sedang duduk disamping Barra.


Carissa bingung karena tidak ada sahutan dari suaminya. Apakah suaminya benar-benar marah hingga mengacuhkannya. Kemudian Carissa memberanikan diri menyentuh punggung suaminya.


Carissa terkejut saat mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir suaminya. Bagaimana bisa pria itu tertidur pulas hanya dalam waktu sekejap. Bahkan sebelumnya tadi mengendarai mobil dengan kencang dan Carissa yakin tadi suaminya masih menahan amarahnya setelah melihat kedatangan Dhefin.

__ADS_1


Akhirnya Carissa memilih keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk memasak makan siang. Mungkin suaminya sudah tidak kembali lagi ke kantor kalau terlihat tidur pulas seperti tadi. dirinya pun juga tidak kembali lagi ke butik.


Selesai memasak Carissa masuk ke kamarnya. Dan suaminya masih tidur. Carissa ikut merebahkan tubuhnya disamping suaminya walau tidak ingin tidur. Dan beberapa saat kemudian Barra perlahan mengerjapkan matanya. tepat saat dia membuka mata, dia melihat wanita cantik ada di hadapannya.


“Sayang! Kamu nggak akan menghianati aku kan?” tanya Barra sambil memeluk Carissa.


“Nggak Mas. Sampai kapanpun aku akan selalu ada disamping Mas.” Jawab Carissa sambil mengeratkan pelukannya.


“Terima kasih. Maafkan aku tadi mengacuhkanmu. Aku sangat cemburu saat mendengar kamu masih memanggil dia dengan mesra.” Ucap Barra.


Carissa masih diam memikkirkan ucapan suaminya. Memanggil Dhefin dengan mesra. Mesra bagaimana yang dimaksud oleh suaminya itu. Sungguh Carissa masih bingung.


“Aku nggak manggil Mas Dhef-“


“Cukup! Jangan sebut nama dia lagi diantara kita.” Potong Barra cepat dan Carissa mengangguk paham.


“Ya sudah kita makan siang dulu yuk Mas! Dari tadi Mas kan belum makan siang.” Ajak Carissa.


Barra segera bangun dari tidurnya. Jujur dia juga sudah sangat lapar akibat makan siangnya tertunda. Carissa juga segera bangun namun tiba-tiba kepalanya sangat pusing.


“Sayang!” pekik Barra saat melihat istrinya jatuh di lantai.


“Sayang bangun!” ucap Barra sambil menepuk kedua pipi istrinya bergantian.


Setelah tidak ada pergerakan, Barra segera mengangkat tubuh istrinya di atas ranjang. Kemudian memanggil dokter agar memeriksanya.


Barra sangat khawatir melihat wajah pucat istrinya. Padahal beberapa saat yang lalu masih baik-baik saja. Kenapa sekarang jadi pucat seperti ini.


Tidak lama kemudian seorang dokter wanita datang dan Barra segera memintanya untuk memeriksa istrinya.


“Tuan Barra tidak perlu khawatir dengan keadaan Nona Carissa. Nona hanya butuh istirahat yang cukup karena wajar untuk usia kandungan di trimester awal.” Ucap Dokter wanita itu.


“Maksud dokter apa?” tanya Barra.

__ADS_1


“Jadi Anda tidak tahu kalau saat ini istri anda tengah hamil?” tanyanya dan Barra menggelengkan kepalanya.


“Saya belum tahu berapa usia kandungan Nona. Yang pasti saat ini istri anda tengah mengandung. Untuk lebih jelasnya silakan periksakan ke spesialis kandungan saja. Dan ini saya beri obat penambah darah saja.” Ucap dokter.


“Terima kasih banyak dok.” Jawab Barra.


Setelah mengantar dokter keluar. Barra kembali ke kamar dan melihat istrinya masih tidur. Barra sangat senang dengan kabar bahagia ini. dia menciumi tangan istrinya untuk menyalurkan kebahagiaannya.


Tak lama kemudian Carissa terbangun. Dia memegangi kepanya yang masih terasa berdenyut. Dan entah berapa lama dirinya tertidur sampai perutnya saat ini sangat lapar.


“Sayang kamu sudah bangun?” tanya Barra.


“Iya Mas. Kepalaku pusing sekali. Dan, ehm perutku sangat lapar.” Ucap Carissa malu.


“Sayang terima kasih. Terima kasih atas semuanya. Aku janji akan menjaga kalian dengan sangat baik.” Ucap Barra tiba-tiba dan memeluk istrinya. Carissa bingung.


“Sayang, kamu hamil.” Ucap Barra.


“Hamil?” tanya Carissa semakin bingung.


“Iya Sayang. Tadi kamu pingsan, lalu aku manggil dokter. Dan dokter mengatakan kalau kamu sedang hamil.” Ucap Barra menerangkan.


“Benarkah Mas? Pantas saja akhir-akhir ini kepalaku tiba-tiba terasa pusing.” ucap Carissa sambil mengingat-ingat kalau tamu bulanannya juga telat bulan ini.


“Iya Sayang. Aku sangat bahagia. Aku janji akan menjaga kalian. Aku akan menebus semua kesalahanku dulu.” Ucap Barra sendu teringat saat dulu tahu Carissa keguguran.


“Mas jangan bersedih. Dulu mungkin memang kita belum ditakdirkan untuk diberi momongan. Sekarang nggak hanya Mas saja yang menjaga anak ini. tapi kita akan menjaganya sama-sama.” Ucap Carissa menenangkan suaminya agar tidak bersedih lagi.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2