Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 147


__ADS_3

Karena ini adalah pertama kalinya bagi mereka berdua, setelah kegiatan panas itu kini tampak Kay tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang. Kay merasa seluruh tubuhnya remuk redam. Bahkan untu berbalik badan saja Kay tidak mampu. Karena dia merasa inti tubuhnya sangat sakit sekali. Dia jadi teringat kata-kata Mommynya tempo hari “biasanya tidak bisa berjalan” ternyata benar. Bahkan membalik badan saja tidak bisa.


Sementara itu Vito kini sedang berdiri di depan jendela kamar yang menghadap hamparan pantai pasir putih yang sangat indah dan menyejukkan mata. Kay yang tidak sepenuhnya menutup mata dapat melihat keberadaan sang suami. Kay heran dengan tenaga suaminya yang sepertinya tidak mengenal rasa lelah. Padhal Vito tadi yang lebih dominan dalam percintaan itu tapi sampaai saat ini Vito masih terlihat tidak kelelahan.


“Kenapa Sayang?” Tanya Vito yang kini menoleh ke arah sang istri.


“Apa Mas nggak capek?” Tanya Kay lirih.


Vito berjalan menghampiri Kay yang masih berbaring di atas ranjang. Vito mengecup kening Kay sambil tersenyum tipis.


“Aku nggak capek. Andai saja istriku tidak kelelahan seperti ini, pasti akum au nambah lagi.” Ucap Vito dan membuat Kay terkejut.


Vito melihat sprei yang sedang ditiduri Kay ada noda merah yang sudah mongering. Dia tersenyum bangga karena menjadi orang pertama buat istrinya.


Setelah itu tanpa aba-aba, Vito menyingkap selimut Kay dan dengan gerakan cepat menggendong istrinya. Kay berteriak dan memberontak. Pasalnya Vito tidak membawanya ke kamar mandi, melainkan keluar. Kay sangat malu karena tidak memakai baju sama sekali.


Kini Vito sudah berada di kolam renang yang ada di depan Villa. Dia menceburkan dirinya bersama Kay di kolam itu.


“Mas, nanti kalau ada oraang yang lihat bagaimana?” Tanya Kay khawatir.


“sayang, tempat ini private. Jadi tidak akan ada orang yang melihat kita.” Jawab Vito.


Tubuh Kay kini sudah masuk ke dalam kolam. Dia merasa inti tubuhnya masih sakit. Vito yang melihat istrinya meringis menahan sakit, segera menghampirinya.


“Apakah begitu sakit? Maafkan aku ya?” Tanya Vito merasa bersalah.


“Iya Mas. Mungkin memang ini pertama kalinya bagi Kay” jawab Kay.


Vito tersenyum penuh arti mendengar jawaban Kay. Perlahan dia memeluk tubuh Kay dan menempelkan tubuhnya dengan tubuh Kay yang sedang telanjang bulat. Vito membisikkan sesuatu tepat di telinga Kay.

__ADS_1


“Dan untuk kedua kalinya pasti sudah tidak sakit lagi Sayang.” Bisik Vito dengan nada sensual.


Akhirnya mereka berdua melanjutkan lagi sesi percintaan itu di dalam kolam renang yang terletak di depan Villa. Kay yang tadinya masih takut dengan rasa sakit yang menghantuinya, perlahan bisa menikmati permainan itu. Bahkan sudah tidak merasa sakit lagi, melainkan hanya rasa nikmat yang tiada tara.


Perjalanan honeymoon Kay dan Vito di pulau Maldives selama 5 hari merupakan honeymoon yang sangat berkesan bagi keduanya. Tak hanya mengisi kegiatan panas, Vito juga menuruti keinginan Kay untuk snorkeling, naik boat mengelilingi pulau, dan juga berbelanja.


Kaya sangat bahagia sekali memiliki suami seperti Vito yang begitu perhatian padanya. Begitupun dengan Vito, dia juga merasa sangat bahagia bisa menyenangkan hati sang istri.


Akhirnya waktu honeymoon mereka berakhir. Hari ini Vito dan Kay akan meninggalkan pulau Maldives. Pulau yang telah menghiasi hari-hari indahnya selama honeymoon.


Sesuai dengan rencana mereka, hari ini mereka akan pulang. Tapi tidak pulang ke Indonesia, melainkan ke Tahiland. Karena Papanya sudah menunggu disana sejak 3 hari yang lalu.


Kay dan Vito sudah dijemput jet pribadi di depan Villanya untuk menuju bandara. Setelah sampai bandara, mereka segera naik pesawat komersial yang akan membawanya ke Thailand.


Dalam perjalanan beberapa jam, akhirnya mereka sampai juga di negara yang terkenal dengan sebutan negara Gajah Putih itu. Vito segera memesan taksi menuju rumahnya.


“Maaf Mas, Kay ketiduran.” Jawab Kay.


Vito hanya tersenyum.


Sebenarnya dia kasihan dengan istrinya. Akibat ulahnya lah yang membuat istrinya kini tampak sangat kelelahan.


Kini Vito sudah mengajak Kay masuk ke dalam rumah. Rumah dimana Papanya dulu tinggal bersama mendiang Mamanya. Dan rumah itu masih sama seperti saat terakhir Vito tinggal disana yaitu saat dirinya masih berusia empat tahun.


“Kalian sudah sampai?” Tanya Gio yang saat ini sedang duduk di ruang keluarga.


“Iya Pa. maaf tidak memberitahu Papa.” Jawab Vito.


“Ya sudah kalian masuk ke kamar ddulu. Pasti kalian sangat capek.” Ucap Gio lagi.

__ADS_1


Setelah itu Vito mengajak Kay masuk ke kamarnya untuk beristirahat terlebih dulu. Kay memang sangat butu istirahat karena terlihat raut wajahnya sedikit pucat. Dan tanpa banyak bicara lagi, segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan dengan cepat menutup matanya.


Sedangkan Vito, setelah memastikan istrinya tidur. Dia keluar dari kamarnya untuk menemui Papanya.


“Pa!”


“kamu nggak istirahat?”


“Nggak Pa. Papa ada apa seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Vito?”


Gio menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya dia tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Hanya saja dia merasa ada sedikit yang mengganjal hatinya. Sejak pernikahan Vito dan Kay, Gio merasa sangat bahagia sekali akhirnya anak semata wayangnya bisa bersanding dengan orang yang tepat. Dan saat Gio melihat Kay pertama kalinya melayani Vito, Gio merasakan ada sosok mendiang istrinya ada dalam diri menantunya. Memang sifat Kay pasti diturunkan dari sang Mommy yaitu Delia. tapi entah kenapa Gio merasa sosok Kay yang melayani Vito saat di meja makan seperti menggambarkan dirinya dengan mendiang istrinya dulu.


Dan mulai saat itulah Gio merasa berdosa telah menghianati cinta dari mendiang istrinya dengan mencintai wanita yang sudah memiliki suami yaitu Delia. Gio mengakui semuanya pada Vito untuk pertama kalinya, bahwa dia pernah mencintai wanita yang saat ini menjadi mertua anaknya. Gio mengakui bahwa yang membuat dirinya tidak mau menikah lagi itu karena masih menginginkan sosok Delia.


Gio meminta maaf pada Vito karena telah menghianati cinta Mamanya. Gio juga sadar kalau sudah ikhlas dan tidak menaruh rasa lagi pada Delia. Gio mengatakan kalau mendiang istrinya adalah cinta sejatinya sampai kapan pun.


“Maafkan Papa!” ucap Gio lagi sambil mengusap sudut matanya yang sudah berair.


“Nggak apa-apa Pa. Vito paham tentang semua yang Papa alami. Vito juga percaya kalau Mama adalah cinta sejati Papa.” Balas Vito.


Gio memeluk tubuh Vito dengan erat. Dia merasa lega akhirnya Vito mau memaafkan tentang sikapnya yang selama ini dia anggap salah. Dan mulai saat ini Gio akan menganggap Delia seperti adik yang sesungguhnya. bukan seperti yang dulu, adik tapi mengharapkan cinta yang lebih.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2