
Beberapa hari setelah dirawat di rumah sakit, kini Delia sudah kembali lagi bekerja. Semalam orang tuanya juga sudah pulang ke kota B. Sebenarnya kedua orang tua Delia tidak mengetahui kalau anaknya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit kalau tidak diberitahu mamanya Radit. Delia tidak ingin mereka khawatir karena sakitnya hanya dehidrasi dan kecapekan.
Hari ini Delia dan Fadhil ditugaskan lagi untuk melanjutkan proyek iklannya di perusahaan Radit. Karena beberapa hari Delia sakit jadi meetingnya baru bisa dilanjutkan sekarang. Sebenarnya Fadhil sendiri bisa melakukannya sendiri meski tanpa bantuan Delia atau anggota tim yang lain bisa menggantikannya. Tetapi klientnya tidak mau kalau bukan Delia sendiri yang presentasi. Itu semua adalah akal-akalan dari Ceo perusahaan, siapa lagi kalau bukan Radit yang ingin bertemu dengan Delia. Radit geram sekali pasalnya pesan yang dikirim beberapa hari yang lalu tidak dibalas oleh Delia, panggilan suara pun diabaikan.
Ini adalah kali kedua Delia dan Fadhil meeting di perusahaan milik Radit. Perusahaan yang sudah mengontrak jasa periklanan dari redaksi dimana Delia bekerja. Meeting kali ini dilakukan pada siang hari setelah jam makan siang. Dalam meeting tersebut, lagi-lagi Delia yang melakukan presentasi. Selama hampir 2 jam Delia mempresentasikan tentang rancangannya. Dan selama itu pula belum mendapat hasil memuaskan. Bukan karena materinya yang kurang bagus tapi karena memang sengaja melakukan itu. Semua orang yang ikut dalam meeting pun dibuat bingung dengan Ceo mereka padahal hasil presentasi Delia sudah bagus dan memuaskan. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Radit sengaja memberi hukuman pada Delia seperti saat ini dengan berdiri hampir 2 jam karena Radit kesal Delia mengabaikan pesan dan panggilannya untuk meminta kejelasan tentang hubungannya dengan Surya. Radit tidak menyadari dengan gadis yang ada di depannya itu baru saja keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu. Tentunya kondisi Delia belum seratus persen pulih. Lama berdiri di depan hingga membuat kaki Delia kesemutan. Dari tadi dia berdiri dengan tidak nyaman, bahkan untuk minum pun Delia tidak berani.
“Brukkkk”
Saking lamanya berdiri akhirnya Delia pingsan
Radit yang posisinya paling dekat dengan Delia, secara reflek dia segera menolong Delia dan menggendongnya keluar. Semua peserta dalam ruangan yang ikut meeting juga dibuat panik dengan Delia yang tiba-tiba pingsan. Hanya Fadhil saja yang merutuk dalam hati.
“Sudah tahu habis sakit malah disruh berdiri berjam-jam”.
“Mohon maaf meeting hari ini kita tutup. Selamat siang” ucap Kevin si asisten Radit.
Radit segera membawa Delia ke ruangannya. Dia sangat khawatir akan keadaan Delia. Dia meminta Kevin untuk segera menghubungi dokter agar segera memeriksa kondisi Delia.
Tok...tok...tok...
Terdengar pintu diketuk ternyata Fadhil yang juga khawatir kondisi Delia segera masuk ke ruangan Radit setelah diijinkan masuk.
“Lebih baik anda pulang dulu, saya yang akan bertanggung jawab atas Delia” belum sempat Fadhil menanyakan keadaan Delia, dia sudah mendapat perintah seperti itu dari Radit.
Fadhil hanya menganggukkan kepalanya patuh dan segera pergi. Tidak lama kemudian dokter datang dan memeriksa keadaan Delia.
“Gimana dok keadaannya?” tanya Radit
“nona ini hanya kecapekan saja, tekanan darahnya rendah. Ini saya berikan vitamin saja. Nanti diminum kalau nona sudah sadar” jawab dokter dan diangguki Radit.
Radit merasa sangat bersalah pada Delia. Akibat ulahnya lah Delia sampai pingsan seperti ini.
Dia duduk berjongkok memandangi Delia yang masih belum sadarkan diri. Wajahnya masih terlihat pucat.
__ADS_1
“Bangun Del, maafin aku” ucapnya lirih sambil mencium kening Delia.
Merasa ada hembusan hangat dekat wajahnya, Delia mengerjapkan mata dan membatalkan niat Radit yang ingin mencium kening Delia. Sontak Radit memundurkan wajahnya untuk menjauh dari Delia. Delia melenguh, dan saat matanya sudah terbuka sempurna dia sangat terkejut melihat Radit ada di hadapannya. Delia segera bangun dari tidurnya dan segera berdiri.
“Jangan beranjak dari posisi kamu. Kamu baru saja pingsan”
“Maaf, tapi saya harus segera pergi karena tidak sopan saya berada di ruangan Pak Radit”
“Aku bilang jangan pergi”
“Tapi maaf saya harus segera pergi”
“Oh kamu buru-buru mau menemui kekasihmu?”
Delia semakin bingung dengan sikap Radit saat ini. Apa yang harus ia lakukan. Pergi salah, tidak pergi sangat tidak sopan. Akhirnya Delia tetap berdiri dan segera meninggalkan ruangan Radit. Sebelum sampai pintu, tangan Delia dan dengan cepat Radit mengunci pintu.
“Apa yang anda lakukan?” Delia gugup dan takut
“Kenapa? Kamu sudah ada janji dengan kekasih kamu?”
“katakan padaku. Apa kamu benar-benar mencintai kekasih kamu?”
Radit tidak menjawab pertanyaan Delia, justru memberi pertanyaan pada Delia. Dan Delia hanya diam saja bingung. Bingung dengan pertanyaan Radit atau bingung dengan perasaannya sendiri pada Angga.
“ck... Jawab?”
“kalau saya punya kekasih berarti jelas saya mencintai kekasih saya”
“jawaban macam apa itu? Kalau bicara lihat orang yang mengajakmu berbicara!”
Delia semakin gugup. Dia takut, tidak berani kalau harus menatap mata Radit.
Delia mendekatkan tubuhnya pada Radit seakan ingin memeluk Radit. Dalam hati Radit bersorak gembira. Dia yakin kalau Delia sangat merindukannya dan ingin memeluknya. Radit menormalkan debaran jantungnya sambil memejamkan mata menunggu apa pelukan hangat dari orang yang selama ini dia rindukan. Namun beberapa saat kemudian Radit menyadari ada sesuatu yang terlepas dari genggaman tangannya. Seketika Radit membuka matanya.
“Shit!” umpatnya saat melihat Delia sudah berhasil membuka pintu setelah mengambil kunci yang berada di tangannya.
__ADS_1
**
Setelah sampai apartemen Delia segera membersihkan dirinya. Hari ini dia sangat lelah sekali dan berniat ingin istirahat setelah makan malam. Namun tak lama kemudian dia mendengar bel apartemennya berbunyi. Dia segera membukanya.
“Malam sayang” ucap seseorang dibalik pintu yaitu Angga
“Malam kak. Silakan masuk” Delia mempersilakan Angga masuk
“Sayang buruan kamu siap-siap ya. Hari ini aku mau ajak kamu jalan”
Niat Delia ingin istirahat akhirnya batal. Mau menolak ajakan Angga juga tidak tega, karena sudah jauh-jauh datang masa' ditolak ajakannya.
**
Kini Delia dan Angga dalam perjalanan menuju cafe. Sesampainya disana mereka berdua segera masuk dan mencari tempat duduk.
Dari kejauhan Angga melihat seseorang yang sedang duduk sendirian dengan posisi membelakanginya. Angga hafal betul dengan postur tubuh orang itu. Angga menggandeng tangan tangan Delia menuju tempat duduk orang yang dia kenal itu.
“sendirian aja brother?” sapa Angga dan yang disapa segera menoleh dan ternyata dia adalah Radit. Delia yang melihatnya sangat terkejut dan segera melepas genggaman tangannya dari tangan Angga.
“Hmm” jawab Radit singkat.
Angga langsung saja mengajak Angel untuk duduk bergabung dengan Radit tanpa menunggu persetujuannya.
Radit malas sekali menghadapi situasi seperti ini. Dia malas bertemu dengan rivalnya. Surya yang selama ini dia anggap sahabat baiknya kini sudah berubah status yaitu dari sahabat menjadi rival.
“Dit kenalin ini Angel cewek gue, dan Ngel kenalin ini Radit sahabat gue” ucap Angga memperkenalkan. Angel tidak menyangka kalau Angga ternyata sahabatnya Radit. Angel menyambut uluran tangan Radit dengan canggung.
Setelah memesan makanan ringan dan minuman, Radit tiba-tiba mengambil bungkusan yang ada dalam saku jaketnya.
“Ini vitamin kamu tadi ketinggalan di ruanganku” ucap Radit sinis sambil memandang Delia
*TBC
Maaf jika banyak typo🙏🙏
__ADS_1
Salam _author newbie_💕💕