
Kini Radit sudah berada di dalam kamarnya. Setelah makan malam dengan Delia tadi Radit memutuskan untuk langsung pulang.
“arghhh…. Aku kira Delia dulu benar-benar mencintaiku. Ternyata tidak. Tapi kenapa saat beberapa kali aku menciumnya, dia juga sangat menikmatinya. Arghhh… sebenarnya bagaimana sih Del perasaanmu ke aku?. Disaat aku mencintaimu justru kamu sudah tidak mencintaiku lagi. Biarlah yang penting sekarang tidak ada yang menghalangi aku untuk mendekatimu. Aku akan berusaha membuatmu kembali mencintaiku lagi” setelah bermonolog sendiri akhirnya Radit tertidur.
Sedangkan Delia saat ini sedang merebahkan tubuhnya di tempat tidur juga. tadi dia membohongi Radit masalah masih ada pekerjaan. Karena Delia tidak ingin Radit membahas masa lalunya.
Lagian buat apa juga Radit mempertanyakan perasaannya dulu terhadap Radit, toh sekarang sudah tidak ada gunanya. Karena memang hati Radit terisi orang lain. Biarlah dia dekat Radit seperti ini, dia juga nyaman meskipun nantinya hanya dianggap teman oleh Radit.
***
Beberapa bulan telah berlalu. Semenjak Delia putus dengan Angga, Angga sudah tidak pernah sama sekali menampakkan dirinya lagi. Entah dia sudah menyadari kesalahannya atau justru dia telah kembali pada kehidupannya yang dulu sebelum mengenal Delia. Bermain-main dengan wanita yang sering dia temui di club malam.
Dan untuk hubungan Radit dan Delia juga tidak ada kepastian. Tetapi mereka berdua semakin dekat bahkan tak jarang mereka sering jalan berdua sekadar menghabiskan waktu luang.
Delia menikmati saja hubungannya dengan Radit. dia sudah siap jika suatu saat nanti Radit meninggalkannya kalau orang yang ditunggu sudah kembali. Sedangkan Radit juga bahagia bisa dekat dengan Delia, dia semakin optimis untuk membuat Delia jatuh cinta lagi padanya.
***
Di tempat lain, tepatnya di suatu negara yang terkenal dengan iconnya yaitu Merlion Park. Seorang perempuan cantik berambut pirang yang kini sedang duduk sendiri menikmati segelas Buble Tea di sebuah café yang tidak jauh dari kampusnya.
Viviane sudah satu jam lamanya duduk sendiri disana. Dua bulan lagi dia akan wisuda dan resmi mendapatkan gelar masternya. Dia senang sekali akhirnya selesai juga studinya.
Tapi bukan itu yang dia rasakan saat ini. Memang niat awalnya dulu, setelah lulus dia akan segera kembali ke negara asalnya. Karena selain merindukan keluarganya, dia juga sangat merindukan seseorang yang sangat dia cintai. Dia ingin melanjutkan hubungannya dengan Radit sang kekasih yang mungkin masih menganggapnya atau tidak.
Namun beberapa saat yang lalu Viviane mendapatkan email dari perusahaan dimana dia melakukan research utuk tugas akhirnya mengirimkan surat kontrak pekerjaan. Perusahaan tersebut sangat tertarik dengan research yang Viviane lakukan, jadi mereka ingin merekrut Viviane untuk bekerja di perusahaannya. Viviane bingung apa yang harus dilakukannya. Sementara dia sudah ingin sekali pulang. Di sisi lain, perusahaan yang ingin merekrutnya menawarkan gaji yang sangat tinggi. Viviane benar-benar dilemma.
Setelah berpikir cukup lama, Viviane menarik nafasnya dalam. Semoga keputusan yang akan dia ambil tidak salah. Viviane membuka kembali inbox email dari perusahaan tersebut untuk membalas pesannya. Viviane membalasnya setuju dengan kontrak yang ditawarkan. Itulah keputusan finalnya. Dia berpikir, lagian kontraknya hanya selama dua tahun. Itu bukanlah waktu yang lama.
Dia harus bisa menahan sedikit lagi rasa rindunya pada orang-orang terkasihnya terutama Radit. dan juga kalau sudah bekerja, dia juga masih punya kesempatan untuk cuti yang akan dia gunakan untuk pulang sejenak ke kampung halaman. Dia juga ingin membanggakan kedua orang tuanya, jiuka setelah lulus sudah mendapatkan pekerjaan yang layak.
Setelah selesai membalas email, Viviane segera membayar minumannya ke kasir dan memutuskan untuk pulang.
Semenjak tugas akhir kuliahnya yang begitu menyita banyak waktu dan memeras otak, Viviane mengurangi kebiasaannya pergi ke tempat hiburan malam. Karena waktu weekendnya dipakai untuk tugas dan tugas.
__ADS_1
Viviane keluar dari café dan mencari taksi untuk pulang ke apartemennya. Tiba-tiba ada notif pesan pada ponselnya
“Retha sayang, om sekarang lagi di Singapore nih. Om kangen”
Viviane mengehela nafas pelan. Pikirnya nggak apa-apalah Cuma sama satu orang. Biar nggak stress. Kemudian ada taksi yang berhenti di depannya. Viviane segera menuju tempat dimana orang pengirim pesan tadi stay.
***
Di suatu ruangan sebuah café, Angga sedang mabok-mabokan sendiri disana. Beberapa botol minuman beralkohol dari berbagai merk terkenal tersedia disana. Akhir-akhir ini club yang biasa dia kunjungi kini berganti tempat yaitu di ruangan pribadinya yang ada di café.
Namun bedanya tidak ada wanita penghibur disana, hanya minuman saja yang menjadi hiburannya. Orang tuanya tidak memperdulikannya. Papanya yang sibuk dengan bisnisnya, dan mamanya sibuk dengan teman sosialitanya.
Hampir tiap hari Angga mabok dan meracaukan nama Angel. Dia benar-benar terpukul semenjak Angel memutuskan hubungannya. Kadang dia menertawakan kebodohannya sendiri, kadang marah-marah seolah tidak terima dengan sahabatnya sendiri yang dia anggap merebut Angel dari tangannya.
Hari ini kesadaran Angga tidak sepenuhnya hilang. Karena minumnya tidak terlalu banyak. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan untuk menuju suatu tempat. Angga menghampiri salah satu karyawannya untuk membereskan kekacauan ruangannya dari sisa-sisa minuman.
***
Hari ini Delia bekerja seperti biasanya. Tidak terlalu banyak pekerjaan kantor yang menguras tenaga dan pikirannya. Jadi ada sedikit waktu untuk bersantai. Namun santainya Delia hanya di apartemen saja karena kemarin Radit mengirim pesan kalau selama beberapa hari ini dia keluar kota untuk urusan pekerjaan.
“kak, aku pulang duluan ya?” pamit Delia pada Fadhil karena memang sudah jam pulang kantor. tapi Fadhil masih betah duduk di kursinya karena pekerjaannya belum selesai.
“ok Del. Hati-hati” hanya diangguki Delia dan tersenyum tipis.
Delia sudah berada di dalam apartemennya. Dia melepas blezernya dan masih tersisa kemeja lengan pendek warna putih berbahan tipis. Delia mengambil air putih di lemari pendinginnya. Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Delia segera membukanya tanpa memperhatikan lagi penampilannya saat ini kalau dia sudah melepas blezernya.
“cklek” Delia terkejut dengan orang yang ada di depan pintu.
“kak Angga??”
Angga hanya diam saja.
Dia sangat merindukan Delia. Namun sesaat pandangan mata Angga tertuju pada tubuh Delia yang hanya memakai kemeja putih nan tipis sehingga tercetak jelas dalaman yang dipakai Delia. Mata Angga memerah, namun Delia masih belum menyadarinya. Angga langsung memeluk Delia dan mendorongnya ke dalam kemudian pintu tertutup.
__ADS_1
“kak.. apa-apaan sih kamu?” teriak Delia terkejut
“aku sangat kangen kamu Ngel” ucapnya yang masih memeluk erat tubuh Angel sambil menghirup aroma tubuh Angel
“please kak kamu jangan kaya’ gini. Lepasin!!” Delia meronta
Kemudian Angga melepaskan pelukannya sebentar.
“Aku kangen kamu Ngel. Maafin aku. Kamu harus jadi milikku Ngel” ucapnya sambil menatap tajam mata Delia
“kak kamu jangan gil-..mmmmhhhhh”
Angga dengan cepat membungkam mulut Delia dengan bibirnya. Angga meraup bibir Delia dengan kasar. Delia berusaha melepaskan diri namun tenaganya kalah dengan badan Angga yang kekar.
Angga masih terus ******* bibir Delia dengan kasar. Dia tidak peduli Delia yang kesusahan bernafas. Dia juga menggigit bibir Delia agar terbuka sehingga bisa lebih mudah mengeksplor kenikmatan yang ada dalam mulut Delia. Angga benar-benar sangat bergairah dengan tubuh Delia. Dia melepas ciumannya dan beralih pada leher jenjang Delia. Angga menciumnya, menggigitnya hingga tertinggal tanda merah disana.
“kak tolong lepasin” Delia terus meronta, air matanya sudah mengalir deras.
Tidak cukup sampai disitu, Angga ******* lagi bibir Delia. Dia meremas kuat bo***kong Delia hingga badan mereka berdua menempel dan membuat sesuatu dibalik celana Angga seketika bangun. Karena sudah tidak tahan, Angga melepas tautan bibirnya dan mendorong Delia ke sofa yang ada di ruang tamu.
“toloooong!!! Kamu brengsek kak!!” teriak Delia dan terus menangis.
Delia tidak bisa bergerak, karena Angga mengungkungnya. Kemudian Angga menarik baju Delia. Dengan sekali tarikan kancing kemeja Delia sudah terlepas semua hingga nampaklah 2 buah menggairahkan yang masih tertutup kain penyangga warna hitam.
“toloooong!” Delia terus berteriak sambil berusaha menutupi dadanya dengan kedua tangan yang menyilang.
Angga yang sangat terganggu dengan teriakan Delia, dia membungkam lagi mulutnya sambil kedua tangannya bermain-main di atas dada Delia. Angga meremasnya, melepas lumatannya dan menyesap keindahan yang ada pada genggaman tangannya.
“bugh…bugh…bugh….! Brengsek loe! Bajingan loe! Bugh..bugh…bugh….”
*TBC
Feelnya dapet nggak sih di eps ini? jujur susah banget kalau adegan kekerasan gini.🙈🙈🙏..
__ADS_1
*salam sayang _author newbie_💕💕