
Pagi ini suasana hati Melly sangat baik. Dia akan memberikan kado kejutan pada kekasihnya. Semalam Melly sudah membeli parfum mahal special yang akan dia berikan pada Vito sebagai kado ulang tahunnya. Melly sangat yakin jika Vito menggunakan parfum itu, aura maskulin dari sosok Vito semakin terlihat.
Melly melangkahkan kakinya menuju ruangannya dengan senyum mengembang. Dia melirik jam tangannya dan melihat ruangan bosnya yang tak lain adalah kekasihnya masih kosong. Sepertinya memang Vito datang terlambat. Tapi tidak masalah bagi Melly karena Vito adalah bosnya, pemilik perusahaan.
Beberapa saat kemudian terlihat Vito sudah datang. Melly segera berdiri dan menunduk hormat menyambut kedatangan Vito. Bagaimanapun juga Melly tetap harus profesiaonal jika berada di kantor. tapi beda lagi kalau sudah berdua di dalam ruangan Vito.
“Selamat pagi, Tuan.” Sapa Melly sopan.
“Selamat pagi.” Balas Vito.
Kemudian Vito segera masuk ke dalam ruangannya. Setelah itu terlihat office boy sedang membawa nampan berisi kopi. Hal itu sudah biasa dilakukan oleh office boy jika sudah melihat kedatangan Vito. Setelah office boy keluar dari ruangan Vito, Melly segera mengambil kado yang sudah dibungkus rapi itu. Sebelumnya Melly sudah melihat jadwal Vito hari ini yang sedikit santai karena tidak ada jadwal meeting pagi ini. Dan juga tidak ada janji dengan seseorang. Jadi Melly mempunyai sedikit waktu untuk menyambut hari ulang tahun kekasihnya.
Ceklek
Vito melirik sekilas seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Vito tersenyum tipis saat melihat kedatangan Melly. Namun Vito sedikit penasaran dengan Melly yang berjalan sambil menyembunyikan kedua tangannya di balik punggungnya.
“Surprise!!!! Happy birthday!” ucap Melly sambil memberikan kadonya pada Vito.
“Astaga!! Aku benar-benar lupa kalau hari ini hari ulang tahunku. Terima kasih ya Mel.” Balas Vito sambil menerima kado pemberian Melly.
Vito berdiri dari duduknya dan Melly segera berhambur memeluk Vito. Vito yang belum siap dengan pelukan Melly yang mendadak, dia terduduk lagi di kursinya dan Melly juga ikut terduduk di pangkuan Vito. Hingga posisi keduanya sangat intim.
“Mel, jangan seperti ini. Nanti ada yang lihat.”
“Tenang saja Kak, pagi ini kak Vito tidak ada jadwal meeting dan juga janji ketemu dengan seseorang.” Jawab Melly dengan masih memeluk Vito.
Akhirnya Vito membiarkan Melly. Meskipun posisi seperti ini sangat tidak nyaman baginya. Kemudian Melly mencium kedua pipi Vito secara bergantian. Melly terus saja berucap selamat ulang tahun pada Vito. Hingga tanpa sadar kedua mata mereka bertemu. Entah kenapa saat Vito melihat bibir tipis Melly, dia mengingat bibir Kay. Jarak wajah bereka sudah sangat dekat hingga tanpa sadar keduanya kini sudah saling mencecap rasa nikmat dari kedua bibir masing-masing. Hal itu terjadi mungkin selama lima menit.
Ceklek
Saat pintu ruangan terbuka pun kedua maanusia yang sedang terhanyut itu telinganya seolah tuli. Mereka masih menikmati pagutan itu. Vito yang tadinya membayangkaan bahwa wanita yang saat ini duduk di pangkuannya dan sedang ia pagut bibirnya adalah Kay, namun apa yang baru saja dia dengar. Samar-samar dia mendengar suara Kay memanggilnya.
Apakah mungkin saat sedang berciuman, Kay bisa menyebut namanya dengan jelas meskipun sangat lirih. Beberapa saat kemudian kesadarn Vito kembali. Dia melepas pagutan bibirnya, dan sangat terkejut bahwa wanita yang saat ini dalam dekapannya adalah Melly. Sejurus kemudian mata Vito menoleh pada seorang wanita cantik terdiam memaku sambil berderai air mata.
__ADS_1
“Kay?” panggil Vito dan segera menurunkan Melly dari pangkuannya.
Namun terlambat, Kay sudah berlari keluar dan menjatuhkaan sesuatu yang tadi dia bawa. Sementara itu Melly nafasnya masih terengah-engah. Dia bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
“Ada apa Kak? Kak Vito manggil Kay? Mana dia?” Tanya Melly.
“Mel, lebih baik kamu segera keluar. Lanjtkan pekerjaan kamu.” Perintah Vito pada Melly. Dan dengan patuh Melly keluar dari ruangan Vito.
Selepas kepergian Melly, Vito berjalan mengambil sesuatu yang tadi dijatuhkan oleh Kay. Vito melihat itu adalah kado ulang tahunnya dari Kay. Dia tidak menyangka bahwa Kay akan memberikan kejutan di hari ulang tahunnya dengan datang ke kota J. namun apa yang Kay dapat baru saja. Vito benar-benar merutuki kebodohannya atas perbuatannya dengan Melly tadi.
“Shitt!!!” umpat Vito.
Vito mengambil ponselnya untuk menghubungi Kay. Meskipun dia tahu kalau Kay tidak mungkin mengangkatnya. Vito benar-benar pusing apa yang harus dia lakukan sekarang. Dan bagaimana cara menjelaskan pada Kay tentang perbuatannya tadi.
***
Sementara itu, setelah keluar dari kantor Vito, Kay segera memsan taksi. Dia memilih pergi ke rumah neneknya. Biasanya dia akan menginap di rumah oma dan opanya tapi kali ini dia memilih untuk menginap di rumah neneknya.
Beberapa menit taksi yang ditumpangi Kay sudah berhenti di rumah neneknya. Setelah membayar ongkos taksi, Kay segera masuk ke dalam rumah neneknya. Disana Kay dapat melihat neneknya yang sudah tua sedang merajut sambil mengenakan kacamata. Nenek Kay hanya tinggal dengan kakak sepupunya yaitu Arsa sepeninggal kakeknya dua tahun yang lalu.
“Nek?” panggil Kay.
“Kay? Benarkah itu Kay?” Tanya wanita renta itu sambil membenarkan kacamatanya.
Kay segera memeluk neneknya dan menumpahkan air matanya.
“Hey kenapa menangis? Ada apa? Datang kesini ko’ nggak bilang nenek?”
Kay masih saja terisak sambil terus memeluk erat tubuh renta neneknya.
“Kay kangen sama nenek. Nenek apa kabar?” Tanya Kay sesaat setelah melepaskan pelukannya.
“Kamu lihat sendiri ini, nenek sangat sehat bukan?”
__ADS_1
Kay segera mengusap air matanya. Dia menceritakan kedatangannya karena sangat merindukan neneknya. Karena tidak mungkin jika dia menceritakan yang sesungguhnya. Kay tidak mau membebani urusannya pada sang nenek.
“nenek sebenarnya juga sangat kangen sama kamu. Apalagi sama adik kamu yang sangat bandel itu. Sudah lama kalian tidak datang kesini.”
Kay merasa sangat bersalah saat mendengar ucapan neneknya. Dia teringat beberapa bulan yang lalu saat datang ke kota J untuk menghadiri acara peresmian perusahaan Vito. Karena keterbatasan waktu dirinya dan keluarganya tidak sempat datang ke rumah neneknya.
“maafkan Kay Nek. Kay sangat sibuk. Nanti Kay usahakan untuk selalu datang menjenguk Nenek”
“Nggak apa-apa, nenek mengerti. Yang penting kalian semua sehat. Ya sudah lebih baik kamu istirahat saja. Kakakmu ada di kamarnya sedang tidur. Semalam pulang larut, jadi hari ini dia memilih bolos kerja.”
Setelah itu Kay segera menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Arsa. Dan bertepatan dengan Arsa yang membuka pintu kamarnya.
“Kay? Tumben kamu disini?” Tanya Arsa heran.
Sedangkan Kay hanya terdiam dan setelah itu dia memeluk kakaknya dan menagis dengan keras.
“huaaaaaa….”
“Hei kamu kenapa?” Tanya Arsa.
Arsa segera mengajak Kay masuk ke dalam kamarnya, karena takut nanti neneknya mendengar suara tangisan Kay.
Setelah itu Kay menceritakan semua pada Arsa tentang apa yang baru saja ia alami. Kay sudah terbiasa dengan sikap terbuka Kay seperti ini. Arsa hanya manggut-manggut saat mendengarkan Kay bercerita. Setelah Kay selesai menceritakan tentang Vito, dengan ragu Arsa bertanya.
“Kay, kamu nggak jatuh cinta pada Vito kan?”
.
.
.
*TBC
__ADS_1