Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 170


__ADS_3

Kini pesawat yang Kay dan Bram tumpangi sudah lepas landas menuju kota B. Kay dan Bram duduk berdampingan. Tapi mereka berdua sama sekali tidak terlibat pembicaraan apapun. Bram yang irit bicara dan kalau ditanya hanya dijawab singkat, padat, dan jelas membuat Kay enggan untuk bertanya lagi ataupun sekadar basa-basi pada bodyguard kaku itu. Bahkan pandangn Bram hanya lurus ke depan tanpa menoleh. Kay merasakan perjalanannya kali ini terasa sangat membosankan.


Beberapa saat kemudian Kay dan Bram sudah turun dari pesawat dan segera pulang ke rumah orang tuanya dengan menaiki taksi.


Sesampainya di rumah, kedatangan Kay sudah disambut hangat oleh Delia, Radit, dan juga Nathan. Mereka bertiga sempat bertanya-tanya saat pertama kali melihat Kay bersama seorang pria tapi bukan suaminya. Setelah Kay menjelaskan, baru mereka mengerti.


Radit mempersilakan Bram masuk ke ruang tamu. Sedangkan Kay bersama Mommynya masuk ke ruang keluarga. Delia sangat merindukan putri sulungnya. Pasalnya semenjak Kay dirawat di rumah sakit dulu sampai sekarang kedua ibu dan anak itu belum bertemu lagi. Dan sekarang kembali lagi bertemu di saat perut Kay sudah membesar. Delia mengusap lembut perut Kay yang di dalamnya ada calon cucunya.


“Bagaimana kabar kalian?” Tanya Delia.


“Sehat Mom.” Jawab Kay.


“Kenapa Vito sampai menyewa seorang bodyguard Sayang?” Tanya Delia penuh selidik.


Kay menjawab berdasarkan yang ia tahu. Yaitu suaminya ingin dirinya aman dari bahaya. Entah bahaya apa yang pasti suaminya tidak ingin terjadi sesuatu hal yang menimpa dirinya apalagi ada calon buah hatinya di dalam perut Kay.


Delia mengangguk paham. Awalnya wanita paruh baya itu merasa bahwa Vito terlalu berlebihan. Tapi mengingat posisi menantunya adalah salah satu pengusaha sukses yang pasti ada lawan bisnisnya yang iri. Dan tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk terjadi pada keluarganya.


Kay juga menceritakan kalau kedatangannya ke kota B juga akan mengajak Desi untuk ikut ke kota J. karena Kay akan membuka butik lagi di kota J. Delia juga menyetujuinya asal anaknya itu bisa menjaga kesehatannya termasuk kandungannya.


Sementara Radit yang kini berada di dalam ruang tamu sedang berbicara serius dengan Bram. Radit menanyakan alasan Bram disewa oleh menantunya. Karena mendapat pertanyaan dengan nada tegas dan memaksa akhirnya Bram menceritakan tentang tugasnya menjaga istri tuannya dari lawan bisnisnya yang sangat menginginkan istrinya. Tapi Bram sudah mengatakan Radit agar tidak memberitahukan pada Kay ataupun Delia. Radit pun mengerti.


Setelah beberapa saat berbincang-bincang, Radit meminta Bram untuk beristirahat terlebih dulu di kamar tamu. Dan dia akan menemui Kay yang sedang asyik bercengkrama dengan sang Mommy.


“Bagaimana kabar anak cantik Daddy?” Tanya Radit yang kini sudah duduk di samping Kay.


“Kay sehat, Dad. Kay sangat merindukan Daddy.” Jawab Kay.


Seperti biasa, walaupun Kay sudah hidup berumah tangga dan akan memiliki anak, dia masih saja sangat manja dengan Daddynya. Karena sejak dulu Kay memang sangat dekat dengan Daddynya.


Kay saat ini sedang beristirahat di kamarnya. Dia juga merasakan sedikit lelah setelah perjalanan singkatnya tadi. Kay meraih ponselnya, dia melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari suaminya.

__ADS_1


“Sayang? Sudah sampai?”


“Sayang kenapa tidak dibalas? Kalian baik-baik saja kan?”


“Sayang, kenapa panggilanku tidak diangkat? Lagi dimana sih? Bram juga tidak bisa dihubungi.”


“Sayang, jangan buat aku khawatir. Apa yang kamu lakukan dengan Bram?”


“Kamu jangan macam-macam dengan Bram. Dia juga tidak bisa dihubungi, aku nanti akan membuat perhitungan dengannya jika berani menyentuh kamu.”


“Sayang”


“Sayang”


Kay memutar bola matanya malas saat membaca pesan dari suaminya. Terlebih pada chat yang menanyakan apa yang dilakukan dengan Bram. Kay lupa kalau sejak tadi ponselnya ada dalam tasnya dan dalam keadaan hening. Sementara Bram, Kay tidak tahu kenapa ponsel pria itu tidak bisa dihubungi. Akhirnya Kay segera menghubungi suaminya melalui panggilan video.


“Sayang kemana saja sejak tadi? apa yang kamu lakukan sampai mengabaikan pesan dan panggilanku.” Ucap Vito dengan sedikit kesal namun masih terselip perasaan lega saat melihat istrinya baik-baik saja.


“Sudah Mas bawel?” ucap Kay menggoda.


Kay pun meminta maaf karena kelalaiannya. Sejak sampai rumah Kay sudah tidak membuka ponselnya lagi, karena sedang fokus kengen-kengenan dengan Mommy dan Daddynya. Apalagi ponselnya dalam keadaan hening. Jadi Kay sama sekali tidak mendengar kalau ada banyak panggilan ataupun pesan masuk. Akhirnya Vito merasa lega setelah mendengar penjelasan istrinya.


Sore harinya jam 3, Kay akan berkunjung ke butik dengan ditemani oleh Bram. Hari ini juga Kay akan berbicara dengan Desi tentang pembukaan butiknya di kota J.


Beberapa saat kemudian Kay sudah tiba di butik. Dia segera masuk dan menyapa beberapa karyawannya yang sedang melayani beberapa pelanggan. Kay melihat butiknya sangat ramai, terlebih saat weekend.


Kay menanyakan keberadaan Desi pada salah satu karyawannya. Dan karyawannya mengatakan kalau Desi masih keluar sebentar untuk mengecek beberapa bahan yang datang. Akhirnya Kay masuk ke dalam ruangaannya dan meminta Desi kesana jika sudah datang.


Bruk


Desi membawa beberapa gulungan kain masuk ke dalam butik dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang sedang berdiri di samping pintu masuk.

__ADS_1


Pandangan Desi tertuju pada pria yang berdiri tegak dengan muka datar tanpa ekspresi itu.


“ganteng banget” batin Desi.


Tapi pujian yang baru saja terlontar dari hati Desi lenyap begitu saja saat melihat pria itu sama sekali tidak peka untuk membatunya mengambil gulungan kain yang terjatuh tadi.


Desi sekarang merasa sangat kesal. Kemudian dia mengambilnya sendiri dengan hati yang sangat dongkol.


Kemudian Desi sudah masuk ke dalam ruangan Kay. Kay langsung menjelaskan maksud kedatangannya pada Desi. Desi juga sangat setuju dengan ide Kay. Dia juga bersedia untuk ikut tinggal di kota J menjadi asisten Kay disana. Karena Desi juga sudah sangat nyaman bekerja dengan Kay. Menurut Desi atasannya itu sangat baik hati.


Setelah menemui Desi, kebetulan butik juga sudah tutup. Kay memutuskan untuk mengajak Desi pergi ke café hanya untuk sekadar bersantai. Apalagi saat weekend begini. Desi baru tahu kalau pria tampan yang sempat ia temui tadi adalah bodyguard atasannya. Namun Desi tidak banyak bertanya lagi pada Kay saat melihat tatapan Bram yang sangat tajam. Padahal biasanya Desi sangat terbuka pada Kay. Namun kali ini dia memilih diam karena tidak nyaman dengan keberadaan Bram.


Saat ini mereka bertiga sedang duduk di salah satu café yang cukup terkenal. Sebenarnya Bram tidak ingin ikut bergabung dengan majikannya. Tapi karena paksaan Kay, akhirnya Bram pun mau.


Kay meminta ijin pada Bram dan Desi untuk pergi ke toilet sebentar. Memang efek perutnya yang semakin membesar, membuat Kay sering berkemih. Sedangkan Desi dan Bram hanya diam saja menunggu Kay yang sedang ke toilet.


Pandangan mata Bram tertuju pada Kay yang baru saja keluar dari toilet. Desi pun penasaran dengan arah pandang Bram. Desi heran kenapa Bram menatap Kay seperti itu, apakah Bram menyukai majikannya sendiri. Kay bergidik membayangkannya. Namun tiba-tiba saja, dengan cepat Bram berdiri dan berlari cepat menghampiri Kay.


“Awas Nyonya!!!”


Brukkk


Arghh


Dengan sigap Bram melindungi Kay dengan memeluk tubuhnya yang sudah terjatuh dan perutnya sempat membentur kaki meja café. Desi pun terkesiap dan segera berlari menghampiri Bram dan Kay.


“Darah!!” pekik Desi sambil membekap mulutnya terkejut.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2