
Sudah seminggu ini Vito masih berada di dalam ruangan ICU. Dan selama itu pula Vito masih betah menutup matanya. menurut hasil pemeriksaan dokter memang Vito sudah melewati masa kritisnya, namun entah kenapa kondisinya yang semakin melemah terlebih pada otaknya, membuat dia koma. Dokter juga sudah menyarankan pada semua keluarganya untuk terus memberi dukungan berupa semangat untuk sembuh. Meskipun keadaannya koma, tapi Vito masih bisa merespon setiap apa yang sedang orang bicarakan.
Keadaan Kay pun semakin terpuruk melihat suaminya sampai saat ini belum membuka matanya sama sekali. Bahkan dia terlihat lebih kurus karena selalu memikirkan suaminya.
Semua keluarga sudah membujuk Kay agar lebih fokus dengan kandungannya, namun dia tidak peduli. Setiap hari dia selalu menangis. Dia juga enggan beranjak pergi dari sisi suaminya.
“Mas, bangunlah. Aku sangat merindukanmu. Aku rindu kamu menyentuh perutku dan mengusapnya. Apakah kamu tidak ingin mendampingi aku saat melahirkan nanti?” ucap Kay di sebelah suaminya yang masih setia menutup matanya.
Kay sebenarnya tidak sanggup membendung air matanya ketika berada di dekat suaminya. Namun dia berusaha kuat menahannya agar air matanya tidak tumpah. Dia tidak ingin menampakkan sisi rapuhnya di hadapan sang suami. Kay tidak ingin suaminya bersedih dengan dia berkeluh kesah.
“apa perlu aku harus melakukan operasi caesar sekarang supaya kamu bangun dan mau menemani aku melahirkan?” Tanya Kay lagi.
Dia teringat dengan ucapan suaminya yang menginginkannya untuk melahirkan dengan cara operasi karena tidak mau melihat betapa sakitnya dia saat melahirkan secara normal. Kay berpikir tentang ucapan suaminya. Apakah itu sudah menjadi firasat buruk yang tak sengaja diucapkan suaminya.
Tiba-tiba saja tubuh Kay bergetar hebat. Dia sudah tidak bisa membendung air matanya. dia menangis tergugu di samping suaminya yang masih setia menutup mata. Kay ketakutan. Sangat takut jika suatu hal buruk terjadi pada suaminya. Kay takut Vito pergi meninggalkan dirinya dari dunia ini.
“Mas!! Bangunlah!!!” teriak Kay.
Delia yang berada di luar mendengar teriakan Kay seketika masuk ke dalam ruang ICU. Dia terkejut melihat Kay yang sedang tergugu di samping suaminya.
“Sayang jangan begini. Nanti suami semakin bersedih.” Ucap Delia
Kemudian Delia membawa Kay keluar dari ruangan Vito. Kay juga terlihat begitu lemas apalagi selama beberapa hari pola makannya tidak teratur. Radit pun juga ikut bersedih melihat keadaan anaknya yang terpuruk seperti itu.
Setelah Delia berhasil membawa Kay pergi ke ruang rawat Kay untuk menenangkannya, kini Radit yang sedang menunggu Vito. tapi pria paruh baya itu menunggu di luar saja. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampiri Radit.
“Om!” panggilnya.
Radit yang tadi tertunduk sambil memijit kepalanya seketika mendongak melihat seseorang yang baru saja datang dan menyapanya. Radit sangat terkejut melihat pria itu ada disini. Di rumah sakit ini.
“Rey?” ucap Radit.
__ADS_1
“Om, Rey turut berduka dengan musibah yang menimpa Vito. Rey datang kesini untuk menjenguk Kay dan juga Vito. apa boleh Om?” Tanya Rey dan Radit mengangguk.
Kemudian Radit mengajak Rey untuk menjenguk Kay dulu sebelum mengijinkan untuk menjenguk Vito. hati Rey teriris melihat keadaan Kay yang sangat menyedihkan. Wanita yang dulu begitu ceria dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya kini tidak tampak lagi. Yang ada kini hanya mata yang sembab, dan tubuh yang kurus.
“Kay!” ucap Rey yang membuyarkan lamunan Kay.
Delia yang saat itu sedang duduk di samping Kay sambil membelai rambut anaknya juga sama dibuat terkejutnya dengan kedatangan Rey.
“Kay, aku turut berduka atas musibah yang menimpa kamu dan Vito. kedatanganku kemari hanya ingin mendoakan kesembuhan Vito saja dan tidak ada maksud lain.” Ucap Rey.
Kay masih terdiam. Dia juga tidak tahu harus menjawab apa. Namun yang pasti dia tidak mempermasalahkan kedatangan Rey yang berniat menjenguk dan mendoakan kesembuhan suaminya.
Radit memberi kode pada Delia agar keluar dan memberikan kesempatan buat Rey berbicara dengan Kay. Kemudian Delia keluar dari ruangan itu.
Kini hanya ada Kay dan Rey dalam ruangan. Kay masih terdiam. Kemudian Rey memberanikan diri untuk memegang tangan Kay. Kay sempat terkejut dan ingin melepaskan genggaman tangan Rey namun ditahan oleh Rey.
“Kay, kedatanganku kesini selain untuk menjenguk kamu dan Vito, aku ingin meminta maaf sama kamu.” Ucap Rey tertunduk.
“Aku ingin meminta maaf atas nama mendiang Stefi.” Ucap Rey lagi.
Kay yang tadinya bingung kini terkejut saat mendengar Rey mengucap nama istrinya dengan sebutan mendiang. Itu berarti Stefi meninggal. Dan kenapa Rey meminta maaf atas nama istrinya.
“Apa maksud kamu?” Tanya Kay.
Kemudian Rey menceritakan kalau orang yang pernah mencoba menusuknya saat berada di café beberapa bulan lalu adalah orang suruhan istrinya. Rey sebenarnya juga tidak tahu kalau saja saat itu Vito tidak memberitahukannya. Rey menceritakan kalau istrinya meninggal sesaat setelah melahirkan anaknya. jadi kedatangannya kesini murnin untuk meminta maaf sekaligus mendoakan kesembuhan buat Vito.
Kay yang awalnya sangat terkejut dan tidak percaya akhirnya dia bisa mengikhlaskan semua kejadian itu. Dia juga memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh Stefi. Setelah itu Rey mendekati Kay dan membisikkan sesuatu. Kay mengernyitkan keningnya saat mendengar apa yang dibisikkan oleh Rey. Namun setelah itu dia mengangguk dan sedikit tersenyum.
Beberapa saat kemudian Kay kembali masuk ke dalam ruanagn ICU dimana Vito dirawat. Namun kedatangannya tidak sendiri melainkan dengan Rey. Kay tidak tahu apakah rencananya kali ini berhasil membuat suaminya bangun dari komanya.
“Mas, kamu nggak bosan apa setiap hari tidur terus seperti ini?” Tanya Kay yang kini sudah tidak menampakkan wajah sedihnya.
__ADS_1
“Mas tahu siapa yang ada disampingku saat ini. ada Rey disini Mas.” Ucap Kay lagi.
“Hai Vit! Apa kabar kamu?” Tanya Rey basa-basi meskipun Vito masih menutup rapat matanya.
“Vit, bukankah kamu tahu kalau sejak dulu aku masih sangat mencintai Kay?” Tanya Rey sambil melirik Kay.
“Apakah dengan kamu tidur terus seperti ini berarti kamu memberiku kesempatan untuk mendekati Kay lagi? Ah aku senang sekali karena tidak ada yang menghalangi jalanku. Dan akan lebih mudah mendapatkan Kay lagi. Bukan begitu Sayang?” ucap Rey sambi mengerlingkan matanya ke arah Kay.
Kay terlonjak kaget saat Rey memanggilnya dengan sebutan sayang. Namun dia berusaha biasa saja untuk melancarkan sandiwaranya.
“Ii iya Rey. Buat apa aku capek-capek menunggu seseorang yang sudah tidak mempedulikan aku lagi. Terima kasih Rey kamu sudah hadir lagi di saat seperti ini.” ucap Kay.
Kay dan Rey masih terdiam melihat respon apa yang akan diberikan oleh Vito saat mendengar istri dan mantan kekasihnya sedang beradegan mesra tepat di sampingnya.
Dan tanpa mereka duga, Vito menggerakkan tangannya. Kay sungguh terkejut sekaligus sangat senang melihat suaminya sudah merespon perkataannya meskipun harus dengan cara bersandiwara seperti itu.
Namun kebahagiaan Kay tidak bertahan lama setelah tiba-tiba dia merasakan perutnya begitu kaku dan kencang.
“Arrrgghhhh…… sshhhhh perutku!” ucap Kay sambil meringis menahan sakit.
Rey begitu panik melihat Kay yang kesakitan sambil memegangi perutnya. Dan semakin bingung saat melihat pergerakan tangan Vito seolah ingin meraih sesuatu.
“Rey,,, tolong aku!” lirih Kay.
.
.
.
*TBC
__ADS_1