Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 209


__ADS_3

Saat jam pulang kantor tiba, Barra segera mendatangi ruangan Astrid. Dia sangat cemas karena sejak tadi ponsel Astrid tidak aktif. Barra merasa sangat bersalah karena telah melukai hati Astrid.


Dan saat sudah sampai ruangan Astrid, ruangan itu sudah kosong. Astrid sudah tidak ada disana. Berarti perempuan itu sudah pulang lebih dulu dan menghindari Barra. Barra semakin bersalah. Setelah itu dia pergi ke parkiran dan memacukan mobilnya menuju apartemen Astrid.


Beberapa saat kemdian Barra sudah masuk ke unit apartemen Astrid. Lagi-lagi Barra tidak menemukan keberadaan Astrid disana. Lantas kemana Astrid pergi? Akhirnya Barra menunggu Astrid sampai pulang. Tapi sayangnya, menunggu hingga 3 jam lamanya, perempuan itu tak kunjung pulang ke apartemennya. Akhirnya Barra memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Barra sampai rumah hampir jam 9 malam. Dia bahkan melupakan makan malamnya hanya karena menunggu Astrid. Tapi hasilnya nihil. Saat sampai rumah, Barra disambut oleh Mamanya yang sedang duduk seorang diri di ruang tengah.


“Mama belum tidur?” Tanya Barra.


“Belum. Mama belum nagntuk, lagi nungguin anak Mama pulang lembur.” Jawab Kay sambil tersenyum tipis pada Barra.


Seketika Barra merasa bersalah pada Mamanya. Tadi dia menolak diajak Astrid jalan karena ingin menemani Mamanya yang baru sembuh. Namun kini dia malah mengabaikan Mamanya.


“Maaf Ma.” Jawab Barra sendu.


“Nggak apa-apa. Buruan sana bersihin badan kamu, setelah itu makan. Kamu pasti belum makan kan? Biar Mama hangatin dulu sayurnya.” Ucap Kay.


Barra mau menolak pun tidak enak. Karena memang dia belum makan malam. Akhirnya Barra masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan segera makan malam.


Kay berusaha sabar dalam mengambil hati Barra. Sebenarnya dia tahu dari Bram kalau Barra baru saja pulang dari apartemen Astrid. Kay kecewa karena Barra tidak menuruti kemauannya untuk memutuskan hubungannya dengan Astrid. Jadi Kay memutuskan untuk mengambil hati Barra sampai Astrid benar-benar teralihkan dari perhatian anaknya.


“Mau makan apa biar Mama ambilkan?” Tanya Kay.


“Nggak usah Ma. Barra bisa ambil sendiri.” Jawab Barra merasa tidak enak.


“Nggak apa-apa. Lagian Mama kasihan sama anak Mama yang sudah capek-capek lembur.” Ucap Kay.


Seketika hati Barra mencelos melihat Mamanya yang begitu perhatian padanya. Rasanya Barra tak sanggup jika harus melukai perasaan Mamanya. Barra akui kalau dirinya tidak menuruti kemauan Mamanya untuk memutuskan hubungannya dengan Astrid. Barra benar-benar bimbang, memilih menuruti kemauan orang tuanya atau mempertahankan hubungannya dengan Astrid.


***

__ADS_1


Beberapa hari berlalu. Semenjak saat itu hubungan Barra dan Astrid agak merenggang. Keduanya juga sangat jarang bertemu bahkan hampir tidak pernah. Barra yang hanya memiliki kesempatan bertemu dengan Astrid saat jam makan siang pun kini sudah tidak ada lagi. Hal itu dikarenakan Mamanya yang sering datang ke kantor membawakan makan siang buat Papanya seklian biat dirinya. Jadi Barra hanya bisa bertukar kabar dengan Astrid melalui pesan. Itu pun baik Astrid maupun Barra masih sama-sama gengsi untuk mengakui kesalahannya.


***


Hari ini Jenny pulang dari butik dengan membawa beberapa setelan jas untuk kakaknya yang akan digunakan untuk datang acara ulang tahun perusahaan Xavier besok malam.


Gadis itu memasang muka cemberut. Pasalnya sang kakak mendadak minta dibuatkan kemeja. Jenny akhirnya mengambil beberapa jas yang ada di butiknya untuk dicoba oleh kakaknya. Dan beruntungnya kakaknya memiliki postur tubuh yang sangat proporsional.


Keesokan harinya tiba Barra datang ke acara ulang tahun perusahaan Xavier. Barra tidak datang sendirian melainkan bersama Iqbal. Asisten pribadi yang sangat setia padanya.


Acara ulang tahun perusahaan milik Charles Darandra itu digelar meriah di salah satu hotel berbintang di kota J. perusahaan tersebut merupakan jajaran 10 besar perusahaan sukses di Indonesia. Termasuk juga dengan perusahaan milik Vito.


Barra masuk ke dalam ballroom hotel dan disambut hangat langsung oleh Xavier dan juga Omnya yaitu Tuan Alex. Suasana pesta sangat meriah dan juga mewah. Barra dan Iqbal segera bergabung dengan beberapa pengusaha sukses lainnya.


“Hai Bar, sudah lama kamu disini?” sapa Dhefin yang ternyata juga ada dalam acara tersebut.


“Oh hai! Nggak, aku baru saja datang.” Jawab Barra.


Barra baru ingat kalau perusahaan milik Papa Dhefin juga pasti diundang. Jadi benar saja Dhefin juga berada disini. Namun jangan lupakan perempuan cantik dengan gaun sederhana namun elegan itu. Kecantikannya semakin terpancar. Siapa lagi kalau bukan Carissa, kekasih Dhefin.


Mau tidak mau Carissa mengangguk. Tidak mungkin juga dia mengikuti Dhefin pergi ke toilet. Selepas kepergian Dhefin, kini hanya ada Carissa dan Barra. Sedangkan Iqbal terlihat acuh sedang berdiri di belakang Barra.


“Kenapa kamu mebghindariku?” Tanya Barra tiba-tiba.


“Nggak kok biasa saja.” Jawab Carissa berusaha tenang.


“Aku hargai kamu kalau memang kamu menjaga hati Dhefin. Tapi tolong jangan menghindariku Carissa.” Ucap Barra sendu sambil memegang lengan Carissa.


“Kak jangan gini. Ini salah.” Jawab Carissa sambil berusaha melepaskan tangan Barra dari tangannya.


Carissa merasa tidak enak jika dilihat banyak orang saat berpegangan tangan seperti ini. namun sayangnya Barra seolah tidak peduli. Tangannya masih memegang lengan Carissa yang mulus itu.

__ADS_1


“Kak tolong, jangan seperti ini.” ucap Carissa lagi.


“Please Carissa beri aku kesempatan!” Pinta Barra.


“Kesempatan apa?” Tanya suara bariton yang tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah mereka. Dan sontak Barra melepaskan tangannya dari lengan Carissa.


“Oh, itu lho Fin. Kesempatan buat Jennybelajatr sama Carissa. Mereka berdua kan seprofesi.” Ucap Barra berbohong, namun Dhefin masih menatap aneh pada sahabatnya.


“Mas, aku ke toilet sebentar.” Pamit Carissa akhirnya.


Entah kenapa saat Dhefin baru saja dari toilet dia melihat Barra sedang memegang lengan kekasihnya dan sepertinya terlibat pembicaraan serius. Dan saat dirinya sudah mendekat, samar-sama mendengar Barra berbicara dan meminta kesempatan pada Carissa. Sebenarnya apa yang telah terjadi diantara mereka berdua.


“Kamu ingat status kamu kan Bar? Nggak mungkin kan kamu berbuat licik di belakangku?” Tanya Dhefin tegas menatap wajah Barra.


“Oh come on Fin. Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya membantu Jenny yang ingin belajar banyak dengan Carissa.” Ucap Barra berbohong. Namun Dhefin hanya diam saja.


Sementara itu Carissa masuk ke toilet untuk menghilangkan kegugupannya saat tidak sengaja kepergok oleh Dhefin. Kenapa rasanya dirinya seperti benar-benar sedang selingkuh.


Selesai dari toilet, Carissa segera kembali ke tempat acara. Saat dirinya sedang berjalan, tanpa sengaja ada seorang pelayan sedang membawa nampan yang berisi minuman.


Carissa dan pelayan itu sama-sama tidak melihat hingga akhirnya tabrakan tidak bisa dihindarkan. Untung saja Xavier yang saat itu dekat dengan posisi Carissa dengan cepat menarik tubuh Carissa agar tidak terkena tumpahan makanan.


Saat ini posisi tubuh Carissa sedang berada dalam pelukan Xavier. Pandangan mata mereka saling bertemu. Xavier melihat dalam mata Carissa yang seolah pernah melihat perempuan itu sebelumnya. Tapi entah dimana.


“Sayang, kamu nggak apa-apa?” Tanya Dhefin yang sudah menghampiri Carissa.


“Oh, maaf Tuan Dhefin. Saya tadi hanya menolong kekasih anda.” Ucap Xavier.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2