
Setelah sampai rumah dari menjemput anaknya yang
selama satu bulan lebih dirawat di rumah sakit, Radit segera mengikuti langkah kaki istrinya masuk ke dalam rumah. Tadi hanya mereka berdua yang menjemput anaknya. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya saat perjalanan menuju rumah sakit. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun saat dalam perjalanan pulang Radit memulai percakapan dengan istrinya meskipun sedikit canggung.
“dia sangat tampan” ucap Radit memuji makhluk kecil
yang sedang dalam gendongan istrinya
“iya” jawab Delia singkat
“bolehkan untuk anak kedua kita ini aku yang memberikannya nama?”
“iya boleh” jawab Delia namun pandangannya hanya pada
bayinya, tanpa melihat suaminya.
“Radeya Jonathan Putra Sanjaya. Nama panggilannya
Nathan”
“hmmm…. Nama yang bagus”
Setelah membahas nama untuk anak kedua mereka, tidak
ada lagi pembicaraan diantara keduanya.
Kini Radit dan Delia sudah tiba di rumah dan disambut oleh kedua orang tua mereka. Dua pasang orang tua itu memang sengaja tidak ikut menjemput cucu kedua mereka. Mereka ingin memberi waktu pada anaknya agar bisa kembali seperti semula hubungannya.
Namun yang terjadi sesungguhnya, baik Radit maupun Delia masih sedikit memberi jarak. Radit dengan pemikirannya yang masih ingin menebus kesalahan yang dilakukan pada istrinya, sedangkan Delia dengan pemikirannya yang masih bingung. Melihat pengorbanan suaminya selama ini.
sebenarnya juga membuktikan bahwa suaminya selama ini tidak pernah berbuat macam-macam atau menghianatinya. Tapi di sisi lain, dia masih mengingat betul apa yang telah terjadi antara suaminya dengan wanita ular itu. Mengingat bahwa Vera pernah mencium bibir suaminya. Rasanya Delia kembali merasakan sakit jika masih terbayang-bayang akan hal itu.
Kedatangan baby Nathan disambut bahagia oleh seluruh
keluarga. Termasuk Kay, yang kini sudah berstatus sebagai kakak. Dia sangat senang sekali saat melihat seorang bayi yang ada di rumahnya. Meskipun Kay masih kecil namun sangat terlihat kalau putri sulung Radit dan Delia itu sangat menyayangi adiknya yang masih bayi.
Setelah selesai bercengkrama di ruang keluaga dalam
rangka menyambut kedatangan baby Nathan, kini Delia segera membawa Nathan masuk ke dalam kamarnya. Disana sudah ada box bayi yang baru kemarin dibelikan oleh
Radit setelah mengetahui anaknya sudah boleh pulang. Delia masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh bi Santi. Karena bi Santi yang akan memandikan baby Nathan.
Sedangkan Radit kini masuk ke dalam ruang kerjanya.
Disana dia meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat capek.
Tok tok tok
“apa papa boleh masuk?”
“iya pa, silakan”
“kamu jangan lupa dengan kesehatan kamu”
Ucap papa Radit tiba-tiba setelah mendudukkan dirinya
di atas kursi yang berhadapan dengan meja kerja Radit. bukan tanpa sebab papanya mengatakan itu pada Radit. karena dapat terlihat jelas bahwa penampilan Radit
terlihat berubah. Badannya sedikit kurus, dengan kantung mata yang sedikit menghitam. Tidak hanya itu, pipinya juga terlihat tirus, dan rahangnya ditumbuhi bulu.
“papa tenang saja, Radit baik-baik kok”
__ADS_1
“kamu jangan berbohong, mama kamu sampai kepikiran
saat melihat keadaankamu yang seperti ini. Apa istrimu masih mendiamkanmu, apa Delia belum memaafkanmu”
Radit tersentak dengan ucapan papanya. Tidak menyangka
bahkan mamanya sampai memikirkannya. Dan papanya juga menanykan tentang istrinya yang masih mendiamkannya. Tidak, Radit tidak mau papa mamanya menyalahkan istrinya. Ini semua murni ia lakukan untuk menebus kesalahan yang ia lakukan pada istrinya.
“Delia tidak pernah salah pa. memang semua ini Radit
lakukan untuk membuat Delia kembali percaya pada Radit pa”
“terserah kamu kalau begitu. Yang penting kamu juga
harus ingat dengan kesehatan kamu sendiri”
“baik pa, terima kasih”
Sedangkan Delia kini sedang berada di dapur membantu
ibunya mempersiapkan makan malam. Baby Nathan tadi setelah mandi sudah digendong sama omanya di ruang keluarga.
“de’, apa kamu belum bisa memaafkan suami kamu” Tanya
Ibu Delia pada anaknya.
“Delia bingung bu, Delia masih teringat-“
“sudahlah de’, itu semua hanya masa lalu. Ikhlaskanlah. Apa kamu tidak bisa melihat pengorbanan suamimu selama ini? Apa kamu sadar dengan perubahan pada diri suami kamu selama ini?”
“apa maksud ibu?”
Delia hanya terdiam mendengarkan ucapan ibunya. Apakah
dia selama ini sudah keterlaluan dengan suaminya. Apakah dia sangat kejam dengan suaminya. Air matanya menetes perlahan kala mengingat pengorbanan suaminya sejak dirinya dirawat di rumah sakit sampai pulang. Dan suaminya juga yang menjaga bayinya di rumah sakit setiap malam setelah menemani Kay.
“Ibu tidak menyalahkan kamu de’, tapi cobalah buka
hati kamu. Apa pantas suami kamu mendapat hukuman sedangkan dia tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali. Yang salah bukan suami kamu tapi wanita itu. Ingat suami kamu saat itu hanya menolong atas dasar kemanusiaan. Dan siapa sangka yang ditolong adalah wanita itu, dan wanita itu juga memanfaatkan kesempatan pada suami kamu”
Delia tidak mampu menjawab ucapan ibunya. Dia hanya
terisak. Dia membenarkan sumua yang telah dikatakan oleh ibunya. Delia berjanji, setelah ini akan memperbaiki hubungannya lagi dengan suaminya yang sempat renggang.
Setelah itu Delia dan ibunya segera pergi ke ruang keluarga untuk mengajak semua orang yang ada disana makan malam.
Kini semua sudah berkumpul di meja makan. Baby Nathan
sedang tidur dan dijaga oleh bi Santi.
Delia teringat akan ucapan ibunya, dan sekarang dia
akan mulai memperbaiki hubungannya dengan Radit. di meja makan, Delia duduk bersebelahan dengan suaminya. Semuanya juga sudah Nampak mengambil makanan yang ingin mereka makan. Delia berinisiatif mengambilkan makanan untuk suaminya. Namun saat Delia mengambil piring suaminya, Radit mencegahnya.
“tidak usah, nanti saja aku bisa ambil sendiri. Aku
akan menyuapi Kay dulu” tolak Radit
Delia benar-benar kecewa dengan penolakan suaminya.
Padahal dirinya sudah berniat baik mau melayani suaminya. Dan melihat wajah kecewa Delia, mama Radit seakan tahu apa maksud menantunya.
__ADS_1
“biar Kay mama suapin. Kamu makan dulu saja” ucap mama
Radit dan sambil memberi kode agar mau menuruti perintahnya.
Kemudian Delia mengambil lagi piring suaminya dan
mengambilkan makanan.
Kedua pasangan orang tua itu Nampak sedikit lega kala
melihat anak dan menantu mereka sudah mulai memperbaiki hubungannya.
Selesai makan malam, orang tua Radit dan Delia meminta
ijin untuk pulang ke rumah masing-masing. Bukan karena mereka tidak ingin menginap di rumah anak dan menantunya, mereka hanya ingin memberi kesempatan pada Delia dan Radit agar segera memperbaiki hubungannya.
Kini Radit sedang berada di dalam kamar Kay. Seperti
biasa sebelum tidur, Radit akan membacakan cerita pada putri sulungnya itu. Setelah Kay tidur baru Radit memutuskan keluar dari kamar Kay.
Sekarang Radit sudah berada di ruang kerjanya. Karena
dia tidak ingin masuk kamarnya jika istrinya belum tidur. Dia tidak mau kalau istrinya merasa terganggu dengan kehadirannya.
Tok tok tok
Ceklek
Radit terkejut saat tiba-tiba pintu terbuka dan yang
datang adalah Delia. Radit tidak menyangka istrinya akan masuk ke ruang kerjanya. Dia belum siap bertatap muka langsung dengan istrinya.
“mas, ini aku buatin teh” ucap Delia lirih sambil
berjalan pelan menghampiri suaminya
Radit yang bingung memikirkan cara bagaimana agar
tidak bertatap muka langsung dengan istrinya, dia segera mengambil ponselnya untuk menelepon seseorang.
Radit memberi isyarat pada Delia agar meletakakkan teh
itu di meja, sambil tangannya memegang ponsel yang dia letakkan di telinganya. Tak ingin membuat istrinya kecewa, Radit menghampiri istrinya dan mengecup kening istrinya.
Cup
Setelah itu Radit berjalan menjauhi Delia dan melanjutkan
pembicaraannya dalam telepon.
Delia menatap nanar punggung suaminya. Padahal niatnya
ingin mengajak suaminya bicara, namun sepertinya waktunya tidak tepat.
.
.
.
*TBC
__ADS_1