
Hari ini Barra dan Carissa sudah berada di bandara. Sekitar 15 menit lagi mereka akan terbang ke Paris untuk berbulan madu. Barra sengaja memilih kota Paris sebagai tempat berbulan madunya karena kota tersebut adalah kota paling romantis di dunia yang menyajikan banyak destinasi wisata yang sangat bagus. Selain itu Paris juga merupakan kota mode. Jadi Carissa juga bisa banyak mendapatkan wawasan tentang dunia fashionnya disana.
Barra dan Carissa berencana menghabiskan waktu untuk berbulan madu sekitar satu minggu. Carissa sudah mempercayakan butik pada asistennya. Begitu juga dengan Barra, sudah mempercayakan semua urusan kantor pada Iqbal.
Saat ini pasangan pengantin baru itu sudah berada di dalam pesawat yang sudah lepas landas beberapa detik yang lalu. Carissa tampak menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya. Sedangkan Barra mengusap lembut kepala istrinya.
“Manja banget sih istriku ini.” ucap Barra sambil mengecup pucuk kepala Carissa.
“Sama suami sendiri apa salah Mas?” tanya Carissa.
“Nggak salah sih Sayang. Hanya saja aku tidak kuat jika kamu terus menempel terus begini.” Jawab Barra sambil tersenyum penuh makna.
Carissa yang tadinya sedang bersandar di pundang sang suami seketika langsung menegakkan badannya. Dia merasa awas setelah mendengar apa yang baru saja suaminya katakan. Perjalanan ke Paris masih membutuhkan waktu yang lama. Jangan sampai suaminya meminta hal yang tidak-tidak akibat ulahnya yang terkesan memancing sesuatu.
“Hei kenapa bangun? Ayo sini sandaran lagi!” perintah Barra dan segera meraih tubuh istrinya agar kembali bersandar. Namun Carissa menolak.
“Mas, nggak akan macam-macam kan?” tanya Carissa khawatir dan Barra menahan tawanya.
“Nggak Sayang. Tenang saja. Aku nggak akan macam-macam. Palingan Cuma satu macam.” Ucap Barra terkekeh.
“Mas jangan nekat ya. Kita sedang dalam pesawat.” Ancam Carissa.
“Kita bisa ke toilet kan Sayang?” tawar Barra dengan mengerling nakal.
“Awwww” Barra meringis saat Carissa langsung mencubit perutnya hingga membuat penumpang sebelahnya melihatnya.
__ADS_1
Barra dan Carissa sangat malu. Kemudian Carissa segera bersandar lagi di pundak Barra sambil menutup matanya. karena jujur saja dia masih sangat malu dengan beberapa penuympang yang tadi melihatnya setelah dirinya berbuat ulah.
Beberapa jam perjalanan panjang telah dilalui oleh pasangan pengantin baru itu. Kini mereka sudah tiba di kota Paris. Setelah turun dari pesawat, mereka segera menuju hotel dimana mereka akan menginap selama beberapa hari.
“Mas, terima kasih telah membawaku kesini.” Ucap Carissa yang sangat bahagia bisa berada di kota ini bersama orang yang sangat dicintainya.
“Sayang, apa pun akan aku lakukan demi wanita yang sangat aku cintai.” Jawab Barra.
“Terima kasih telah mencintaiku, memberiku kasih sayang yang tak terhingga.” Ucap Carissa.
“Sayang. Maafkan semua kesalahanku selama ini. aku janji akan selalu membahagiakan kamu selamanya. Sekarang kita sudah berada di kota Paris. Kota yang akan menjadi saksi perjalanan kehidupan rumah tangga kita. Aku minta padamu sekarang. di kota ini, berjanjilah untuk selalu mencintaiku dan tidak pernah meninggalkan aku. kita akan hidup berbahagia bersama anak-anak kita. Beradalah selalu disampingku apapun bencana yang akan menguji rumah tangga kita nanti.” Ucap Barra.
Carissa tidak bisa menahan haru saat mendengar ucapan sang suami. Dia meneteskan air matanya kemudian mengecup bibir Barra sekilas.
Sopir taksi yang sedang mengantar Barra dan Carissa menuju hotel ikut tersenyum tipis melihat kemesraan mereka. Meski tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Barra dan Carissa, setidaknya dia mengerti dengan gestur yang ditampakkan oleh mereka yang terlihat sedang berbahagia.
Bebersapa saat kemudian, mereka sudah tiba di hotel. Carissa benar-benar takjub dengan keindahan hotel yang berada di dekat Menara Eiffel. Bahkan balkon kamar mereka menghadap langsung dengan kemegahan salah satu keajaiban dunia itu.
“Sayang, mari kita mulai babak baru perjalanan kehidupan rumah tangga kita dari sini. meskipun telat, tapi aku yakin kalau kamu tetap bahagia bukan?” ucap Barra.
“Iya Mas. Sekali lagi terima kasih. Mari kita mulai dari sekarang.” ucap Carissa yang sudah berdiri menghadap Barra.
Saat ini mereka sedang berada di balkon kamarnya sambil melihat pemandangan Menara Eiffel di sore hari menjelang matahari terbenam, dan lampu-lampu kota sudah mulai menyala terang.
Hari pertama mereka menginjakkan kakinya di kota Paris diawali dengan kegiatan panas dengan Carissa yang mengawali permainannya. Barra sangat terkejut namun dia berusaha biasa saja agar sang istri tidak merasa malu dan canggung. Ciuman yang Carissa berikan saat berada di balkon kamar hotel kini berubah menjadi semakin menuntut. Barra segera menggendong sang istri untuk masuk ke dalam dan melanjutkan misinya.
__ADS_1
***
Sementara itu seoarng pemuda berwajah tampan dan jarang sekali tersenyum. Siapa lagi kalau bukan Iqbal sang asisten pribadi Barra, sedang tampak sibuk dengan beberapa pekerjaan yang harus di handle selama seminggu ke depan.
Iqbal baru saja selesai meeting dengan Xavier. Parter bisnis sekaligus kakak ipar dari bosnya. Iqbal hari ini sedikit kesal dengan Xavier karena tidak profesional. Bagiamana tidak, Iqbal sudah lama menunggu kedatangan Xavier. Namun saat datang dan sedang membahas masalah pekerjaan, laki-laki itu malah menerima telepon dari seseorang dan mengacuhkan pekerjaannya. Bahkan yang lebih membuat Iqbal kesal, Xavier seenaknya sendiri meninggalkan meeting sebelum selesai dengan alasan akan menjemput seseorang untuk makan siang.
Saat Iqbal akan menyuarakan protesnya, lagi-lagi Xavier tidak terlalu peduli karena menerima panggilan dari seseorang lagi. Terlebih nama perempuan yang disebut Xavier adalah Jenny.
Iqbal menggelengkan kepalanya saat tiba-tiba mengingat nama Jenny. Tidak mungkin dirinya memasukkan nama Jenny dalam daftar nama perempuan yang mengisi hatinya. Walau selama ini tidak pernah ada perempuan yang singgah di hatinya. Jadi hanya Jenny satu-satunya perempuan itu.
Sore harinya Iqbal meeting dengan salah satu klien Barra yaitu Tuan Kenzo. ini adalah pertama kalinya Iqbal meeting dengan Tuan Kenzo. namun karena Iqbal adalah seseorang yang sangat kompeten, jadi semuanya berjalan dengan normal dan lancar.
Iqbal dan Tuan Kenzo menyelesaikan meetingnya sampai pukul 8 malam. Setelah itu Iqbal keluar dari restaurant setelah berpamitan pada Tuan Kenzo.
Saat Iqbal sedang berjalan melewati beberapa meja pengunjung, tanpa sengaja dia bertemu dengan Jenny yang sedang duduk bersama seorang pria dewasa. Iqbal meghentikan langkahnya karena melihat Jenny seperti tidak nyaman saat sedang bersama pria itu. Iqbal ingin menghampiri Jenny namun ia urungkan saat tiba-tiba ada perempuan muda seusia Jenny menghampiri Jenny dan pria dewasa itu. Si perempuan muda itu memeluk si pria dewasa sambil mencium pipinya bergantian setelah itu duduk bergabung dengan Jenny.
Karena merasa Jenny sudah aman dan tidak terjadi apa-apa, Iqbal segera pergi meninggalkan restaurant. Hari ini dia sangat lelah dan ingin segera pulang setelah itu istirahat.
.
.
.
*TBC
__ADS_1