
Terkadang menjauh itu lebih baik,
daripada mendekat tapi saling tersakiti
~Delia Angelista~
---
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, hari ini Delia sudah diperbolehkan untuk pulang. Karena kondisi kesehatannya sudah membaik. Kejadian beberapa hari yang lalu, saat dia dilarikan ke rumah sakit karena pingsan mendadak, dokter mendiagnosa bahwa Delia sedang mengalami depresi sehingga kehilangan nafsu makan yang menyebabkan dia kurang darah. Meskipun kata dokter hanya depresi ringan, tetapi sebagai keluarga atau kerabat dekatnya tidak boleh meremehkannya.
Mereka harus tetap menjaga dan menghibur agar Delia segera pulih. Pihak keluarga juga belum berani menanyakan langsung pada Delia tentang masalah apa yang telah dialaminya. Setahu mereka, mungkin Delia teringat akan masa lalunya lagi, jadi rasa trauma yang ada dalam dirinya muncul lagi.
Mereka hanya menduga seperti itu setelah Radit menceritakan pada abangnya Delia saat menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Radit hanya mengatakan, bahwa terakhir yang dia tau sebelum Delia pingsan, dia telah menampar David dan seketika itu langsung menangis histeris setelah itu Delia tidak sadarkan diri.
Selama perjalanan pulang, Delia hanya diam saja dengan melihat ke arah luar jendela mobil. Abangnya pun juga diam saja.
“Selamat datang kembali anak gadis ibu yang paling cantik” sambut ibunya di depan pintu.
Sedangkan Delia hanya tersenyum menanggapi sambutan ibunya sambil berpelukan. Setelah masuk rumah, ibunya mengantar Delia masuk ke kamarnya dan membiarkan Delia untuk istirahat.
Saat di bawah, ibu Delia bercakap-cakap dengan Ade untuk membahas kondisi Delia.
“dede' masih belum mau cerita ke kamu bang?” tanya ibunya ke Ade
“Belum bu, tapi menurutku dia masih trauma tentang David. Itupun Ade diberitahu oleh Radit yang telah menolong dede saat pingsan. Katanya dede menampar David setelah itu menangis histeris kemudian pingsan” jelas Ade panjang lebar
“Nanti ibu bilang ke ayah saja, biar mengajak dede liburan ke luar kota biar bisa menghilangkam stresnya. Untuk urusan kuliahnya nanti tugas kamu yang minta ijin ke pihak kampus” ucap ibu dan hanya diangguki oleh Ade.
Mungkin itu adalah satu-satunya cara agar bisa menyembuhkan Delia dari depresinya. Kedua orang tua Delia dan juga abangnya sangat menyayangi Delia, maka apapun akan mereka lakukan asal bisa mengembalikan keceriaan Delia seperti biasanya lagi. Mereka sebenarnya juga sangat bersedih melihat anak gadisnya itu selalu murung dan diam saja selama mendapat perawatan beberapa hari di rumah sakit. Bahkan kehadiran Viviane sang sahabat juga tidak bisa mengembalikan senyum Delia lagi. Justru kalau tahu Viviane datang, Delia selalu berusaha menghindar dengan alasan ingin tidur. Apalagi Viviane datangnya bersama Radit. Hal itu tak hanya membuat sedih keluarganya, tetapi Viviane juga merasakannya. Khususnya Radit, yang merasa bersalah. Yang menyebabkan Delia seperti itu bukan karena David melainkan karena dirinya. Tidak mungkin Radit mengatakan yang sejujurnya pada keluarga Delia, termasuk Viviane. Radit akan terus mencari cara untuk mendapatkan maaf dari Delia. Itu tekatnya.
__ADS_1
---
Hari ini Viviane sedang makan siang dengan Radit. Setelah acara pertunangannya hingga sekarang Radit belum kembali ke kota J. Apalagi sejak Delia dirawat di rumah sakit. Saat ditanya Viviane mengapa belum juga kembali, alasannya karena dia masih ingin menemani sang kekasih hati. Sontak itu membuat Viviane menjadi berbunga-bunga. Padahal kenyataannya Radit sangat mengkhawatirkan keadaan Delia.
“sayang... Lusa aku harus balik ke kota J, apa kamu tidak mau ditemani untuk menjenguk Delia?” tanya Radit beralasan.
“Delia udah pulang tadi, bang Ade yang ngasih tahu” jawab Viviane lesu
“Kan bisa dijenguk di rumahnya, ga usah sedih gitu” bujuk Radit
“ masalahnya bang Ade bilang, aku sebaiknya tidak usah ketemu Delia dulu karena dia tidak mau bertemu siapa pun” ucap Viviane sambil menangis karena bingung dengan apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
Radit pun kaget dan semakin merasa bersalah. Dia bingung memikirkan cara gimana agar bisa bertemu dengan Delia. Mungkin dia akan mengirim pesan untuk mengijinkannya bertemu.
---
Saat ini Delia dan keluarga sedang makan malam. Secara fisik, kondisi Delia sudah normal. Hanya psikisnya saja yang masih perlu waktu untuk mengobatinya.
“mau ngapain bang? Kan belum liburan” tanya Delia
“masa' harus nunggu liburan dulu? Besok pagi kita berangkat ya, nanti kamu packing baju-baju kamu. Ya kan Yah, Bu?” ucap Ade sambil melirik ke arah Ayah dan Ibunya dan mereka mengangguk.
“ Ayah dan Ibu juga ikut? Teris gimana kuliah Delia?” tanya Delia memastikan
“tenang saja, biar itu jadi urusan abangmu. Besok ayah dan ibu juga ikut. Kan kita sudah lama tidak liburan. Ya kan yah?” ucap ibunya dan ayahnya mengangguk. Delia tersenyum menanggapi hal itu. Dia juga setuju untuk liburan ke kota M.
Setelah acara makan malam selesai mereka masuk kamar masing-masing untuk mempersiapkan acara liburannya besok.
“Ting” ada pesan masuk di ponsel Delia.
__ADS_1
“Del, bagaimana keadaan kamu? Aku minta maaf telah membuatmu sakit seperti ini. Bisakah kita bertemu” ternyata itu pesan dari Radit.
Sejenak Delia menarik nafasnya dalam sebelum membalas pesan Radit.
“Aku baik-baik saja. Aku sudah memaafkan kamu. Semoga harimu selalu bahagia” Delia menahan rasa sesak di dadanya.
Dia harus kuat. Dia tidak boleh terus menerus terjebak dalam cinta semu ini. Delia sudah memutuskan lebih baik menjauhi Radit, daripada dekat nanti yang ada hanya saling menyakiti. Tekat Delia sudah bulat memberi keputusan itu. Menjauhi Radit dan menjaga jarak dengan Viviane. Biarkanlah Radit dan Viviane bahagia. Untuk dirinya sendiri, dia harus bisa menekan kuat rasa sakit atau patah hatinya. Dia harus bisa mengobatinya sendiri. Bukannya sakit yang datang itu karena kita sendiri yanh menciptakan? Jadi untuk menyembuhkannya pun juga harus diri kita sendiri.
Setelah mengirim pesan terakhirnya untuk Radit, tanpa harus mengucapkan perpisahan, dan tanpa menunggu balasannya, Delia segera memblokir kontak Radit. Dia harus mengubur dalam perasaannya pada Radit. “huuuuuhhh” Delia menarik nafas kemudia meletakkan ponselnya. Kemudian dia tidur. Padahal tadi sudah berniat untuk mengemasi baju buat liburan besok.
Sedangkan Radit setelah melihat balasan pesan dari Delia langsung mengerutkan dahinya. Kemudia membalasnya lagi “maksudnya apa ya Del” ketik Radit tapi ternyata tidak bisa karena no nya sudah diblokir oleh Delia. “sialll” umpat Radit. Tiba-tiba dia merasakan sesak di dadanya. Dia tidak rela Delia meninggalkannya. Rasanya ada sebagian dari dirinya yang hilang setelah Delia memblokir kontaknya. Radit sangat frustasi.
---
Pagi hari Delia terbangun dengan badan yang sudah lumayan segar. Dia sudah bersiap untuk segera pergi liburan setelah tadi mengemas baju-bajunya. Setelah sarapan bersama, Delia dan keluarganya sudah bersiap pergi liburan. Mungkin selama satu minggu mereka akan berada di kota M. Untuk urusan kuliah Delia, abangnya sudah mengirim surat ijinnya pada pihak kampus. Sementara Ade sendiri pekerjaannya bisa dia handle dengan jarak jauh. Dan untungnya dia juga bekerja di perusahaan milik om nya sendiri jadi masih ada keringanan jika memang benar-benar ada urusan keluarga.
Sedangkan Radit, hari ini hari terakhir dia mengantar Viviane ke kampus, karena besok sudah harus balik ke kota J. Radit berharap Delia sudah kembali menjalani perkuliahan, dia akan menemui Delia dan meminta maaf secara langsung.
Hingga siang saat menunggu Viviane, Radit sama sekali tidak menemukan keberadaan Delia. Radit semakin cemas.
“Yuk sayang pulang..” ajak Viviane tiba-tiba.
“I...iya. Gimana keadaan Delia? Kamu jadi menjenguk ke rumahnya?” tanya Radit basa-basi, karena tadi pagi Viviane sempat bilang kalau usai bimbingan dia akan menjenguk Delia ke rumahnya.
“Nggak jadi. Tadi aku lihat storynya bang Ade sedang liburan keluarga keluar kota. Delia pun aku hubungi tapi ponselnya tidak aktif” jawab Viviane lesu.
Radit yang mendengar kabar itu seketika tubuhnya lemas. Ternyata ucapan Delia melalui pesan kemarin adalah ucapan terakhirnya. Ternyata benar Delia memutuskan untuk menjauhi dirinya. Radit benar-benar merasakan sakit. Tapi juga tidak tahu apa harus dia lakukan.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang mengantar Viviane. Radit pun juga harus bersiap untuk segera balik ke kota J. Padahal rencananya besok dia balik, tapi dia berubah pikiran. Hari ini juga harus segera balik. Entah kenapa dia memilih hari ini. Dan dia pun beralasan pada Viviane karena ada kerjaan mendadak, agar Viviane tidak berpikiran aneh.
__ADS_1
*TBC
_author newbie_💕💕