Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 213


__ADS_3

“Ehm, Carissa!”


“Kak Barra!”


Ucapnya bersamaan dengan suara yang sama gugupnya.


Keduanya terlihat salah tingkah saat ini setelah kejadian di pesta tempo hari. Tapi Barra segera berusaha menghilangkan kegugupannya. Dia berusaha terlihat biasa di depan Carissa.


“Silakan masuk!” ucap Barra kemudian.


Barra masuk ke rumah dengan diikuti oleh Carissa di belakangnya menuju ruang tengah dimana mamanya berada.


“Eh Carissa sudah datang. Yuk sini duduk!” ucap Kay.


Carissa pun langsung duduk di sofa dekat dengan Kay.


Sementara Barra heran dengan mamanya yang sepertinya tidak terkejut dengan kedatangan Carissa ke rumah. Barra curiga jangan-jangan mamanya sengaja mengundang Carissa datang ke rumah.


Barra akhirnya ikut duduk bergabung di sana, meski dia masih menyibukkan diri dengan gadget yang ada di tangannya. padahal sejak tadi dia hanya menscrol situs jejaring sosialnya saja, tapi lagaknya seperti sedang sibuk dengan pekerjaan kantor.


“Tante nggak ganggu waktu kamu kan Sayang?” Tanya Kay.


“Nggak kok Tan. Kebetulan memang hari ini di butik juga tidak terlalu sibuk.” Jawab Carissa.


“Syukurlah kalau begitu. Mama kamu sudah bilang kan kalau hari ini Tante meminta kamu untuk mengajari tante membuat kue seperti yang kamu buat tempo hari?” ucap Kay.


Kay memang sengaja meminta Carissa datang ke rumah. Bahkan dia memintakan ijin langsung pada Silvia, mama Carissa. Selain karena alasan untuk membuat kue seperti yang pernah dibuat oleh Carissa, Kay juga ingin menghibur Barra dengan mendatangkan Carissa. Kay tidak peduli jika Dhefin adalah kekasih Carissa. Bahkan Kay berharap hubungan Carissa dan Dhefin segera putus, setelah tahu kalau Dhefin bukan pria yang cocok dengan Carissa. Mungkin akan lebih pantas jika bersanding dengan Barra.


“Iya Tante. Tapi kue buatan Rissa biasa saja kok tante rasanya. Rissa yakin kalau tante juga pasti jago buat kue.” Ucap Carissa merendah.


“Iya sih, tante bisa buat kue. Hanya saja kue buatan kamu itu tante belum pernah mencoba membuatnya. Kamu tahu, saat mama kamu membawakan pulang kue buatan kamu itu, ternyata sampai rumah tante nggak kebagian.” Ucap Kay.


“Kok bisa tante?” Tanya Carissa.


“Iya, kue kamu dihabiskan semua sama Barra. Katanya enak banget.” Ucap kay sambil melirik barra yang sedang sok sibuk.


Uhukk


Barra tersedak ludahnya sendiri. Jadi ketahuan kalau sejak tadi dia menyimak pembicaraan antara mamanya dan Carissa. Sungguh mukanya saat ini memerah karena sangat malu. Bisa-bisanya mamanya menjatuhkan harga dirinya di depan Carissa.

__ADS_1


“Benarkan Bar?” Tanya Kay.


“Apa sih Ma. Biasa aja kok.” Jawab Barra mengelak.


Kay hanya menggelengkan kepalanya melihat Barra yang salah tingkah. Tapi dia sangat bersyukur bisa menghibur Barra dengan cara seperti ini.


Setelah perbincangan ringan itu, Kay mengajak Carissa bergegas ke dapur untuk segera mengeksekusi bahan-bahan yang mereka gunakan untuk membuat kue.


Barra yang ditinggal oleh kedua orang yang tadi tengah asyik berbincang-bincang akhirnya merasa jenuh dan kesepian. Kemudian Barra memutukan untuk menghampiri mamanya dan Carissa yang sedang sibuk di dapur dengan alasan mengambil air minum.


Di dapur Barra melihat mamanya dan Carissa tengah asyik membuat kue. Mereka juga terlihat sangat akrab seperti seorang anak dan ibu.


“Ngapain Bar diam saja disitu?” Tanya Kay membuyarkan lamunan Barra.


“Eh, itu, anu Ma. Barra mau ambil minum. Barra haus.” Jawab Barra gugup.


“Nggak haus beneran juga nggak apa-apa.” Ucap Kay sengaja menggoda anaknya.


“Barra haus beneran kok Ma.” Ucap Barra dan melangkah mendekati lemari es, mengambil air minum.


Sementara Carissa tampak sibuk dengan mixer yang ada di tangannya. Barra minum sambil pandangannya mengarah pada Carissa. Entahlah semenjak dia terang-terangan meminta kesempatan untuk mengambil hati perempuan itu membuat Barra semakin ingin memiliki Carissa. Terlebih dia lah yang sudah mengambil ciuman pertama Carissa.


Satu jam kemudian, Kay dan Carissa telah menyelesaikan membuat kuenya. Carissa segera memotong kue itu dan ditata di piring. Barra pun masih duduk disana dan menunggu kue buatan mamanya dan Carissa selesai.


Kini mereka bertiga sudah duduk di ruang makan menikmati kue. Barra pun memakannya dengan lahap. Entah rasa kuenya benar-benar enak atau karena yang membuat adalah perempuan yang diam-diam telah mengisi ruang di hatinya.


Tiba-tiba saja terdengar dering telepon rumah berbunyi. Kay segera berdiri dan mengangkat panggilan telepon itu. Setelah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon itu, Kay menghampiri Barra dan Carissa yang sedang menikmati kue di ruang makan.


“Carissa, maaf ya tante tinggal dulu ke kantor. karena Om Vito meminta Tante membawakan makan siang. Sebentar lagi juga jamnya makan siang.” Ucap Kay.


“Oh iya Tante nggak apa-apa. Carissa juga pamit pulang saja kalau begitu.” Ucap Carissa.


“Jangan! Kamu disini saja dulu. Temani Barra makan siang dulu, baru nanti Barra yang akan mengantar kamu pulang.” Cegah Kay.


Carissa melirik ke arah Barra yang menatap matanya tajam membuat nyalinya menciut saat akan menolak permintaan Kay. Akhirnya Carissa pasrah dan memilih menemani Barra makan siang.


Kay tersenyum tipis melihat Barra yang menatap tajam Carissa. Kemudian dia segera menuju dapur untuk mempersiapkan bekal makan siang untuk suaminya.


Beberapa saat kemudian, Kay sudah berangkat ke kantor suaminya dengan membawa bekal makan siang. Kini tinggallah Barra dan Carissa yang ada di ruang makan. Keduanya saling diam tanpa mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


“Aku siapkan makan siang dulu.” Ucap Carissa memecah keheningan.


“Nanti saja. Lagian masih jam setengah 12. Aku juga masih kenyang setelah makan kue buatan kamu tadi.” ucap Barra datar.


“Ya sudah kalau begitu aku pamit pulang saja Kak. Kak Barra tidak perlu mengantar, biar aku naik taksi saja.” Ucap Carissa.


“Kamu nggak dengar tadi mama bilang apa?” Tanya Barra mengingatkan.


“Iya dengar. Tapi Kak Barra juga belum mau makan siang kan. Mumpung belum hujan juga, daripada nanti terjebak hujan di tengah jalan.” Ucap Carissa beralasan.


“Ck, duduklah! Aku nggak mau dengar alasan apapun darimu.” Ucap Barra.


Akhirnya Carissa duduk kembali. Entah kenapa dia tidak bisa menolak permintaan Barra terlebih dengan ucapannya yang menurutnya begitu tajam seakan tidak menerima penolakan.


“Putuskan hubunganmu dengan Dhefin!” ucap Barra tiba-tiba.


“Maksud kak Barra?” Tanya Carissa bingung.


“Putuskan hubungan kamu dengan Dhefin. Dia bukan laki-laki yang baik buat kamu. Dia telah menghianat-“


“Cukup Kak! Aku nggak suka Kak Barra menjelek-jelekkan Mas Dhefin. Apa Kak Barra lupa kalau Mas Dhefin itu sahabat kakak sendiri? Tidak sepantasnya Kak Barra berkata seperti itu.” Ucap Carissa memotong cepat ucapan Barra.


“Justru aku sahabatnya jadi tahu siapa dia sebenarnya. Putuskan dia, jauhi dia, sebelum kamu menyesalinya!” ucap Barra.


“Aku sama sekali nggak percaya. Aku tahu kalau Kak Barra berbicara seperti karena Kak Barra sendiri kan tidak suka melihat hubunganku dengan Mas Dhefin kan? Aku nggak nyangka kamu bakal mengatakan hal ini Kak.” Ucap Carissa dan segera berdiri meninggalkan Barra.


Carissa berlari keluar dari rumah. Dia memutuskan untuk pulang dengan naik taksi. Sedangkan Barra mengacak rambutnya frustasi. Dia sadar akan ucapannya pada Carissa. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu. Bagaimana pun juga Caarissa belum tahu kejadian yang sebenarnya. Harusnya dia bisa mengontrol emosinya dan berbicara baik-baik dengan Carissa.


Sadar kalau Carissa sudah tidak ada di hadapannya, Barra segera keluar rumah berlari mengejar Carissa.


.


.


.


*TBC


Uhhh sikap Barra kok seperti Opa Radit sih🤔🤔😂😂

__ADS_1


__ADS_2