
Jam menunjukkan pukul 11 malam tetapi Delia masih belum juga memejamkan matanya. Dia masih terbayang akan kejadian yang ia alami beberapa jam lalu. Delia terus memegangi bibirnya.
#flashback on
“krukk…krukk…krukk” seketika Delia berdiri dari pangkuan Radit dan berlari ke arah dapur. Dia segera mengambil segelas air putih dan meminumnya sekali teguk langsung habis. Rasanya dia seperti habis dikejar anjing. Detak jantungnya dari tadi terus saja berdetak kencang. Dalam hati merutuki kebodohannya sendiri atas kelakuan yang memalukan. Bisa-bisanya dia ikut terbuai dengan ciuman Radit. dan dia juga bersyukur dengan bunyi perutnya yang tiba-tiba berkampanye sehingga menggagalkan perbuatan yang akan Radit lakukan padanya. Delia tidak bisa membayangkan bagaimana jika perutnya tadi tidak bereaksi. Pasti setan dalam dirinya bersorak senang.
Setelah minum dia segera duduk di meja makan tanpa memperdulikan keberadaan Radit yang masih di ruang tamu atau sudah pulang. Delia mengambil piring dan meletakkan nasi goring seafood buatannya tadi yang masih ada di wajan penggorengan.
“tega kamu makan sendiri disaat ada orang di sekitarmu yang juga kelaparan” celetuk Radit tiba-tiba
“eh..ehm.. kamu belum makan?”
“belum” jawab Radit singkat dan duduk di kursi sebelah Delia
“ya sudah ini kamu makan. Maaf aku nggak tahu kalau kamu belum makan” Delia menggeserkan piring yang sudah di hadapannya ke depan Radit. radit mengernyit karena hanya melihat ada satu piring saja.
“lantas kamu makan apa?”
“gampang nanti saja aku makannya”
“aku juga nggak jadi makan kalau kamu nggak makan”
Delia menghela nafasnya panjang. Malas sekali kalau harus berdebat dengan Radit. kalah menang tidak ada untungnya. Dia berdiri dan mengambil piring kosong dan sendok. Delia berniat akan membagi nasi gorengnya menjadi 2 piring.
“makan bareng aku saja nggak usah dipisah. Nambah cucian piring kamu nanti” Delia hanya melongo tidak percaya Radit meminta makan sepiring berdua. Oh so sweet.. tapi bukan itu yang Delia inginkan. Dia merasa aneh saja dengan sikap Radit.
“aaa” Radit menyuapi Delia saat Delia sedang melongo. Jadi terpaksa dia menerima suapan Radit. kemudian bergantian Radit yang menyuapkan untuk dirinya sendiri dan begitu seterusnya hingga nasi gorengnya habis tak bersisa.
Setelah kenyang, Radit memutuskan untuk pulang. Delia mengantarnya sampai depan pintu. Dia diam saja karena tidak tahu apa yang ingin dia katakan.
Setelah berada diluar pintu Radit berhenti dan menatap Delia. “jaga diri kamu, cup” Radit mengecup kening Delia dan segera pulang. Delia mematung di depan pintu setelah mendapat kecupan di keningnya.
#flashback off
“kenapa aku masih terbayang ciuman Radit sih. Ciuman yang rasanya masih sama seperti dulu”
Delia masih ingat persis saat dulu Radit menciumnya. Saat Radit masih menjadi kekasih sahabatnya.karena hanya Radit lah satu-satunya lelaki yang merasakan bibirnya. Dulu saat masih berpacaran dengan David pun dia tidak pernah berciuman. Bukan tidak pernah tapi memang dia tidak mau memberikannya kalau masih berstatus pacaran. Tapi sayangnya ciuman pertamanya justru diambil oleh Radit yang bukan siapa-siapanya. Dan bahkan sekarang pun Radit bukan siapa-siapanya kembali mengambil ciumannya. Bahkan sampai saat ini Angga belum pernah menciumnya. Mungkin hanya kecupan di kening, dan cipika-cipiki. Delia heran dengan dirinya sendiri. Kenapa saat Angga pernah meminta ciumannya, dia bisa menolak. Tetapi kalau dengan Radit, dari dulu dia selalu lemah jika berhadapan dengan Radit. bahkan untuk menolak ciumannya pun Delia tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
Lama memikirkan Radit akhirnya Delia tertidur.
Seminggu berlalu. Sejak kehadiran Radit ke apartemen dulu, sampai sekarang Delia sudah tidak pernah bertemu lagi. Namun terkadang Radit masih mengirim pesan padanya hanya untuk menanyakan kabar. Sebenarnya dalam hati Delia juga merasa senang dengan perhatian yang diberikan oleh Radit. dan selama seminggu ini juga Angga sang kekasih tidak memberinya kabar. Mungkin sedang sibuk sekali. Begitu pikir Delia. Karena Delia mengirim pesan tidak mendapatkan balasan.
Hari ini hari terakhir Delia bekerja. Karena besok pagi dia akan terbang ke kota B untuk menghadiri pernikahan abangnya. Meskipun hari pernikahannya masih 3 hari lagi, tapi Delia memutuskan untuk pulang lebih awal biar bisa lebih lama bertemu dengan keluarganya, khususnya abangnya. Karena setelah menikah mungkin kesempatan untuk bertemu dengan abangnya tidak bisa seperti dulu lagi.
Delia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu. Jadi dia juga bisa pulang tepat waktu agar bisa segera mempersiapkan barang-barangnya yang akan dibawa pulang seminggu ke depan.
Kini Delia sudah berada di depan pintu apartemennya. Dia merogoh tasnya untuk mencari kunci.
“ehm..ehm…” sontak Delia menoleh ke sumber suara
“Radit? kenapa kamu disini?” tanyanya kaget sekaligus bingung.
“aku ingin kesini aja. Cepat cari kunci kamu. Aku udah capek dari tadi berdiri”
“kalau capek berdiri ngapain juga kesini” umpat Delia dalam hati
“jangan mengumpat orang yang sedang bersama kamu”
Setelah berhasil menemukan kunci, Delia segera masuk dan mempersilakan Radit masuk. Radit segera duduk di sofa tunggal yang ada di ruang tamu. Sedangkan Delia membuatkan Radit teh hijau. Kemudian Delia meletakkan the hijaunya di hadapan Radit. Radit melihat itu tidak langsung meminumya.
“kenapa kamu membuatkan teh hijau?”
“karena teh hijau banyak manfaatnya, selain dapat melancarkan metabolisme, teh hijau juga bisa membakar lemak dan mencegah kolesterol” jawab Delia panjang lebar.
“kamu pikir aku gemuk dan berlemak?” Tanya Radit geram
“aku tidak berniat seperti itu. Kamu tadi Tanya kenapa membuat teh hijau. Jadi aku jelaskan manfaatnya”
“sama aja kamu menyindir aku”
“kalau kamu tidak mau minum ya sudah aku aja yang minum”
ucap Delia mengakhiri perdebatannya dan segera mengambil teh yang ada di depan Radit.
Radit jadi tidak enak hati seperti tidak menghargai teh buatan Delia. Radit segera merebut teh yang sudah dipegang Delia, dan Delia kaget tiba-tiba
__ADS_1
“byurrrr….pyarrr” teh itu menumpahi tangan dan paha Delia dan cangkirnya jatuh ke lantai
“auuu… panass… panass” Delia meringis kepanasan mengibaskan tangannya dan menghentak-hentakkan kakinya.
Radit merasa dejavu dengan kejadian ini. Kejadian beberapa tahun lalu saat dirinya tidak sengaja menabrak Delia yang sedang membawa semangkok bakso. Radit sangat panik melihat Delia yang meringis sambil menangis dan tangan putihnya sudah memerah.
“ma..maaf Del, maafin aku Del aku nggak sengaja. Ak aku tadi hanya ingin-“
Delia segera masuk ke kamarnya untuk melepas pakaiannya dan segera mengobati lukanya. Tanpa minta ijin Radit mengikuti Delia masuk ke kamarnya. Tapi Delia tidak ada. Setelah itu terdengar gemericik air yang ada di kamar mandi. Radit memutuskan untuk menunggunya.
Delia keluar dari kamar mandi sudah berganti baju. Delia memakai kaos oblong dan celana pendek sepaha agar bisa dengan mudah mengobati luka yang ada di pahanya.
“kenapa kamu disini?”
“maafin aku Del, tadi aku nggak sengaja melakukan itu”
“ya lupain aja” jawab Delia sambil melangkah mencari krim buat mengobati lukanya. Radit membantunya dan mengambil krim itu untuk dioleskan pada luka Delia.
“tidak usah”
“biarkan aku yang mengobatinya untuk menebus kesalahanku”
Akhirnya Delia membiarkan Radit mengobati lukanya. Setelah tangannya sudah selesai diobati kini ganti ke paha Delia. Radit menelan salivanya melihat paha Delia yang mulus dan putih itu. Meskipun yang luka agak memerah tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan gejolak dibalik celana Radit saat ini.
Delia yang memahami keterdiaman Radit segera sadar akan apa yang dilihatnya. “ehm,, sini aku bisa obati sendiri”
“tidak… jangan. Biar aku yang mengobatinya” Radit mengoleskan krim pada paha Delia sambil menahan nafas agar sesuatu dalam balik celananya tidak meronta-ronta.
Setelah selesai, Radit memutuskan untuk pulang. Dan memberika Delia waktu untuk istirahat.
**
Keesokan harinya Delia pergi ke bandara dengan naik taksi. Dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu keluarganya dan menyambut pernikahan abangnya.
*TBC
*salam sayang dari _author newbie_💕💕
__ADS_1