
Vito sedikit menjauh dari Bram saat menghubungi Victor. Panggilan pertama tidak ada jawaban. Kemudian panggilan kedua sudah dijawab oleh Victor.
“Ada apa brother? Apa Bram sudah datang?” tanya Victor dibalik sambungan telepon.
“Yang benar saja. Kamu kasih aku bodyguard atau seorang coverboy majalah?” Tanya Vito kesal.
“Ya memang dia bodyguard yang pas buat jaga istri kamu.” Jawab Victor dengan sedikit heran dengan pertanyaan Vito.
“Bagaimana bisa ada bodyguard yang ketampanannya hampir sama dengan aku. Bagaimana jika Bram suka dengan istriku?” tanya Vito menggebu.
Victor tergelak mendengar ungkapan hati temannya saat membahas tentang Bram. Sungguh konyol sekali Vito dengan pemikiran seperti itu. Akhirnya Victor menjelaskan pada Vito bahwa Bram adalah bodyguard yang sangat bisa diandalkan. Dia sangat patuh dengan perintah tuannya. Kalau masalah Vito takut jika Bram akan jatuh cinta pada istrinya itu tidak mungkin. Karena Bram bekerja dengan sangat profesional.
Bahkan dia berani mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Setelah mendengar penuturan Victor panjang lebar akhirnya Vito sudah merasa lega. Kini dia segera kembali ke ruang tamu dimana Bram dan istrinya berada disana. Vito terlihat tenang karena Bram sama sekali tidak berani memandang istrinya.
“Maaf sudah membuat kamu menunggu lama.” Ucap Vito pada Bram.
“Iya Tuan.” Jawab Bram patuh.
“Baiklah. Saya rasa kamu sudah tahu apa tugas kamu karena Victor sudah memberitahukan semuanya pada kamu. Dan saya harap kamu tidak melewati batasan kamu.” Lanjut Vito dan dijawab anggukan kepala oleh Bram.
“Sayang, mulai sekarang kemanapun kamu pergi, Bram yang akan selalu mengantar sekaligus menjaga kamu.” Ucap Vito pada istrinya.
“Tapi Mas, kenap-“
“Sayang menurutlah apa yang suamimu katakan!” ucap Vito tegas.
Kay hanya menghela nafas panjang. Karena tidak mungkin lagi dia protes dengan tindakan suaminya kecuali hanya menurut. Bukankah istri yang baik itu adalah istri yang patuh dengan segala aturan yang diberikan oleh suaminya.
Karena kebetulan hari ini Kay akan pergi ke mall untuk membeli beberapa pakaian. Vito meminta Bram menunggu istrinya sebentar. Sedangkan dirinya sendiri juga akan segera bersiap ke kantor.
“Sayang nanti hati-hati ya kalau pergi mall!” ucap Vito pada istrinya.
“Bukannya Mas sudah meminta Bram untuk menjagaku kenapa harus khawatir?” tanya Kay balik.
__ADS_1
“Iya memang. Tapi aku takut kamu suka dengan Bram. Secara dia juga sama tampannya denganku.” Ucap Vito sambil menekuk wajahnya.
“Ya sudah lebih baik tidak usah pakai bodyguard.” Ucap Kay.
“Jangan! Itu semua demi kebaikan kamu juga Sayang. Tapi aku mohon jangan pernah berpaling dariku.” Ucap Vito memohon.
Kay memutar bola matanya malas menanggapi perkataan suaminya. Setelah itu dia segera memakaikan jas suaminya dan mengantar ke depan rumah untuk segera berangkat ke kantor.
“Hati-hati Mas. Kerja yang fokus!” ucap Kay seolah memberi semangat pada Vito yang sejak tadi milirik keberadaan Bram.
Cup
Cup
Vito mengecup kening istrinya kemudian mencium sekilas bibir Kay. Kay seketika melotot tajam dengan tindakan suaminya. Dia merasa sangat malu karena ada Bram juga disitu. Namun Bram segera mengalihkan pandangannya saat melihat majikan barunya sedang bermesraan.
“Ya sudah aku berangkat dulu. Nanti jangan lama-lama belanjanya.” Pamit Vito.
“Bram, ingat pesanku. Kabarkan apa saja saat bersama istriku. Dan jangan pernah macam-macam!” ucap Vito sambil sedikit memberi ancaman pada Bram.
“Baik Tuan.” Jawab Bram sambil menunduk hormat.
“Kamu boleh tunggu saya sambil ngapain saja. Karena baru nanti jam 10 saya pergi ke mall.” Ucap Kay.
“Baik Nyonya.” jawab Bram patuh.
Setelah itu Kay masuk ke ruang kerja suaminya sekaligus ruang kerjanya sendiri. Dia harus menyelesaikan beberapa gambar sketsa untuk butiknya. Kemarin saat Kay sedang menggambar, tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya untuk membuka cabang butik di kota J. Tapi itu hanya angan-angannya sendiri dan belum dibicarakan dengan suaminya.
Sesuai yang diucapkan Kay tadi. Sekarang Kay sedang dalam perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan di kota J dengan diantar sekaligus ditemani oleh Bram. Kalau biasanya Kay diantar oleh sopir pribadinya, dia akan sering mengajak bicara sopirnya. Tapi tidak dengan Bram. Wajahnya kaku dan dingin jadi membuat Kay takut dan serba salah jika mau berbicara santai dengannya.
“percuma saja tampan tapi muka kaku.” Batin Kay.
Beberapa menit perjalanan, Kay akhirnya sampai di pusat perbelanjaan. Dia segera masuk ke dalam outlet yang menjual baju wanita. Kay ingin membeli baju hamil mengingat perutnya semakin membesar.
Bram pun sejak tadi berjalan mengekor di belakang Kay. Kay sedikit risih dengan ditemani oleh bodyguard karena belum terbiasa. Banyak kaum hawa yang terpesona dengan wajah tampan Bram. Namun Kay hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi Bran yang masih sama. Kaku.
__ADS_1
Setelah selesai memilih beberapa pakaian untuk dirinya, Kay melanjutkan belanjanya menuju outlet baju khusus pria. Kay membeli beberapa potong pakaian serta celana. Setelah itu membayarnya.
“Ini buat kamu!” ucap Kay memberikan paper bagnya pada Bram.
“Maaf Nyonya. Saya tidak bisa mene-“
“Tidak ada penolakan. Kamu harus pakai ini. Aku nggak mau kamu memakai baju serba hitam begitu. Nanti aku akan bicara pada Mas Vito. Sekarang kamu ganti, aku tunggu disini.” Ucap Kay dengan tegas.
Entah kenapa Kay memang tidak suka saat melihat orang dengan pakaian serba hitam seperti Bram itu. Saat pertama kali lihat tadi, mendadak perut Kay sedikit begejolak tapi untung saja tidak sampai muntah. Jadi Kay memutuskan membeli baju untuk Bram.
“Kay!” panggil seseorang dari belakang. Kemudian Kay menoleh.
“Rey?” panggil Kay.
“Apa kabar kamu Kay? Aku senang akhirnya bisa bertemu kamu lagi.” Tanya Rey.
Kay sedikit gugup saat bertemu dengan Rey. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menghindari Rey. Kay takut akan terjadi kesalah pahaman lagi dengan suaminya.
“A aku baik.” Jawab Kay gugup.
Perlahan tangan Rey terulur. Dia senang sekali bisa bertemu dengan Kay. Sudah lama sekali dia merindukan wanita yang dulu pernah jadi kekasihnya.
“Jauhkan tangan Anda!!” ucap Bram tiba-tiba mencekal tangan Rey.
“Siapa kamu?” tanya Rey dengan tatapan sengit.
“Tidak penting siapa saya. Yang terpenting jangan pernah sekal-kali anda menyentuh Nyonya Kay. Mari kita segera pulang Nyonya.” Ucap Bram.
Rey terkejut dengan kedatangan pria yang diyakini sebagai bodyguard Kay. Rey tidak percaya akan keposesifan Vito pada istrinya hingga menyuruh seorang bodyguard untuk menjaga dan menemani istrinya pergi.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy reading. jangan lupa utk tebar vote, gift, like, dan komennya👌😍😍😘😘