Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 219


__ADS_3

Di waktu yang sama di belahan bumi yang berbeda, ada seorang wanita paruh baya yang usianya kisaran 45 tahun tetapi wajahnya masih tetap cantik sedang memasak bubur dan juga membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Akhir-akhir ini keadaan Daddynya sedang kurang membaik. Maka dari itu dia selalu membuatkan bubur.


“Dad, ayo bangun dulu. Kita sarapan dulu!” wanita itu membangunkan daddynya.


Saat tak kunjung mendapat sahutan dari sang pemilik tubuh renta itu, si wanita kemudian menyentuh kulit tubuh pria tua yang sedang tidur meringkuk di bawah selimut.


“Astaga, Daddy badannya panas!” Pekiknya sangat khawatir.


Setelah itu si wanita segera keluar dari kamar dan mengambil obat yang ada di dalam kotak obat yang sudah tersedia di rumahnya.


“Dad, ayo bangun! Daddy makan buburnya dulu setelah itu minum obatnya.”


Si pria tua itu akhirnya bangun dan makan bubur dengan disuapi oleh anaknya. tubuhnya bergetar karena suhu tubuhnya yang panas. Setelah selesai makan bubur, dengan telaten si wanita itu memberikan obat dan segelas air putih untuk segera diminum.


“Terima kasih Sayang. Terima kasih kamu telah mengorbankan hidup kamu hanya untuk merawat Daddy.” Ucapnya.


“Sudah, Daddy nggak usah bicara seperti itu. Bukankah aku sudah berjanji akan merawat dan menjaga Daddy? Sekarang lebih baik Daddy istirahat lagi biar cepat pulih."


***


Saat ini Barra sedang makan siang dengan Xavier di salah satu restaurant di kota J setelah menyelesaikan meetingnya. Mereka berdua semakin akrab layaknya seorang sahabat semenjak menjalin hubungan kerja sama.


Barra sangat nyaman jika menceritakan semua keluh kesahnya pada Xavier. Termasuk masalahnya dengan sang mantan kekasih dan mantan sahabatnya. Menurut Barra, usia Xavier yang terpaut 2 tahun lebih muda darinya ternyata sikapnya sangat dewasa dan bijaksana dalam memberikan keputusan dan solusi. Baik tentang urusan pribadi maupun pekerjaan.


“Bagaimana nih rasanya jomlo setelah 3 tahun pacaran?” Tanya Xavier di tengah kegiatan makan siangnya.


“Ck, biasa saja.” Jawab Barra sambi berdecak kesal.


“Yakin? Biasanya kebanyakan jomlo tuh hidupnya mengenaskan setelah putus dari pacarnya.” Ucap Xavier meledek.


“Woy sesama jomlo jangan saling menghina.” Ucap Barra kesal dan membuat Xavier semakin terbahak.


“Aku bukan jomlo, tapi aku single.” Ucap Xavier mengelak.

__ADS_1


“Oh iya, kalau boleh Tanya. Apa kamu kenal dekat dengan kekasih Dhefin?” Tanya Xavier tiba-tiba.


“Nggak. Hanya kenal biasa saja. Memangnya kenapa?” Tanya Barra dan pura-pura tidak kenal dekat dengan Carissa.


“Oh, begitu. Rasanya aku pernah bertemu dengan perempuan itu sebelumnya tapi entah dimana aku lupa. Sudah dua kali aku bertemu dengannya. Dan saat melihat matanya, lagi-lagi aku seperti mengenal dia.” Ucap Xavier tanpa beban sambil mengingat wajah Carissa.


Deg


Barra yang mendengar ucapan Xavier tentang Carissa seketika darahnya mendidih. Apakah Xavier juga tertarik dengan Carissa. Bahkan Barra melihat Xavier seperti sedang membayangkan Carissa. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Dia harus secepatnya mendapatkan hati Carissa sebelum ada orang lain yang berhasil mendapatkannya.


Selesai makan siang, mereka berdua memutuskan untuk kembali ke kantor masing-masing. Xavier merasa sangat aneh dengan sikap Barra yang tiba-tiba saja berubah sedikit dingin. Namun dia tidak ingin menanyakannya.


***


Saat ini Dhefin sedang berada di rumah. Tepatnya sedang berada di ruang kerja Papanya.


Sejak tadi Dhefin duduk diam di depan meja Papanya setelah mama tirinya mengantarkan 2 cangkir kopi untuk dirinya dan juga papanya.


Dhefin tahu pasti Papanya akan membahas masalahnya dengan Barra. Karena setahu Dhefin, tadi siang Papa Barra datang ke kantor Papanya. Dan Dhefin sangat yakin pasti kedua pria paruh baya itu sedang membahas masalahnya.


“Iya.” Jawab Dhefin datar.


“Lantas kenapa kamu bisa melakukan semua itu? Masa lalu Papa dan orang tua Barra sudah selesai.” ucap Rey.


“Iya selesai. tapi setelah Mama meninggal. Begitu kan Pa?” Tanya Dhefin.


“Dhefin. Kamu jangan membawa-bawa kedua orang tua Barra. Masalah Papa dan Mama kamu tidak ada hubungannya dengan mereka khusunya mamanya Barra. Semua ini murni kesalahan Papa.” Jawab Rey.


“Bahkan Papa masih membela wanita itu. Atau jangan-jangan Papa masih mencintainya?” Tanya Dhefin lagi.


“Cukup Dhefin!! Papa sudah tidak ada lagi perasaan cinta dengan mamanya Barra. Sekarang hanya ada kamu, mama Keysa dan juga adik kamu Lexa yang ada dalam hidup Papa. Jadi tolong, jangan ada dendam lagi pada keluarga Barra.” Ucap Rey.


“Papa bisa berkata seperti itu karena Papa tidak tahu perasaan Mama saat mengandung Dhefin. Mama tersiksa Pa!" ucap Dhefin dan segera pergi dari ruangan Rey.

__ADS_1


Setelah Dhefin keluar dari ruang kerja Papanya, kini Keysa istri Rey masuk ke dalam ruangan suaminya. Wanita yang telah dinikahi Rey 20 tahun yang lalu adalah wanita yang sangat lemah lembut dan sangat menyayangi keluarga. Bahkan telah merawat Dhefin seperti anak kandungnya sendiri. Pernikahan Rey dengan Keysa juga dikaruniai seorang anak perempuan yang saat ini masih duduk di bangku SMA. Dhefin juga menyayangi adik tirinya itu. Hanya saja mereka jarang bertemu.


“Mas, mas yang sabar ya. Menghadapi sifat keras kepanya Dhefin tidak harus dengan kekerasan. Mas tenangkan diri Mas dulu. Nanti coba bicara lagi dengannya.” Ucap Keysa.


“Terima kasih Sayang. Kamu selalu ada disampingku selama ini.” jawab Rey sambil mengecup kening istrinya.


***


Weekend ini Barra menghadiri acara reuni yang diadakan oleh teman angkatan semasa kuliahnya dulu. Acara ini diadakan di sebuah hotel yang ada di kota J.


Barra datang sendirian, karena memang acaranya tidak formal. Barra datang dengan dengan mengenakan kemeja warna putih dengan celana jeans berwarna navy, sehingga membuatnya semakin terlihat tampan maksimal. Bahkan teman-temannya banyak yang mengaguminya.


“Hai Bar! Sendirian saja nih?” sapa Clara, salah satu temannya yang menjadi panita acara reuni tersebut.


“Iya nih Cla.” Jawab Barra tersenyum tipis.


Barra segera bergabung dengan teman-temannya. Ternyata disana juga ada Astrid. Namun Barra memilih untuk menjauh dari wanita itu. Sedangkan Astrid dari jauh melihat Barra seolah sedang mempunyai rencana terembunyi.


Setelah itu pandangan Barra mengedar ke tempat lain, dan tanpa sengaja dia juga melihat Carissa juga ikut datang bersama Dhefin. Barra mengepalkan tangannya kuat saat melihat Dhefin memperlihatkan kemesraannya di depan dirinya. Sedangkan Carissa sangat senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan Barra setelah beberapa lama tidak pernah bertemu.


Saat ini Carissa sedang berada di toilet untuk buang air kecil. Namun saat dirinya akan keluar dari toilet, ternyata disana ada seorang wanita sedang berdiri di depan cermin besar yang ada dalam toilet wanita. Carissa kenal dengan wanita itu yang tak lain adalah Astrid.


Carissa memundurkan tubuhnya kembali masuk ke dalam toilet setelah samar-samar mendengar pembicaraan Astrid dengan seseorang melalui sambungan telepon dan sikap Astrid juga terlihat mencurigakan.


“Iya, aku kan tadi sudah mengirim fotonya ke kamu"


"Iya, dia yg bernama Barra. Kamu harus cepat tuangkan obat itu ke dalam minuman lalu kamu berikan pada Barra. Jangan sampai ada yang tahu. Setelah ini aku akan transfer sisa bayaran kamu.” Ucap Astrid.


Carissa yang berada dalam toilet mendengarkan itu semua. Carissa ikut ketakutan kalau saja Astrid melihat dirinya. Namun Carissa harus bertindak cepat untuk menyelamatkan Barra agar tidak sampai meminum minuman itu.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2