
Setelah mendapatkan surat pemecatannya, Astrid berusaha mencari Barra di ruangannya untuk meminta perlindungan. Namun sayangnya orang yang sangat diharapkan tidak ada di sana.
Akhirnya Astrid pulang ke apartemennya. Namun sebelumnya dia menghubungi seseorang. Seseorang yang selama ini menjadi partnernya dalam segala hal.
Benar saja, tak lama setelah sampai apartemen, orang itu sudah ada di apartemen Astrid. Astrid segera berhambur ke pelukannya, menumpahkan kekesalannya karena telah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja.
“Bagaimana ini Fin? Rencana kita bisa gagal kalau sekarang aku dipecat dari perusahaan si tua Bangka itu.” Ucap Astrid kesal.
“Kamu tenang ya. Kita pikirkan nanti sama-sama dengan kepala dingin.” Ucap Dhefin menenangkan.
“Thanks Fin.” Balas Astrid.
“Sudah, jangan sedih lagi. Aku kangen banget sama kamu.” Ucap Dhefin sambil tersenyum nakal.
“Ck kebiasaan deh kamu ini. padahal meinggu kemarin kan sudah.” Astrid berdecak sebal. Namun tetap saja dia menuruti kemauan Dhefin.
Selama ini Astrid dan Dhefin telah menjalin hubungan tersembunyi dari kekasih mereka masing-masing. Lebih tepatnya hubungan saling menguntungkan. Bukan atas dasar cinta. Dhefin yang sebenarnya menaruh dendam pada Kay, mama Barra. karena telah menyebabkan mamanya meninggal. Maka dari itu Dhefin membalaskan dendamnya pada Barra.
Sedangkan Astrid juga memiliki dendam yang sama. Karena perbuatan mamanya Barra lah yang menyebabkan mamanya harus mendekam dalam penjara selama 30 tahun. Jadi sejak saat itulah Astrid dan Dhefin bekerja sama untuk menghancurkan keluarga Barra. Dan semenjak saat itulah mereka berdua memiliki ketertarikan satu sama lain hingga menjadi partner ranjang yang saling memberi kepuasan.
Dhefin menarik tangan Astrid masuk ke dalam kamar untuk melakukan kegiatan panas yang sudah biasa mereka lakukan. Selama berpacaran dengan Barra, laki-laki itu tidak mau menyentuhnya sebelum sah. Begitu juga dengan Dhefin. Carissa tidak mau ada kontak fisik yang terlalu intim sebelum sah. Hingga akhirnya Astrid dan Dhefin saling menyalurkan hasratnya.
Kegiatan panas mereka itu mereka lakukan selama berjam-jam seolah tidak ada kata puas. Astrid santai saja melakukannya di apartemen, karena dia berpikir Barra tidak akan datang di saat jam kerja seperti ini.
Kini keduanya masih berpeluh keringat di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh. Dan tanpa sehelai benang.
“Bagaimana Fin? Aku harus bagaimana sekarang? Mama juga sudah meminta dibelikan rumah. Padahal aku belum sampai menggelapkan dana perusahaan, tapi kini tuduhan mengarah padaku.” ucap Astrid.
“Tenang. Kamu sekarang harus pandai mengambil hati Barra kembali. Kamu pikir aku juga nggak kesusahan membalaskan dendamku apa jika sampai kalian putus?” ucap Dhefin sambil mengecup kening Astrid.
Ternyata percakapan mereka berdua setelah kegiatan panas itu didengar jelas oleh Barra yang kini sudah berdiri di balik pintu kamar yang sedikit terbuka. Nafas Barra tersengal, tubuhnya bergetar hebat bercampur amarah setelah mengetahui semua kebusukan kekasih dengan sahabatnya. Barra menarik nafasnya dalam sebelum memulai aksinya.
Brakkkkkk
__ADS_1
“Brengsek!!!!!!”
Dua orang yang sedang berpelukan tanpa memakai baju itupun sangat terkejut saat pintu kamar ada yang menendangnya dengan keras.
“Barra!” ucap Astrid dan Dhefin secara bersamaan.
“Kenapa hah? Kalian kaget dengan kedatanganku ini? kalian berdua ternyata lebih dari iblis!” umpat Barra dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.
Barra segera mendekati posisi Dhefin. Dia tidak peduli pasangan bejat itu tidak memakai baju. Barra menarik tangan Dhefin hingga tersingkaplah selimut yang dikenakan Dhefin. Barra segera memberikan beberapa bogem mentah pada muka Dhefin.
Bugh
Bugh
Bugh
Seketika darah segar mengalir dari hidung Dhefin. Laki-laki itu belum siap dengan serangan Barra, jadi dia langsung terkapar di atas ranjang. Barra ingin menyerang lagi, namun Astrid dengan cepat menghalanginya, sambil membelitkan selimut ke tubuhnya.
“Barra cukup!!!!” teriak Astrid.
Bugh
Barra menambah serangannya pada muka Dhefin yang sudah babak belur.
“Tuan cukup!!!!” ucap Iqbal yang kini sudah berada di dalam apertemen Astrid.
Iqbal segera menarik Barra dan membawanya keluar dari apartemen Astrid. Iqbal tadi melaporkan pada papanya kalau Barra sedang menuju ke apartemen Astrid. Kemudian Bram menyuruh Iqbal untuk menyusul Barra. Dan ternyata disana sedang ada kejadian penyerangan yang dilakukan oleh Barra pada sahabatnya.
Sementara Vito yang sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota, dia tampak khawatir dengan Barra. Karena sebelumnya Vito mendapatkan kabar mengejutkan lagi dari Bram kalau selama ini Astrid dan Dhefin bekerja sama untuk membalaskan dendam kedua orang tua mereka. Kali ini Vito harus ikut campur tangan dengan masalah anaknya. karena mau bagaimanapun juga kesalah pahaman ini harus diluruskan agar Dhefin mengerti tentang kejadian masa lalu yang menimpa mendiang mamanya.
“Kenapa Bram?” Tanya Vito saat pria itu terlihat selesai berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
“Kata Iqbal, Barra baru saja menyerang Dhefin di apartemen Astrid Tuan.” Jawab Bram.
__ADS_1
“Kenapa? Apa Barra sudah menegtahui semuanya?” Tanya Vito.
“Iya Tuan. Barra sudah mengetahui semuanya. Bahkan Barra memergoki keduanya dalam keadaan tanpa busana.” Ucap Bram.
“Biarkan saja. Biar mereka rasakan sendiri akibatnya.” Jawab Vito.
***
Setelah Iqbal berhasil membawa Barra keluar dari apartemen Astrid, Iqbal mengantar Barra pulang ke rumahnya. Lelaki itu sejak dalam mobil hanya diam saja. Barra masih tidak menyangka dengan kejadian yang baru saja dia ketahui.
“Barra, kenapa?” Tanya Kay yang melihat keadaan anaknya sangat jauh dari kata baik-baik saja.
Barra hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan mamanya. Dia segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya.
“Bal, kenapa? Apa yang terjadi dengan Barra?” Tanya Kay khawatir.
“Lebih baik Nyonya biarkan Tuan Barra sendiri dulu. Tuan Barra masih butuh waktu. Maaf saya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Saya pamit undur diri. Permisi Nyonya.” Ucap Iqbal dan segera meninggalkan rumah majikannya.
Selepas kepergian Iqbal, Kay menaiki tangga masuk ke kamar Barra. Namun sayangnya pintu kamar Barra dikunci dari dalam. Kay sangat khawatir dengan keadaan anaknya. kemudian dia mengambil ponselnya berniat menghubungi suaminya. Dan Vito juga tidak memberitahukan sebenarnya. Dia akan memberitahukan pada istrinya setelah sudah berada di rumah.
Kay akhirnya turun lagi ke bawah untuk menunggu kedatangan sang suami yang sebentar lagi akan pulang. Kay sangat penasaran tentang yang terjadi dengan Barra.
Tak lama kemudian terdengar deru suara mobil memasuki halaman rumahnya. Kay segera membukakan pintu, karena dia sangat yakin kalau suaminya pulang.
“Mas, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Kay saat Vito baru saja masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya Vito masih sangat lelah setelah perjalanan luar kota. Namun melihat istrinya yang begitu mengkhawatirkan Barra, membuatnya tidak tega untuk tidak menceritakan semuanya.
Vito mengajak istrinya duduk di sofa. Kemudian dia menceritakan semuanya pada sang istri. Kay menutup mulutnya dengan air mata yang sudah menganak sungai.
.
.
__ADS_1
.
*TBC