
...The Wedding Day...
Di salah satu hotel berbintang yang cukup terkenal di kota B tengah diselenggarkan pesta pernikahan mewah dari anak pengusaha terkenal yaitu Raditya Putra Sanjaya. Ballroom hotel tersebut disulap megah untuk pesta pernikahan Kay dan Vito dengan tema Fairy Tale. Jadi gaun yang dipakai Kay dan Vito yaitu pakaian bak negeri dongeng. Untuk keluarga dan kerabat beserta tamu undangan juga memakai dresscode Fairy Tale. Kay lah yang menginginkan tema pernikahan seperti itu karena sejak kecil Kay sudah menggilai berbagai macam film fantasi. Selain pemeran dalam film fantasi yang sering Kay tonton kebanyakan pemeran utamanya cantik dan tampan. Dan akhir cerita dari film-film itu selalu happy ending. Jadi Kay memilih tema Fairy Tale karena berharap kelak kehidupan Kay dengan Vito akan Happy Ending.
Detik-detik sebelum acara sacral itu dilakukan, baik Kay maupun Vito sudah dilanda demam panggung. Keduanya merasa sangat gugup. Karena itu adalah pertama kalinya dalam hidup mereka. Jika Kay merasakan mulas pada perutnya jika demam panggung, berbeda dengan Vito. Meskipun wajahnya terlihat tenang, namun sejak tadi keringat dingin terus mengaliri tubuhnya walau ada pendingin udara di ruangan itu.
Setelah melalui beberapa menit proses sacral yang sangat mendebarkan, akhirnya Kay dan Vito kini sudah resmi menyandang gelar suami istri. Ucapan syukur dan selamat tak henti-hentinya keluar dari mulut orang-orang terdekat dan kerabat mereka. Tak terkecuali Kay dan Vito yang tampak sangat bahagia dengan statusnya saat ini.
“Selamat ya Sayang. Semoga kalian selalu bahagia. Jangan pernah lupakan Mommy. Mommy sangat mencintai kalian.” Ucap Delia pada Kay dan Vito yang kini sudah berdiri di pelaminan.
“Mommy jangan bilang begitu, Kay dan Kak Vito selalu mencintai Mommy. Kami tidak akan meninggalkan Mommy.” Balas Kay.
Entahlah saat Kay dan Vito sudah sah menjadi suami istri, dalam hati Delia merasa sangat bahagia melihat semua itu. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa dalam lubuk hatinya dia merasa sangat taakut kehilangan Kay dan Vito.
Setelah Delia memberi ucapan selamat pada Kay dan Vito kini diikuti oleh Radit, Gio, dan semua anggota keluarga lainnya. Setelah itu baru tamu undangan yang diperkenankan naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat pada mempelai pengantin.
“Selamat ya Kay. Semoga bahagia sampai akhir hayat.” Ucap Stefi yang kini sudah berdiri di depan Kay.
“Terima kasih ya Stef” balas Kay.
Sementara itu Rey yang berdiri di belakang Stefi juga memberi ucapan selamat pada Vito. Namun Vito menyambutnya dengan wajah datar. Setelah itu Rey memberikan selamat pada Kay.
“Selamat ya Kay. Aku harap kamu bahagia dengan pilihan kamu.” Ucap Rey dan Kay hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku berani jamin kalau Kay akan selalu bahagia bersamaku.” Balas Vito ketus karena merasa tidak terima dengan ucapan Rey. Namun Rey tak mempedulikannya dan segera meninggalkan Kay dan Vito.
“Sudahlah Kak. Yang penting sekarang Kay sangat bahagia sudah menjadi istri Kak Vito.” Bisik Kay pelan dan dibalas senyuman tipis dari bibir Vito.
Setelah satu persatu tamu undangan memberikan ucapan selamat pada mempelai pengantin, kini mereka diperkenankan menikmati hidangan pesta yang sudah tersedia. Terlihat semua taamu undangan juga ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan sang pengantin.
“Apa kamu capek Sayang?” Tanya Vito karena melihat wajah Kay sedikit pucat.
“Tidak Kak.” Jawab Kay sambil menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Vito mengajak Kay untuk duduk dan meminta pelayan membawakan minuman untuk Kay. Vito berpikir mungkin Kay kecapekan karena sejak tadi terus berdiri. Setelah meminum segelas air putih, Kay terlihat sedikit lebih rileks.
__ADS_1
“Apa lebih baik kita masuk ke kamar dulu biar kamu bisa istirahat?” Tanya Vito.
Seketika bayangan Kay sudah melalang buana saat Vito mengatakan kata “kamar”. Kay semakin tidak karuan saat membayangkan nanti sudah berada dalam satu kamar dengan Vito. Apalagi tidur satu ranjang. Kay rasanya masih takut dan belum siap jika mala mini adalah malam terakhirnya melepaskan gelar perawannya. Dan tiba-tiba saja wajah Kay memerah dan perutnya kembali mulas seperti saat sebelum akad nikah tadi.
“Kay?” panggil Vito lagi kaarena melihat Kay melamun.
“Eh iya Kak ada apa?” tnya balik Kay.
“Kalau kamu capek, kita bisa ke kamar lebih dulu. Bagaimana?”
“Nggak usah Kak. Disini saja nggak apa-apa Kay takut.” Jawab Kay sambil menutup mulutnya saat bilang takut.
Vito mengulum senyum melihat Kay keceplosan dan wajahnya yang memerah. Vito dapat membaca isi pikiran Kay bahwa saat ini Kay sedang membayangkan malam pertamanya. Dan tiba-tiba saja Vito juga semakin tidak sabar menunggu malam itu.
“Tenang saja nggak usah takut sayang. Aku nanti akan bermain pelan dan lembut.” Goda Vito tepat di telinga Kay.
Blush
Wajah Kay kini semakin memerah. Yang sering Kay dengar kalau malam pertama itu rasanya selalu sakit dan sampai tidak bisa berjalan. Tapi saat Vito mengatakan tidak usah takut karena akan bermain pelan dan lembut, apakah itu berarti tidak akan ada rasa sakit.
Waktu udah malam. Semua kerabat, tamu undangan satu per satu pamit undur diri meninggalkan pesta. Kini yang tersisa hanya keluarga inti saja. Saat ini mereka sudah berkumpul di sebuah meja makan besar yang sudah disiapkan oleh pihak hotel.
Keluarga besar Kay dan Vito sedang makan malam bersama sebelum mereka mengakhiri pesta ini dan istirahat ke kamar masing-masing.
“Kalian sekarang sudah resmi menjadi suami istri. Papa harap kalian bisa menjalani biduk rumah tangga kalian dengan bahagia. Jangan pernah gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu jika melakukan kesalahan. Saling terbukalah setiap ada masalah atau sesuatu yang mengganjal di hati kalian. Karena kalian sekarang jalannya beriringan dan bergandengan.” Gio memberikan wejangan pada Kay dan Vito.
“Iya Pa” jawab Kay dan Vito bersama.
Semua orang yang ada di meja makan jug ikut tertegun dengan wejangan yang diberikan Gio. Setelah selesai makan malam bersama, semua penghuni meja makan itu perlahan pergi dan masuk ke kamar mereka masing-masing. Karena mereka semua juga capek dan butuh istirahat.
Kini tinggal Kay dan Vito yang terakhir meninggalkan meja makan. Vito berjalan dengan menggandeng tangan Kay menuju kamar president suit yang sudah dipersiapkan khusus untuk pengantin baru.
“Mau aku gendong?” tawar Vito.
“Nggak Kak, aku masih mampu berjalan sendiri.” Tolak Kay secara halus. Meskipun Kay sangat merasa capek dan ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, Kay sangat terkejut dengan kemewahan kamar itu. Semerbak bau bunga mawar dapat tercium di hidung Kay. Dan hiasan kelopak bunga mawar di atas ranjang yang semakin menambah suasana syahdu bagi pengantin baru itu.
“Ehm Kak, Kay mau membersihkan tubuh Kay dulu.” Pamit Kay pada Vito.
“Apa perlu kita mandinya sama-sama?” goda Vito dan Kay menggeleng cepat.
Kini Kay sudah berada di dalam kamar mandi. beberapa saat kemudian Kay memakai bathropenya dan keluar kamar mencari sesuatu dalam tasnya dan kembali lagi masuk ke dalam kamar mandi.
Kay sudah selesai melakukan ritual mandinya. Kini bergantian dengan Vito yang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Kay duduk di atas tempat tidur menunggu Vito selesai mandi sambil meremas ujung piyama tidurnya karena Kay sedang dilanda rasa gugup.
Cklek
Vito keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di tubuhnya, sehingga Nampak perut sixpacs nya yang membuat Kay kesusahan menelan salivanya.
“Ehm, Kak Vito nggak pakai baju?” Tanya Kay gugup.
“Buat apa? Sebentar lagi juga dilepas.” Balas Vito sambil tersenyum smirk.
Vito berjalan mendekati Kay dan duduk disamping Kay. Vito memegang tangan Kay dengan lembut namun itu semakin membuat Kay gugup.
“Apa kamu siap Sayang?” Tanya Vito dan Kay menggelengkan kepalanya pelan. Vito sangat heran dengan jawaban Kay. Apakah Kay takut atau belum siap. Begitulah yang ada di benak Vito.
“Kay sedang datang bulan Kak!” ucap Kay lirih.
Duarrrrr
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Duhhh cenat-cenut nggak tuh Bang Vito?😂😂😂😂