
Dhefin benar-benar kesal malam ini. Pasalnya sudah dua kali dia melihat kekasihnya disentuh oleh dua orang laki-laki yang berbeda. Akhirnya dia meutuskan untuk pulang lebih cepat karena sudah tidak tahan lagi dengan melihat kekasihnya dilihat laki-laki lain lagi. Dhefin pun sampai sekarang masih belum percaya sepenuhnya pada ucapan Barra tadi. terlihat saat dirinya pamit pulang lebih dulu, solah Barra menahannya dan pandangan matanya menuju sang kekasih.
“Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Barra?” Tanya Dhefin tegas saat sudah berada di dalam mobil.
“Nggak ada hubungan apa-apa Mas. Mas tahu sendirikan kalau Jenny memang seprofesi sama aku.” jawab Carissa berusaha tidak gugup.
“Aku percaya sama kamu. Aku pegang kata-kata kamu Rissa. Jangan sampai kamu menghianatiku.” Ucap Dhefin tanpa melihat Carissa.
***
Keesokan paginya hari minggu Barra berniat untuk datang ke apartemen Astrid. Meskipun mereka berdua jarang berkomunikasi, tapi Barra masih menganggap Astrid masih kekasihnya. Dia juga lama-lama tidak tahan jika harus saling diam dengan kekasihnya.
Barra masuk unit apartemen Astrid begitu saja. Namun lagi-lagi Barra harus menerima kenyataan pahit, karena Astrid tidak ada. Entah kemana perginya perempuan itu. Barra juga sedikit curiga dengan Astrid yang sepertinya menyembunyikan sesuatu. Tapi dia tidak ingin meminta seseorang untuk menyelidiki kekasihnya itu. Barra memilih untuk menanyakannya langsung pada Astrid saja. Akhirnya Barra kembali pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Barra sudah melihat Mamanya sudah berpenampilan rapi seakan mau pergi ke suatu tempat.
“Loh Bar kamu kok balik lagi? Katanya tadi mau ke rumah teman kamu?” Tanya Kay.
Lagi-lagi Barra berbohong pada Mamanya kalau sebenarnya dia datang ke apartemen Astrid. Barra semakin bersalah pada Mamanya.
“Oh, teman Barra ternyata sedang keluar kota Ma.” Jawab Barra.
“Oh ya sudah kebetulan kalau gitu antra Mama ke rumah mamanya Carissa. Mama ada janji dengan tante Silvia.” Ajak Kay.
“Sama Papa saja lah Ma.” Tolak Barra.
“Kalau Papa di rumah buat apa Mama minta antar kamu. Papa sedang pergi dengan Om Bram baru saja. Udah ayo keburu siang.” Ucap Kay segera menarik tangan Barra.
Barra pun akhirnya hanya pasrah dengan perintah Mamanya. Entah bagaimana nanti jika bertemu dengan Carissa. Mengingat setelah kejadian semalam saat di pesta Xavier. Apakah Carissa nanti mau menemuinya.
***
“Kapan kamu membelikan Mama rumah yang bagus dan layak huni El? Mama sudah tidak tahan tinggal di rumah sempit seperti ini.” ucap wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
“Mama yang sabar ya. Elvin masih berusaha mendapatkan uang banyak.” Jawab perempuan yang bernama Elvin.
__ADS_1
“Mama harap kamu tidak lupa dengan janji kamu. Kamu tahu kan perjuangan Mama selama mengandung sampai melahirkan kamu.” Ucap wanita itu lagi.
“Iya Ma. Elvin nggak lupa.” Jawab Elvin.
***
Sementara itu Vito yang kini sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota selama beberapa hari dengan Bram. Harusnya minggu ini dia bisa bersantai dengan istrinya, namun pekerjaan ini sangatlah penting. Beruntungnya sang istri begitu pengertian.
Saat ini Vito sudah berada di hotel untuk beristirahat sejenak seblum nanti sore meeting dengan kliennya. Namun baru saja dia akan merebahkan tubuhnya tiba-tiba saja ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
“Ada apa Barm? Ayo masuk” Vito mempersilakan Bram masuk.
“Ada hal penting yang harus saya sampaikan pada anda Tuan.” Ucap Bram kemudian menyerahkan sebuah amplop pada Vito.
Vito membaca laporan dari Bram dengan kening berkerut. Dia sempat tidak percaya dengan fakta bahwa ternyata selama ini Astrid memalsukan identitasnya. Elvina Astrid Rahadian yang dikenal sebagai Astrid ternyata tidak memiliki keluarga.
Dalam kartu keluarga yang berisi data diri kedua orang tuanya itu hanyalah fiktif. Itu semua data orang lain yang tidak memiliki hubungan dengan Astrid. Bram juga sangat geram dengan pihak HRD yang sangat teledor mengenai data karyawan.
Dan menurut penelusuran Bram selama ini, Astrid adalah anak dari Melly. Wanita masa lalu Vito yang sempat mendekam di penjara selama 30 tahu setelah beberapa tindak kejahatan dia lakukan.
“Brengsekkk!!!” umpat Vito sambil melempar lembaran kertas itu.
“Anak dan ibu sama liciknya. Kamu pecat saja perempuan ular itu dari perusahaan.” Perintah Vito.
“Baik Tuan.” Jawab Bram.
“Tapi tunggu dulu. Kamu pecat perempuan itu dengan alasan penggelapan dana perusahaan. Kamu manipulasi data sehingga bisa menyudutkan dia. Nanti biar aku sendiri yang akan menjelaskannya pada Barra yang sesungguhnya setelah urusan kita ini selesai. lakukan penjagaan pada Barra agar dia tidak sampai bertemu dengan perempuan itu. Aku yakin dia pasti akan membela dan melindungi perempuan ular itu.” Ucap Vito dengan geram.
“Baik Tuan. Akan saya laksanakan.” Jawab Bram patuh.
***
Keesokan harinya suasana kantor begitu riuh dengan kabar penyelewengan dana yang dilakukan oleh Astrid. Perempuan itu keluar dari ruangan HRD dengan membawa surat pemecatannya sambil berderai air mata. Dia tidak mengerti siapa yang melakukan ini semua. Padahal baru saja dia berniat menggelapkan uang perusahaan. Tapi belum sampai dia melakukannya, kini dia harus menanggung perbuatan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.
Kebetulan Barra yang saat ini sedang berada di luar tepatnya sedang meeting dengan perusahaan milik Xavier dibuat terkejut saat melihat berita pemecatan Astrid, kekasihnya.
__ADS_1
Barra ingin sekali menemui kekasihnya namun meeting kali ini sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan.
Perasaan Barra sudah sangat cemas memikirkan Astrid yang kini sedang terpuruk. Barra yakin pasti Astrid saat ini sedang berada di apartemennya. Barra belum ingin melihat kebenaran kabar itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah menenangkan Astrid.
Meeting dengan perusahaan Xavier menurut Barra sangatlah lama. Awalnya Barra akan mendatangi apartemen Astrid saat jam makan siang namun gagal. Jam 3 sore dia baru bisa datang ke apartemen Astrid.
“Tuan mau kemana?” Tanya Iqbal berusaha mencegah Barra datang ke apartemen Astrid.
“Aku serahkan pekerjaan pada kamu. Aku harus ke apartemen Astrid.” Ucap Barra.
“Tapi Tuan setelah ini ada meet-“
“Aku nggak peduli.” Potong Barra cepat dan segera melesat pergi ke apartemen Astrid.
Barra memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh. Dia tidak bisa membayangkan kalau saat ini Astrid sedang bersedih di dalam kamarnya seorang diri. Mengingat dia adalah anak yatim dan tinggal jauh dari Om dan Tantenya.
Barra sudah tiba di basement dan memarkirkan mobilnya dengan asal. Dia segera berlari menuju unit apartemen Astrid. Nafas Barra memburu karena tidak sabar ingin memeluk kekasihnya yang selama ini memang jarang berkomunikasi dengannya.
Barra sudah menekan passcode pintu apartemen Astrid, kemudian segera masuk ke dalam. Barra melangkah mendekati kamar Astrid. Langkahnya terhenti, Barra mengatur nafasnya yang masih tersengal dengan badan yang sudah bergetar.
Barra melihat pintu kamar Astrid yang sedikit terbuka. Dia menarik nafasnya dalam sebelum memulai aksinya.
.
.
.
*TBC
Udah nih author tambahin 1 eps lagi. karena author suka sekali baca² komen kalian. jadi membuat author makin semangat😘😘
tetap jgn lupa tinggalkan jejaknya ya😘😘
Like, komen, vote, dan hadiahnya juga mau kok😂😂✌️😘😘
__ADS_1