Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 249


__ADS_3

Selesai makan malam, keempat orang itu langsung berkumpul di ruang tengah. Tepatnya ruang keluarga. Namun Carissa hanya sebentar saja bergabung karena dia ingin melihat keadaan Jenny yang katanya sedang sakit.


Sejak selesai mandi sampai sekarang, Barra masih melihat tingkah aneh dari istrinya yang cenderung menghindar. Barra juga masih bingung kesalahan apa yng dia perbuat hingga menyebabkan perubahan sikap pada istrinya.


“Bagaimana hubungan kalian?” Tanya Kay yang saat ini di ruang keluarga hanya ada 3 orang.


“Baik Ma. Perlahan Carissa udah bisa melihat cinta Barra.” Jawab Barra.


Jawaban Barra membuat kedua orang tuanya tersenyum lega. Mereka yakin kalau anaknya memang sangat mencintai Carissa. Walaupun awalnya memang tidak mudah setelah apa yang terjadi diantara keduanya.


“Opa kemana Ma? Daritadi ko’ Barra nggak lihat.” Tanya Barra.


“Opa sedang menginap di rumah Opa Fandi.” Jawab Vito.


“Oh iya Ma, Pa. jangan lupa akhir pekan lusa datang ke restaurant ZZ karena Papa Charles ngadain syukuran untuk Mama Alana.” Ucap Barra.


“Iya, kita akan datang.” Jawab Kay antusias.


Setelah Barra berbincang-bincang cukup lama dengan kedua orang tuanya akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke kamar Jenny. Dia akan melihat keadaan adiknya yang sedang sakit. Selain itu menyusul istrinya untuk segera masuk ke kamar.


Barra mengerutkan kedua alisnya saat melihat Jenny sedang tiduran denga selimut menutupi tubuhnya sambil bermain gadget.


“Eh ada pengantin baru.” Ucap Jenny dan meletakkan ponselnya.


“Tumben bisa sakit?” bukannya menjawab sapaan sang adik, Barra justru meledek Jenny. Hingga gadis itu tampak mendengus kesal.


“Namanya juga manusia, bukan robot.” Jawab Jenny.


“Dimana kakak ipar kamu? Bukannya tadi kesini.” Tanya Barra dan lagi-lagi membuat Jenny kesal. Dia pikir kakaknya mengkhawatirkan keadaannya, namun justru kedatangannya hanya untuk menanyakan keberadaan Carissa.


“Sudah kembali ke kamarnya dari tadi.” jawab Jenny.


Tanpa berkata apa-apa, Barra segera keluar dari kamar Jenny menuju kamarnya. Barra melihat istrinya baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyama berbahan tipis warna maron.

__ADS_1


“Aku kira kamu masih di kamar Jenny tadi.” ucap Barra.


“Ehm, nggak Mas. Aku sudah ngantuk jadi memutuskan untuk masuk ke kamar.” jawab Carissa dengan mode masih belum ingin menatap wajah suaminya.


Barra semakin bingung. Kenapa istrinya jadi seperti ini. apa yang harus dia lakukan. Andai saja istrinya sudah memberikan kesempatan untuk menyentuhnya, pasti Barra akan memeluk perempuan itu agar tidak diacuhkan seperti saat ini. akhirnya Barra memberanikan diri untuk mencekal lengan Carissa yang sedang berjalan melewatinya. Carissa tersentak.


“Maafkan aku. aku nggak bermaksud kasar. Aku hanya ingin menanyakan kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini? aku merasa kamu menghindariku Carissa. Apa ada kesalahan yang aku perbuat?” Tanya Barra.


“Nggak ada Mas. Ya sudah aku tidur dulu. Aku sudah ngantuk.” Jawab Carissa setenang mungkin.


“Nggak. Jangan tidur dulu. Aku mohon bicaralah jujur Carissa. Aku nggak mau awal pernikahan kita ini sudah dibumbui dengan kesalahanku yang aku juga tidak tahu. Aku mohon mulailah hubungan kita ini dengan kejujuran dan saling terbuka.” Ucap Barra.


“Memang nggak ada Mas. Kamu nggak salah. Mungkin kamu hanya butuh waktu saja dan belum sepenuhnya hati kamu itu untukku.” Ucap Carissa sambil membuang muka.


Barra paling tidak suka dengan keadaan seperti ini. apalagi dengan sikap perempuan yang selalu menggunakan kode. Untung saja cinta. Untung saja sayang. Kalau tidak, entah apa yang akan dia lakukan pada makhluk cantik di hadapannya kini.


Barra menggandeng tangan istrinya dan menuntunnya untuk duduk di atas ranjang. Barra sungguh tidak mengerti dengan kode yang dimaksud Carissa. Belum sepenuhnya hati ini untuknya. Kalimat macam apa itu.


“Sekali lagi maafkan aku Carissa. Aku memang tidak mengerti maksud kamu. Tolong jelaskan. Aku akui memang aku adalah laki-laki bodoh yang tidak paham dengan kode pembicaraan perempuan. Dan untuk masalah hati, hati ini sudah sepenuhnya terisi dengan nama kamu. Tidak ada yang lain.” Ucap Barra sambil memegang lembut tangan istrinya.


Foto. Menyimpan foto. Barra berperang dengan pikirannya sendiri. Foto orang masa lalu. Siapa juga yang masih menyimpan fotonya dengan wanita ****** itu. Memang seingat Barra, semenjak penghianatan itu dirinya sudah tidak lagi menyimpan barang-barang yang berhubungan dengan sang mantan kekasih apalagi foto.


Melihat Barra yang masih terdiam cukup lama, akhirnya Carissa memilih untuk segera merebahkan tubuhnya. Dia tahu kalau memang suaminya belum bisa melupakan masa lalunya. Dan tanpa sengaja pandangan mata Barra tertuju pada meja rias dimana di cermin bagian atas ada sebuah foto kecil yang melekat disana. Apakah karena itu yang menyebabkan Carissa berubah.


“Tunggu!” Barra mencekal lengan istrinya yang hendak tidur.


Kemudian Barra berjalan menuju meja rias. Tangannya terulur untuk mengambil foto itu dan merobeknya. Setelah itu membuangnya ke tempat sampah.


“Maaf, aku nggak tahu kalau masih ada foto itu. Terima kasih sudah cemburu.” Ucap Barra sambil tersenyum pada Carissa.


“si siapa yang cemburu. Aku juga nggak ngelarang Mas buang foto itu kok” Kilah Carissa yang kini wajahnya sudah merona merah.


“Ya sudah ayo tidur istri pencemburu.” Goda Barra sambil tersenyum.

__ADS_1


Carissa membuang mukanya dan langsung merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Barra. Sedangkan Barra juga segera menyusul sang istri dan senyumnya masih belum surut dari bibirnya.


Barra sungguh bahagia sekali hari ini. perlahan hubungannya dengan Carissa semakin membaik. Bahkan dengan sikap cemburu Carissa seperti tadi semakin membuat Barra yakin kalau istrinya juga menyimpan rasa cinta yang sama besarnya.


Barra tidur telentang sambil mengingat kejadian baru saja. Tapi tiba-tiba saja dia merasakan istrinya gera-gerak terus dan tidak nyaman. Barra yakin kalau Carissa belum tidur.


“Kenapa? Apa nggak nyaman tempat tidurnya?” Tanya Barra.


"Nyaman ko’ Mas.” Jawab Carissa namun tak merubah posisinya.


Barra tersenyum tipis kemudian menggeser tubuhnya mendekati sang istri. Tangan Barra terulur memeluk tubuh Carissa, dan membuat perempuan itu terkejut.


“Jangan takut. Aku nggak gigit kok.” Ucap Barra sambil terkekeh.


“Jangan gini Mas, bukannya aku sudah bilang kalau-“


“Tenang saja. Aku masih ingat dengan janji itu. Bukannya kamu akan tidur setelah mendapat pelukan dari suami tampanmu ini?” ucap Barra percaya diri.


“Mana ada seperti itu?” Tolak Carissa.


“Nyatanya kemarin kamu tidur sangat nyenyak setelah aku peluk.” Ucap Barra lagi dan membuat Carissa semakin salah tingkah. Ternyata suaminya kemarin melakukan itu masih sadar dan hanya pura-pura tidur.


“Sudah, jangan ngedumel dalam hati. Ayo buruan tidur sudah malam.” Ucap Barra kemudian.


Carissa akhirnya hanya bisa pasrah. Dan benar adanya. Belum ada lima menit, Barra sudah mendengar dengkuran halus sang istri. Barra semakin gemas dan mengeratkan pelukannya.


“Hufft… kamu sabar dulu ya. Belum waktunya beraksi.” Ucap Barra sambil menenangkan sesuatu di balik celananya yang mulai bergejolak.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2