
Malam harinya sesuai dengan saran dari Xavier, Barra mengajak kedua orang tuanya untuk menjenguk Carissa. Barra terpaksa menggunakan orang tuanya sebagai senjata untuk bertemu dengan Carissa. Kay dan Vito pun tidak keberatan. Karena mereka tahu apa yang sedang dirasakan oleh anaknya yang masih mendapat penolakan dari Carissa. Selain itu, Kay dan Vito juga ingin melihat keadaan Carissa pasca kecelakaan.
“Selamat malam Tuan Charles!” Sapa Vito saat sudah berada dikediaman Papa Carissa.
“Selamat malam juga Tuan Vito, Nyonya Kay.” Jawab Charles ramah.
Kay dan Barra hanya mengangguk hormat. Setelah itu mereka duduk di sofa. Pandangan Barra menelisik mencari keberadaan Carissa saat kedua orang tuanya sedang berbincang-bincang dengan si tuan rumah.
Charles melihat gerak-gerik Barra yang seolah mencari anaknya akhirnya memanggil Xavier agar mengajak Carissa keluar dan menemui Barra dan juga kedua orang tuanya.
Sebenarnya Charles masih tidak terima dengan perbuatan Barra pada anak perempuannya. Tapi saat melihat kesungguhan Barra untuk mendapatkan maaf dari Carissa, apa salahnya jika memberikan dia kesempatan untuk menebus kesalahannya.
Xavier keluar dengan adiknya dan menyapa kedua orang tua Barra. Begitu juga dengan Carissa. Setelah itu Xavier mengajak Carissa dan juga Barra untuk pergi ke teras ruamh agar bisa berbincang-bincang dengan leluasa.
“Bagaimana kabar kamu Carissa?” Tanya Barra.
“Baik.” Jawab Carissa datar.
Xavier hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar saat melihat Carissa masih saja bersikap dingin pada Barra. Padahal dia sudah menasehati adiknya agar tidak bersikap seperti itu Barra dan memberikan kesempatan pada laki-laki itu untuk menebus kesalahannya.
Barra pun juga demikian. Dia bingung harus bagaimana lagi menghadapi Carissa yang ternyata sangat keras kepala. Namun Barra juga tidak pantang menyerah. Karang di lautan saja bisa hancur tergerus oleh ombak, jadi tidak menutup kemungkinan jika suatu saat Carissa akhirnya bisa luluh dan memaafkan dirinya.
Barra dan Xavier akhirnya membahas tentang pekerjaan karena melihat Carissa yang sepertinya enggan bicara dengannya.
“Apa kamu tahu ukuran baju Jenny?” Tanya Xavier tiba-tiba dan membuat Barra bingung.
“Ada apa memangnya? Apa kamu kenal dengan Jenny?” Tanya Barra.
__ADS_1
“Kamu jangan berpikir yang macam-macam dulu. Aku hanya ingin mengganti bajunya yang tanpa sengaja kena tumpahan minuman karena ulahku tempo hari.” Ucap Xavier.
“Nggak perlu repot-repot. Baju Jenny sangat banyak.”
“Nggak. Jangan gitu aku hanya ingin bertanggung jawab saja. Aku juga sudah berjanji akan menggantinya.”
“Oh, ya sudah terserah kamu. Untuk ukurannya, samain aja dengan ukuran baju, “ Ucap Barra sambil melirik Carissa yang masih terdiam. Dan Xavier pun mengerti.
“Oh baiklah kalau gitu.” Jawab Xavier.
Carissa yang sejak tadi mendengarkan percakapan kedua laki-laki disampingnya lama-lama merasa jenuh. Kemudian dia memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
Namun saat mulutnya akan berbicara, tiba-tiba saja Xavier mendapatkan telepon dari seseorang dan meminta ijin untuk menjauh sebentar. Kini tinggallah Barra dan Carissa berdua.
“Carissa, apakah kamu sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk menebus kesalahanku? Aku akui memang aku salah, dan aku sadar melakukan itu semua. Apa kamu tahu kalau tidak ada pilihan lain saat itu selain melampiaskannnya pada kamu. Apa kamu tahu kalau saat itu Astrid mengikutiku dan ingin melancarkan aksinya hanya untuk menutupi kehamilannya. Kamu boleh menganggap aku egois. Tapi memang benar kenyataannya seperti itu. Aku ingin memiliki kamu, tapi caraku yang salah. Maafkan aku Carissa. Beri aku kesempatan untuk membuktikan itu semua kalau aku benar-benar mencintai kamu, terlepas dari perbuatan tak bermoralku itu.” Ucap Barra.
“Sebentar lagi kita akan menikah. Entah kamu suka atau tidak suka dengan pernikahan ini nantinya. Aku hanya meminta kamu memberiku kesempatan. Beri aku waktu satu tahun dalam perniakahan kita nanti. Aku berjanji akan memperbaiki kesalahanku. Namun jika dalam waktu satu tahun itu tidak bisa merubah apapun, aku pasrah dengan keinginan kamu. Jika kamu meminta kita berpisah, aku akan turuti.” Ucap Barra, setelah itu pergi meninggalkan Carissa menuju ruang tamu dimana kedua orang tuanya berada.
Air mata Carissa meluncur begitu saja saat mendengar perkataan Barra yang memintanya waktu satu tahun untuk memperbaiki kesalahannya. Apakah dirinya terlalu keras kepala hingga tidak bisa memaafkan kesalahan Barra. Tapi Carissa masih ingat jelas perbuatan Barra yang memaksanya untuk melakukan hubungan badan. Carissa masih ingat itu semua, yang membuatnya trauma menjalin hubungan dengan seseorang.
“Kemana Barra?” Tanya Xavier yang baru saja selesai menerima panggilan dari temannya.
Carissa hanya diam tidak menjawab pertanyaan kakaknya. Namun Xavier dapat melihat kalau Carissa baru saja menangis. Akhirnya Xavier mengajak Carissa masuk untuk bergabung dengan keluarganya.
“Nah ini sudah kumpul semua. Carissa, minggu depan rencananya Barra akan melamar kamu. Papa kamu juga sudah menyetujuinya. Apa kamu setuju?” Tanya Kay pada Carissa.
Carissa masih diam. Dia melirik Barra yang terlihat cuek dan membuang muka.
__ADS_1
“I iya. Viera ikut saja.” Jawab Carissa.
“Ya sudah kalau begitu kami pamit pulang dulu ya. Jaga kesehatan kamu, dan istirahat yang cukup.” Ucap Vito.
“Terima kasih Om.” Jawab Carissa.
Setelah itu Kay, Vito, dan Barra pulang.
Selepas kepulangan mereka, Carissa terlebih dulu masuk ke kamarnya. Namun Papanya menghentikan langkahnya karena ingin berbicara sebentar dengan anak perempuannya.
“Apa kamu benar-benar setuju dengan pernikahan ini Sayang? Jika kamu menolaknya, jangan takut untuk bilang pada Papa. Papa nggak mau anak Papa tertekan dengan pernikahan ini. jadi sebelum itu terjadi, Papa akan batalkan saja. Papa nggak peduli dengan Oma dan Opa yang akan memarahi Papa. Yang penting anak Papa tidak tertekan.” Ucap Charles.
“Nggak Pa. Viera nggak tertekan. Viera setuju dengan pernikahan ini.” ucap Carissa.
Carissa tidak mau membebani Papanya. Dia sudah bertekat menerima pernikahan ini, dan menuruti keinginan Barra yang akan membuktikan cintanya dengan meminta waktu satu tahun. Tapi Carissa tidak memberitahukannya pada siapapun.
“Ya sudah kalau begitu. Papa hanya ingin anak-anak Papa hidup dengan bahagia.” Jawab Charles.
Xavier yang ada disamping Carissa hanya diam dan mendengarkan adiknya yang akhirnya menyetujui untuk menikah dengan Barra. Namun Xavier masih penasaran. Jika adiknya sudah menerima Barra menjadi suaminya, lantas kenapa tadi terlihat Carissa menangis saat Barra meninggalkannya masuk ke ruang tamu. Apa yang telah dikatakan oleh Barra pada adiknya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1