
Delia kini sudah berada di dalam kamarnya setelah menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya. Sedangkan Radit masih membersihkan dirinya di kamar mandi. Delia masih teringat apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya bahwa lusa akan pindah ke kota B.
Entahlah antara senang dan tidak Delia saat ini. Namun kembali lagi teringat alasan suaminya yang menginginkan pindah ke kota B, membuat Delia harus mematuhi keinginan suaminya. Pasalnya kedua orang tua Delia saat ini tinggal di kota J. jadi otomatis dia akan berjauhan dengan orang tuanya. Namun, apa yang dikatakan suaminya sedikit memberi ketenangan hatinya yang sempat merasa gundah.
“aku ingin kita menjalani kehidupan baru kita di kota kelahiran kita. Aku janji akan membahagiakan kalian semua. Di kota ini rasanya banyak kenangan buruk yang terjadi selama ini.” Ucap Radit tadi saat masih di ruang tengah.
Akhirnya Delia mengangguk dan menyetujui permintaan suaminya. Memang tidak ada salahnya juga tinggal di kota B.
Ceklek
Radit baru saja keluar dari kamar mandi. dia masih melihat istrinya termenung di atas tempat tidurnya. Dia bingung apa yang sedang dipikrkan oleh istrinya.
“sayang? Kenapa belum tidur hmm?”
“nggak ko’ mas, aku hanya menunggu kamu saja.”
“benarkah? Apa kamu tidak sedang memikirkan sesuatu?”
“nggak mas. Ya sudah ayo kita tidur sekarang.”
Setelah itu mereka berdua segera meraih selimut dan memutuskan untuk tidur. Karena waktu sudah sangat larut, Delia lebih memilih untuk mengajak suaminya tidur, meskipun masih ada banyak hal yang ingin dia bicarakan. Terlebih masalah kepindahannya ke kota B.
Keesokan harinya mereka berdua sudah terbangun dengan keadaan badan yang Nampak lebih segar. Semalam juga Nathan tidurnya Nampak sangat pulas hingga tidak mengganggu tidur mommy dan daddynya. Hari ini Radit tidak pergi ke kantor karena memang hari ini hari sabtu. Dia ingin menghabiskan waktunya seharian di rumah bersama keluarga sambil membantu istrinya mempersiapkan sesuatu untuk pindahannya besok.
Kini mereka bertiga sedang sarapan pagi bersama. Nathan sedang digendong oleh Bi Santi berjemur di halaman depan.
“mommy, hali ini ke lumah kak Pito ya?” ucap Kay di tengah kegiatan makannya.
“ehmm… iya sayang.” Jawab Delia sambil melirik ke arah suaminya.
“ada apa memangnya ke rumah Gio?” Tanya Radit.
“Kemarin Kay bilang kangen ama Vito jadi aku sengaja menjanjikannya untuk mengajak ke rumahnya mas. Lagian ini juga hari sabtu. Bolehkan mas, aku ke rumah Mas Gio? Sekalian akum au berpamitan sama dia.” Tanya Delia pelan.
__ADS_1
Delia takut jika suaminya tidak mengijinkan untuk pergi ke rumah Gio. Entah apa masalahnya, semenjak kelahiran Nathan, hubungan Gio dan suaminya sedikit renggang. Dan setiap kali Delia menanyakan baik pada suaminya maupun pada Gio, mereka berdua selalu mengalihkannya.
“boleh. Nanti aku antar kalian kesana.” Jawab Radit singkat.
Delia tidak percaya atas jawaban suaminya. Benarkah suaminya mau bertemu langsung dengan Gio. Tapi sedetik kemudian, delia menyunggingkan senyum tipis dari bibirnya. Dia bahagia akhirnya hubungan suaminya dan Gio kembali membaik.
Setelah selesai sarapan. Delia segera bersiap untuk pergi ke rumah Gio. Mereka juga akan mengajak Nathan sekalian.
Meskipun jarak rumah Gio dan Radit sangat dekat, namun Radit tetap memutuskan mengendarai mobilnya. Karena setelah dari rumah Gio, dia akan pergi ke rumah mertuanya.
Ting tong
Radit memencet bel pintu rumah Gio. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan Gio sendiri yang membukanya. Gio Nampak terkejut dengan keberadaan Radit yang ada di rumahnya.
“Papa!!!!” teriak Kay saat tahu yang membukakan pintu adalah Gio.
Kemudian Gio segera menggendong dan mempersilakan Radit dan Delia untuk masuk ke dalam. Delia mengatakan bahwa kedatangannya karena sejak kemarin Kay sangat merindukan kakaknya. Dan Vito pun juga sangat senang dengan kedatangan Kay ke rumahnya.
Setelah membiarkan Kay dan Vito bermain. Kini Radit, Delia, dan Gio sedang duduk di ruang tamu. Delia yang sedang mengendong Nathan sesekali berdiri sambil mengayun-ayunkannya karena Nathan yang sepertinya ingin tidur.
“Pindah? Maksudnya?”
“ehm, besok kami akan pindah ke kota B. dan kami sudah tidak tinggal disini lagi.” Jawab Radit kemudian.
Gio sempat terdiam dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Radit. jujur Gio sedikit kecewa mendengar kabar ini. Mungkinkah Radit mengajak keluarganya pindah agar dirinya tidak mengganggu Delia.
“oh gitu.” Jawab Gio datar.
Melihat reaksi Gio yang berbeda, Delia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dengan alasan ingin melihat Kay dan Vito bermain. Delia ingin memberikan waktu untuk Suaminya dan Gio agar berbicara berdua empat mata. Kini Radit dan Gio sedang duduk berdua di ruang tamu.
“apa kamu mengajak Delia pindah, lantaran ucapanku dulu saat masih di rumah sakit? Jika iya, kamu tidak perlu repot-repot harus pindah. Aku saja yang pergi menjauh dari kehidupan kalian.”
“Bukan.” Jawab Radit cepat.
__ADS_1
“aku memang sudah berniat mengajak istri dan anak-anakku pindah ke kota B. kota kelahiranku dan Delia. maafkan aku. maafkan atas perbuatanku selama ini.” ucap Radit lagi.
"Apa alasan kamu mengajak Delia pindah?”
“aku ingin menjalani rumah tanggaku dengan bahagia disana. Kamu ingat bukan selama ini rumah tanggaku begitu banyak masalah. Sejak mulai dari hadirnya Kay sampai Nathan. Aku hanya ingin mencari suasana yang beda. Mungkin dengan tinggal di kota kelahiran kami, kami akan menemukan kebahagiaan kita.” Ucap radit panjang lebar.
“baiklah kalau memang tujuanmu seperti itu. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kalian.” Ucap Gio.
“thanks Gi!” ucap Radit dan Gio hanya mengangguk.
“aku juga ingin berpesan padamu Dit.”
“apa?”
“selama ini aku sudah menganggap Kay seperti anakku sendiri. Setelah ini kalian akan pindah dan mungkin sangat sulit untuk kita bertemu. Delia dulu juga sempat menitipkan Kay padaku, agar aku dan Vito menjaganya. Jadi aku mohon padamu agar kamu juga menganggap Vito seperti anak kamu sendiri. Karena Vito dan Kay sudah terbiasa bersama sejak kecil. Suatu saat nanti jika mereka sudah dewasa, dan kita sudah tua biarkan Vito selalu menjaga Kay layaknya adik kakak.”
“iya. Baiklah. Aku juga nggak masalah soal itu. Terima kasih selama ini kalian begitu menyayangi Kay.”
Setelah pembicaraan dua pria dewasa itu selesai, akhirnya Delia berpamitan untuk pulang. Karena setelah ini akan pegi ke rumah oraang tuanya.
Delia sempat menitikan air matanya kala melihat Vito menangis saat diberitahu bahwa Kay besok tidak akan tinggal lagi disini. Meskipun Vito usianya masih 9 tahun, anak itu sepertinya sangat peka perasaannya. Mengingat dia sangaat menyayangi Kay sejak masih bayi.
“Vito sayang, jangan sedih ya!. Nanti mommy akan sering video call sama Vito dengan Kay. Dan sewaktu-waktu Kay juga akan main kesini. Jadi Vito masih bisa bertemu dengan Kay.”
“benarkah mommy?” Tanya Vito pada Delia dan hanya diangguki oleh Delia.
Sementara Kay yang masih belum mengerti tentang arti perpisahan, dia hanya melompat-lompat sambil tertawa saat melihat mommynya sedang memeluk Vito.
.
.
.
__ADS_1
*TBC