Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 253


__ADS_3

Barra menyesali perbuatannya yang tadi mengerjai sang istri dengan pura-pura marah. Kini dia sedang menerima karmanya. Perbuatannya dengan pura-pura marah kini menjadi nyata. Dia marah dan kesal. Namun tidak tahu siapa yang salah dalam hal ini. dia juga tidak bisa menyalahkan istrinya. Mungkin hanya menyalahkan author eh takdir maksudnya wkwkwkw.


Saat ini Barra sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamar. sedangkan Carissa masih sibuk di kamar mandi. Barra mengacak rambutnya frustasi mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


#Flasback on.


“Mas!” Panggil Carissa saat dirinya sudah naik ke atas ranjang. Dan Barra pura-pura tidak dengar.


“Mas, aku siap memberikan hakku malam ini.” Ucap Carissa mantap.


Barra sangat jelas dengan ucapan sang istri. Dia kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Tapi laki-laki itu tak langsung menyerang sang istri. Dia ingin memastikan lagi dengan apa yang diucapkan oleh Carissa.


“Carissa, aku nggak memaksa kamu untuk memberikan hak kamu malam ini. aku juga tidak marah sama kamu. Jadi kamu jangan berpikir aku marah sehingga kamu terpaksa memberikan hak kamu agar aku tidak marah lagi.” Ucap Barra.


“Bodoh banget nih mulut. Padahal aku juga ingin sekali.” Ucap Barra dalam hati.


“Nggak Mas. Aku nggak terpaksa. Aku sudah siap melakukannya malam ini. aku siap menjadikan diriku menjadi milikmu seutuhnya.” Ucap Carissa.


Sungguh kalau boleh dan kalau tidak ada yang menertawakan dirinya, Barra ingin sekali melompat-lompat sambil beruforia setelah mendengar jawaban istrinya.


“Apa kamu yakin?” Tanya Barra sekali lagi.


“Iya Mas. Aku sudah yakin. Tapi pelan-pelan.” Ucap Carissa lirih.


Seketika Barra teringat akan perbuatannya kala itu yang memaksa Carissa berhubungan badan. Dia kembali dihantui rasa bersalah.


“Maafkan aku yang dulu. Aku janji malam ini aku akan bermain pelan dan tidak menyakitimu.” Ucap Barra.


Setelah itu Barra merapatkan tubuhnya dengan Carissa hingga mereka berdua tak bisa lagi mengikis jarak. Barra mengecup kening Carissa dengan lembut untuk memberikan ketenangan. Setelah itu mengecup bibirnya sekilas. Barra menganggukkan kepalanya seolah sebagai kode pada Carissa untuk segera memulai yang lebih dari ini. dan Carissa pun mengangguk.


Barra memulainya dari mencium bibir Carissa. Perlahan keduanya saling berpagut. Carissa lama-lama bisa menyeimbangi ciuman itu walau masih terkesan kaku.


Kemudian Barra turun ke bawah, yaitu menciumi leher jenjang Carissa. Carissa yang tidak kuat menahan geli akhirnya suara de sahannya lolos begitu saja dan membuat nafsu Barra semakin membara.


Tanpa sadar keduanya kini sudah dalam keadaan tanpa busana. Barra masih asyik dengan dua bukit milik Carissa yang sangat pas dalam genggamannya. Tidak kurang dan tidak lebih. Carissa pun merasakan sensasi yang berbeda dengan permainan sang suami.


Hasrat Barra sudah tidak bisa dibendung lagi. Rudalnya pun sudah siap untuk meluncur menembus liang surga milik Carissa. Barra perlahan membuka pa ha sang istri dan mulai menggesekkan si kepala rudalnya di bibir liang surga itu.


Karena sudah tidak tahan lagi, Barra perlahan menekankan rudal itu. Wajah Carissa terlihat sedikit pucat dan bergerak tidak nyaman saat sang suami mulai menekankan batang yang sudah keras itu.


Sejenak Barra menghentikan aksinya saat melihat seperti bercak darah keluar dari area liang surga itu. “Bukankah Carissa sudah tidak vir*** lagi. Jadi kenapa dia msih mengeluarkan bercak darah. Bahkan aku juga belum menembusnya.” Batin Barra.


Namun Barra tidak mempedulikannya. Baginya mungkin liang itu masih sempit dan masih bisa mengeluarkan bercak darah. Mengingat dirinya hanya sekali melakukannya dan itu sudah lama.

__ADS_1


“Mas!” panggil Carissa lirih.


“Darah!!!” Teriak Barra saat darah itu keluar semakin banyak. Dan wajah sang istri sudah pucat.


“Maafkan aku. apa sakit? Dan kenapa masih ada darah terus keluarnya banyak?” Tanya Barra dan rudalnya masih tegang.


Carissa segera meraih selimut dan memaksa keluar dari kungkungan sang suami. Setelah itu dia lari ke kamar mandi.


Barra semakin cemas dengan keadaan sang istri. Apakah istrinya sedang mengidap penyakit yang disembunyikan. Kenapa istrinya menutupi semua itu.


“Carissa!!” Panggil Barra di depan pintu kamar mandi.


“Iya Mas. Bentar.” Jawab Carissa.


“Cepat buka atau aku akan mendobrak dari sini.” ancam Barra dan Carisssa perlahan membuka pintu kamar mandi dengan tubuh yang masih terbelit selimut.


“Maaf Mas.” Ucap Carissa.


“Apa kita bisa melanjutkannya?” Tanya Barra.


Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan sang istri. Karena hasratnya sudah di ubun-ubun. Mungkin setelah ini dia akan memeriksakan keadaan istrinya.


“Kenapa?” Tanya Barra lagi saat istrinya menggelengkan kepalanya.


“Maaf Mas. Aku lagi datang bulan.” Ucap Carissa pelan.


Rudal yang masih setengah tegang tadi kini berangsur menyusut dan lemas begitu saja kala mendengar suara Carissa bagai petir yang menyambar dan menggagalkan si rudal meluncur.


#Flashback off.


Setelah mendengar pernyataan sang istri, Barra kembali memakai bajunya dan memilih duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Beberapa saat kemudian Carissa sudah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi. dan setelah itu menghampiri Barra.


“Mas, kenapa disini?” Tanya Carissa.


“Nggak apa-apa. Cari angin saja.” Jawab Barra.


“Apa Mas marah?” Tanya Carissa cemas.


Barra mendongak melihat wajah istrinya yang cemas. Kemudian dia menyunggingkan senyum tipis pada sang istri.


“Nggak. Kenapa aku harus marah? Ini juga bukan salah kamu kan. Kita bisa mencobanya lain kali. Memang biasanya berapa hari?” Tanya Barra.


“8 sampai 10 hari Mas.” Jawab Carissa.

__ADS_1


“Mampusss!!!” rutuk Barra dalam hati.


“Ya sudah lebih baik kita tidur saja. Sudah malam.” Ajak Barra dan Carissa mengangguk.


Setelah kejadian itu Barra kini sudah tidak lagi canggung jika ingin memeluk istrinya saat tidur. Begitupun dengan Carissa. Perempuan itu juga tampak nyaman tidur dalam pelukan sang suami.


Keesokan paginya mereka berdua terbangun bersamaan. Barra yang masih enggan untuk bangun, dia semakin mengertakan pelukannya.


“Mas nggak kerja? Ayo bangun nanti kesiangan loh.” Ucap Carissa.


“Iya, sebentar Sayang. Aku masih ingin seperti ini dulu.” Ucap Barra.


Blush


Pagi-pagi wajah Carissa sudah bersemu merah saat mendengar panggilan sayang dari sang suami. Jujur dia sangat senang mendengarnya.


Akhirnya Barra memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, setelah itu baru Carissa. Barra yang sudah berpakaian rapi masih menunggu istrinya yang masih menyisir rambut. Barra berjalan mendekat dan mengendus bau tubuh dan rambut istrinya.


“Duh istriku harum sekali. Lama banget sih Sayang datang bulannya. Nggak bisa dipercepat apa?” Tanya Barra konyol.


“Mana bisa gitu Mas. Lagipula kemarin-kemarin kan Mas bisa sabar. Kenapa sekarang berbeda?” Tanya Carissa heran.


“Kemarin itu berusaha sabar Sayang. Nah semalam kamu sudah siap jadilah sekarang aku tidak sabaran.” Jawab Barra dan Carissa hanya mencebik.


Kemudian Carissa berdiri dan mengajak sang suami untuk segera turun sarapan bersama keluarganya.


“Sayang, ini dulu ya sebelum bekerja?” pinta Barra sambil menunjuk bibirnya dan Carissa pun mengangguk.


Dengan semangat 45 Barra mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya. Dia segera melu mat bibir Carissa yang terasa manis dan membuatnya candu. Barra benar-benar bersemagat melakukannya hingga Carissa kembali mengeluarkan suara lucknut nya.


Tok tok tok


“Woy ngapain sih kalian berdua lama banget dalam kamar? udah siang nih!” teriak Xavier.


.


.


.


*TBC


prank!!!😂😂✌️✌️✌️

__ADS_1


Kayaknya pengalaman Barra yg paling apes deh dibandingkan dg Papa dan Opanya dulu😂😂.


Sabar ya readers tunggu 10hr lagi😂😂


__ADS_2