Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 269


__ADS_3

Hari ini pernikahan Jenny dan Iqbal digelar di kediaman Vito. pernikahan itu digelar secara tertutup dan hanya dihadiri oleh keluarga Vito dan Bram saja. Tidak ada pesta mewah. Tidak ada gaun pernikahan mewah. Dan juga tidak ada mas kawin yang mewah. Iqbal hanya memberikan sebuah cincin pernikahan saja untuk Jenny.


Mempelai pengantin pria tertunduk lesu dengan wajah yang masih lebam bekas pukulan dari papanya sendiri. Sementara Jenny juga masih menampakkan wajah sembabnya setelah seharian menangis.


Acara perniakahan itu berlangsung singkat. Setelahnya Jenny dibawa pulang oleh keluarga suaminya. Jenny juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semalam Papa dan Mamanya sudah memberikan banyak nasehat. Jadi saat ini Jenny hanya bisa pasrah saat harus pergi mengikuti suaminya.


Sementara itu Barra dan Carissa kini sedang berada di dalam kamarnya. Sejak kejadian itu sampai saat ini Barra masih tinggal di rumah mamanya. Saat ini Carissa sedang duduk di atas ranjang sambil memijit kakinya yang terasa capek setelah membantu persiapan pernikahan Jenny.


Cklek


Barra keluar dari kamar mandi dan pandangannya tertuju pada wanita cantik yang sedang duduk sambil memijit kakinya. Barra tertegun dengan apa yang dilakukan oleh istrinya. Seketika rasa bersalah bersarang di hatinya karena telah melalikan istrinya yang tengah mengandung.


“Sayang, kamu pasti capek sekali. Biar aku saja yang pijitin.” Ucap Barra mengambil alih tangan Carissa yang sedang memijit kakinya.


“Nggak ko’ Mas. Hanya lelah sedikit saja.” Jawab Carissa.


“Maafkan aku sampai melupakan keadaan kamu dan anak-anak.” Ucap Barra merasa bersalah.


“Mas jangan bilang seperti itu. Aku nggak apa-apa kok. Mereka juga baik-baik saja dan tidak rewel. Aku sangat bersyukur.” Ucap Carissa.


Setelah itu Barra meminta istrinya untuk mengambil posisi yang nyaman dengan tiduran. Kemudian dia melnjutkan kegiatannya memijit kaki Carissa. Dan tidak berapa lama terdengar dengkuran halus keluar dari mulut Carissa. Barra tersenyum tipis melihat istrinya yang sudah terlelap.


“Terima kasih Sayang. Apa jadinya aku jika tidak ada kamu disampingku. Kamu wanita yang sangat baik dan mampu meredam amarahku ketika aku sedang emosi. Aku janji akan selalu mebahagiakan kamu dan juga anak-anak kita.” Gumam Barra setelah itu ikut berbaring tidur disamping istrinya sambil memeluknya.


Sementara itu, seorang laki-laki tampan sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Cuaca hari ini sangat cerah walau di musim penghujan. Namun suasana hati leki-laki itu tampak suram seperti mendung yang sebentar lagi menurunkan hujannya.


Xavier kini sedang menggenggam sebuah kotak bludru berwarna merah maroon dimana di dalamnya terdapat sebuah cincin yang akan disematkan di jari manis perempuan yang sangat dia cintai.


Xavier menggenggam kotak cincin itu penuh dengan amarah. Dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa perempuan pujaan hatinya yang beberapa hari lagi rencananya akan dia lamar, kini sudah menikah dengan pria lain.

__ADS_1


Apakah ini yang dinamakan kalau cinta pertama itu selalu melukai. Xavier baru saja merasakan jatuh cinta pada seorang perempuan yang tak lain adalah Jenny. Namun rasa cinta itu kini membawanya jatuh terperosok ke lubang yang paling dalam hingga menimbulkan luka yang begitu mendalam.


“Kenapa kau hadir kalau ujung-ujungnya seperti ini Jen? Aku sangat mencintai kamu. Apakah kamu tidak bisa merasakan itu semua? Dan teganya kamu melakukan itu dengan laki-laki lain di depan mata kepalaku sendiri.” Ucap Xavier yang kini tengah duduk meringkuk memeluk lututnya.


***


Keesokan paginya Barra dan Carissa kembali beraktivitas sepertia biasanya. Dan pagi ini juga dia berpamitan pada Mama dan Papanya untuk pulang ke rumah. Barra melihat mamanya masih tampak bersedih setelah ditinggal adiknya yang kini harus ikut bersama suaminya.


“Ma, sudah dong jangan bersedih lagi. Kita doakan saja agar Jenny bahagia bersama keluarga barunya.” Ucap Barra.


“Tapi Mama masih belum rela ditinggal adik kamu Bar” ucap Kay sambil meneteskan air matanya.


“Mama harus rela. Dan percayalah Ma kalau Iqbal adalah pria yang baik dan bertanggung jawab.” Ucap Barra.


“Mama jangan khawatir. Nanti kita akan sering-sering main kesini biar Mama tidak kesepian.” Ucap Carissa.


Setelah itu Barra dan Carissa segera berangkat ke kantor. sebelumnya dia mengantar istrinya ke butik dulu. Padahal Barra sudah meminta istrinya agar tidak ke butik lagi, mengingat saat ini Carissa sedang mengandung bayi kembar. Barra takut istrinya kelelahan. Tapi Carissa berusaha meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja.


“Ya sudah kalu gitu aku ke kantor dulu ya Sayang. Janji ya nanti siang kamu pulang.” Ucap Barra.


“Iya Mas. Hati-hati di jalan ya Papa!” ucap Carissa sambil menirukan gaya bicara anak kecil sambil mengusap perutnya yang masih rata.


Barra semakin gemas dengan dengan tingkah istrinya. Dia hanya bisa mengacak rambut Carissa karena sedang berada di luar. Andai saja di dalam kamar. entahlah apa yang akan dilakukan oleh Barra.


Barra kini sudah tiba di kantornya. Dia segera masuk ke ruangannya. Saat Barra baru saja menyalakan laptopnya, ada suara ketukan pintu. Kemudian Barra mempersilakan masuk orang itu.


“Selamat pagi Tuan!” sapa Iqbal.


“Pagi juga Bal.” jawab Barra kikuk mengingat saat ini status Iqbal adalah adik iparnya.

__ADS_1


“Apa ini Bal?” tanya Barra bingung saat Iqbal menyerah sebuah amplop berwarna coklat.


Iqbal hanya diam dan mempersilakan Barra membuka isi amplop tersebut dan membacanya. Barra terbelalak tak percaya dengan isi surat itu yang tak lain adalah surat pengunduran diri Iqbal.


“Bal, apa maksudnya ini semua? Aku tidak akan pernah mengeluarkan kamu dari perusahaan ini.” ucap Barra tegas.


“Maaf Tuan. Bagaimanapun tanggapan anda, saya akan tetap dengan pilihan saya. Dan maafkan saya atas semua kesalahan yang telah saya lakukan selama ini. dan setelah ini saya meminta ijin pada anda untuk membawa Nona Jenny pergi dari kota ini. permisi.” Ucap Iqbal dan segera keluar dari ruangan mantan bosnya.


Barra masih tidak percaya dengan pengunduran diri Iqbal. Terlebih dia meminta ijin membawa adiknya pergi dari kota ini. Memang Barra sudah mempercayakan adiknya pada Iqbal. Namun saat ini yang sangat dia khawtirkan adalah Mamanya. Bagimana jika Mamanya mendengar ini semua. Pasti akan sangat terpukul. Ditinggal Jenny yang saat ini ikut suaminya walau jarak rumahya tidak terlalu jauh saja, sudah membuat mamanya bersedih. Bagaimana jika Jenny tinggal di luar kota.


Barra tidak bisa terus larut dalam masalah ini. ia kembali melanjutkan pekerjaannya dan fokus demi kebahagiaan istri dan anak-anaknya. biarlah urusan Jenny menjadi tanggung jawab Iqbal.


Hari ini kebetulan jadwal Barra tidak terlalu padat dan tidak ada jadwal meeting. Jadi dia memilih bekerja setengah hari saja. Karena dia ingin pulang dan menikmati waktu kebersamaannya dengan sang istri.


Ting


Terdengar bunyi pesan dari ponselnya. Barra segera membuka pesan yang dikirim oleh istrinya.


“Mas, nanti siang pulang ya. Aku rindu!”


Barra tersenyum tipis membaca pesan sang istri yang menurutnya mengandung makna lain.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2