Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
Eps 53 Pingsan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Satu jam yang lalu Radit menyuruh Fadhil pulang. Karena dia yang akan menjaganya. Dan setelah kepulangan Fadhil, Radit merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Tadi dia melihat Delia masih tertidur pulas. Tanpa terasa selama satu jam Radit tertidur karena jujur saja fisiknya juga lelah sekali. Setelah pulang dari luar kota dan mendengar kabar buruk tentang Delia, rasa lelahnya seolah lenyap berganti rasa hancur di hatinya ketika melihat kondisi Delia, perempuan yang dia cintai.


Radit terbangun, dia melihat jam dinding dan terperanjak kaget. Dia segera menuju kamar Delia. Ingin melihat keadaannya sekarang. Apakah masih tidur. Radit membuka pelan pintu kamar biar tidak mengganggu istirahat Delia.


Namun saat pintu terbuka lebar Radit tidak menemukan keberadaan Delia di atas tempat tidur. Selimut yang dipakai terjatuh di lantai di bawah ranjang, dan sebuah jaket warna navy juga berada di lantai. Radit bingung kemana Delia. Apa jangan-jangan dia pergi keluar. Tapi tidak mungkin. Tiba-tiba pendengaran Radit terganggu dengan suara gemericik air.


Karena baru bangun tidur, jadi kesadaran Radit belum sepenuhnya kembali hingga dia tidak menyadari ada suara dari kamar mandi. Radit mendekati sumber suara itu,


“Del??” namun tidak mendapat sahutan


“Delia? Apa mandinya belum selesai?” ulang Radit namun masih belum juga mendapat sahutan dari Delia. Radit semakin cemas. Dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar mandi.


“Cklek”


Radit begitu terkejut saat melihat air shower yang mengalir deras dan di bawahnya ada seseorang yang sedang duduk meringkuk memeluk lututnya dan masih menggunakan pakaian lengkap. Suara tangisnya sangat pilu, air matanya luruh bersamaan dengan air shower yang mengalir. Bibirnya sudah membiru. Sepertinya Delia sudah lama berada disini. Radit merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya dia tertidur saat sedang menunggu Delia yang keadaannya sangat tidak baik.


“Deliaaaa! Apa yang kamu lakukan??” Radit mempercepat langkahnya dan segera mematikan kran shower. Dia merengkuh tubuh Delia, seakan memberikan kehangatan.


“aku kotor… aku kotor… aku ternoda… aku nggak suci lagi” tangisnya semakin pilu dalam pelukan Radit. tanpa sadar Radit meneteskan air matanya. Dia sangat tidak tega melihat Delia seperti itu. Radit juga terluka.


“tenang Del, aku nggak peduli itu semua”


“aku kotor… aku jijik dengan diriku sendiri… aku kotor” Delia terus saja meracau


Lidah Radit terasa keluh tidak mampu berucap. Sungguh sangat menyakitkan melihat penderitaan Delia. Radit hanya bisa memeluknya.


“Pergi! Pergi! Tolong jangan sakiti aku!”


“aku ada disini Del. Aku akan selalu menjagamu”


Tiba-tiba suara Delia melemah seiring dengan badannya yang juga ikut melemah. Radit merenggangkan pelukannya dan melihat Delia. Delia pingsan.

__ADS_1


“Del… bangun Del…Del” Radit panik, dia menepuk-nepuk pipi Delia namun tidak juga dia membuka matanya.


Delia pingsan karena kedinginan. Apalagi bajunya sudah basah kuyup. Radit dengan susah payah menggeser tubuh Delia, agar dia mampu menarik bathrope yang tergantung di sisi tembok. Setelah berhasi, Radit segera menutupi tubuh Delia karena baju yang dipakai Delia terbuka di bagian depannya. Radit menggendongnya menuju tempat tidur.


Setelah berhasil merebahkan tubuh Delia di atas ranjang, dia bingung bagaimana menggantikan baju Delia. Mau minta tolong siapa. Karena memang tidak ada siapa-siapa disana. Akhirnya Radit sendiri yang menggantikan baju Delia. Dia mencari dulu baju yang simple.


Kemudian dia menutup seluruh tubuh Delia dengan selimut. Radit melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Radit berkali-kali manarik nafasnya dalam, takut. Entahlah takut karena apa. Akhirnya selesai juga dia menggantikan baju Delia. Dia berhasil melepas semua kain basah yang melekat di tubuh Delia. Hanya saja saat menggantikan, dia hanya memakaikan baju saja tanpa dalaman karena menurut Radit susah dan akan membutuhkan banyak waktu. Itu tidak mungkin karena wajah Delia juga sangat pucat dan sedikit demam.


Radit mengompresnya dengan air hangat. Dan mencari obat penurun panas. Dia memaksa memasukkan obat ke dalam mulut Delia karena matanya terpejam. Setelah selesai, dia meninggalkan Delia keluar kamar dan menelepon seseorang.


“ya halo? Ada apa dit?” Tanya orang di seberang telepon


“ma…?” Radit diam. Bingung mulai dari mana menjelaskannya.


“ada apa malam-malam telepon mama? Ganggu orang tidur aja”


“ma.. Radit sekarang berada di apartemen Delia”


Radit menghela nafasnya.


“Ma dengerin Radit dulu. Delia pingsan ma!”


“apa???? Apa yang kamu lakuin sampai Delia pingsan? Dasar anak nakal!! Awas kamu ya!!”


Radit mengacak-acak rambutnya frustasi menanggapi ocehan mamanya yang semakin ngawur.


“Mamaaaa!!!! Radit belum selesai bicara. Dengerin Radit dulu. Jangan asal nuduh kalau nggak ada buktinya”


“habisnya kamu dari tadi ngomongnya bertele-tele”


“Ma, Radit minta tolong mama kesini untuk menjemput Delia agar sementara dia tinggal di rumah”

__ADS_1


“ada apa? Apa yang terjadi dengan Delia?” mama Radit sangat khawatir dengan keadaan Delia.


“ceritanya panjang ma. Nanti Radit akan jelasin semua ke mama. Sekarang Radit minta tolong mama kesini diantar sopir. Dan bawain baju buat Radit soalnya tadi tas Radit di dalam mobil dan ikut dibawa pulang oleh sopir”


“Iya. Mama segera kesana, mama akan pergi sama papa saja karena papa lagi ada di rumah”


“makasih ma. Radit share lokasinya ke mama”


Setelah menutup panggilannya. Radit kembali lagi ke kamar Delia untuk melihat keadaannya. Suhu badannya sudah berangsur menurun dan terdengar dengkuran halus. Itu berarti Delia sudah tersadar dari pingsaanya, sekarang dia sudah tertidur.


***


Di tempat lain, seorang laki-laki sedang terbaring di atas tempat tidur yang telah lama tidak pernah ia tiduri. Seluruh mukanya lebam setelah mendapat bogem mentah dari Fadhil. Sejak tadi dia merintih merasakan perih pada lukanya.


Mamanya menawarkan untuk membawa ke rumah sakit namun Angga menolaknya. Mamanya juga menanyakan apa yang telah terjadi, lagi-lagi Angga tidak menjawabnya.


“awwww…. Pelan dong ma”


sejak tadi mamanya mengompres dan mengobati luka anaknya. Harusnya sekali saja sudah cukup, namun karena rasa khawatir yang terlalu besar, mamanya terus saja mengompres luka pada wajah Angga.


“mama panggilin dokter ya?”


“nggak usah ma. Nanti juga sembuh sendiri” jawab Angga jutek.


Mama Angga merasa bersalah karena selama ini jarang memperhatikan anak semata wayangnya itu. Meskipun Angga sudah dewasa namun tidak menutup kemungkinan bahwa dia masih membutuhkan sosok orang tua yang bisa menjadikan dia tempat untuk bersandar.


“ya udah. Ini kamu minum obat saja kalau gitu. Bisa mengurangi rasa nyeri” Angga menerima obat dari mamanya dan meminumnya. Setelah itu mamanya menyelimuti tubuh Angga.


Jujur saja hati mama Angga sangat sakit melihat kondisi anaknya yang babak belur seperti itu. Dia salah. Memang salah tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Karena kesibukannya dengan teman-teman sosialitanya yang sering mengadakan acara donasi ataupun bakti social yang kadang keluar kota sampai ia melupakan kewajibannya menjadi seorang ibu. Meskipun kegiatannya positif namun tetap saja dia patut disalahkan karena tidak pandai menjaga anaknya.


*TBC

__ADS_1


*_author newbie_💕💕


__ADS_2