Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S2 eps 109


__ADS_3

Setelah pembicaraannya dengan Kevin selesai, akhirnya malam itu Radit ditemani oleh Kevin menunggu Delia yang masih belum sadar dalam ruangan ICU.


Keesokan harinya, mereka berdua terbangun saat terdengar suara langkah kaki cleaning servis yang sedang membersihkan lantai rumah sakit. Kemudian Radit meminta Kevin untuk pulang.


“kamu pulang saja Vin. Aku akan menjaga istriku sampai dia sadar. Untuk urusan kantor, sementara aku minta tolong kamu handle semuanya”


“baik tuan”


“terima kasih banyak ya Vin. Oh iya nanti suruh sopir kesini membawakan baju ganti buat aku”


“baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu”


Selepas kepergian Kevin, Radit pergi ke toilet untuk membersihkan mukanya. Sejak kemarin dirinya masih mengenakan pakaian kerjanya. Penampilannya pun juga sangat berantakan. Bahkan luka lebam pada wajahnya bekas pukulan dari Gio kemarin masih terlihat jelas.


Setelah selesai dari kamar mandi Radit segera kembali ke depan ruangan dimana istrinya dirawat. Terlihat ada seorang suster yang baru saja keluar dari ruangan Delia.


“sus bagaimana keadaan istri saya? Apa saya sudah boleh masuk?”


“maaf tuan saya hanya memeriksa keadaan pasien. Nanti menunggu keputusan dari dokter apakah tuan sudah boleh masuk apa belum”


Kemudian Radit mengangguk. Dia kemudian duduk di kursi


ruang tunggu depan ruanagn ICU. Radit berharap istrinya segera sadar.


Beberapa saat kemudian ibu mertua Radit datang dengan membawakan pakaian ganti untuk Radit. radit bingung kenapa yang datang malah ibu mertuanya. Padahal tadi dia menyuruh Kevin.


“nak Radit ini pakaian gantinya. Lebih baik nak Radit segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Ibu yang akan menjaga Delia disini”


Radit hanya mengangguk. Setelah ini dia akan menanyakan pada Ibu mertuanya kenapa yang datang membawakan pakaiannya bukan sopir seperti yang diperintahkan pada Kevin.


Beberapa menit kemudian Radit sudah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dia segera kembali ke tempat dimana ibu mertuanya menunggu Delia.

__ADS_1


“nak Radit, sebaiknya nak Radit pulang saja. Biar ibu yang akan menjaga Delia”


“tapi bu, Radit tidak mau-“


“Kay sejak semalam menangis mencari mommy dan daddynya. Pagi tadi dia terbangun dengan badan yang demam. Nak Radit percayakan Delia pada ibu. Ibu yakin Delia akan segera sadar. Ingat Kay juga membutuhkan daddynya”


Seketika itu Radit tersentak. Dia sampai melupakan Kay, putri sulungnya. Benar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya bahwa Kay saat ini sedang membutuhkan dirinya. Setelah itu Radit mengangguk dan segera pulang.


Setelah melangkahkan kakinya menjauhi ruang rawat istrinya, Radit menuju ruang incubator. Dia ingin melihat keadaan anak keduanya. Meskipun hanya bisa melihat dari luar melalui jendela kaca, setidaknya Radit masih melihatnya.


“Nak cepat pulih ya. Daddy sayang kamu. Daddy janji setelah kamu dan mommy kamu sembuh, daddy akan membawa kalian semua pergi. Kita akan hidup bahagia bersama”


Radit mengusap kedua sudut matanya yang berair. Kemudian dia pergi meninggalkan rumah sakit. Karena masih ada Kay yang membutuhkan kasih sayangnya.


Sesampainya di rumah, Radit segera menuju kamar Kay. Nampak Kay sedang tertidur dengan plaster penurun demam yang melekat di keningnya. Radit tampak sedih melihat Kay yang sedang lemah.


Dia teringat pesan Delia beberapa waktu yang lalu yang meminta dirinya untuk menjaga Kay dan calon bayi yang masih dalam kandungan saat itu. Radit menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin itu pesan terakhir dari istrinya. Tidak mungkin Delia akan meninggalkan dirinya dan kedua anaknya. Radit tidak sanggup menghadapi semua ini.


“de’ cepatlah bangun nak. Kamu jangan lam-lama tidurnya. Kasihan suami kamu sejak semalam menunggu kamu” ucap Ibu Delia sambil sedikit terisak karena tidak tega melihat kondisi putri satu-satunya.


“kamu tahu nak, mungkin kamu marah dengan apa yang telah dilakukan suami kamu. Tapi kamu tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Ini semua salah paham de’, suami kamu tidak mungkin menghianati kamu. Nak Radit sudah mengatakan semuanya. Jadi bangunlah nak, maafkan keslahan suami kamu”


Lama berbicara pada Delia dan tidak ada respon sama sekali membuat ibunya semakin sedih. Akhirnya ibunya memutuskan untuk keluar.


Setelah keluar dari ruang rawat Delia, disana sudah ada Gio yang juga ingin melihat keadaan Delia. setelah meminta ijin pada Ibu Delia, kini Gio yang masuk ke dalam ruang rawat Delia.


“hai Del bagaimana keadaan kamu? Cepatlah bangun Del, apa kamu tidak ingin melihat anak laki-laki kamu?”


Tanya Gio pada Delia yang masih menutup rapat matanya. Gio berusaha tegar saat menanyakan keadaan Delia. padahal jauh dalam lubuk hatinya dia sangat tidak tega melihat Delia seperti saat ini.


“Del, apa beberapa hari yang lalu saat kamu mengatakan padaku agar menjaga Kay saat dia sudah dewasa, apakah itu pesan terakhir kamu Del? Apa setelah ini kamu akan pergi dari dunia ini Del? Aku tegaskan sekali lagi, aku mengubah jawabanku. Aku tidak akan mau menjaga Kay kalau kamu sampai pergi dari dunia ini. Aku akan biarkan Kay sendiri, bahkan Vito akan aku larang untuk mendekati Kay lagi” ucap Gio dengan lantang karena dia tidak sanggup kalau sampai Delia benar-benar pergi dari dunia ini.

__ADS_1


Setelah gio mengatakan itu, Gio melihat tiba-tiba jari tangan Delia bergerak. Gio sangat panik sekaligus senang karena Delia dapat merespon perkataannya tadi.


Kemudian Gio keluar dari ruang rawat Delia dan memanggil dokter agar memeriksa keadaan Delia. ibu Delia yang masih berada disana juga sedikit lega mendengar bahwa Delia mulai bisa merespon perkataan Gio.


Beberapa saat kemudian Radit sudah datang ke rumah sakit setelah ibu mertuanya mengabarkan bahwa Delia mulai bisa merespon. Radit juga senang mendengar kabar itu.


Setelah dokter memeriksa keadaan Delia, dokter mengatakan bahwa Delia masih belum sadar tapi memang tubuhnya sudah bisa memberikan respon. Dokter meminta agar keluarga pasien terus mengajaknya berkomunikasi.


Setelah dokter yang memeriksa keadaan Delia pergi, kini giliran Radit yang ke dalam ruang rawat istrinya. Radit menyayangkan bahwa dia bukan orang pertama yang membuat istrinya memberikan respon. Melainkan Gio. Sejak kejadian kemarin sampai saat ini tadi Radit dan Gio masih enggan bertegur sapa.


“sayang. Bangunlah… sampai berapa lama kamu kan tidur seperti ini. Please aku mohon bangunlah. Kalau kamu tidak mau bangun demi aku, bangunlah demi kedua anak kita yang masih membutuhkan kasih sayang dari mommynya”


Radit sengaja bicara panjang lebar, dia juga ingin mencurahkan segala isi hatinya, bahwa dia tidak sanggup jika istrinya tidak juga bangun.


“sayang, apa beberapa waktu yang lalu saat tiba-tiba kamu berpesan agar aku menjaga Kay dan anak kedua kita, apa itu pertanda bahwa kamu akan pergi meninggalkan kami bertiga?”


“aku dulu sudah berjanji akan menjaga kalian bertiga. Aku bersumpah tidak akan mau menjaga kedua anak kita kalau kamu benar-benar pergi meninggalkan kami”


“ingat sayang, anak laki-laki kita juga telah berjuang antara hidup dan mati. Saat ini dia sedang dalam incubator. Dia sangat membutuhkan mommynya. Bangunlah sayang, aku mohon. Aku tidak sanggup jika harus menjaga kedua anak kita sendirian”


Radit sudah sangat frustasi dengan keadaan ini. Dia benar-benar tidak sanggup menanggung beban ini sendirian. Dia pasrah akan hukuman yang akan Delia berikan saat nanti sudah sadar.


Tiba-tiba mata Delia terbuka lebar. Dalam tidur panjangnya dia mendengar tangisan seorang bayi yang sedang kehausan dan memaksa Delia membuka matanya.


“anakku!!” lirih Delia


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2