
Hari ini Barra sedang duduk di sebuah café sambil menyesap secangkir espresso. Pulang dari kantor dia memang sengaja untuk singgah ke café karena ingin bertemu dengan Xavier.
“Sorry telat.” Ucap Xavier yang baru saja tiba.
“Nggak apa-apa. Kamu pesan minum dulu atau mau makan sesuatu.” Ucap Barra.
“Nggak usah. Aku tadi sudah pesan minum.” Jawab Xavier.
Mereka terdiam sambil menunggu pesanan minuman Xavier datang. Beberapa hari ini Barra terlihat bingung karena ingin menemui Carissa di rumah sakit tapi takut membuat perempuan itu semakin membencinya.
“Terima kasih.” Ucap Xavier saat pelayan cefe membawakan minumannya.
“Ada apa?” Tanya Xavier.
“Bagaimana keadaan Carissa?” Tanya Barra.
“Sudah membaik. Kemungkinan besok sudah diperbolehkan pulang.” Jawab Xavier.
Barra menghembuskan nafasnya lega setelah mendengar kabar bahwa keadaan Carissa sudah membaik. Namun tetap saja dia akan kesulitan untuk bertemu dengannya. Karena Barra tahu setelah ini Carissa pasti akan tinggal bersama keluarga kandungnya. Yang otomatis bersama Papanya. Entah kenapa Barra masih merasa kalau Tuan Charles masih belum menerimanya, meski saat itu Papanya sudah meminta maaf secara pribadi.
“Ada apa?” Tanya Xavier yang melihat Barra hanya diam.
“Aku ingin sekali bertemu dengan Carissa. Tapi bagaimana reaksinya nanti? Aku tahu dia masih membenciku.” Jawab Barra.
“Bukankah setelah menikah nanti kalian akan sering bertemu. Jadi bersabarlah.” Ucap Xavier disertai kekehan dan membuat Barra semakin kesal.
Xavier bukan tidak tahu permasalahan yang tengah dihadapi oleh Barra. Namun dirinya juga masih bingung bagaimana caranya agar adiknya itu mau menerima Barra.
“Kamu nggak usah khawatir. Kamu nanti bisa datang ke rumah jika Carissa sudah diperbolehkan pulang. Tapi sebaiknya kamu datang bersama orang tua kamu.” Ucap Xavier memberikan saran.
“Baiklah. Aku rasa itu ide yang sangat bagus.” Jawab Barra semangat.
Sementara itu hari ini Rey mendatangi perusahaan milik Charles Darandra. Dia tidak menyangka kalau mantan calon menantunya ternyata anak kandung dari seorang pengusaha terkenal, setelah Vito memberitahunya. Kedatangan Rey ke kantor Charles untuk meminta maaf atas perbuatan Dhefin yang telah mencelakai Carissa.
Rey sangat tahu bagaimana sosok Charles di dunia bisnis. Sosok yang sangat dingin, tegas, dan tidak bisa dibantah. Awalnya Rey sedikit pesimis saat akan menemui Charles. Dia berpikir kalau perbuatan Dhefin tidak akan mendapatkan maaf darinya. Namun ternyata salah.
__ADS_1
Pria paruh baya itu justru menyambut kedatangannya dengan hangat. Bahkan saat Rey meminta maaf atas perbuatan Dhefin yang telah menghianati Carissa, sampai tidak sengaja membuat Carissa celaka, Charles memaafkannya. Pria itu menyerahkan semuanya pada pihak yang berwajib. Dirinya tidak berwenang untuk ikut campur dengan masalah yang sudah ada mengatasinya.
“Terima kasih banyak Tuan Charles atas kemurahan hati Tuan yang telah memaafkan perbuatan anak saya.” Ucap Rey.
“Sama-sama Tuan Rey.” Jawab Charles sambil tersenyum.
Rey merasa sangat lega setelah perbuatan Dhefin mendapatkan maaf dari orang tua Carissa. Meskipun Dhefin tetap harus menjalani hukumannya, setidaknya dirinya sudah tidak ada beban di hati karena seseorang menaruh dendam pada anaknya.
***
Keesokan harinya, Xavier sedang mengemasi baju-baju Carissa untuk dibawa pulang. Karena menurut pemeriksaan dokter, keadaan adiknya sudah pulih dan diperbolehkan pulang. Carissa pun juga lega bisa keluar dari ruangan yang membuatnya cukup tersiksa dengan bau rumah sakit.
“Sudah siap Sayang?” Tanya Charles yang baru saja masuk.
“Sudah Pa.” jawab Carissa.
“Ya sudah ayo. Mau pakai kursi roda atau Papa yang gendong?” Tanya Charles.
“Pakai kursi roda saja Pa. nggak mungkin Papa mau gendong Carissa yang udah gede gini.” Tolak Carissa.
“Iya Pa. maaf.” Jawab Carissa.
“Ya sudah ayo buruan!” ajak Xavier untuk menghentikanperdebatan kecil antara Papa dan adiknya.
Carissa sangat gugup dalam perjalanan pulang ke rumah barunya. Rumah dimana keluarga barunya sedang menanti kepulangannya. Entah dia harus sedih atau bahagia. Sedih karena tidak bisa bersama dengan orang tua angkatnya lagi, namun bahagia karena keluarga kandungnya sangat mencintainya.
Sesampainya di sebuah rumah megah dengan bangunan kokoh bergaya eropa, Carissa dibuat tercengang. Apakah ini hanya mimpi atau memang kenyataan. Carissa masih tidak percaya kalau Papanya sangat kaya.
“Ayo Sayang, kenapa diam saja? Oma Opa, Om dan Tante sudah menunggu di dalam.” Ajak Charles dan menggandeng tangan Carissa.
Sedangkan Xavier sudah berjalan lebih dulu dengan membawa baju-baju kotor milik Carissa.
Benar saja, setelah melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah itu, disana sudah ada banya orang yang menyambutnya dengan senyum mengembang dari sudut bibir masing-masing. Carissa sangat terharu dan tidak menyangka kalau kehadirannya diterima hangat oleh keluarga barunya.
“Selamat datang keponakan Om yang cantik.” Ucap Alex, yang pertama menyapa Carissa.
__ADS_1
Carissa tersenyum mengangguk. Kemudian dia menyalami tangan Oma dan Opanya secara bergantian, kemudian pada Alex dan juga istrinya. Terakhir dengan seorang laki-laki yang seusia dirinya, yang diyakini adalah anak dari Alex.
Carissa segera duduk bergabung dengan semua keluarga yang ada di ruang keluarga. Pandangan Carissa tertuju pada sebuah foto besar yang menggantung di dinding. Foto seorang wanita cantik yang wajahnya hampir mirip dengannya.
“Sayang, itu foto mendiang Mama kamu dan Xavier. Sangat cantik bukan? Seperti kamu.” Ucap Charles seolah mengerti dengan apa yang sedang Carissa pikirkan.
“Iya Pa. Mama sangat cantik. Apa boleh Carissa berkunjung ke makam Mama?” Tanya Carissa dan seketika membuat semua orang yang berada di ruangan itu terdiam.
Bahkan Xavier pun tidak tahu menahu tentang makam mendiang Mamanya selama ini. karena Charles sudah menutup rapat cerita itu dan tidak mau mengingat kesedihannya saat kehilangan istrinya.
“Mama kamu tidak mempunyai makam” jawab Viviane.
“Maksud Oma?” Tanya Carissa bingung.
Semua orang hanya bisa pasrah saat Viviane akan menceritakan semuanya pada cucunya. Viviane mengatakan kalau saat kecelakaan itu jasad Mamanya tidak ditemukan, walau sudah berhari-hari dilakukan pencarian. Jadi semua keluarga sudah mengikhlaskan kepergiannya.
“Bagaimana kalau Mama masih hidup Pa?” Tanya Carissa tiba-tiba.
“Sayang, sudah jangan dibahas lagi. Karena itu tidak mungkin dan sudah puluhan tahun juga.” jawab Charles mencoba tenang meskipun hatinya berkecamuk.
“Tapi Pa, siapa tahu-“
“Sepertinya kamu harus segera istirahat dek, ayo kakak antar ke kamar kamu.” Potong Xavier cepat karena dia melihat raut wajah Papanya yang begitu sedih.
Akhirnya Carissa mengangguk dan segera mengikuti langkah kaki kakaknya menuju kamarnya yang berada di lantai 2.
“Sudahlah Kak nggak usah dimasukkan hati ucapan Viera. Bukannya kakak sekarang bahagia dengan kehadiran anak perempuan Kakak yang sudah lama hilang.” Ucap Alex dan dijawab Charles dengan senyuman tipis.
.
.
.
*TBC
__ADS_1