
Delia mengambil jadwal penerbangan pagi karena hari itu jadwal yang tersedia pagi jam 6 dan siang jam 2. Jadi Delia memilih yang jam 6 saja. Semalam setelah kepulangan Radit, Delia segera mengemasi barang-barangnya agar paginya tidak terburu-buru. Sebenarnya luka di tangan dan di pahanya masih sedikit menyisakan nyeri tapi dihiraukan oleh Delia. Yang penting sering diolesi krim luka bakar.
Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya pesawat yang Delia tumpangi landing dengan selamat. Dia segera memesan taksi menuju ke rumahnya. Dia tidak meminta untuk dijemput sekalian mau buat kejutan buat ibunya. Ponselnya pun sengaja dinon aktifkan.
“Tok...tok... Paket!” Teriak Delia di depan gerbang rumahnya. Ibunya yang sedang berada di ruang tamu dengan Ade pun kaget. Karena merasa tidak order apapun. Tetapi Ade tetap menemui kurir pengantar paket itu.
Ade membuka gerbang tetapi tidak ada motor si kurir, hanya kurirnya saja. Memakai hoodie dan topi sambil membawa koper. Dan si kurir pun posisinya menghadap jalan jadi membelakangi Ade.
Sedangkan Ade sudah berpikiran macam-macam, apalagi sekarang ini lagi maraknya pengirim paket gelap yang berisi barang ilegal. Atau ada orang yang sengaja mau neror karena dia akan menikah.
“maaf mas atau mbak ya?” dan si kurir menoleh langsung mendekat. Ade perlahan memundurkan badannya. Delia masih saja terus melangkah dan melepas topinya
“Deeee'?????” Ade sangat terkejut dan Delia berhambur ke pelukan abangnya.
“Dasar bocah nakal. Jail banget!” gerutu Ade sambil mengacak rambut Delia.
Mereka akhirnya masuk rumah. Ibunya juga terkejut melihat kedatangan anak gadisnya yang pulang lebih awal. Pantesan ibunya juga tadi pagi mengirim pesan pada Delia tapi ponselnya tidak aktif, ternyata si pemilik ponsel sedang dalam penerbangan.
***
Siang hari mendekati jam makan siang, seorang lelaki muda yang berbadan tegap dan berparas tampan sedang gelisah. Karena sejak tadi pagi pesan yang dikirim pada seseorang yang sangat istimewa di hatinya tidak dibalas dan panggilannya diluar jangkauan yang berarti ponselnya sedang tidak aktif. Siapa lagi kalau bukan Radit.
Semalam dia sangat khawatir sekali dengan keadaan Delia pasca kejadian penumpahan teh panas yang mengenai tangan dan paha Delia. Tadi pagi Radit mengirim pesan pada Delia untuk mengajaknya makan siang sebagai ucapan minta maaf karena kesalahannya. Namun hingga sampai mendekati jam makan siang belum ada tanda-tanda Delia membalas pesannya. Jangankan membalas pesannya, tanda centang pada pesan yang Radit kirim pun masih satu. Itu tandanya Delia belum mengaktifkan ponselnya.
“Apa Delia marah gara-gara semalam?” batin Radit. Setelah itu Radit menghubungi asistennya.
“Vin, tolong kamu cari no teleponnya tim editor yang mengerjakan iklan perusahaan”
“Baik Pak” sebenarnya Kevin bingung dengan permintaan atasannya. Pasalanya masalah periklanan kemarin sudah beres. Namun Kevin tidak berani bertanya.
Setelah mendapatkan no Fadhil, Kevin memberikan pada Radit. Dan Radit segera melakukan panggilan ke Fadhil.
“Iya halo?” jawab Fadhil bingung karena yang memanggilnya no kontak baru
“Ehm.. Iya ini saya Radit dari perusahaan ***”
“Oh maaf Pak. Ada yang bisa saya bantu Pak?”
“ Eh..ehm itu saya membutuhkan sedikit penjelasan tentang rancangan kamu. Tapi saya minta anggota tim kamu yang menjelaskannya karena dia yang presentasi”
Fadhil mengernyit bingung sekaligus merasa aneh dengan Radit. “Oh gitu ya pak. Tapi untuk saat ini salah satu anggota tim kami maksud saya nona Delia tidak masuk kare-“ penjelasan Fadhil terpotong karena Radit memutuskan panggilannya.
Radit segera keluar dari ruangannya dan pergi ke apartemen Delia. Radit sangat panik. Dalam pikirannya saat ini Delia tidak masuk kerja karena sakit pada tangan dan pahanya yang disebabkan oleh kesalahannya. Radit mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Takut terjadi sesuatu dengan Delia.
__ADS_1
Sesampainya di apartemen Delia, Radit berkali-kali memencet bel tapi tidak kunjung dibukakan. Radit sangat frustasi kemana Delia pergi. Tiba-tiba ponselnya berdering. Radit sangat senang karrna dia mengira itu panggilan dari Delia. Radit segera meraih ponsel pada saku jasnya. Seketika senyumnya surut saat melihat id pemanggilnya.
“Ya ma?”
“Buruan kamu pulang. Kamu nggak lupa kan ini jam berapa?”
“hmm” Radit mengakhiri panggilannya. Dia bingung harus mencari Delia kemana sementara mamanya sudah menyuruhnya pulang.
#Flashback on
Saat sarapan di meja makan
“Dit nanti siang antar mama pulang”
“hah? Pulang kemana ma. Ini juga lagi di rumah”
“Pulang kampung ke kota B. Mama ada pesanan baju pengantin. Mama mau cek dulu sebelum diambil”
“kenapa harus sama Radit sih ma? Biasanya juga pulang sendiri”
“Radittt!” papanya mendelik ke arah Radit dan seketika membuat nyali Radit menciut
“Iya”
Radit hanya bisa mendengus kesal. Mau protes pun pasti kena marah sama papanya.
#Flashback off
Setelah tidak mengetahui keberadaan Delia, Radit segera pulang.
***
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih satu jam akhirnya Radit dan mamanya tiba di rumah mereka. Radit membersihkan diri sebentar setelah itu mengantar mamanya ke butik.
Kini Radit dan mamanya sudah berada di butik. Dan kebetulan sekali orang suruhan yang akan mengambil baju pengantin yang dipesan di butik mama Radit juga ada disitu.
“Oh mbak ini yang akan ambil baju pengantinnya mbak Anin?”
“Iya bu, saya sepupunya mbak Anin”
“Sebentar ya saya cek dulu” mama Radit melihat dulu sebentar apakah baju pengantin pesanannya sudah benar-benar bagus dan rapi jahitannya. Setelah selesai mama Radit memnyuruh karyawannya untuk mengemasnya dengan rapi.
“terima kasih ya mbak sudah mempercayakan pesanannya di butik saya”
__ADS_1
“Iya bu. Ini juga kata mbak Anin dapat rekomendasi dari calon mertuanya mbak Anin”
“Iya benar. Saya juga diundang ko' mbak untuk acaranya”
“Kalau begitu saya permisi dulu bu”
Setelah selesai, mama Radit masuk ke ruangannya karena Radit menunggunya disana.
“lusa ikut mama ke acara pernikahan anak teman mama”
“mama tuh sukanya memaksa”
“ck... Anak gadis teman mama cantik lho, siapa tahu nanti kamu cocok dia”
“mama ini ada-ada aja. Radit nggak mau” kesal Radit namun mamanya malah tersenyum penuh arti.
***
Acara pernikahan Ade pun akhirnya berlangsung hari ini. Acaranya diadakan di sebuah hotel. Keluaraga dan sanak saudara pun ikut bahagia menyaksikan pernikahan Ade. Khususnya Delia. Dia sangat bahagia sekali karena abangnya sudah menanggalkan status lajangnya dengan seorang yang sangat dicintai. Namun dalam sudut hati Delia membayangkan betapa bahagianya menikah dengan sesorang yang kita cintai dan mencintai kita. Apakah dia akan menemukan orang yang benar-benar saling mencintai seperti itu. Tepukan punggung ibunya membuyarkan lamunan Delia.
“De' ayo kita kesana ada teman ibu dan anaknya, ibu akan kenalkan dengan anak teman ibu”
“ibu ihh” Delia kesal
“nanti Delia nyusul ibu deh”
Setelah itu ibu Delia menghampiri tamu yang dimaksud.
“Hai jeng... Wah baju rancangan di butik kamu bagus sekali. Sangat cocok dipakai menantuku”
“wah syukurlah, aku senang mendengarnya. Oh iya mana anak kamu yang cantik itu?” tanya mama Radit sambil melirik ke arah anaknya. Sedangkan yang dilirik membuang muka dan berbalik badan pura-pura sibuk dengan ponselnya. Dan nampak dari jauh Delia berjalan menuju ke ibunya.
“bu.. Eh tan...tente Alma?” Delia bingung dengan keberadaan tante Alma, mama Radit
Dan seseorang yang sedang pura-pura sibuk dengan ponselnya tadi mendengar suara yang tidak asing baginya. Dia segera membalikkan badannya dan..
“Delia???” “Radit???” ucap mereka berdua bersamaan
*TBC
Maaf bila typo dimana-mana
*salam sayang dari _author newbie_💕💕
__ADS_1