Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 238


__ADS_3

Hari ini Barra sudah disibukkan lagi dengan kerjaan kantornya. Meski hari pernikahannya dengan Carissa akan digelar satu bulan lagi, namun Barra masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Dia menyerahkan semuanya pada sang Mama. Sedangkan Carissa juga kembali akktif di butiknya.


Carissa kini sedang merancang gaun pernikahannya sendiri. Sedangkan untuk baju Barra, Carissa juga membuatkannya. Namun dia tidak meminta Barra untuk datang mengukur badannya. Carissa hanya mengira-ngira saja ukuran baju untuk calon suaminya.


Selama satu bulan menjelang pernikahannya, Barra dan Carissa tidak pernah bertemu berdua. Mereka akan bertemu jika ada yang menemani. Terkadang Barra mengajak Jenny atau bahkan Carissa yang mengajak Xavier. Barra pun tidak mempermasalhkannya. Selama Carissa merasa nyaman seperti itu, Barra akn tetap mengikutinya.


***


“Bar, nanti siang kamu ajak Carissa untuk menemui WO di restaurant XX ya.” Ucap Kay saat sedang berada di meja makan untuk sarapan bersama.


“Mama saja, Barra hari ini sibuk.” Tolak Barra.


“Mama sudah bilang pada Carissa dan dia mau. Sebenarnya yang menikah ini siapa sih? Masa’ apa-apa semuanya harus Mama.” Keluh kay.


“Ya udah, iya Ma. Jen nanti aku jemput saat jam makan siang.” Jawab Barra sekaligus mengajak Jenny.


“Maaf Kak, nanti aku akan bertemu dengan klien.” Tolak Jenny.


Barra hanya bisa menghela nafas panjang. Terpaksa dirinya nanti akan bertemu berdua dengan Carissa.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Barra segera pergi ke kantor. sebelumnya dia juiga sudah mengirim pesan padaa Carissa perihal pertemuannya dengan WO nanti siang. Carissa langsung membalas pesan Barra dan menjawabnya setuju. Namun Carissa meminta bertemu di tempat lokasi saja dan tidak ingin Barra menjemputnya.


Waktu makan siang pun telah tiba. Barra segera melajukan mobilnya menuju restaurant XX untuk menemui WO. Barra tiba disana sudah melihat Carissa sedang duduk dengan seorang perempuan yang diyakini WO mereka.


“Maaf, apa saya terlambat?” Tanya Barra.


“Oh tidak Tuan Barra. Perkenalkan nama saya Bella, WO pernikahan Tuan Barra dan Nona Xaviera.” Ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangannya pada Barra.


Perempuan yang bernama Bella itu tampak berbinar saat melihat ketampanan Barra. Bahkan sejak tadi pandangannya tak pernah lepas dari wajah tampan Barra. Barra sendiri merasa kurang nyaman karena sejak tadi Bella terus memperhatikannya.


Sebelum pembicaraan mengenai acara pernikahan mereka, mereka bertiga makan siang terlebih dulu. Carissa sejak tadi mengawasi gerak gerik Bella yang terus saja memperhatikan Barra juga ikut tidak nyaman. Entahlah Carissa ingin sekali pulang dari pada merasa seperti obat nyamuk.


“Beruntung sekali ya Nona Xaviera bisa mendapatkan calon suami seperti Tuan Barra. Sudah tampan, mapan lagi.” Ucap Bella sambil tersenyum simpul pada Barra.


“Bukan Nona Xaviera yang beruntung. Tapi saya yang beruntung bisa mendapatkan perempuan cantik dan baik hati seperti calon istri saya ini.” ucap Barra dan reflek memegang lembut tangan Carissa.

__ADS_1


Barra sendiri sangat tidak nyaman dengan pandangan Bella sejak tadi. rasanya Mamanya telah salah memilih WO yang terkesan ganjen. Sedangkan Carissa yang tangannya mendapat sentuhan dari Barra sedikit terkejut namun akhirnya dia merasakan kehangatan dari sentuhan itu.


Raut muka Bella berubah ketika menyaksikan kemesraan antara Barra dan Carissa. Akhirnya dia segera mengeluarkan katalog dalam tasnya dan menunjukkan beberapa konsep foto untuk acara pernikahan Barra dan Carissa.


Setelah berbincang-bincang cukup lama dan memutuskan konsep apa yang dipilih akhirnya mereka bertiga pulang.


Barra terpaksa menggandeng tangan Carissa dan menuntunnya agar ikut satu mobil dengannya karena Bella dengan tidak tahu malunya meminta Barra untuk mengantarkan kembali ke kantornya dan Barra menolaknya.


“Maaf jika tadi membuatmu tidak nyaman. Aku akan menurunkan kamu jika kamu keberatan aku antar ke butik.” Ucap Barra.


“Nggak apa-apa.” Jawab Carissa.


Dari kejadian seperti tadi Carissa perlahan bisa melihat keseriusan Barra. Entah kenapa hatinya menghangat saat Barra memuji dirinya depan wanita lain.


“Terima kasih.” Ucap Carissa saat mobil Barra sudah tiba di depan butik.


“Iya sama-sama. Aku langsung balik ke kantor” ucap Barra dan diangguki oleh Carissa.


***


Namun saat hari pernikahan tinggal tiga hari ini, Carissa merasakan ada sesuatu yang mengganjal hatinya tapi entah apa itu dia juga tidak tahu.


Malam ini keluarga besar Carissa sedang berkumpul untuk makan malam sekaligus membahas acara pernikahan. Carissa sejak tadi tampak gusar.


“Kenapa Sayang? Apa kamu sedang tidak enak badan?” Tanya sang Papa.


“Nggak ko’ Pa. Viera baik-baik saja.” Jawab Carissa.


Akhirnya Carissa menyendokkan nasi ke mulutnya meski rasanya dia tidak ingin makan. Karena dia tidak mau Papanya mengkhawatirkannya.


“Bagaimana persiapan pernikahan kalian? Apakah sudah matang seratus persen?” Tanya Alex.


“Sudah Om. Semuanya sudah siap.” Jawab Carissa.


Semua orang tampak lega mendengarnya. Kini hanya menunggu hari H saja. Tiba-tiba saat menikmati makan malam, ponsel Xavier berdering. Laki-laki itu mengerutkan keningnya saat melihat id pemanggil yang tetera dalam layar ponselnya yaitu nama Jenny.

__ADS_1


“Maaf, aku ijin mengangkat telepon dulu.” Pamit Xavier, dan membuat Carissa sangat penasaran.


Xavier berjalan menjauh dan mengangkat panggilan dari Jenny. Xavier heran karena sejak tadi perempuan itu tak kunjung berbicara, justru malah terdengar isakan tangis Jenny.


“Kak, Kak Barra dilarikan ke rumah sakit karena baru saja ditemukan pingsan di dalam kamarnya. aku sudah hubungi Kak Carissa namun tidak bisa." Ucap Jenny.


“Apa? Di rumah sakit mana Jen?” Tanya Xavier panik.


Xavier buru-buru menutup panggilan teleponnya setelah meminta alamat rumah sakit dimana Barra dirawat. Setelah itu dia memberitahu pada keluarganya yang sedang makan malam.


“Viera, Barra sekarang dilarikan ke rumah sakit!” ucap Xavier dan membuat semua orang terkejut.


“Apa? Kak Barra kenapa Kak? Sakit apa?” Tanya Carissa dengan raut wajah cemas.


“Aku juga belum tahu. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang.” ucap Xavier.


Xavier segera pergi ke rumah sakit dengan Carissa. Sedangkan Charles, Alex, dan istrinya segera menyusul.


Beberapa saat perjalanan akhirnya Xavier dan Carissa sudah tiba di rumah sakit. Mereka berdua segera menuju ruang perawatan Barra. Disana sudah ada Jenny dan kedua orang tuanya.


“Tante, Kak Barra sakit apa?” Tanya Carissa.


“Tante juga belum tahu karena dokter masih memeriksanya. Terima kasih ya Sayang sudah perhatian dengan Barra.” Ucap Kay.


Carissa hanya mengangguk. Dia takut terjadi sesuatu dengan Barra, padahal pernikahan mereka tinggal hitungan hari saja. Carissa baru sadar kalau sejak tadi dirinya merasa ada sesuatu yang seperti ada mengganjal di hati. Ternyata semua ini disebabkan oleh calon suaminya yang sedang sakit.


“Maaf Kak. Apakah sikapku selama ini sudah keterlaluan hingga menyebabkan kamu jadi seperti ini?" Tanya batin Carissa menyesali perbuatannya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2