Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 203


__ADS_3

Tidak masalah bagi Barra jika siang ini gagal makan siang bersama sang kekasih. Saat ini dia sungguh sangat senang saat bisa melihat wajah Carissa lagi yang sedang mengunyah makanannya sambil menundukkan kepala. Gadis yang sedang duduk tepat di hadapannya itu tampak salah tingkah karena sejak tadi Barra terus memperhatikannya. Entah kenapa Carissa bisa salah tingkah seperti itu. Padahal bukan pertama kalinya dia bertemu dengan Barra. Dan juga dia tidak ada hubungan apa-apa dengan laki-laki yang berstatus kakaknya Jenny.


“Makan tuh yang benar dong Kak. Matanya jangan jelalatan.” Ucap Jenny tiba-tiba.


“Apaan sih bawel.” Gerutu Barra.


Jenny terkikik geli karena sejak tadi dia memperhatikan kakaknya yang fokus terhadap gadis yang sedang duduk persis di hadapannya. Pantas saja sejak tadi Carissa menundukkan kepalanya, karena kakaknya terus saja memperhatikan.


Entah kenapa Jenny sangat ingin kalau Carissa menjadi kekasih kakaknya karena Jenny tidak suka dengan Astrid. Namun Jenny kecewa setelah tahu kalau bahwa Carissa kekasih dari Dhefin.


Usai makan siang, Barra kembali ke kantornya. Begitu juga dengan Jenny dan Carissa. Mereka berdua juga memutuskan untuk pergi ke butik milik Carissa. Karena mereka berdua sudah berjanji setelah makan siang akan berkunjung ke Carissa Boutique, yang tak lain milik Carissa.


***


Vito menggebrak mejanya dengan kencang setelah membaca laporan yang diberikan oleh Bram. Bram yang tadinya meminta waktu 3 hari untuk menyelidiki seseorang, kini dia bisa mendapatkan hasil lebih cepat. Vito mengeraskan rahangnya penuh amarah. Kecurigaannya selama ini akhirnya terbukti. Dia segera meminta Bram untuk memanggil Barra agar datang ke ruangannya.


“Ada apa Pa?” Tanya Barra saat baru saja duduk di kursi berhadapan dengan Papanya.


Plakkkk


Tanpa aba-aba Vito menampar pipi Barra dengan keras hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Bram yang juga berada dalam ruangan itu ikut merasa ngilu saat melihat Barra mendapat tamparan dari papanya sendiri.


“Apa maksud Papa?” Tanya Barra pelan namun tegas.


“Sudah Papa katakan kalau Papa nggak suka kamu dekat dengan karyawan bagian divisi keuangan itu. Jauhi dia. Kamu malah mentransfer uang 200 juta padanya. Keterlaluan kamu!” umpat Vito pada Barra.


“Jadi Papa menampar Barra karena Papa nggak rela kehilangan uang 200 juta?” Tanya Barra kesal.


“Bukan masalah uang yang Papa sayangkan. Papa harap kamu segera jauhi wanita ular itu.” Ucap Vito penuh amarah.


“Namanya Astrid Pa. dan dia bukan perempuan yang seperti Papa bilang. Sampai kapanpun Barra tidak akan meninggalkan Astrid. Karena Barra sangat mencintainya.” Ucap Barra.


“Cinta? Cinta apa yang mampu membuatmu buta mata hati seperti ini?”


“Barra nggak peduli.” Ucap Barra dan segera pergi meninggalkan ruangan Papanya sambil memegangi pipinya yang masih terasa panas.

__ADS_1


Vito nggak habis pikir dengan sikap anak laki-lakinya yang sudah dimanfaatkan oleh Astrid. Bukan Vito tidak ingin menunjukkan kebusukan Astrid pada Barra. Hanya saja Vito tidak mau mambahas masa lalunya dengan Barra. Vito hanya berusaha bagaimana caranya agar Barra putus dengan Astrid. Jika dia memecat Astrid itu tidak mungkin karena selama ini perempuan itu tidak pernah memiliki catatan buruk selama bekerja di perusahaan. Ditambah lagi kabar tentang kebenaran identitas Astrid masih 60%.


“Tuan tetap harus berhati-hati dengan perempuan itu. Siapa tahu dia sedang merencanakan sesuatu yang tidak kita ketahui.” Ucap Bram dan diangguki oleh Vito.


***


Barra masih marah dengan perbuatan Papanya yang telah menamparnya. Saat ini dia sedang berada di butik milik mamanya yang dikelola oleh Jenny. Setelah mendapat perlakuan tidak terpuji dari sang Papa, Barra memutuskan untuk pergi ke butik Jenny. Dia tidak peduli lagi dengan pekerjaannya.


Jenny yang tadinya sedang berada di butik Carissa, dia harus kembali ke butiknya setelah salah satu karyawan menghubunginya kalau kakaknya sedang berada disna dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Cklek


Jenny memasuki ruangannya dan disana dia melihat kakaknya sedang tiduran di atas sofa sambil menutup kepala dengan lengannya.


“Ada apa Kak?” Tanya Jenny mendekati Barra.


Barra menurunkan tangannya dan melihat ternyata adiknya sudah ada disana. Jenny terkejut melihat pipi kakaknya memar dan ada bekas darah yang sudah mongering dari sudut bibirnya. Jenny tidak banyak bertanya. Dia segera keluar dari ruangannya dan meminta salah satu karyawannya untuk mengambilkan air es yang akan dia gunakan untuk mengompres kakaknya.


“Aww… pelan dong Jen!” ucap Barra meringis kesakitan.


Selesai mengompres, kini Jenny duduk di sebelah kakaknya. Gadis itu sangat penasaran tentang apa yang sedang terjadi dengan kakaknya.


“Papa yang menamparku.” Ucap Barra tanpa ditanya terlebih dulu.


“Papa? Bagaimana bisa Kak?” Tanya Jenny.


Akhirnya Barra menceritakan kalau Papanya menamparnya karena dia ketahuan mentrnsfer uang 200 juta pada Astrid. Dan juga Papanya meminta agar menjauhi Astrid. Jenny hanya diam saja mendengarkan cerita kakaknya. Dia sebenarnya sangat terkejut saat tahu kakaknya mentrnsfer uang yang nominalnya tidak sedikit. Tapi Jenny berusaha untuk tidak bertanya karena saat ini kakaknya sedang butuh seseorang untuk diajak bicara.


Selesai menceritakan semuanya, Barra memutuskan untuk istirahat di dalam kamar yang ada di ruangan Jenny. Mungkin malam ini Barra memutuskan untuk tinggal di butik adiknya saja daripada harus pulang dan bertemu dengan Papanya. Jenny pun tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan kakaknya untuk bermalam di butik.


***


Saat ini Jenny sedang makan malam bersama kedua orang tuanya dan juga Opanya. Jenny pura-pura tidak tahu tentang apa yang telah terjadi antara kakak dan papanya.


“Tumben Barra belum pulang. Apa dia sedang lembur lagi Mas?” Tanya Kay.

__ADS_1


“Setahuku pekerjaannya sudah selesai sejak tadi.” jawab Vito datar.


Vito sebenarnya sudah tahu kalau Barra keluar kantor sesaat setelah mendapatkan tamparan darinya. Tapi Vito tidak tahu kemana perginya Barra hingga saat ini belum pulang ke rumah.


“Tapi kenapa sampai saat ini belum pulang Mas?” Tanya Kay cemas.


Jenny tampak menundukkan kepalanya. Dia tidak mau ikut campur dengan urusan sang kakak. Lebih baik diam dan pura-pura tidak tahu apa-apa.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Kay curiga karena suaminya hanya diam saja dan melihat Jenny yang menundukkan kepalanya.


“Jenny, apa kamu tahu dimana kakak kamu?” Tanya Kay.


“Ya sudah, kalian lanjutkan makan malamnya. Papa sudah selesai dan akan beristirahat.” Pamit Gio yang tidak ingin ikut campur dengan masalah anaknya.


“Aku juga sudah kenyang.” Ucap Vito dan segera pergi meninggalkan meja makan.


Kay semakin bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi antara suaminya dan Barra. Akhirnya Kay bertanya pada anak perempuannya yang kebetulan masih berada di ruaang makan.


“Jenny, katakan pada Mama. Dimana kakak kamu?” Tanya Kay.


“Ehm, itu Ma. Kak Barra nggak pulang. Dia tidur di butik.” Jawab Jenny.


“Kenapa? Ada apa sebenarnya?”


“Kak Barra tidak mau bertemu Papa untuk sementara waktu setelah Papa menamparnya.” Jawab Jenny pelan.


“Apa? Papa kamu menampar Barra?” Tanya Kay dan segera meninggalkan ruang makan untuk menyusul suaminya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


__ADS_2