Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 208


__ADS_3

Entah kenapa hari ini mood Barra benar-benar kacau. Harusnya dia senang karena kekasihnya sudah kembali ke kantor setelah beberapa hari cuti. Tapi sayangnya Barra sangat kesal dengan sikap Astrid yang seenaknya sendiri dan merasa tidak bersalah. Belum lagi ditambah tentang Carissa.


Justru nama Carissa lah saat ini yang memenuhi pikiran Barra. Kenapa setelah dia merenggut ciuman pertama perempuan itu, menjadikan Barra ingin memiliki perempuan itu seutuhnya. Padahal dia tahu kenyataan kalau Carissa adalah kekasih dari sahaatnya. Pantaskah dia merebut Carissa dari tangan Dhefin, sahabatnya dari kecil. Lalu bagaimana dengan Astrid.


Tok tok tok


“Permisi Tuan. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda.” Ucap Iqbal.


“Siapa?” Tanya Barra, karena tidak merasa punya janji dengan seseorang.


“Tuan Xavier.” Jawab Iqbal.


Akhirnya Barra meminta Iqbal untuk mempersilakan Xavier masuk. Dia juga belum tahu maksud kedatangan Xavier ke kantornya.


“Selamat Pagi Tuan Barra!” Sapa Xavier yang baru saja masuk ke ruangan Barra.


“Ck.. aku bukan tuanmu.” Barra berdecak kesal dan disambut gelak tawa oleh Xavier.


Akhirnya Xavier duduk di sofa yang ada di ruangan Barra. Xavier memberikan sebuah undangan pada Barra. Yaitu undangan ulang tahun perusahaannya sekaligus acara pertemuan dengan beberapa pengusaha yang akan diadakan minggu depan di salah satu hotel berbintang di kota J. Xavier harusnya memberikan undangan itu sejak perusahaannya resmi menjalin kerja sama dengan perusahaan Barra. Hanya saja saat itu Omnya mengatakan kalau undangannya akan diberikan pada Papa Barra. Dan saat Omnya sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota, jadi dia lupa dan akhirnya memberikannya pada Barra.


“Kamu boleh membawa kekasihmu!” ucap Xavier menggoda.


Barra hanya berdecak kesal karena tidak mungkin dirinya membawa Astrid ke acara besar seperti itu. Karena selama ini hubungannya sangat ditentang oleh kedua orang tuanya.


“Ok ok aku paham. Ya sudah kamu datang sendiri saja nggak masalah. Nanti aku akan menemani kesendirian kamu.” Goda Xavier dan mendapat lemparan bolpoint dari Barra.


Setelah memberikan undangan itu, Xavier akhirnya berpamitan untuk kembali lagi ke kantornya karena dia juga masih ada pekerjaan yang masih belum diselesaikan.

__ADS_1


Selepas kepergian Xavier, Barra melihat notif pesan dari Astrid yang mengajaknya makan siang di luar. Barra memijat pelipisnya. Entah kenapa dia masih marah dengan kekasihnya itu. Tapi Barra tetap membalas pesan Astrid dan bersedia makan siang bersamanya.


Kini waktu makan siang telah tiba. Barra keluar dari ruangannya untuk menuju parkiran mengambil mobilnya. Astrid sudah menunggu di luar kantor, tempat biasa dia menunggu Barra. Setelah Astrid masuk ke dalam mobil, Barra segera melajukan mobilnya ke tempat favorit mereka. Tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Astrid menganggap diamnya Barra mungkin sedang pusing dengan urusan pekerjaan. Sedangkan Barra masih kesal dengan perbuatan Astrid.


Barra dan Astrid kini sudah duduk bersebelahan setelah pelayan restaurant mencatat menu pesanan mereka.


“Aku kangen banget sama kamu. Nanti malam kita jalan yuk.” Ajak Astrid sambil bergelayut manja pada lengan Barra.


“Aku nggak bisa. Harus nemenin Mama di rumah.” Jawab Barra datar.


“Kan ada Jenny Bar. Manja banget sih Mama kamu. Setiap hari juga ketemu kan.” Jawab Astrid cemberut.


Barra sangat terkejut mendengar penuturan kekasihnya. Selama ini yang dia kenal Astrid adalah perempuan yang sangat sopan bertutur kata. Bahkan dia selalu mengalah atau hanya diam jika membahas tentang kedua orang tuanya yang masih belum menyetujui hubungannya. Ada apa dengan astrid sebenarnya. Semenjak beberapa hari cuti bekerja, kenapa sikapnya berubah.


“Mama habis sakit dan opname. Dia meminta aku menemaninya di rumah.” Jawab Barra berusaha tenang.


“Ck, kamu nggak kangen ya sama aku. sudah bukan prioritas kamu ya sekarang.” Astrid benar-benar kesal dengan Barra.


“Buat apa jenguk Mama kamu. Kamu tahu sendiri kan kalau kedua orang tua kamu nggak suka sama aku.” jawab Astrid.


“Setidaknya kamu juga harus ikut berusaha mengambil hati Mama dan Papa. Bukan hanya aku saja yang berjuang.” Ucap Barra.


Kemudian Astrid terdiam karena sudah tidak bisa lagi menyangga ucapan Barra. Barra pun nggak habis pikir dengan Astrid yang seolah tidak mau memperjuangkan hubungannya. Tiba-tiba saja saat mereka saling diam, ada dua orang menghampiri meja mereka.


“Wah kalian makan siang disini nggak ajak-ajak. Kita ikut gabung ya, sekalian nanti kamu bayarin Bar!” ucap Dhefin yang tiba-tiba datang dengan Carissa.


“Iya, kalian silakan duduk.” Jawab Astrid berbinar.

__ADS_1


Sementara Barra hanya diam saja tapi pandangannya tertuju pada Carissa yang sedang menundukkan kepalanya. Dhefin pun akhirnya memesan makanan untuk dirinya dan juga Carissa.


Mereka berempat menikmati makan siang dengan hening. Pandangan mata Barra sejak tadi mengawasi Carissa yang sama sekali tidak mau melihatnya. Barra ingat dengan kata-kata Carissa kemarin “Ada hati yang harus aku jaga”. Entah kenapa Barra masih memikirkan itu. Sebesar itukah cinta Carissa pada sahabatnya.


Sedangkan Astrid sejak tadi diam-diam meperhatikan Barra yang tidak fokus dengan makanannya. Tapi fokus dengan perempuan yag sedang duduk tepat di depan Barra sambil menundukkan kepalanya. Astrid curiga. akankah Barra tega menghianatinya. Perempuan itu menggelangkan kepalanya pelan berharap semua itu tidak akan terjadi.


Selesai makan siang, mereka berempat kembali ke tempatnya masing-masing. Dhefin akan mengantar Carissa kembali ke butiknya. Sedangkan Barra bersama Astrid kembali ke kantor.


“Bar, apa kamu masih mencintaiku?” Tanya Astrid tiba-tiba saat sedang dalam perjalanan kembali ke kantor.


“Bukan masalah masih cinta atau tidak. Aku mohon kita bisa berjuang bersama-sama untuk mendapatkan restu kedua orang tuaku.” Jawab Barra.


“Bagaimana kalau kita kawin lari saja?” Tanya Astrid.


“Kamu jangan konyol. Bahkan kamu belum berjuang tapi sudah menyerah saja. Tolong lah kamu mengerti. Kamu tahu, penyebab Mama masuk rumah sakit itu karena meminta aku memutuskan hubunganku dengan kamu?” ucap Barra karena sudah tidak tahan lagi.


Astrid sungguh terkejut mendengar perkataan Barra. Haruskah Barra mengatakan semuanya pada dirinya tanpa melihat perasaannya yang saat ini begitu terluka. Memang dirinya tahu kalau kedua orang tua Barra tidak suka tapi tidak seharusnya Barra berbicara seperti itu.


Mobil yang dikendarai Barra sudah sampai basement. Astrid segera membuka seatbeltnya dan bergegas keluar dari mobil Barra tanpa mengucapkan sesuatu. Barra mengacak rambutnya frustasi menyadari akan kesalahannya yang terlalu menyudutkan Astrid.


“Arghhhhhh bodoh bodoh bodoh!!! Harusnya aku nggak berkata seperti itu. Maafkan aku.” gumam Barra seorang diri.


Setelah itu Barra keluar dari mobilnya melangkah menuju ruangannya. Mungkin nanti saat pulang kantor dia akan meminta maaf pada Astrid.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2