Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 218


__ADS_3

Beberapa minggu setelah perlakuan hangat Barra pada Carissa setelah menghadiri acara festival itu, kini keduanya sudah tidak pernah bertemu lagi. Itu semua karena pekerjaan Barra yang begitu padat. Terlebih kerja samanya dengan Xavier yang terkadang harus membuatnya melakukan peninjauan proyek secara langsung di luar kota. Jadi selama itu Barra seolah mengesampingkan perasaannya terhadap Carissa.


Sedangkan hubungan Carissa dengan Dhefin pun berjalan seperti biasanya. Terkadang mereka berdua menghabiskan waktunya di saat malam setelah Dhefin pulang dari kantor.


Dhefin hampir tidak pernah mengajak Carissa jalan di saat weekend, dengan alasan waktu weekend ia gunakan untuk Papanya. Carissa saja yang tidak tahu kalau sebenarnya waktu weekend Dhefin digunakan untuk bersenang-senang dengan wanita lain.


Sementara itu Carissa merasa ada yang berbeda dengan hatinya. Jika dulu saat diajak Dhefin keluar walau hanya makan, sudah membuat Carissa sangat senang. Namun kali ini beda. Dia merasa biasa saja bahkan sudah tidak ada kesan istimewa jika pergi dengan Dhefin yang berstatus sebagai kekasihnya.


Justru Carissa merasa sangat galau akhir-akhir ini karena tidak pernah bertemu lagi dengan Barra. Bahkan dirinya sampai mendatangi butik Jenny siapa tahu tidak sengaja bertemu dengan Barra namun kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasinya. Barra tidak ada disana.


Carissa jadi teringat dengan perempuan yang dulu pernah ia temui saat sedang bersama Barra. Mungkinkah mereka berdua sudah berpacaran.


“Argghh kenapa juga sih aku memikirkan Kak Barra terus. Nggak. Ini salah. Bagaimana dengan Mas Dhefin jika tahu aku sedang memikirkan laki-laki lain.” Gumam Carissa merutuki kebodohannya.


“Sayang!” panggil Dhefin yang baru saja masuk ke ruangan Carissa.


“Mas? Sejak kapan Mas datang?” Tanya Carissa bingung. Dia khawatir kalau Dhefin mendengar gumamannya baru saja.


“Baru saja. Kenapa hem? Apa kamu terkejut dengan kedatanganku?” Tanya Dhefin.


“Iya. Mas kayak hantu saja tiba-tiba muncul tanpa mengetuk pintu.” Jawab Carissa pura-pura cemberut.


Hal itu membuat Dhefin semakin gemas dengan kekasihnya. Rasanya Dhefin sudah tidak tahan lagi untuk segera menikahi Carissa. Namun Carissa masih belum siap. Jadi apa boleh buat.


“Sayang, minggu depan ikut aku ke acara reuni dengan teman-teman kuliahku ya!” ajak Dhefin.


“Nggak ah mas. Nanti aku dicuekin disana.” Jawab Carissa.


“Nggak lah. Justru aku ngajak kamu biar nanti aku ada temannya. Pasti teman-temanku semua juga bawa kekasihnya atau bahkan sudah ada yang berkeluarga. Jadi, mau temani aku?” pinta Dhefin.

__ADS_1


“Ya udah iya.” Jawab Carissa.


***


Sementara itu sejak beberapa hari terakhir ini Astrid merasakan tubuhnya begitu lemas. Sampai saat ini dirinya belum juga mendapatkan pekerjaan. Ditambah dengan kondisi tubuhnya yang lemah membuat semangatnya untuk mencari pekerjaan jadi menurun.


Mamanya juga terus mengomel karena uangnya semakin menipis. Astrid bingung harus dapat uang dari mana. Walau sebenarnya Dhefin juga terkadang memberikannya uang, namun tetap saja Mamanya merasa masih kurang.


Tiba-tiba saja perut Astrid bergejolak saat dia baru saja bangun tidur. Dengan cepat dia berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Huekk huekk hueekk


Tubuh Astrid melemas setelah memuntahkan seluruh isi perutnya. Entah apa yang dia makan semalam hingga membuatnya seperti ini. dan saat dia membersihkan mulutnya, Astrid teringat kalau bulan ini dia belum mendapati tamu bulannya.


“Astaga!! Nggak mungkin. Nggak mungkin aku hamil” Gumam Astrid sambil menggelengkan kepalanya.


Astrid teringat selama beberapa kali berhubungan dengan Dhefin memang tidak pernah memakai pengaman. Dirinya sengaja tidak memakai pengaman karena tiap saat berhubungan dengan Dhefin bertepatan dengan masa tidak suburnya. Lagipula Dhefin juga tidak suka jika harus memakai pengaman. Dia juga sering membuang hasil percintaannya di luar agar tidak menyebabkan Astrid hamil.


“Tidak! Ini tidak boleh terjadi.” Gumam Astrid.


Karena sangat cemas, akhirnya Astrid memutuskan untuk keluar rumah membeli alat tes kehamilan. Dia hanya ingin memastikan saja kalau dirinya tidak hamil.


“Mau kemana kamu?” Tanya Melly yang sedang duduk di ruang tamu sekaligus ruang keluarga.


“Elvin mau beli obat Ma. Lagi ngga enak badan.” Jawab Astrid dan segera keluar rumah.


Setelah membeli beberapa alat tes kehamilan, kini Astrid sudah berada di dalam kamar mandi. wanita itu sudah mencoba 5 alat tes kehamilan dengan beda merk namun hasilnya tetap sama yaitu menunjukkan dua garis merah.


“Bagaimana ini. aku hamil. Mama pasti sangat marah jika tahu aku hamil.” Gumam Astrid kebingungan.

__ADS_1


Astrid memikirkan cara bagaimana agar ada yang bertanggung jawab dengan kehamilannya ini. saat ini hanya ada nama Barra yang ada dalam benaknya. Dia harus bertemu dengan Barra dan meminta balikan lagi dengan laki-laki itu. Entah bagaimana caranya. Dan untuk saat ini Astrid tidak ingin memberitahu pada Dhefin jika dirinya tengah mengandung anaknya.


Saat ini Astrid sedang berada di salah satu restaurant tempat biasanya dulu dia makan siang bersama Barra. Astrid berharap akan bertemu dengan Barra. Setelah memesan minumannya, Astrid masih melihat beberapa pengunjung restaurant. Dan sepertinya dewi fortuna sedang berpihak padanya. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang baru saja selesai bertemu dengan salah satu kliennya. Astrid tersenyum tipis kemudian beranjak dari duduknya.


“Barra!” panggil Astrid dengan suara lirih.


Barra yang tengah menikmati makan siangnya seorang diri sungguh terkejut saat mendapati orang masa lalunya berdiri di hadapannya. Namun Barra masih bergeming saat Astrid memanggilnya.


“Bar, maafkan aku!” Ucap Astrid.


Astrid langsung duduk di hadapan Barra. Dia memasang wajah sendu penuh penyesalan untuk menarik perhatian Barra.


“Bar, aku mohon maafkan aku. aku sangat menyesali semua perbuatanku.” Ucap Astrid.


“Sudahlah! Nggak perlu dibahas lagi. Aku sudah melupakan semuanya.” Jawab Barra dan membuat Astri menynggingkan senyumnya.


“Terima kasih Bar. Jadi apakah kita bisa memulai hubungan kita dari awal Bar? Aku janji akan berubah.” Ucap Astrid.


“Kalau untuk yang ini, mungkin hanya ada dalam mimpi kamu.” Ucap Barra tegas dan membuat Astrid terkejut.


“Aku memang sudah melupakan semuanya. Karena bagiku, sekali penghianat tetaplah penghianat. Lebih baik kamu tinggalkan tempat ini sekarang juga selagi aku masih memiliki kesabaran.” Lanjut Barra.


Seketika nyali Astrid menciut. Namun di sisi lain dia sangat marah dan tidak terima dengan ucapan Barra. Astrid segera berdiri dan meninggalkan Barra tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Dia sudah bertekat jika tidak bisa mendapatkan Barra lagi dengan cara seperti ini, terpaksa dia harus menggunakan cara lain meskipun itu cara yang kotor. Dan terbitlah sebuah senyuman yang tidak bisa diartikan keluar dari bibir Astrid.


.


.

__ADS_1


.


*TBC


__ADS_2