
“Anak saya sakit apa dok?” Tanya Kay saat dokter keluar daru ruangan IGD.
“Tuan Barra butuh istirahat yang cukup dan pola maknnya harus dijaga. Karena beliau sedang terkena Typus. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat inap.” Ucap dokter.
Kini semua orang mengikuti beberapa orang perawat yang sedang memindahkan brankar Barra menuju ruang rawat inap.
Carissa melihat wajah calon suaminya yang masih setia menutup mata dan keadaannya pucat, membuat hatinya dihinggapi rasa bersalah yang begitu besar.
Carissa memilih duduk di luar dan membiarkan keluarga Barra dulu yang melihat kondisinya. Dia akan masuk nanti jika semua orang sudah keluar. Xavier, saudara kembarnya yang melihat adiknya sedih seakan tahu apa yang dirasakannya.
“Kamu yang sabar ya! Doakan saja agar Barra cepat pulih.” Ucap Xavier dan diangguki oleh Carissa.
Kedua orang tua Barra dan juga Jenny kini sedang berada di dalam ruang rawat Barra. Dan Barra baru saja membuka matanya. laki-laki itu melihat sekeliling dan merasa berada di tempat yang menurutnya asing.
“Barra ada dimana Ma?” tanyanya.
“Kamu sedang di rumah sakit Sayang. Dokter mendiagnosa kamu kena Typus. Kamu harus banyak istirahat.” Jawab Kay.
Barra mengingat memang akhir-akhir ini dirinya sangat sibuk dan pola makannya juga tidak teratur. Terakhir saat setelah mandi dia merasakan kepalanya begitu pusing dan berkunang-kunang. Hingga akhirnya pandangannya gelap dan tidak ingat apa-apa lagi.
Barra melihat kedua orang tuanya dan juga Jenny ada di ruangan itu. Dia sedikit kecewa karena tak mendapati sosok yang sangat dia cintai. Apakah kesalahannya terlalu besar hingga membuat Carissa tidak mau menemuinya.
“Carissa dan keluarganya masih nunggu di luar. Biar dipanggilkan Jenny.” Ucap Kay yang seolah mengerti perasaan anaknya.
Setelah Jenny memanggil keluarga Carissa yang terdiri Carissa, Xavier, Charles, Alex dan istrinya, kini ruangan VVIP itu terlihat cukup ramai. Beberapa memilih duduk di sofa tunggu dan beberapa mendekati brankar Barra.
“Calon pengantin ko’ tepar gini sih!” seloroh Alex menggoda calon keponakannya.
“Kata dokter kamu harus banyak beristirahat, sedangkan pernikahan kalian tinggal 3 hari lagi. Apa sebaiknya kita undur dulu?” Tanya Charles ikut menimpali.
“Nggak usah Om. Barra sudah sehat kok” jawab Barra cepat.
__ADS_1
“Duh yang udah nggak sabar nih!” celetuk Xavier dan membuat muka Barra dan Carissa memerah.
Lagipula undangan sudah disebar dan Barra juga tidak perlu berlama-lama untuk istirahat. Baginya 2 hari sudah cukup untuk memulihkan keadaannya. Dokter juga pasti akan memberikan obat yang terbaik.
Kini tinggallah Carissa saja yang berdiri di samping brankar Barra. Perempuan itu masih tertunduk sedih melihat kondisi calon suaminya. Barra yang melihat Carissa hanya diam dan menunduk pun bingung harus berketa apa.
“Terima kasih sudah mau menjenguk.” Ucap Barra memecah keheningan.
“Iya. Semoga Kak Barra lekas sembuh. Dan maafkan aku.” ucap Carissa.
“Maaf soal apa?” Tanya Barra bingung.
“Gara-gara aku, Kak Barra jadi seperti ini.” jawab Carissa.
“Hei bukan seperti itu. Ini murni karena aku yang kelelahan bekerja.” Jawab Barra sambil mengusap lembut lengan Carissa.
Barra yang melihat tidak ada penolakan dari Carissa saat dirinya mengusap lembut tangannya, merasa sangat senang dan badannya terasa sehat. Ditambah lagi Carissa yang sangat mengkhawatirkan kedaannya.
Setelah itu keluarga Carissa memutuskan untuk pulang. Mereka juga tak lupa mendoakan kesembuhan buat Barra. Carissa sebenarnya ingin sekali tetap berada di rumah sakit menunggu Barra, namun sayangnya sang Papa mengajaknya pulang agar bisa istirahat. Lagi pula Carissa juga masih merasakan canggung jika harus berduaan dengan calon suaminya. Hati Carissa sepertinya sudah bisa memaafkan Barra, namun dirinya masih bingung bagaimana cara mengungkapkannya.
***
Carissa yang sejak tadi mondar-mandir di kamarnya bingung sendiri bagaimana cara mengetahui keadaan calon suaminya. Mau menghubunginya langsung, masih ada rasa gengsi. Namun sejak tadi ponselnya tak lepas dari genggamannya dan nama Barra tertera untuk siap melakukan panggilannya. Karena tidak sengaja akhirnya jari Carissa menyentuh layar icon berwarna hijau itu. Carissa bingung mau memutuskan tapi tidak mungkin karena panggilan itu sudah tersambung. Perlahan Carissa mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
“Halo!” ucap suara perempuan di seberang sana.
“Ha. . .lo!” jawab Carissa terbata.
“Ada apa Kak? Kak Barra masih ke kamar mandi.” ucap Jenny.
“Oh, nggak apa-apa. Ya sudah kalau gitu.” Jawab Kay dan segera memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Jenny melihat panggilannya langsung ditutup oleh Carissa menjadi bingung. Setelah itu Barra keluar dari kamar mandi dan Jenny mengatakan bahwa Carissa baru saja meneleponnya. Barra pun juga tak kalah terkejut mendengar penjelasan Jenny. Namun sudut bibirnya tertarik ke atas, ada rasa hangat menyeruak di dalam relung hatinya. Mungkinkah Carissa sudah bisa menerimanya dan memaafkannya.
Akhirnya Barra memilih untuk menghubungi balik Carissa. Mungkin calon istrinya ingin tahu keadaannya. Namun sayangnya hingga panggilan ke 3 kali, Carissa tak juga menerima panggilan itu. Barra hanya bisa menghela nafas panjang.
***
The Wedding
Pernikahan Barra dan Carissa digelar di salah satu hotel berbintang terkenal di kota J. pernikahan itu digelar sangat mewah, mengingat keduanya adalah anak dari dari pengusaha sukses terkenal.
Pasangan Barra dan Carissa menjadi pasangan yang sangat sempurna malam ini. Semua tamu undangan juga sangat terpukau dengan kecantikan dan ketampanan mempelai pengantin.
Setelah satu kalimat sakral “Sah” terlontar, semua keluarga besar dan juga tamu undangan ikut merasakan kebahagiaan itu. Carissa dan Barra tampak gugup saat keduanya saling menyemakan cincin pernikahan mereka di jari manis masing-masing. Terlebih saat Barra mengecup kening Carissa, perempuan yang sudah berubah status menjadi seorang istri itu semakin gugup kala merasakan hangatnya bibir suaminya menempel di keningnya dengan durasi cukup lama.
Sementara itu di luar hotel tempat acara berlangsungnya pernikahan, ada seorang perempuan yang tampak sangat kesal karena tidak bisa masuk ke dalam ballroom hotel. Astrid tidak menyangka kalau dirinya akan kesulitan masuk ke ballroom untuk mengacaukan pernikahan Barra dan Carissa.
Penjagaan di luar hotel ternyata sangat ketat. Bahkan semua penjaga disana sudah mengantongi foto dirinya dan juga mamanya agar tidak sampai masuk ke ballroom hotel.
Ternyata keluarga Barra sudah bertindak cepat sebelum hal buruk terjadi pada pernikahan Barra dan Carissa.
Astrid yang tengah berada di luar kota terpaksa harus pulang dan menuruti kemauan mamanya harus berakhir seperti ini. rencananya gagal. Mamanya yang sudah mengetahui kehamilannya, justru meminta Astrid agar dijadikan senjata, walau saat itu Astrid tidak yakin.
“Ma, El nggak bisa masuk. Penjagaannya sangat ketat.” Ucap Astrid melalui panggilan telepon.
“…..”
Astrid menutup panggilannya setelah mendengar amukan dari mamanya.
.
.
__ADS_1
.
*TBC