
Setelah membantu Mamanya menyiapkan bekal untuk dibawa ke kantor Barra, Carissa memutuskan untuk masuk ke kamar mengganti pakaiannya. Sementara sepasang suami istri yang masih duduk santai di ruang makan saling lirik setelah melihat anak perempuannya masuk kamar.
“Apa kamu yakin kalau rencana ini akan berhasil?” Tanya Charles.
“Aku yakin Mas. Meski aku belum berbicara dengan Viera dari hati ke hati tentang traumanya, setidaknya ini adalah permulaan aku melakukan terapi dengannya. Yaitu selalu mendorong Viera agar selalu dekat dengan suaminya.” Jawab Alana.
“Ya sudah, aku serahkan semuanya pada kamu.” Ucap Charles akhirnya.
Carissa dalam kamar masih kebingungan memilih pakaian apa yang akan dikenakan untuk datang ke kantor suaminya. Dia juga sangat gugup seperti seseorang yang baru pertama kali kencan. Padahal yang akan dia temui adalah suaminya sendiri, bahkan tinggal seatap.
Akhirnya Carissa mengambil asal satu stel baju yang menurutnya sesuai. Dan setelah itu dia turun ke bawah kemudian segera pergi.
“Ma, Pa Viera berangkat dulu.” Pamit Carissa sambil mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim.
Sementara itu saat ini Barra dan Iqbal baru saja menyelesaikan meeting dengan kliennya di salah satu restaurant yang tidak jauh dari kantornya. Sebenarnya Barra dan Iqbal sekalian akan makan siang dengan kliennya tersebut, namun ternyata kliennya buru-buru dan tidak bisa ikut makan siang bersama. Alhasil Barra hanya makan berdua dengan Iqbal.
Karena meeting Barra kali ini tidak di ruangan terbuka, jadi siapa saja bisa melihat keberadaannya saat ini.
“Kak! Wah kebetulan sekali nih perutku lapar.” Ucap seorang gadis yang tiba-tiba menghampiri tempat duduk Barra dan Iqbal.
“Ngapain kamu disini?” Tanya Barra sambil menyipitkan matanya.
“Oh, aku tadi habis meeting juga dengan klienku Kak. Katanya mau pesan baju pengantin tapi ditunggu sejak tadi nggak datang-datang. Terus aku lihat Kak Barra disini deh.” Jawab Jenny sambil cengengesan.
Sedangkan Iqbal hanya diam saja tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh adik bosnya itu. Begitu juga dengan Jenny, dia melirik malas pada Iqbal si wajah kaku.
Barra pun tidak keberatan jika Jenny juga ikut bergabung makan siang. Karena kliennya tadi juga buru-buru pulang. Namun tiba-tiba Iqbal mendapat panngilan telepon dari sekretaris Barra yang mengatakan bahwa saat ini Carissa sedang berada di kantor.
“Apa? Carissa ke kantor? ada apa?” Tanya Barra terkejut.
“Saya nggak tahu Tuan. Kata Bu Diana tadi Nona Carissa sepertinya membawa bekal makanan.” Jawab Iqbal.
Tanpa banyak bicara, Barra segera beranjak dari duduknya dan segera kembali ke kantornya.
“Tuan mau kemana?” Tanya Iqbal.
__ADS_1
“Ah iya. Lebih kamu dan Jenny saja yang makan siang disini. Dan sekalian nanti antar Jenny kembali ke butiknya. Aku akan naik taksi saja ke kantor.” jawab Barra singkat.
Jarak restaurant dan kantor Barra dekat, jadi Barra hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit untuk tiba di kantor.
Sesampainya di kantor, Barra berjalan tergesa-gesa menuju lift agar segera sampai di ruangannya. Dalam hati Barra sangat senang sekali saat tahu istrinya membawakan bekal makan siang untuknya. Mimpi apa dia semalam hingga sejak pagi sampai siang ini mendapatkan perlakuan manis dari sang istri. Ah Barra lupa kalau sebelumnya istrinya sudah berjanji akan belajar menjadi istri yang baik keculai satu itu.
Cklek
Barra membuka pintu ruangannya dan matanya mencari sosok yang membawakan bekal makan siang. Di meja sudah ada bekal makanan namun tidak ada orangnya. Barra berubah kecewa. Apakah Carissa langsung pulang. Atau kelamaan menunggu hingga memilih untuk pulang.
Barra akhirnya keluar dan menanyakan pada sekretarisnya tentang dimana keberadaan Carissa. Namun saat akan membuka pintu, pintu itu juga ada yang membukanya.
“Kak Barra!”
“Carissa!”
Ucapnya bersamaan. Keduanya sama-sama gugup saat pandangan matanya saling mengunci. Namun Barra berusaha tetap tenang untuk menutupi kegugupannya.
“Ehm, dari mana? Aku kira kamu pulang.” Tanya Barra.
“Loh kenapa ko’ pakai toilet di luar nggak di dalam saja?” Tanya Barra.
“Nggak Kak, aku masih belum terbiasa saja. Ini juga baru pertama kalinya masuk ke ruang kerja Kak Barra.” Jawab Carissa sambil menundukkan kepalanya.
Setelah itu Barra segera mngajak istrinya untuk masuk dan duduk di sofa yang sudah ada bekal makanan. Carissa pun membuka bekal makanan itu kemudian menyiapkan untuk suami dan juga dirinya sendiri. Barra tersenyum bahagia melihat istrinya yang menyiapkan makan siang.
“Terima kasih.” Ucap Barra.
“Oh, itu tadi Mama yang menyuruhku membawakan bekal makan siang buat Kak Barra.” Jawab Carissa.
Senyum Barra perlahan pudar kala mendengar jawaban istrinya. Ternyata Carissa membawakan bekal makan siang bukan karena keinginannya sendiri melainkan keinginan sang Mama. Sementara itu Carissa yang melihat ekspresi datar suaminya, mencoba berpikir kembali tentang ucapannya baru saja. Carissa menyadari kebodohannya saat mengatakan kalau mamanya yang menyuruhnya membawakan makan siang. Pantas saja suaminya berubah datar seperti itu.
“Ehm silakan dimakan Kak. Ini tadi Mama memang yang menyruhku. Karena aku masih belum bisa memasak seenak masakan Mama. Aku takut jika aku membawakan bekal untuk Kak Barra jika masakanku tidak enak. Dan setelah ini aku akan belajar memasak sama Mama.” Ucap Carissa berusaha mengembalikan mood suaminya.
Memang Carissa akui kalau masakan mamanya sangat enak. Dirinya juga bisa masak namun belum percaya diri untuk rasanya. Kecuali membuat kue. Sedangkan Barra yang mendengar alasan Carissa yang menurutnya masuk akal, akhirnya dia tersenyum mengangguk.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Apapun yang kamu masak pasti aku makan. Jika tidak keberatan setiap hari aku juga mau dibawakan bekal seperti ini. asal masakan kamu sendiri.” Jawab Barra dan seketika membuat wajah Carissa merona malu.
Akhirnya mereka berdua menikmati makan siang pertama mereka dengan status baru yaitu suami istri. Keduanya saling diam. Mengunyanh makanan namun hatinya sama-sama berbunga-bunga.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Tampak seorang perempuan dan laki-laki juga sedang makan siang di sebuah restaurant. Ya, dia adalah Iqbal dan Jenny. Jenny tampak cemberut setelah melihat pesanan makan siangnya begitu banyak. Karena sang kakak memilih untuk makan siang dengan istrinya. Tidak hanya itu, Jenny juga sangat kesal dengan kata-kata pedas dari asisten kakaknya.
“Banyak banget nih Kak makanannya!” ucap Jenny saat pelayan membawa nampan yang berisi makanan.
“Ya udah makan aja. Sekalian jatah makan kakak kamu, kamu habiskan juga.” ucap Iqbal datar.
“Nggak mau ah. Nanti aku gemuk. Kak Iqbal saja yang habisin.” Tolak Jenny.
“Badan kurus gitu takut gemuk. Dasar cewek!” gerutu Iqbal dan masih bisa didengar oleh Jenny.
Sampai makan siangnya selesai pun Jenny masih geram dengan laki-laki kaku di depannya. Jenny hanya menghabiskan sesuai porsinya saja. Dia tidak peduli dengan jatah makan kakaknya. Begitu juga dengan Iqbal yang tampak acuh.
“Mbak tolong makanan yang masih utuh ini dibungkus saja.” Ucap Iqbal pada salah satu pelayan.
Jenny hanya diam saja melihat tindakan Iqbal yang meminta pelayan untuk membungkus makanan yang masih utuh itu. Setelah selesai, mereka berdua segera kembali ke tempat kerja masing-masing. Sesuai dengan perintah Barra, Iqbal akan mengantar Jenny kembali ke butiknya.
Saat di parkiran, Jenny dibuat terperangah dengan perbuatan Iqbal. Ternyata makanan yang dibungkus tadi diberikan pada tukang parkir oleh Iqbal.
“Ternyata, meski sikapnya kaku tapi hatinya sangat peduli.” Puji Jenny dalam hati.
.
.
.
*TBC
Untuk beberapa bab ke depan masih bahas ttg pdkt Barra dan Carissa ya. othor belum mood munculin konfliknya. trus kisah Jenny hanya selingan saja biar ga bosan.
happy reading!! jangan lupa like, komen, dan votenya.
__ADS_1
terima kasih🤗😘😘😘