Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 212


__ADS_3

Sejak tadi Kay tak henti-hentinya menangis karena sampai malam ini, Barra belum juga keluar dari kamarnya yang terkunci. Kay sudah berusaha mengetuk-ngetuk pintu anak sulungnya namun nihil. Pintu itu tidak juga terbuka. Vito juga berusaha menenangkan istrinya, namun Kay tetap merasa khawatir tentang keadaan Barra di dalam kamarnya.


“Sudahlah Sayang, aku sangat yakin kalau Barra tidak berbuat apa-apa di dalam kamarnya. Dia hanya butuh waktu sendiri. Ayo makan dulu! Barra akan sangat khawatir jika melihat kamu sakit lagi.” Ucap Vito.


Kay membenarkan ucapan sang suami. Dia sangat yakin kalau Barra adalah laki-laki yang kuat. Saat ini mungkin anaknya sedang membutuhkan waktu sendiri setelah mengetahui kenyataan pahit dalam hubungannya dengan sang mantan kekasih. Akhirnya Kay mau menuruti keinginan Vito untuk melakukan makan malam yang sempat tertunda.


Sementara itu Barra di dalam kamarnya sedang tertidur pulas di bawah selimut tebal yang menutupi seluruh tubunhnya. Dia selalu seperti itu jika sedang menghadapi masalahnya selama ini, tanpa sepengetahuan orang termasuk kedua orang tuanya.


Setelah tindakan penyerangannya terhadap mantan sahabatnya, Barra tadi langsung masuk ke kamarnya dan mengunci rapat pintunya. Yang dilakukan Barra setelah itu adalah mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin di bawah shower. Bagi Barra, kegiatan itu dia lakukan untuk mendinginkan otaknya setelah kejadian mengejutkan yang dia lihat dan dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Yaitu perselingkuhan antara kekasihnya dengan sahabat baiknya.


Setelah merasa sedikit tenang, Barra mengakhiri mandinya. Setelah itu dia meraih handuk untuk mengeringkan rambut basahnya. Dengan hanya memakai celana boxer, Barra memutuskan untuk tidur. Karena dia merasa sangat lelah.


Pukul 11 malam Barra terbangun dari tidur panjangnya karena merasa perutnya keroncongan. Dia mengambil kaos oblong di lemarinya, setelah itu turun ke lantai bawah untuk makan malam.


Barra melihat keadaan rumah sudah sangat sepi. Dia sangat yakin kalau semua penghuni rumah sudah beristirahat di kamar masing-masing. Perlahan Barra menyalakan lampu ruang makan. Dia duduk dan membuka tudung saji yang ternyata masih banyak makanan.


“Biar Mama hangatin dulu sayurnya!” ucap Kay tiba-tiba sudah ada di ruang makan.


“Mama? Kok belum tidur?” Tanya Barra heran.


“Kebetulan Mama terbangun. Karena haus. Ya sudah, tunggu sebentar ya, Mama hangatin dulu sayurnya.” Ucap Kay dan segera mengambil sayur yang ada di meja makan untuk dihangatkan sebentar.


Barra duduk sambil memperhatikan mamanya yang sedang sibuk menghangatkan makanannya. Dia tahu kalau mamanya berbohong, tidak benar-benar haus. Barra sangat yakin kalau mamanya sangat mengkhawatirkan keadaannya.


Kay sudah selesai menghangatkan sayur untuk makan malam Barra. Bahkan Kay juga mengambilkan nasi ke piring Barra. Sedangkan Barra hanya diam saja, kemudian memakan makanannya.


Kay masih duduk di ruang makan menunggu Barra yang tengah makan. Kay melihat wajah putra sulungnya tidak seperti saat tadi sore. Sekarang sudah terlihat lebih tenang. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh suaminya, kalau Barra tadi memang sedang membutuhkan waktu sendiri.


“Maaf Ma!” ucap Barra setelah menyelesaikan makannya.

__ADS_1


“Maaf untuk apa?’ Tanya Kay bingung.


“Maaf karena Barra tidak mendengarkan Mama. Maafin Barra Ma!” ucap Barra sambil menundukkan kepalanya.


Kay yang tidak tega melihat putranya merasa bersalah, akhirnya dia mendekati putranya dan memeluknya. Kay dapat merasakan kalau saat ini Barra benar-benar rapuh. Bagimana tidak. Barra menjalin hubungan dengan Astrid selama kurang lebih 3 tahun, tiba-tiba saja harus mendapat kenyataan pahit kalau kekasihnya telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Sebenarnya Kay sangat senang kalau Barra putus dengan Astrid. Tapi dia tetap tidak tega melihat putanya terlihat rapuh seperti saat ini.


“Barra bodoh Ma. Barra telah dibutakan oleh cinta. Maafkan kesalahan Barra selama ini Ma.” Ucapnya di dalam dekapan sang Mama.


“Sudah, nggak perlu disesali lagi. Masa depan kamu masih panjang. Lupakan dia. Anggap semua ini sebagai pembelajaran buat kamu untuk melangkah ke depan.” Ucap Kay menasehati.


***


Sementara itu, sejak kejadian tadi siang. Lebih tepatnya sejak aksinya dengan Astrid diketahui oleh Barra. Dhefin memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Dengan keadaan muka yang babak belur seperti saat ini tidak mungkin jika dia pulang ke rumahnya. Yang ada Papanya akan mencurigainya.


Akhirnya Dhefin memilih untuk bemalam di apartemen yang jarang sekali dia singgahi. Karena memang apartemen itu dia beli hanya untuk melakukan kegiatan panasnya dengan Astrid.


Sejak tadi Carissa juga menghubunginya, namun Dhefin sama sekali tidak mempedulikan kekasihnya. Karena dia merasakan sangat pusing kepalanya, terlebih luka di wajahnya yang sangat nyeri. Tidak ada orang yang mengobatinya. Dhefin pun membiarkannya saja.


Jujur saja Dhefin masih shock sekaligus bingung. Shock karena rencana balas dendamnya diketahui oleh Barra, bahkan perbuatannya dengan Astrid juga diketahui oleh Barra. Dhefin juga bingung, apa yang harus dia lakukan setelah ini. termasuk menghadapi Papanya. Dia sangat yakin kalau Om Vito akan mengadukan semua ini pada papanya.


Sedengkan Astrid memilih pulang ke rumah kontrakan Mamanya setelah kejadian tadi sore. Niat Astrid ingin menceritakan semua masalahnya kepada sang Mama agar beban di hatinya sedikit berkurang, justru mendapat makian dari sang Mama.


Melly sangat marah pada Astrid yang menurutnya sangat ceroboh. Langkahnya semakin dekat untuk menghancurkan keluarga mantan sahabatnya kini telah hancur begitu saja karena kecerobohan yang dilakukan oleh anaknya.


“Mama nggak mau tahu. Kamu harus cari cara bagaimana membuat keluarga Kay hancur. Biar dia bisa merasakan penderitaan Mama selama mendekam di penjara.” Ucap Melly penuh intimidasi.


“Iya, Ma.” Jawab Astrid pelan sambil menundukkan kepalanya.


***

__ADS_1


Pagi ini Barra memilih untuk tidak berangkat ke kantor dulu. Sebenarnya dia tidak perlu seperti ini, namun Mamanya lah yang menginginkan agar dirinya beristirahat dulu di rumah.


Tadi pagi setelah sarapan, Barra menghampiri Papanya di ruang kerjanya. Dia meminta maaf pada Papanya karena selama ini tidak pernah mendengarkan ucapannya tentang Astrid. Vito pun merasa lega kalau akhirnya anaknya sudah sadar dengan perbuatan perempuan ular itu. Vito juga menceritakan tentang siapa Astrid sebenarnya. Barra diminta oleh Papanya untuk diam saja dan tidak bertindak gegabah. Sedangkan dengan Dhefin, Vito akan meluruskan masalah ini dengan Rey. Barra pun mengangguk menuruti Papanya.


Saat ini Barra sedang menemani mamanya bersantai di ruang tengah. Sedangkan Jenny sudah berangkat ke butik bersamaan dengan papanya. Barra terlihat sangat bosan sekali di rumah tanpa mengerjakan sesuatu. Lagian mamanya juga ngapain memintanya di rumah saja. Lebih baik dibuat untuk bekerja agar bisa melupakan masalahnya. Daripada harus duduk diam seperti ini.


Ting tong


Tiba-tiba saja terdengar bel rumah yang menandakan ada tamu. Barra pun masih tidak peduli siapa yang sedang bertamu. Dia masih asyik memainkan gadgetnya.


“Bar, bukain pintunya dong. Mama sedang sibuk nih. Kelihatannya bibi juga sedang di belakang.” Perintah Kay.


Dengan malas, akhirnya Barra berdiri dan membukakan pintu untuk orang yang sedang bertamu pagi-pagi seperti ini. Barra membuka pintu dan tepat di hadapannya ada sosok perempuan yang sedang berdiri, dengan menampilkan senyum manis di bibirnya.


“Ehm, Carissa!”


“Kak Barra!”


Ucapnya bersamaan dengan suara yang sama gugupnya.


.


.


.


*TBC


Siap² ya kita lihat perjuangan Barra mendapatkan Carissa. Kira² bakal berjalan mulus tanpa hambatan atau justru semakin memusingkan reader ya?🤔😂😂😂✌️

__ADS_1


Jangan pernah bosan untuk terus ikutin cerita ini ya guys🤗😘😘


__ADS_2