Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
Eps 24 Keputusan


__ADS_3

“akhirnya kamu akan menjemput kebahagiaan yang selama ini kamu nantikan” ucap Delia lirih saat sedang duduk menyendiri di balkon kamarnya sambil memegang sebuah undangan pernikahan dari sahabatnya.


Dia menengadahkan kepalanya agar aliran bening di matanya tidak mengalir keluar.


“tak terasa ya Vi persahabatn kita akan berjarak. Atau bahkan putus. Tak apalah asal kamu bahagia dengan pilihan kamu.” Lirih Delia sambil mengenang cerita persahabatannya dengan Viviane.


“bahkan kamu akan menikah dengan seseorang yang aku cintai juga. tapi ini memang salahku sih yang dengan lancing berani mencintai Radit” ucapnya dengan pandangan kosong ke arah langit yang saat ini bulannya sedang bersinar terang didampingi kerlap-kerlip ribuan bintang.


Saat ini mengalah bukanlah pilihan buat Delia. Tapi keharusan yang sifatnya mutlak. Karena bagi Delia tidak mungkin dia lebih mementingkan egonya untuk merebut posisi Viviane saat ini. Delia bukan tipe orang yang egois.


“semoga kalian bahagia selamanya” ucapnya kemudian berdiri dan memasukkan undangan itu ke dalam tong sampah yang ada di balkon. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya karena hembusan angin malam membuatnya dingin. Saat dia berbalik menghadap keluar untuk menutup pintu, Di seberang jalan depan rumahnya dia melihat sebuah mobil yang baru saja menutup kaca jendelanya dan segera berjalan meninggalkan tempat.


Delia merasa tidak asing dengan mobil itu, sepertinya dia pernah melihat mobil itu tapi lupa dimana.


“Ra..Radit” Dia langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangan sambil menggelengkan kepalanya.


#flashback on


Sesampainya di apartemen Viviane, Radit merebahkan tubuhnya di sofa. Karena setelah fitting baju pengantin tadi dia merasa sangat capek. Sedangkan Viviane masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


“gimana ini? Aapa yang harus aku lakukan?” gumam Viviane bingung saat berada dalam kamar mandi. Viviane benar-benar merasa bingung harus memilih yang mana. Kalau dia memilih menikah dengan Radit, dia tidak akan mendapatkan kesempatan lagi untuk melanjutkan pendidikan S2 nya. Meskipun nanti setelah menikah, dan Radit mengijnkan untuk kuliah lagi rasanya itu berbeda karena bukan dari hasil usahanya sendiri, pasti Radit yang akan membiayainya. Sedangkan jika dia memilih melanjutkan pendidikannya, dia kan bisa menunda dulu pernikahannya setelah lulus nanti. Dan akan menjadi kebanggaan tersendiri baginya. Dia akan membuktikan pada Radit dan keluarganya, bahwa dirinya benar-benar wanita hebat dan mandiri. Itulah yang dipikirkan oleh Viviane. Setelah ini dia akan membicarakannya padaa Radit.


“ceklek” pintu kamar terbuka. Setelah membersihkan diri, dia menemani Radit yang masih rebahan di sofa sambil nonton TV.


“sayang… nih coba baca” ucap Viviane sambil memberikan ponselnya pada Radit.


“apa ini?” Tanya Radit bingung

__ADS_1


“itu email dari National University of Singapore, coba kamu baca” ucap Viviane sambil tersenyum. Dan Radit membacanya, setelah itu mengerutkan dahinya.


“kamu dapat beasiswa S2? Kamu nggak pernah cerita sama aku kalau mengajukan beasiswa S2?” Tanya radit.


“iya maaf, sebenarnya aku dulu iseng saja siapa tahu beneran keterima soalnya dari dulu aku ingin sekali melanjutka kuliah disana. Kamu seneng kan sayang?” Tanya Viviane sambil berbinar. Setelah itu Radit membaca emailnya lagi.


“ini kamu harus melakukan serangkaian tes kesana langsung? Dan itu bertepatan dengan hari pernikahan kita” jelas Radit.


“iya… sayang. Bisa kan kita menunda pernikahan kita dulu” ucap Viviane hati-hati.


“Ok lakukan apa yang kamu inginkan, tapi jangan harap pernikahan ini akan ditunda, bahkan tidak akan pernah terjadi” seketika amarah Radit meluap dan segera berdiri meninggalkan Viviane.


“sayang please dengerin penjelasanku dulu” rayu Viviane dan berusaha mencegah Radit pergi.


Viviane tidak menyangka akan reaksi Radit seperti itu, padahal dia belum selesai memberi penjelasan. Radit langsung menghempaskan tangan Viviane dan segera pergi. Viviane menangis terisak di depan pintu. Dia bingung harus bagaiman membujuk Radit agar menyetujui keinginannya untuk melanjutkan pendidikan S2nya di Singapore. Viviane sangat mencintai Radit, dia tidak mau kehilangan Radit. tapi di sisi lain dia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.


“besok lebih baik aku bicara lagi dengan Radit. mungkin tadi dia lagi emosi sesaat” gumamnya sambil mengusap air mata dan segera masuk ke dalam kamar.


Lama mengendarai mobil, tiba-tiba Radit menghentikan mobilnya di depan rumah berlantai dua dengan bangunan minimalis. Radit tidak keluar dari mobil, dia hanya membuka kaca jendelanya. Dia memikirkan tentang salah satu orang yang tinggal di dalam rumah tersebut. Radit dulu pernah sekali datang ke rumah itu untuk mengantar Viviane. Ya. Itu Rumah Delia. Saat ini Radit sedang berada di depan rumah Delia.


Saat dia melihat ke arah rumah yang sedang tertutup itu, sejurus kemudian pandangannya beralih ke arah balkon lantai 2. Karena disana sedang ada seorang gadis berambut hitam lurus sebahu sedang duduk sambil menatap ke arah langit.


“del…apakah ini memang jalannya kita untuk dipertemukan?” tanyanya pelan pada diri sendiri tanpa melepas pandangannya kea rah Delia. Saat Delia beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam, Radit segera menutup kaca jendelanya dan segera pergi.


#flashback off


---

__ADS_1


Keesokan harinya Viviane bangun pagi-pagi sekali. Karena dia berniat akan mendatangi apartemen Radit. dia akan menjelaskannya lagi pada Radit, karena Radit kemari masih terbawa emosi.


Tanpa memencet bel, Viviane langsung masuk ke dalam apartemen Radit. karena dia sudah hafal passcodenya. Saat sudah berada di dalam, bertepatan dengan Radit yang baru keluar kamar, dan sepertinya dia baru bangun.


“pagi sayang…” ucap Viviane sambil memeluk Radit. dia berusaha untuk tenang dan santai. Sementara Radit hanya diam saja tanpa membalas pelukannya. Viviane menyadari akan sikap dingin kekasihnya, segera melepas pelukannya.


Radit menuju dapur untuk mengambil minum yang ada dalam lemari pendingin. Viviane pun mengikutinya, sampai Radit duduk di kursi yang berada di ruangan itu. Setelah Radit meneguk minumannya, Viviane memulai percakapannya.


“sayang maafin aku tentang yang kemarin” ucapnya. Radit masih diam dan merasa sedikit bahagia, karena Viviane meminta maaf. Mungkin dia akan memilih pernikahannya daripada pergi ke Singapore.


“Sayang, tolong dengerin penjelasanku dulu” sejenak Viviane menarik nafasnya dan melanjukannya,


“begini, kalau aku melanjutkan pendidikanku, aku bisa membuktikan pada semua orang bahwa aku ini bisa berusaha mengejar cita-citaku tanpa ada campur tangan dari kamu. Aku akan menunjukkan bahwa kamu punya kekasih yang hebat. Dan untuk pernikahan kita meskipun kita tunda dulu, aku yakin kita pasti bisa. Karena kita sudah terbiasa menjalani hubungan jarak jauh” jelas Viviane panjang lebar. Sontak membuat Radit naik pitam.


“aku nggak nyangka ya Vi ternyata kamu itu benar-benar egois. Seperti yang aku katakan kemarin kalau kamu memilih untuk melanjutkan pendidikanmu, jangan harap pernikahan kita akan ditunda, bahkan tidak akan pernah terjadi. Dan sekarang kamu telah mimilih untuk melanjtkan pendidikanmu” ucap Radit penuh amarah dengan memanggil nama Viviane tanpa embel-embel sayang lagi.


“sayang please aku nggak mau kamu memutuskan hubungan kita, aku sangat mencintaimu” bujuk Viviane kemudian.


“apa kamu bilang? Cinta? Cinta yang dikalahkan oleh keegoisanmu itu baru benar” Radit semakin marah dan Viviane hanya terisak.


“aku hanya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan itu sayang. Please ngertiin aku. Apakah nanti kalau setelah kita menikah, kamu bakal ngijinin aku kuliah lagi? Tidak kan, karena kamu sangat posesif sama aku jadi pasti kamu ngelarang aku melanjutkan pendidikanku pasca menikah” jelas Viviane panjang lebar dan justru semakin melukai perasaan Radit.


“oh jadi selama ini kamu tidak tahan dengan sikap posesifku? Kamu ingin bebas? IYA??” bentak Radit.


“ok mulai saat ini aku telah membebaskan kamu. Silakan kamu berbuat sesuai dengan yang kamu inginkan selama ini” Radit langsung melepas cincin pertunangannya dan melemparnya ke sembarang arah, kemudian meninggalkan Viviane yang masih menangis di dapur.


“blammm” Radit membanting pintu kamarnya.

__ADS_1


*TBC


*_author newbie_ 💕💕


__ADS_2