Mencintai Kekasih Sahabatku

Mencintai Kekasih Sahabatku
S3 eps 244


__ADS_3

Kejadian hari ini cukup mengharukan bagi keluarga Carissa. Semua orang sebelumnya tampak berbahagia setelah pernikahan Carissa dan Barra. Lantas disusul dengan kemunculan sosok Alana yang sangat mengejutkan. Namun tak ayal juga membuat mereka juga bahagia terutama Charles.


“Mas, terima kasih telah membesarkan anak-anak kita selama ini.” ucap Alana yang sejak tadi betah berada di pelukan sang suami.


“Itu sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang ayah Sayang.” Jawab Charles sambil menatap mata istrinya.


“Bahkan aku sangat bahagia kalau Viera baru saja menikah. Dan aku lihat suaminya juga laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.” Ucap Alana lagi.


“Ya kita doakan saja semoga rumah tangga mereka selalu bahagia.” Jawab Charles.


Charles belum ingin menceritakan tentang masa lalu anak perempuannya pada Alana. Dia merasa waktunya saja belum tepat. Charles sangat yakin kalau hubungan anak dan menantunya masih belum baik seratus persen. Dan mungkin istrinya nanti yang akan memberikan solusi terbaik.


Sementara itu di waktu yang sama dalam rumah yang sama, kini tampak pengantin baru itu dilanda kecanggungan lagi setelah berada di dalam kamar hanya berdua. Barra yang sejak tadi duduk di sofa sambil pura-pura sibuk dengan gedgetnya, sementara Carissa sibuk di dalam kamar mandi yang tak kunjung keluar. Entah apa yang dilakukan perempuan itu. Yang pasti perutnya terasa mulas jika sedang dilanda kegugupan seperti ini.


Barra yang melihat istrinya lama berada di dalam kamar mandi, terbesit rasa khawatir. Kemudian dia melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.


“Carissa!” panggil Barra.


“Iya Kak?” jawab Carissa.


“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Barra.


“Iya Kak. Sebentar lagi selesai.” jawabnya.


Setelah Barra merasa lega akhirnya dia meninggalkan pintu kamar mandi dan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Barra akan tidur lebih dulu daripada membuat Carissa merasa canggung jika melihat dirinya belum tidur.


Cklek


Carissa sudah keluar dari kamar mandi dan melihat sofa yang tadi diduduki suaminya sudah kosong. Carissa mengusap dadanya lega akhirnya dia bisa segera tidur.


Kini Carissa sudah merebahkan tubuhnya tepat di samping suaminya dengan posisi saling memunggungi. Beberapa saat tadi dirinya merasa aman karena tidak harus gugup lagi karena melihat sang suami sudah tidur lebih dulu. Tapi sekarang Carissa justru tidak bisa menutup matanya. dia membolak-balikkan tubuhnya menghadap ke kanan dank e kiri namun tetap saja tidak bisa tidur. Mau mencari posisi seperti apa lagi dia juga bingung.

__ADS_1


Barra yang sejak tadi juga belum tidur. Lebih tepatnya pura-pura tidur dapat merasakan bahwa Carissa sedang bergerak-gerak gelisah. Akhirnya muncul sebuah ide. Barra membalikkan tubuhnya mengahdap Carissa. Kebetulan Carissa juga sedang mengahadap padanya. Kemudian Barra mengangkat tangannya seolah-olah memeluk guling, padahal yang dipeluk adalah istrinya.


Carissa terkesiap dengan tingkah Barra yang tiba-tiba memeluknya. Dia ingin berteriak namun dia urungkan karena melihat mata suaminya tertutup rapat dan terlihat benar-benar terlelap. Jantung Carissa semakin menggila. Namun dia berusaha untuk biasa saja. Lama-lama mata Carissa diserang rasa kantuk hingga akhirnya tertidur.


Barra menarik sudut bibirnya tersenyum tipis saat mendengar dengkuran halus sang istri. Kemudian Barra semakin mengertakan pelukannya.


“Maaf Carissa. Bukannya aku pengecut. Memang dengan cara seperti inilah aku bisa memelukmu.” Batin Barra sebelum akhirnya dia juga ikut menyusul istrinya pergi kea lam mimpi.


Keesokan paginya Carissa bangun terlebih dulu. Dia marasa semalam tidurnya sangat nyenyak. Perlahan dia membuka matanya dan melihat tangannya sendiri sedang memeluk sesosok tubuh kekar. Carissa sangat terkejut dan hampir saja berteriak. Hingga akhirnya dia sadar kalau posisinya sedang tidur bebantalkan lengan suaminya dan tangannya memeluk tubuh sang suami juga.


Perlahan Carissa mengurai pelukannya dan segera berlari ke dalam kamar mandi. Carissa merasa dirinya sangat bodoh sekaligus malu. Untung saja Barra tidak melihat. Mau ditaruh dimana mukanya kalau Barra melihatnya.


,


Sementara itu Barra tersenyum puas saat melihat istrinya kabur karena malu. Sebenarnya Barra sudah bangun sejak tadi. hanya saja dirinya masih menikmati momen langka tadi. meski tangannya merasa kebas.


Setelah Carissa selesai mandi, Barra pura-pura baru bangun tidur. Agar tidak medapati istrinya malu dengan wajah yang memerah.


“Jangan takut! Aku nggak ngapa-ngapain kamu. Aku hanya mau mengucapkan terima kasih.” Ucap Barra dan diakhiri dengan mengecup kening Carissa.


Cup


Barra segera masuk ke kamar mandi. sementara itu Carissa masih berdiri mematung. Dia masih merasakan bekas kecupan singkat di keningnya yang masih terasa hangat. Carissa bingung dengan keadaan seperti ini. mengapa respon tubuhnya seperti ini. apakah tubuhnya sudah bisa menerima suaminya. Carissa tidak terlalu memikirkannya lagi. Dia segera turun ke dapur untuk membantu mamanya.


“Pagi anak Mama!” sapa Alana.


“Pagi Ma, Pa! tumben Papa kok juga ikut di dapur?” Tanya Carissa bingung.


“Iya nih Papa kamu takut Mama akan hilang lagi.” Seloroh Alana dan membuat Carissa tertawa geli.


“Dasar Papa bucin!” ledek Carissa dan segera meninggalkan dapur. Karena merasa jadi obat nyamuk Mama dan Papanya.

__ADS_1


“Sebentar lagi juga kamu yang bucin.” Ucap Charles tapi tidak lagi didengar oleh Carissa.


Kini semua orang sudah berkumpul di ruang makan sedang menikmati sarapan bersama. Opa Angga dan Oma Viviane juga berada disana karena mereka semalam memutuskan untuk menginap. Mereka juga masih merindukan anak sulungnya.


“Sayang, diambilkan makan dong suaminya.” Ucap Alana pada Carissa.


Carissa yang masih canggung akhirnya mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Barra menerimanya dengan seulas senyum.


Tadi pagi sebelum turun ke dapur, Charles sudah menceritakan semua tentang Carissa pada istrinya. Charles yang masih melihat kegamangan hati anak perempuannya setelah menikah, dia meminta agar istrinya membantu mengatasi masalah anaknya. karena Charles sudah bisa melihat keseriusan dari diri Barra terhadap anaknya. kini tinggal dari Carissa yang masih perlu sedikit penanganan khusus dari Mamanya. Kebetulan sekali Mamanya juga seorang psikiater.


Setelah selesai sarapan, Barra memutuskan untuk pamit terlebih dulu karena dirinya harus pergi ke kantor. Meskipun dia dan Carissa pengantin baru dan belum ada rencana bulan madu, jadi Barra memilih untuk pergi ke kantor saja.


“Ko’ diam saja Viera?” Tanya Alana heran.


“Memangnya kenapa Ma?” jawab Carissa dengan pertanyaan.


“Suami kamu kan mau ke kantor. antar sampai depan pintu dong Sayang.” Ucap Alana lembut.


“Ehm, iya Ma.” Jawab Carissa dan segera menyusul suaminya yang masih berjalan sampai depan pintu ruang tamu.


“Kak!” panggilnya pelan dan Barra menoleh.


Carissa segera meraih tangan suaminya kemudian menciumnya dengan takzim. Barra terperangah dan tidak sanggup berkata-kata.


“Ehm, aku berangkat dulu.” Ucap Barra sambil mengacak pucuk kepala istrinya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


__ADS_2